NovelToon NovelToon
Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Fitnah Dibalik Gaun Pengantin

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengantin Pengganti / Anak Genius / Mafia
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ayumarhumah

Naomi Clarisse tak pernah iri pada kehidupan sang kakak. Meski selalu dibandingkan dan diperlakukan tidak adil, ia memilih bekerja keras demi keluarganya.
Namun hidupnya berubah dalam semalam ketika Alicia Grace, kakaknya sendiri, menjebaknya di kamar hotel bersama Nathaniel Wijaya, pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan tak mengenal ampun.
Sebuah fitnah menghancurkan nama baik Naomi. Di saat Alicia menghilang bersama pria pilihannya, Nathaniel yang dipenuhi amarah memaksa Naomi menggantikan posisi sang kakak di altar pernikahan.
Pernikahan itu adalah hukuman bagi Nathaniel.
Dan mimpi buruk bagi Naomi.
Ketika satu per satu rahasia mulai terungkap, Naomi harus memilih: terus menjadi korban, atau melawan demi mengungkap dalang di balik fitnah yang telah merenggut hidupnya.

Tunggu kelanjutannya hanya di Novel Toon atau Manga Toon.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayumarhumah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rumah Yang Terlalu Asing

Mobil Rolls-Royce hitam perlahan memasuki gerbang utama Wijaya Mansion.

Gerbang besi setinggi hampir tiga meter itu terbuka otomatis, memperlihatkan jalan panjang yang diapit pepohonan cemara dan taman bunga yang tertata rapi. Air mancur megah berdiri tepat di tengah halaman, sementara bangunan bergaya Eropa itu menjulang angkuh di hadapan Naomi.

Begitu mobil berhenti, dadanya kembali terasa sesak. Ia masih mengenakan gaun pengantin. Riasan di wajahnya mulai memudar akibat air mata yang sejak tadi tak berhenti mengalir.

Seorang pelayan segera membuka pintu. "Silakan, Tuan Nathan."

Nathan turun lebih dulu tanpa menoleh sedikit pun kepada Naomi. Beberapa detik berlalu. Naomi masih terpaku di dalam mobil.

Ia memandang bangunan besar di depannya dengan tatapan kosong. Rumah semegah ini seharusnya menjadi impian banyak perempuan. Namun baginya. Tempat itu terasa seperti penjara.

"Nona..." Suara pelayan membuyarkan lamunannya.

"Tuan Nathan sudah menunggu."

Naomi menarik napas panjang sebelum akhirnya turun perlahan. Begitu kedua kakinya menginjak lantai marmer halaman depan, ia langsung disambut belasan pelayan yang berdiri berjajar.

"Selamat datang, Nyonya Muda."

Sapaan itu terdengar serempak. Naomi justru menundukkan kepala. Sebutan itu terasa begitu asing. Ia bahkan belum mampu menerima kenyataan bahwa beberapa jam lalu hidupnya telah berubah sepenuhnya.

Nathan sudah berjalan lebih dulu memasuki rumah. Tanpa pilihan lain, Naomi mengikuti dari belakang. Pintu utama terbuka Naomi disambut dengan Interior mansion yang begitu mewah.

Lampu kristal menggantung megah di langit-langit tinggi. Tangga melingkar berdiri di tengah ruangan. Lantai marmer putih mengilap memantulkan cahaya dari seluruh penjuru.

Namun semua kemewahan itu sama sekali tidak mampu menghangatkan suasana. Rumah itu terasa dingin seketika Alan Wijaya menoleh kepada Naomi.

"Mulai hari ini anggap saja rumah ini rumahmu."

Naomi tersenyum tipis.

"Terima kasih, Pi."

Rieke ikut mendekat. "Nanti pelayan akan menunjukkan kamarmu."

Belum sempat Naomi menjawab tiba-tiba terdengar suara keras dari pintu lantai dua.

Brak!

Semua orang menoleh. Seorang remaja laki-laki berusia sekitar lima belas tahun menuruni tangga dengan langkah tergesa. Seragam sekolahnya tampak berantakan.

Tas ranselnya hanya disampirkan di satu bahu. Earphone masih menggantung di leher.

Tatapannya datar. Tanpa memperhatikan siapa pun, ia terus berjalan cepat. Naomi yang sedang melangkah ke depan tidak sempat menghindar.

Buk!

Tubuh keduanya bertabrakan cukup keras. Naomi kehilangan keseimbangan. Tubuhnya hampir terjatuh. Untung salah satu pelayan sigap menopangnya.

"Bisa lihat jalan tidak?" gerutu remaja itu tanpa rasa bersalah.

Naomi mengusap lengannya yang sedikit nyeri. "Maaf... aku tidak sengaja."

Remaja itu akhirnya mengangkat wajah. Tatapannya berhenti beberapa detik pada gaun pengantin Naomi. Lalu bergeser kepada Nathan. Sudut bibirnya terangkat sinis.

"Oh... jadi ini perempuan baru Daddy?"

Suasana langsung berubah canggung. Beberapa pelayan saling berpandangan, sementara Alan dan Rieke hanya mampu mengembuskan napas pelan, seolah sudah terbiasa dengan sikap Leon. Nathan mengeraskan rahangnya.

"Leon." Nada suaranya dingin.

"Jaga bicaramu."

Leon terkekeh pelan. "Kenapa? Aku salah?"

Tatapannya kembali kepada Naomi. "Selamat datang." Kalimat itu terdengar seperti ejekan. "Kalau tidak kuat tinggal di sini..."

Remaja itu tersenyum miring. "...lebih baik kabur sekarang."

Tanpa menunggu jawaban, Leon kembali melangkah keluar rumah. Pintu utama ditutup cukup keras.

Brak!

Naomi hanya mampu memandang kepergiannya. Entah mengapa. Tatapan mata remaja itu terasa sangat sepi.

Sementara Alan mengembuskan napas pelan. "Maafkan sikapnya."

Nathan langsung memotong. "Tidak perlu dijelaskan."

Ia menoleh kepada Naomi. "Ikut aku."

Nathan membuka pintu kamar utama.

Ruangan itu luas. Dominasi warna hitam dan abu-abu membuat suasananya terasa dingin.

Tak ada foto keluarga ataupun bunga apalagi sentuhan hangat seperti kamar pasangan suami istri pada umumnya.

Nathan melangkah lebih dulu memasuki kamar utama tanpa sedikit pun menoleh ke belakang. Naomi hanya bisa mengikuti dari belakang. Begitu tiba di ambang pintu, langkahnya terhenti. Ia memandangi ruangan luas itu beberapa saat, seolah ragu untuk masuk.

"Masuk." Suara pria itu terdengar datar.

Naomi melangkah perlahan. Baru saja pintu tertutup. Nathan langsung melepaskan jasnya dengan kasar lalu melemparkannya ke sofa. Ia berdiri membelakangi Naomi hingga beberapa detik kemudian suara pria itu memecah keheningan.

"Aku harap kau tidak salah paham."

Naomi hanya terdiam, padahal tidak perlu dijelaskan pun perempuan itu sudah tahu.

Nathan berbalik. Tatapannya sedingin es.

"Pernikahan ini bukan karena aku menginginkanmu."

Kalimat pertama itu langsung menghantam hati Naomi. Pria itu kembali melangkah mendekat. Jarak mereka kini hanya beberapa langkah.

"Kau berada di sini hanya karena keadaan."

"Bukan karena aku mencintaimu."

"Bukan karena aku memilihmu."

"Dan jangan pernah bermimpi menjadi istri yang sesungguhnya."

Setiap kalimat terasa seperti pisau yang mengiris harga dirinya.

Naomi menundukkan kepala. Namun kali ini ia tidak menangis.

Nathan melanjutkan.

"Ada beberapa aturan."

"Satu."

"Jangan pernah ikut campur urusanku."

"Dua."

"Jangan masuk ke ruang kerjaku tanpa izin."

"Tiga."

"Jangan berharap aku akan memperlakukanmu seperti pasangan."

"Empat."

"Di depan keluarga kita berpura-puralah menjadi suami istri yang harmonis namun? Di balik pintu kamar ini..." Ia berhenti sejenak. "...kita hanyalah dua orang asing."

Naomi mengepalkan jemarinya di balik lipatan gaun. Dadanya sesak. Namun ia berusaha tetap tenang.

"Apa lagi?" Nathan sedikit mengernyit. "Kau tidak marah?"

Naomi mengangkat wajahnya perlahan. Tatapan mereka bertemu.

"Marah?"

Ia tersenyum hambar. "Aku bahkan tidak diberi kesempatan memilih hidupku sendiri. Jadi menurut Tuan... aku masih punya tenaga untuk marah?"

Naomi melanjutkan dengan suara lirih, tetapi setiap katanya terdengar jelas. "Sejak pagi aku kehilangan keluargaku." Kehilangan kebebasanku. Dan sekarang..."

Ia menarik napas panjang. "Aku kehilangan hak untuk menentukan masa depanku. Kalau memang itu yang Tuan inginkan, tenang saja. Aku tidak akan mengganggu hidup Tuan, tapi satu hal yang perlu Tuan tahu."

Nathan menatapnya tanpa berkedip.

"Aku tidak pernah meminta dinikahkan dengan Tuan. Kita sama-sama korban."

Ruangan kembali sunyi. Nathan tidak menyangka perempuan yang sejak pagi terlihat rapuh itu mampu mengucapkan kalimat setegas itu.

Sesaat, ia hanya menatap Naomi tanpa berkata apa-apa. Namun egonya terlalu tinggi untuk mengakui bahwa ucapan itu ada benarnya.

"Apa pun alasanmu..." ucap Nathan dingin. "Jangan pernah berharap aku berubah."

Naomi mengangguk pelan. "Aku juga tidak berharap apa pun dari Tuan."

Kalimat itu membuat Nathan membeku sesaat. Belum pernah ada perempuan yang berbicara kepadanya dengan nada setenang sekaligus setegas itu.

Naomi berjalan menuju sofa di sudut kamar. Ia melepaskan veil pengantinnya perlahan, lalu duduk memeluk kedua lututnya. Di balik wajah yang berusaha tegar, hatinya terasa hancur berkeping-keping.

Malam pertama yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan bagi setiap pasangan. Justru menjadi malam ketika dua orang asing dipaksa hidup di bawah satu atap, dengan luka yang sama-sama belum sempat sembuh.

Bersambung.

1
Nar Sih
brati ada penyusup msuk suruhan alicia ,
Nar Sih
mungkin kah satpam tersebut suruhan alicia ,untuk memata,,i naomi hnya kak ayu yg tau
guest1053527528
siapa yg mata2 Thor dan semoga Naomi segara dapat orangx
Nar Sih
semagat nathan dan naomi💪
Nar Sih
semagat 💪 nathan ,cpt selesai kan mslh mu dgn si adrian biar semua nya tenang
Nar Sih
semagat naomi💪
Nar Sih
cerita lah pada nathan ,naomi tentang ancaman alicia mingkin suami mu bisa membantu mslh ini
mama
apa aq bilang nathan itu CEO terbodoh🤣..ada musuh di dlm perusahaan aj gk tau🤭..setelah bangkrut baru dah tau si nathan klu musuh ny ad dideket ny🤣
Nar Sih
hti,,nathan musuh di dekat mu ,waspadalah
Nar Sih
siap kak semoga lolos di 20 bab💪
Ayumarhumah: Aamiin Kak ....🤲🤲🤲🤲
total 1 replies
Nar Sih
satu mslh tentang msa lalu natan dan alicia sgra terungkap
Mita Paramita
bahasa Naomi manggil Nathan tuan terlalu baku jadi kesan ny kayak majikan dan budaknya 🤣🤣🤣
Ayumarhumah: biarkan saja kak nanti ada saatnya berubah🤣🤣🤣
total 1 replies
Nar Sih
sip naomi sgra kirim poto kakak mu ke suami mu biar tau
Mita Paramita
ternyata Nathan duda beranak satu ya🤣🤣🤣
Mita Paramita
Alicia kakak laknat 🤣🤣🤣jebak adiknya sendiri
Nar Sih
semoga ini awal perubahan yg lebih baik dari suami mu naomi
Nar Sih
semoga dgn selesai dan terbongkar nya mslh leon yg ngk berslh ,bisa membuat hubungan ayah dan ank lebih baik lgi
mama
hmmm dasarnya kepala sekolah ny oon pisan,makany jgn asal nuduh duluu... cek lah CCTV-nya biar gk asal main hukum aj tu si nathan dan marah2 leon
Nar Sih
ahir nya kbnran terungkap ,dan bnr kan kata naomi ,leon gk slh ,natan yg kurang perhaitaan ke putra nya yg bikin leon diam
Oma Gavin
makanya nathan jadi ortu jangan arisan merasa dirimu selalu benar snak sendiri jadi korban sekarang rasakan leon sudah terlanjur membenci mu sampai kapanpun ingatan leon tetap ada
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!