Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12 Tindakan
"Assalamualaikum...." Zivanna baru saja pulang dan seperti biasa gadis 23 tahun itu pasti seperti orang kelelahan yang melangkah tidak stabil dengan penampilan sedikit kucel dan langsung menduduki ruang tamu tanpa mencium tangan kedua orang tuanya yang seperti biasa selalu berada di ruang tamu dengan banyak mengobrol.
"Apa banyak pasien di rumah sakit sampai membuat kamu lelah seperti ini?" tanya Sekar.
"Zivanna hanya lelah dalam bentuk pikiran saja, untuk pasien sudah pasti Zivanna sangat dibatasi oleh Dokter senior di rumah sakit," jawabnya menyindir pada seseorang yang sudah pasti ibunya mengetahui siapa itu.
Sekar dan suaminya Andra saling melihat, senior yang dimaksud putri mereka sudah pasti adalah menantu mereka sendiri.
"Hmmmm, Mama dengar bahwa Bayi kembali ke Jakarta?" tanya Sekar memastikan.
"Siapa yang mengatakannya kepada Mama? Apa Dokter Pradikta Utama Wijaya atau jangan-jangan ibunya?" tanya Zivanna.
"Jadi benar Nayla sudah kembali ke Jakarta?" tanya Sekar hanya menginginkan jawaban yang pasti dari putrinya itu.
"Ya, di memang sudah kembali ke Jakarta dan aku juga tidak tahu kapan dia kembali ke Jakarta dan yang penting tadi kami baru saja bertemu, jadi sekarang kalian harus menyelesaikan masalah atas kepulangan Nayla dan jangan melibatkanku!" tegas Zivanna
"Masalah apa yang harus diselesaikan Zivanna, Nayla dan Dikta sudah tidak memiliki hubungan apa-apa lagi, Dikta sudah menikah dengan kamu dan yang harus dikatakan kepada Dikta adalah untuk menyelesaikan hubungannya dengan Nayla," ucap Andra.
"Zivanna tidak ingin ikut campur tentang urusan hubungan itu, pada intinya Zivanna tidak mau tahu, Papa dan Mama sama-sama saling mengetahui bahwa mereka berdua memiliki hubungan terikat dan kalian berdua tetap memaksa Dokter Dikta untuk menikah dengan Zivanna, jadi jika pada akhirnya Nayla mengetahui semuanya. Zivanna sudah pasti akan dianggap salah, di anggap merebut calon suaminya," tegas Zivanna.
"Kamu tidak akan dianggap merebut calon suami Nayla karena Dikta setuju dengan pernikahan itu dan dia juga tidak dipaksa," sahut Sekar.
"Bagaimana mungkin tidak setuju karena dia mendapatkan keuntungan," batin Zivanna.
"Sudahlah, Zivanna mau istirahat dulu," ucap Zivanna berdiri dari tempat duduknya dan langsung berlalu dari hadapan kedua orang tuanya.
*****
Zivanna terlihat berada di taman rumah sakit bersama dengan Rain bocah laki-laki yang mengalami permasalahan pada saraf kepalanya.
"Dokter yang menang," ucap Zivanna ternyata sedang suit dengan bocah laki-laki tersebut.
Rain akhirnya menjadi pasien Zivanna, dia benar-benar sangat senang jika dirawat oleh Zivanna. Zivanna tahu cara memperlakukan anak kecil tersebut agar membuatnya nyaman.
"Dokter benar-benar hebat, pasti waktu sekolah Dokter sering memenangkan permainan," ucap Raina.
"Tebakan kamu benar, tidak ada satupun murid yang berhasil mengalahkan Dokter," jawab Zivanna sedikit sombong.
"Benarkah, wau keren, Dokter, Rain ingin cepat-cepat keluar dari rumah sakit, Rain harus sembuh secepatnya dan bermain kembali dengan teman-teman Rain, Rain juga ingin menjadi pemenang dalam setiap permainan," ucap Rain memiliki semangat hidup yang sangat besar.
"Kamu memang harus menjadi pemenang dalam setiap hal apapun, termasuk dalam kesembuhan kamu, kamu harus menjadi pemenang," ucap Zivanna memberikan semangat kepada pasien tersebut.
"Memangnya Rain sakit apa, bukankah kondisi Rain sudah baik-baik saja dan lukanya juga sudah mengering?" tanyanya merasa selama ini kondisinya memang tidak ada masalah.
"Kamu benar, Rain baik-baik saja, tetapi akan lebih baik-baik saja jika Rain benar-benar pulih 100%," jawab Zivanna.
"Jika Dokter Zivanna selalu menemani Rain dan tidak bosan mengobati Rain, pasti Rain akan secepatnya sembuh," ucapnya.
"Pasti, Dokter akan selalu menemani kamu dan akan selalu memantau kesehatan kamu," ucap Zivanna mengusap-usap pucuk kepala anaknya tersebut.
"Seandainya aku adalah Dokter penyakit dalam, aku pasti akan terus memantau kesehatan anak ini," batin Zivanna.
*****
Dikta saat ini duduk di hadapan Andra, Ayah mertuanya yang mana kedua orang tersebut berada di ruangan komisaris di rumah sakit dengan berbicara tampak intens.
"Jadi pasien 8 tahun dengan riwayat penyakit yang sampai saat ini belum ditemukan keanehan pada saraf otaknya?" tanya Andra pada menantunya.
"Benar, saya masih mencoba untuk belajar dan mencari lebih detail lagi, sampai saat ini saya belum menemukan titik terang, apakah itu virus atau tumor, tindakan operasi juga belum bisa dilakukan," jawab Dikta.
"Lalu bagaimana dengan keluarga pasien? Apa sudah disampaikan dan apa pendapat dari mereka? Apa mereka akan membawa pasien untuk berobat ke Luar Negeri atau tetap berada di rumah sakit kita?" tanya Andra.
"Pasien merupakan anak yatim piatu, dia hanya tinggal bersama neneknya dan untuk kedua orang tuanya saya tidak menanyakan secara detail apakah masih hidup atau memang pergi, mereka juga merupakan keluarga yang kurang mampu dan biaya selama ini ditanggung BPJS kesehatan, tetapi Zivanna membiayai seluruh administrasi pasien dan memberikan ruangan VIP dan perawatan intensif untuk pasien tersebut," jawab Dikta.
"Zivanna juga mengetahui pasien itu?" tanya Wahyu.
"Ya, awalnya pasien tersebut ditangani Dokter Rania, tetapi tiba-tiba saja Zivanna memeriksa pasien tersebut dan anak kecil itu menyukainya, jadi saya menyerahkan tugas tersebut kepada Zivanna untuk sekedar rutin memeriksanya, lalu saya memeriksa administrasi tentang perawatan pasien yang dipindahkan ke ruang VIP. Zivanna yang mengurus seluruh administrasinya," jelas Dikta.
"Saya sudah bisa menduga jika putri saya memang tidak akan pernah membiarkan orang-orang lemah tidak mendapatkan perawatan meski terkendala biaya, dia pasti akan turun tangan untuk melakukan hal yang terbaik, jika tidak bisa mengobati menggunakan tangannya dan dia akan membantu dari hal lain," ucap Andra merasa bangga pada kepribadian Zivanna yang dermawan.
Sebenarnya banyak sekali yang bisa dibanggakan dari putrinya itu, hatinya sangat tulus dan memiliki rasa iba yang begitu besar.
"Dokter Dikta, lakukan yang terbaik untuk pasien dan biarkan saja Zivanna terus memantau pasien tersebut agar termotivasi dalam dirinya untuk terus belajar menjadi Dokter," ucap Wahyu.
"Saya dan tim Dokter lainnya pasti akan melakukan yang terbaik, saya juga meminta dukungan dari Papa," sahut Dikta
"Itu sudah pasti, saya juga ingin orang-orang yang ada di rumah sakit ini cepat sembuh, tidak terus datang ke rumah sakit kita, Saya ingin orang-orang di negara kita ini tidak sakit," sahut Wahyu.
Dikta menganggukkan kepala.
"Hmmmmm, apakah Nayla sudah kembali ke Jakarta?"tiba-tiba saja pembicaraan tentang medis itu harus beralih ke pembicaraan masalah pribadi yang membuat Dikta melihat serius ke ayah mertua yaitu.
"Tidak mungkin saya tidak mengetahui bahwa Nayla ke rumah sakit ini untuk menemui kamu," lanjut Andra memastikan sendiri kepada menantunya.
Bersambung.....