"Bukan Laknat, namaku Rahmat."
Di usia 9 tahun, seorang anak laki-laki bernama Laknat — "Si Terkutuk" — bertemu dengan seorang gadis kecil di lokasi syuting. Gadis itu memberinya kotak bekalnya, sebuah gelang persahabatan, dan sebuah nama baru: Rahmat, yang artinya "anugerah dari Tuhan."
15 tahun kemudian, Rahmat telah menjadi REYN — penyanyi nomor satu Indonesia, dijuluki "Ice Prince" yang tak pernah melirik wanita mana pun. Gadis kecil itu telah menjadi Wenny Santoso — aktris nasional dengan lesung pipi yang memikat jutaan penggemar.
Ketika sebuah insiden di red carpet memaksa mereka berdua masuk ke reality show kencan Skandal Cinta, REYN tahu: ini adalah kesempatan yang telah ia tunggu selama 15 tahun. Tapi Wenny tidak tahu bahwa pria di hadapannya adalah anak laki-laki yang pernah ia selamatkan.
Di bawah sorotan kamera dan tatapan 50 juta penonton, rahasia demi rahasia mulai terungkap. Identitas masa kecil. Konspirasi berbahaya. Penculikan. Dan sebuah nama yang tersembunyi di balik gemerlapnya panggung.
Apakah cinta yang tertunda 15 tahun cukup kuat untuk menghadapi kebenaran yang menyakitkan?
"Bertemu di Puncak" — janji dua anak kecil yang akhirnya terwujud di panggung terbesar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aruna Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 33
Bab 33: Makin Tak Tertutupi
Keesokan harinya, Wenny dan REYN gagal total bersikap biasa.
Bukan karena mereka berpegangan tangan di depan kamera.
Bukan karena mereka mengaku apa pun.
Justru karena mereka terlalu berusaha terlihat normal.
Segmen pagi itu seharusnya sederhana. Semua peserta diminta memasak menu ringan khas Bandung dengan bahan yang sudah disediakan tim produksi. Koko membagi kelompok, Kevin langsung ribut ingin menghindari tugas memotong bawang, Stella menertawakannya, Natasha berdiri agak canggung di meja bahan, sedangkan Rosa tampak tenang dengan celemek putih yang diikat rapi.
Wenny berada di meja berbeda dari REYN.
Itu keputusan produksi, mungkin untuk memberi variasi pasangan. Namun kamera menangkap bagaimana mata REYN bergerak ke arah Wenny setiap kali kru menyebut bahan baru.
"Tepung terigu untuk adonan utama."
REYN langsung menoleh.
Wenny juga menoleh.
Mata mereka bertemu hanya sepersekian detik.
Wenny mengangkat sedikit alis, seolah berkata, aku tahu, tenang saja.
REYN menurunkan pandangan, tetapi sudut bibirnya bergerak tipis.
Kamera zoom.
Terlalu cepat.
Terlalu jahat.
Kevin yang tidak tahu konteks lengkap tetap bisa mencium sesuatu. "Kenapa kalian berdua kelihatan ngobrol pakai Wi-Fi pribadi?"
Stella hampir menjatuhkan sendok karena tertawa.
Wenny pura-pura sibuk memilih pisau. "Kamu terlalu banyak imajinasi."
"Aku? Kamera yang zoom sendiri."
REYN mengambil mangkuk dari meja samping dan meletakkannya di dekat Wenny tanpa melihatnya langsung. "Dia pakai bahan yang gluten free."
Semua orang berhenti sebentar.
Itu hal yang biasa dilakukan REYN sejak awal program, tetapi setelah sesi rahasia tertulis, setelah semua tatapan yang tidak bisa dijelaskan, perhatian kecil itu terasa berbeda.
Wenny menunduk agar senyumnya tidak terlalu jelas.
"Terima kasih," katanya.
"Hm."
Satu suara pendek.
Namun telinga Wenny memanas.
Di sudut lain, Rosa melihat semuanya.
Tangannya yang sedang memegang spatula berhenti terlalu lama.
***
Rekaman berikutnya adalah permainan tebak ekspresi.
Setiap peserta harus memakai headphone, mendengar sebuah kalimat dari kru, lalu menyampaikan maksudnya hanya lewat ekspresi wajah. Peserta lain menebak.
Saat giliran Wenny, kru membisikkan kalimat lewat headphone.
`Aku lapar, tapi gengsi minta makan.`
Wenny menahan tawa. Ia berusaha memasang wajah dingin, tetapi tanpa sadar matanya bergerak ke arah REYN.
REYN langsung menjawab, "Dia lapar."
Koko mengangkat alis. "Belum mulai tebak, REYN."
"Sudah kelihatan."
Wenny menatapnya tidak percaya. "Dari mana?"
REYN menunjuk sudut bibirnya sendiri. "Kalau kamu menahan lapar, bibirmu begini."
Ia memperagakan sedikit.
Terlalu akurat.
Terlalu intim.
Ruangan langsung meledak.
Kevin berdiri sambil menepuk tangan. "Saya mundur dari kompetisi. Ini bukan tebak ekspresi, ini ujian pasangan lama."
Natasha tertawa kecil, tetapi matanya gelisah melirik Rosa.
Stella menutup wajah dengan papan kecil. "Aku tidak sanggup. Mereka bahkan belum mengaku."
Wenny ingin membantah, tetapi REYN lebih dulu mengambil botol air dan menyodorkannya kepadanya.
"Minum dulu. Kamu benar-benar lapar."
Kamera kembali zoom.
Wenny menerima botol itu sambil menahan senyum.
Di layar monitor kecil milik kru, ekspresi itu terlihat jelas. Bukan senyum sopan. Bukan senyum partner acara. Itu senyum seseorang yang sudah tahu dirinya diperhatikan dengan cara yang sangat pribadi.
***
Di ruang observasi, Chelsea nyaris melompat dari sofa.
"Itu bukan chemistry biasa!" serunya. "Itu sudah level tahu bentuk bibir kalau lapar. Aku ulangi, bentuk bibir kalau lapar!"
Jay duduk di sampingnya, memakai jaket hitam dan ekspresi santai yang terlalu tenang.
Koko di layar sedang berusaha menyelamatkan acara, tetapi Chelsea tidak peduli. Ia menunjuk monitor. "Jay, kamu lihat? Kamu lihat, kan?"
Jay mengangkat gelas kopi. "Aku punya mata."
"Komentar yang lebih berguna, please."
Jay tersenyum kecil.
Ia tahu lebih banyak daripada orang di ruangan itu. Ia tahu tentang gelang lama di pergelangan REYN. Ia tahu betapa lama pria itu berjalan menuju satu nama. Tetapi melihat REYN akhirnya gagal menyembunyikan bahagia di depan kamera tetap membuat sesuatu di dada Jay terasa lega.
"Kalau dua orang sudah saling menemukan," katanya pelan, "kamera cuma terlambat menyadari."
Chelsea menoleh tajam. "Itu kalimat orang yang tahu sesuatu."
Jay menyesap kopinya. "Itu kalimat orang yang puitis."
"Kamu tidak puitis."
"Aku bisa belajar."
Chelsea memicingkan mata, tetapi monitor kembali memperlihatkan REYN mengambil pisau dari tangan Wenny sebelum Wenny sempat menyentuh sisi tajamnya. Chelsea langsung lupa menginterogasi Jay.
"Astaga! Lihat itu. Lihat!"
Di layar, Wenny memukul ringan lengan REYN karena merasa diperlakukan terlalu hati-hati. REYN hanya menunduk dan tersenyum, senyum kecil yang tidak pernah ia berikan pada peserta lain.
Chelsea memeluk bantal. "Kalau ini tidak benar, aku pensiun jadi pengamat cinta."
Jay tertawa pelan. "Jangan pensiun dulu. Sepertinya perjalanan mereka masih panjang."
Komentar live yang masuk ke layar observasi bergerak cepat.
`WenReyn sudah official di mataku.`
`Tolong jangan bilang ini cuma editing.`
`Cara REYN lihat Wenny itu bukan akting.`
`Aku butuh pengumuman sekarang juga.`
`Nation waits for WenReyn.`
Chelsea membaca komentar itu dengan mata berbinar. "Seluruh negara sudah tidak sabar."
Jay menatap layar, senyumnya mereda sedikit.
Ia tahu publik boleh tidak sabar.
Tetapi ia juga tahu ada rahasia yang jika dibuka terlalu cepat bisa melukai lebih banyak orang.
***
Menjelang malam, potongan rekaman hari itu sudah menjadi bahan pembicaraan di media sosial. Tim produksi belum menayangkan episode penuh, tetapi beberapa cuplikan resmi diunggah untuk promosi. Dalam waktu kurang dari satu jam, tagar WenReyn kembali naik ke daftar trending.
Akun fanbase mulai membuat kompilasi baru. Satu video hanya berisi tangan REYN yang selalu bergerak lebih cepat setiap kali Wenny hampir menyentuh sesuatu yang berbahaya. Video lain memotong semua tatapan mereka sejak sesi rahasia tertulis, lalu menaruh teks besar di akhir.
`Ini bukan baru mulai. Ini kelanjutan.`
Kalimat itu dibagikan ribuan kali.
Di villa, Wenny melihatnya sekilas dari ponsel Lilian yang mengirim pesan penuh tanda seru.
`Kamu berdua berniat menyembunyikan apa dengan ekspresi sejelas itu?`
Wenny menutup layar cepat-cepat, pipinya panas.
Dari seberang ruang tengah, REYN memandangnya.
Wenny mengangkat ponsel sedikit.
REYN seperti mengerti, lalu menurunkan kepala untuk menyembunyikan senyum.
Gerakan kecil itu kembali tertangkap kamera belakang.
Dan di sudut sofa, Rosa menyaksikan semuanya.
Malamnya, saat villa mulai sepi, Rosa kembali ke kamarnya dan mengunci pintu.
Ia membuka ponsel.
Di layar, ada folder berisi tangkapan layar lama, potongan artikel, dan catatan kecil yang ia kumpulkan sejak Bali. Jarinya berhenti pada satu kata yang sudah lama ia simpan, tetapi belum ia gunakan.
Gluten.
Sudut bibir Rosa melengkung dingin.
Seluruh negeri boleh menunggu WenReyn mengumumkan cinta mereka.
Rosa baru saja menemukan senjata yang lebih efektif daripada rumor.