Namanya Felicia. Hidupnya biasa-biasa saja — sampai dia terbangun di tubuh orang lain, di sebuah mansion yang lebih besar dari kampusnya, dengan cincin pernikahan di jari manisnya.
Suaminya? Kevin Surya — pewaris nomor tiga Surya Group, salah satu konglomerat terbesar di Indonesia. Wajah tampan yang tersembunyi di balik bekas luka. Tatapan sedingin freezer. Mulut yang tidak pernah mengucapkan lebih dari dua kalimat sekaligus.
Pernikahan mereka adalah kontrak. Tiga tahun. Tidak ada cinta, tidak ada harapan, tidak ada masa depan.
Tapi Felicia punya senjata rahasia — Sistem Kepo, AI misterius yang bersarang di otaknya dan memberinya informasi, obat-obatan ajaib, dan misi-misi gila.
Misi utama: Bantu Kevin Surya merebut kendali Surya Group. Deadline: 3 tahun. Gagal = konsekuensi fatal.
Dan Kevin? Dia punya rahasia sendiri.
Dia bisa membaca pikiran Felicia. Setiap. Kata. Yang. Dia. Pikirkan.
Termasuk saat Felicia berpikir:
"Abs-nya... ada berapa ya? Satu, dua, tiga— YA TUHAN DIA LIHAT AKU MENGHITUNG"
"Pasti gay. Pasti. Tidak mungkin cowok setampan ini straight."
"Kalau aku lempar Bola ke dia, dia bakal teriak kayak cewek tidak ya?"
"Kenapa... pelukan cowok ini sehangat ini..."
Di antara intrik mertua jahat (Madam Liem yang ingin menyingkirkan Kevin), adik tiri bermuka dua (Stella yang ingin mencuri segalanya), dan musuh dari luar negeri yang mengincar kehancuran keluarga Surya — Felicia harus bertahan, melawan, dan... jatuh cinta?
Padahal ini cuma kontrak. Kan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Kirana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29
Bab 29: Cia Skin Lab Meledak
Ryan melipat halaman itu hati-hati, seolah kalimat Felicia bukan catatan biasa, melainkan izin untuk bernapas lebih lega.
Felicia berharap hari itu bisa berakhir tenang setelah urusan Ryan.
Tentu saja, hidupnya tidak sesopan itu.
Menjelang sore, Rina berlari masuk ke ruang kerja kecil sambil membawa ponsel.
"Cia. Mereka mulai."
Felicia menerima ponsel itu. Di layar, akun anonim yang sama mengunggah thread baru.
Hati-hati dengan brand skincare mendadak. Ada istri konglomerat yang belum jelas latar belakangnya, belum jelas izin produknya, tapi sudah mengumpulkan waiting list. Jangan sampai publik jadi kelinci percobaan.
Di bawahnya, ada potongan video Cia Skin Lab yang dipelintir. Bagian Felicia mencatat tekstur serum dipotong seolah ia sedang mencampur produk asal-asalan di dapur rumah.
Komentar mulai panas.
Belum BPOM tapi sudah buka waiting list?
Jangan-jangan racikan rumah.
Pencitraan banget.
Felicia membaca semua itu sampai selesai.
Rina sudah siap meledak. "Aku buat thread balasan sekarang."
"Jangan."
"Cia."
"Kalau kita marah, mereka dapat gambar yang mereka mau."
Jason muncul dari pintu dengan laptop. "Aku sudah screenshot semua. Ada pola akun yang sama dengan rumor istri kontrak."
Kevin masuk beberapa detik kemudian. Wajahnya dingin. Adi berdiri di belakangnya dengan tablet.
"Kita bisa turunkan," kata Kevin.
Felicia menatapnya. "Dengan koneksi Surya?"
"Ya."
"Tidak."
Kevin menatapnya.
Felicia meletakkan ponsel di meja. "Kalau kita turunkan paksa, mereka akan bilang aku memakai kuasa Surya untuk menutup kritik. Kita jawab terbuka."
Rina mengusap wajah. "Terbuka bagaimana?"
Felicia membuka akun Cia Skin Lab. "Live."
Jason langsung duduk. "Oke. Aku suka ini."
Kevin berkata, "Risikonya tinggi."
"Aku tahu."
"Mereka akan menyerang langsung."
"Lebih baik mereka menyerang saat aku bisa menjawab daripada menyebar di belakang."
Kevin diam.
*Aku takut. Tapi aku lebih takut brand ini mati sebelum lahir karena aku bersembunyi.*
Kevin mendengar ketakutan itu. Ia ingin berkata biar aku urus. Tapi Felicia tidak meminta diselamatkan.
Ia meminta ruang bertarung.
"Adi," katanya akhirnya, "siapkan monitoring. Jangan intervensi kecuali ada doxxing atau ancaman fisik."
"Baik, Pak."
Felicia menatap Kevin. "Terima kasih."
"Jangan baca komentar terlalu lama."
"Baik."
Lima belas menit kemudian, Felicia duduk di depan meja bersih dengan latar putih sederhana. Di sebelahnya ada folder legal, daftar bahan, email konsultasi dengan lab Irene, dan papan kecil bertuliskan:
Cia Skin Lab: belum jual produk, masih tahap edukasi dan sample legal terbatas.
Rina memegang kamera. Jason mengatur lampu. Kevin berdiri di luar frame, cukup dekat untuk dilihat Felicia jika ia panik, cukup jauh agar publik tidak mengira ia memakai Kevin sebagai tameng.
Live dimulai.
Penonton awal: 324.
Lalu 700.
Lalu 1.500.
Felicia tersenyum ke kamera.
"Halo. Saya Felicia Santoso. Hari ini ada thread yang mempertanyakan Cia Skin Lab. Saya rasa pertanyaan soal keamanan produk itu valid. Jadi saya akan jawab satu per satu."
Komentar bergerak cepat.
Kok berani live?
Mana BPOM?
Ini produk udah dijual belum?
Felicia mengambil napas.
"Pertama. Cia Skin Lab belum menjual produk massal. Waiting list bukan transaksi. Tidak ada pembayaran, tidak ada pengiriman produk jual. Kedua, sample yang sedang kami siapkan hanya akan dibuat lewat lab maklon legal, bukan racikan dapur. Ini daftar bahan yang kami diskusikan, dan ini email awal dengan lab."
Ia mengangkat dokumen, menutup bagian sensitif.
"Ketiga, saya menolak klaim putih instan, glowing semalam, atau janji berlebihan. Fokus kami skin barrier dan edukasi. Kalau nanti produk sudah masuk tahap jual, izin dan nomor registrasi akan diumumkan sebelum penjualan, bukan setelah."
Komentar mulai berubah.
Oh, waiting list doang?
Dia jelas banget jelasin.
Respect karena tidak klaim aneh.
Namun akun penyerang tetap masuk.
Tapi kenapa campur di rumah? Itu kan jorok.
Felicia tersenyum. "Video yang beredar dipotong. Yang kami lakukan di rumah bukan produksi untuk kulit orang lain. Itu dokumentasi tekstur konsep menggunakan bahan demo yang tidak dijual. Produksi sample dilakukan di lab."
Jason mengangkat papan kecil bertuliskan: BUKAN PRODUK JUAL.
Rina hampir tertawa di balik kamera.
Kevin menatap komentar yang masih bergerak. Di antara serangan, dukungan mulai tumbuh lebih cepat.
Seorang beauty reviewer kecil masuk ke live dan bertanya sopan. Felicia menjawab dengan tenang. Lalu seorang dokter estetika yang pernah bekerja sama dengan Surya Foundation meninggalkan komentar:
Penjelasan soal tidak menjual sebelum izin itu tepat. Edukasi seperti ini perlu.
Komentar itu mengubah arus.
Penonton naik menjadi 8.000.
Rina menahan napas.
Jason berbisik, "Ini meledak."
Felicia tetap melihat kamera. "Saya tidak sempurna. Saya juga masih belajar. Tapi saya janji, Cia Skin Lab tidak akan memakai rasa insecure perempuan untuk menjual kebohongan."
Kalimat itu menyebar lebih cepat daripada tuduhan pertama.
Dalam tiga puluh menit, potongan live Felicia muncul di akun beauty community.
Istri konglomerat ini malah edukatif.
Akhirnya ada brand baru yang tidak jual putih instan.
Drama Surya aside, penjelasan Cia Skin Lab rapi.
Live selesai setelah empat puluh menit. Begitu kamera mati, Felicia menurunkan bahu dan hampir merosot di kursi.
Kevin bergerak cepat, tapi Rina lebih dulu memeluknya.
"Kamu keren," kata Rina.
Jason mengangkat laptop. "Waiting list naik jadi lima ribu."
Felicia mengangkat kepala. "Apa?"
"Lima ribu dua ratus," koreksi Jason. "Dan masih naik."
Kevin berdiri di depan meja. "Kamu menang."
Felicia menatapnya. "Belum. Tapi kita tidak kalah."
"Sama saja untuk hari ini."
Ia menyerahkan segelas air.
Felicia menerimanya. Tangannya sedikit gemetar, tapi kali ini bukan karena takut. Lebih seperti tubuhnya terlambat menyadari bahwa ia baru saja berdiri di depan ribuan orang dan tidak hancur.
***"Misi bisnis mikro naik level. Reward: 200 poin. Reputasi Cia Skin Lab: positif meningkat."***
Felicia memejamkan mata sebentar.
Di tempat lain, Stella menonton replay live itu dengan wajah kosong.
Brandon membanting ponselnya ke sofa.
"Kenapa malah jadi viral bagus?"
Stella tidak menjawab.
Ia hanya menatap kalimat yang dipotong orang-orang dari live Felicia.
Cia Skin Lab tidak akan memakai rasa insecure perempuan untuk menjual kebohongan.
Untuk alasan yang tidak ingin ia akui, kalimat itu terasa seperti menamparnya lebih keras daripada komentar apa pun.
Malam itu, Cia Skin Lab tidak jatuh.
Brand itu lahir di depan publik.
Notifikasi waiting list terus naik sampai tengah malam. Beberapa komentar bahkan mulai meminta Felicia membuat seri edukasi bahan aktif sederhana, bukan hanya produk. Rina langsung menulis daftar ide konten, sementara Jason mengusulkan judul yang semuanya ditolak karena terlalu heboh.
Dan kali ini, publik melihat Felicia bukan sebagai istri kontrak.
Melainkan sebagai perempuan yang berani berdiri di depan namanya sendiri.