Lim Meiran terbangun dengan ingatan tentang kematiannya sendiri — dan sebuah sistem misterius yang memberinya satu peluang terakhir.
"Nilai Cinta target: -80. Naikkan ke 100, atau mati."
Target-nya? Lo Hafeng. Pewaris konglomerat yang paling membencinya di dunia ini.
Di kehidupan sebelumnya, Meiran adalah "wanita jahat" yang dihancurkan oleh takdir. Kali ini, dengan Sistem Predator di tangannya, dia memilih jalan yang berbeda — bukan mengemis cinta, tapi menaklukkan pria yang seharusnya menjadi musuhnya.
Dimulai dari taruhan bodoh, dilanjutkan dengan satu bulan menjadi "majikan"-nya, Meiran perlahan mengubah kebencian Lo Hafeng menjadi obsesi yang tak bisa dia kendalikan sendiri.
Tapi Kekuatan Takdir tidak tinggal diam. Setiap kali Nilai Cinta naik, takdir membalas — krisis bisnis, kecelakaan, bahkan hilangnya ingatan.
Dan di tengah semua itu, dua pria lain datang memperebutkan hatinya.
Siapa yang akan menang — sang predator, atau takdir yang ingin menghancurkannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 26
Bab 026
Panggung itu disiapkan lebih cepat daripada dugaan Meiran.
Keesokan siangnya, auditorium kecil Fakultas Seni dan Desain sudah dipenuhi mahasiswa, dosen, papan sponsor, dan meja registrasi berlapis taplak biru tua. Di layar depan, tulisan `Seleksi Internal Kompetisi Desain Ruang Urban` menyala terang, seolah sengaja memberi tahu semua orang bahwa mulai hari itu, setiap langkah akan dilihat.
Meiran datang lima belas menit sebelum acara dimulai.
Ia tidak terlambat.
Dan tentu saja, Hafeng sudah ada di dekat pintu.
Ia berdiri dengan map hitam di tangan, kemeja gelap, rambut rapi, dan ekspresi seperti orang yang kebetulan memilih posisi paling dekat dengan jalur masuk. Meiran melihatnya, lalu melihat tangannya sendiri.
Kemarin, tangan itu pernah berada di dalam genggaman Hafeng.
Hari ini, jari-jari Hafeng hanya mengetuk pelan ujung map, seolah tidak pernah ada apa pun di antara mereka.
"Kamu menjaga pintu?" tanya Meiran.
"Aku menunggu jadwal."
"Jadwalnya di layar."
"Aku sedang memastikan peserta nomor tiga tidak tersandung sebelum presentasi."
Meiran hampir tersenyum. "Kamu belum bosan dengan alasan keselamatan?"
"Belum."
Jawaban itu terlalu cepat.
Sebelum Meiran sempat membalas, suara lembut datang dari meja registrasi.
"Ko Hafeng."
Soe Wanyu berdiri di balik meja panitia dengan blazer krem dan senyum yang terukur. Rambutnya diikat rendah, kartu panitia tergantung di leher, dan di hadapannya ada daftar peserta. Ia tampak seperti orang yang paling siap membantu, jika seseorang lupa bahwa bantuan dari Wanyu selalu punya kait.
Hafeng menoleh. "Wanyu."
Wanyu tersenyum lebih hangat. "Aku sempat kaget lihat namamu di daftar peserta. Kamu jarang ikut acara fakultas seperti ini."
"Aku ikut kompetisi."
"Aku tahu." Matanya bergerak ke Meiran. "Meiran juga ikut. Kebetulan sekali, ya?"
Meiran meletakkan kartu mahasiswa di meja. "Tidak kebetulan. Kami sama-sama punya proposal."
Wanyu mengambil kartu itu dan mencocokkannya dengan daftar. "Tentu. Aku hanya memastikan semua administrasi rapi. Peserta tahun ini banyak, jadi panitia harus lebih hati-hati."
"Kerja yang mulia."
Senyum Wanyu tidak goyah, tetapi jarinya menekan kertas sedikit lebih kuat. "Terima kasih. Oh, Meiran, kamu sudah membaca aturan konsultasi eksternal?"
Beberapa mahasiswa di belakang mereka mulai memperhatikan.
Hafeng langsung mengangkat kepala.
Meiran menatap Wanyu dengan tenang. "Sudah."
"Bagus. Karena tahun ini panitia menekankan kemandirian peserta. Bantuan dari pihak luar harus dilaporkan. Apalagi kalau pihak luar itu punya hubungan bisnis dengan sponsor atau pemasok."
Kalimat itu terdengar seperti pengingat biasa.
Terlalu biasa untuk orang yang tahu cara memasang pisau di balik suara lembut.
Hafeng berkata dingin, "Kamu sedang menuduh?"
"Tidak, Ko Hafeng. Aku hanya menjelaskan aturan." Wanyu menunduk sedikit, membuat suaranya terdengar tidak bersalah. "Aku khawatir nanti ada yang salah paham. Meiran dekat dengan Ko Yanting, kan? Dan kemarin kalian ke showroom bersama."
Suasana di antrean langsung berubah.
Nama Kho Yanting cukup terkenal untuk membuat beberapa orang berbisik. Kho Group memang bukan panitia utama, tetapi koneksi keluarga itu selalu terdengar besar di telinga mahasiswa.
Meiran belum menjawab ketika Hafeng maju setengah langkah.
Namun kali ini, Meiran mengangkat tangan lebih dulu, menghentikannya.
Gerakan kecil itu membuat Hafeng berhenti. Matanya turun ke tangan Meiran, lalu kembali ke wajahnya.
"Wanyu," kata Meiran, "terima kasih sudah mengingatkan."
Wanyu berkedip. Ia tampak tidak menyangka mendapat ucapan terima kasih.
Meiran mengambil ponselnya, membuka folder file, lalu menunjukkan satu dokumen. "Ini formulir pelaporan konsultasi. Aku sudah mengisi tadi malam. Ko Yanting tercatat sebagai penyedia katalog material umum dari showroom yang bisa diakses peserta lain dengan pendaftaran. Hafeng tercatat sebagai sesama peserta yang berdiskusi dalam forum terbuka sebelum proposal final dikunci. Tidak ada file desain yang diberikan, tidak ada sponsor pribadi, tidak ada pembayaran."
Bisik-bisik di belakang mereka mengecil.
Meiran melanjutkan, "Kalau panitia mau, aku bisa kirim sekarang ke email acara. Atau kamu mau aku minta koordinator membacakannya di depan auditorium, supaya semua orang tahu standar pelaporan yang benar?"
Wanyu menatap layar ponsel itu. Senyumnya menjadi terlalu tipis.
"Tidak perlu sejauh itu."
"Kenapa? Kamu tadi khawatir orang salah paham."
Hafeng menoleh sedikit, dan kali ini Meiran tahu ia sedang menahan tawa.
Wanyu menarik napas halus. "Kalau sudah lengkap, tentu tidak masalah."
"Bagus." Meiran memasukkan ponselnya kembali. "Berarti panitia sudah menjalankan tugasnya dengan baik."
Seorang mahasiswa di belakang mereka berbisik, "Dia sudah siap banget."
Yang lain menjawab pelan, "Wanyu kayaknya salah tembak."
Wanyu mendengar. Meiran tahu dari cara jarinya merapikan kartu panitia yang sebenarnya sudah lurus.
Pada saat itu, suara dari pintu samping memecah ketegangan.
"Meiran."
Yanting masuk dengan langkah tenang, membawa tas dokumen dan mengenakan batik modern berwarna gelap. Ia tidak terlihat seperti mahasiswa, tidak juga seperti dosen. Ia terlihat seperti seseorang yang terbiasa memasuki ruangan dan langsung membuat orang lain menghitung ulang posisi mereka.
Wanyu segera memasang senyum resmi. "Ko Yanting. Selamat datang. Pihak fakultas menempatkan tamu undangan di baris depan."
"Terima kasih." Yanting menatap Meiran, lalu Hafeng, lalu kembali ke Wanyu. "Saya juga ingin menyerahkan surat pernyataan. Materi katalog yang saya berikan kemarin bersifat umum dan dapat diakses peserta melalui showroom. Saya tidak terlibat dalam penilaian."
Keheningan kecil jatuh di meja registrasi.
Meiran menatapnya. "Kamu membawa surat?"
Yanting tersenyum. "Saya sudah menduga ada yang akan terlalu rajin menjaga aturan."
Wanyu menerima map itu dengan gerakan kaku. "Panitia akan arsipkan."
"Baik. Transparansi penting, kan?"
Kali ini, beberapa mahasiswa tidak lagi menyembunyikan senyum.
Hafeng menatap Yanting. "Kamu selalu membawa dokumen untuk semua kemungkinan?"
"Tidak semua. Hanya kemungkinan yang mudah ditebak."
"Berarti kamu banyak menebak orang."
"Dalam bisnis, itu disebut manajemen risiko."
Meiran menyela sebelum keduanya memulai perang baru. "Cukup. Aku mau duduk sebelum acara dimulai."
Ia bergerak menuju pintu auditorium. Hafeng langsung berjalan di sisinya. Tidak terlalu dekat seperti di showroom, tetapi cukup dekat untuk membuat Wanyu melihat.
"Kamu tidak perlu mengawal," kata Meiran pelan.
"Aku peserta. Kursiku di dalam."
"Kursimu nomor lima. Kursiku nomor tiga."
"Barisnya sama."
"Kebetulan?"
"Denah tempat duduk."
Meiran menoleh. "Alasanmu membaik sedikit."
"Aku belajar dari orang yang suka memanfaatkan sumber daya."
Ia menahan senyum kali ini, tetapi gagal sepenuhnya.
**【Sistem Predator】Respons target: protektif di ruang publik, kepatuhan terhadap batas Host meningkat.**
Nilai Cinta: 17.
Meiran berhenti setengah langkah.
Hafeng ikut berhenti. "Kenapa?"
"Tidak apa-apa." Ia berjalan lagi. "Aku hanya baru ingat, beberapa orang benar-benar berkembang kalau dipaksa masuk kompetisi."
"Kamu sedang mengejekku?"
"Sedikit."
"Bagus. Berarti kamu belum gugup."
Ucapan itu sederhana, tetapi Meiran mendengarnya jelas. Hafeng bukan hanya sedang bersaing dengan Yanting. Ia sedang membaca napasnya, ritme langkahnya, cara ia memegang map. Hal-hal kecil yang biasanya dilewatkan orang lain karena Meiran selalu tampak siap.
Di dalam auditorium, kursi peserta sudah diberi nomor. Meiran duduk di nomor tiga. Hafeng duduk dua kursi di sebelah kanannya, bukan tepat di sampingnya, tetapi tubuhnya sedikit miring ke arah Meiran seperti penjaga yang pura-pura tidak berjaga.
Yanting duduk di baris tamu undangan. Wanyu berdiri di sisi panggung bersama panitia lain.
Saat lampu auditorium diredupkan, Wanyu mengambil mikrofon untuk membacakan susunan acara. Suaranya lembut, profesional, hampir sempurna.
Namun ketika ia menyebut nama Lim Meiran, jedanya terlalu halus.
Ketika ia menyebut nama Lo Hafeng, senyumnya kembali terlalu manis.
Meiran menatap layar presentasi di depan.
Permainan sudah dimulai.
Dan kali ini, seluruh ruangan menjadi saksi.