4 tahun lalu, Naomi Liem dipaksa meninggalkan satu-satunya orang yang pernah dicintainya.
Dia hampir mati karenanya.
4 tahun kemudian, Darren Wijaya kembali — pewaris konglomerat terkaya, pria dengan mata rubah yang berbahaya, dan senyum yang bisa menghancurkan dunianya.
"Aku sudah menunggu 4 tahun. Kali ini, aku tidak akan melepaskanmu."
Yang tidak Naomi ketahui: Darren sudah diam-diam mencintainya selama 10 tahun. Sejak bangku SMA. Tanpa pernah goyah.
Yang tidak Darren ketahui: Ada rahasia gelap di balik perpisahan mereka — dan musuh yang jauh lebih berbahaya dari yang mereka bayangkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mira K., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 12
Bab 12
Pengumuman Resmi
Pagi setelah kebenaran itu terbuka, Naomi bangun di sofa ruang tamu dengan selimut menutup tubuhnya dan tangan Darren menggenggam jemarinya.
Pria itu tidur bersandar di lantai, kepala dekat lutut Naomi, seolah semalaman ia menjaga agar Naomi tidak menghilang dari pandangannya. Bekas air mata sudah mengering di wajahnya. Wajah Darren saat tidur tampak lebih muda, hampir seperti Darren SMA yang pernah mencuri kentang goreng dari piringnya.
Naomi menggerakkan tangan sedikit.
Darren langsung terbangun.
"Aku di sini," kata Naomi sebelum ia sempat panik.
Darren berkedip, lalu menggenggam tangannya lebih lembut. "Aku tahu. Aku cuma memastikan."
"Kamu tidak tidur di kamar."
"Kamu juga tidak."
"Aku tertidur karena capek."
"Aku tertidur karena takut kalau pindah kamu bangun sendirian."
Naomi menatapnya lama. Luka mereka belum selesai. Tetapi pagi itu, untuk pertama kalinya, luka itu tidak terasa seperti dinding. Lebih seperti sesuatu yang mereka duduki bersama sambil belajar bernapas.
Ponsel Darren bergetar di meja.
Billy: Bos, media sudah mulai menaikkan video Vanessa. Akun gosip minta konfirmasi status Nyonya Naomi.
Jason: Kalau lo mau membuat pengumuman, tolong jangan bikin gue kena serangan jantung lagi.
Tiffany: Nao hidup? Kalau iya, suruh suaminya posting yang jelas. Gue capek baca komentar orang sotoy.
Naomi membaca pesan Tiffany dan hampir tertawa.
Darren mengambil ponselnya. "Kita bisa menunggu kalau kamu belum siap."
"Menunggu apa?"
"Mengumumkan."
Naomi menatap cincin sederhana yang Darren selipkan di jarinya setelah mereka pulang dari Catatan Sipil. Bukan cincin besar, bukan batu yang berteriak mahal. Hanya lingkaran platinum tipis yang terasa hangat karena ia pakai semalaman.
"Kalau kita diam," katanya, "orang-orang akan membuat cerita sendiri."
"Aku bisa menghancurkan semua orang yang membuat cerita."
"Atau kita beri mereka cerita yang benar."
Mata Darren melembut.
Ia membuka Instagram. Akun Darren Wijaya yang selama ini jarang aktif memiliki jutaan pengikut karena wajahnya, bisnisnya, dan reputasinya sebagai pewaris paling sulit didekati. Unggahan terakhirnya bahkan sudah enam bulan lalu, hanya foto gedung Wijaya Group tanpa caption menarik.
Kali ini, ia memilih foto yang diambil Jason diam-diam di Catatan Sipil.
Dalam foto itu, Naomi sedang menandatangani dokumen. Darren duduk di sampingnya, menatap Naomi, bukan kamera. Tatapannya terlalu jujur, hampir membuat Naomi malu melihatnya.
"Jangan pakai foto itu," kata Naomi.
"Kenapa?"
"Wajahmu seperti..."
"Seperti apa?"
"Seperti orang bodoh."
Darren tersenyum. "Bagus. Aku memang bodoh karena kamu."
Naomi memukul lengannya pelan.
Darren menulis caption dengan cepat, lalu menyerahkan ponsel pada Naomi sebelum menekan unggah.
Naomi membaca.
Empat tahun lalu aku kehilangan rumahku. Hari ini, aku menemukannya lagi.
Naomi Liem, istriku. Satu-satunya.
Tidak ada pertunangan lain. Tidak ada perempuan lain. Tidak ada ruang untuk kebohongan lagi.
Naomi menelan napas.
"Terlalu keras?" tanya Darren.
"Tidak." Naomi mengembalikan ponsel. "Pas."
Darren menekan tombol unggah.
Dalam tiga menit, komentar meledak.
Selamat, Pak Darren!
Jadi Vanessa bohong?
Naomi Liem itu owner Maison de Belle, kan? Cantik banget.
Caption-nya gila. CEO bucin resmi.
Tiffany mengirim tangkapan layar ke grup kecil yang baru dibuat Jason dengan nama DarNao Crisis Center.
Tiffany: AKHIRNYA. Sekarang gue bisa tidur tanpa mau berantem sama akun gosip.
Jason: DarNao? Nama grup ini seni.
Tiffany: Nama grupnya norak. Ganti.
Billy: Mohon jangan ribut, saya sedang koordinasi media.
Darren melihat nama grup itu, lalu menatap Naomi. "DarNao terdengar bagus."
"Terdengar seperti nama menu boba."
"Aku bisa beli franchise."
"Jangan."
Humor kecil itu membuat suasana penthouse yang semalam penuh tangis terasa lebih manusiawi.
Di saat yang sama, ponsel kerja Naomi tidak berhenti bergetar. Admin Maison de Belle mengirim pesan panik karena DM Instagram toko mendadak penuh. Ada permintaan fitting dari istri direktur bank, pesanan gaun pertunangan dari selebgram, bahkan tawaran kolaborasi dari majalah fashion lokal.
Naomi menatap layar, antara bingung dan geli. "Toko kita hampir tidak punya slot bulan ini."
Darren langsung berkata, "Aku bisa kirim tim operasional."
Naomi menoleh.
Ia mengangkat kedua tangan. "Atau aku diam dan membiarkan pemiliknya mengatur sendiri."
"Pilihan kedua."
"Baik, Nyonya."
Namun di ruang kerja Darren beberapa jam kemudian, sisi lain dari pengumuman itu berjalan tanpa humor.
Billy berdiri di depan meja dengan daftar kerja sama Shen Capital di tablet. "Bos, tiga brand kosmetik yang memakai Vanessa sebagai ambassador sudah minta arahan. Dua investor minor di proyek lifestyle juga menunggu keputusan Wijaya Group."
Darren duduk di kursi kerja, Naomi di sofa samping jendela dengan laptopnya sendiri. Ia tidak ikut mengatur bisnis Darren, tetapi Darren sengaja membiarkan pintu ruang kerja terbuka dan menjelaskan setiap keputusan besar.
"Bekukan semua kerja sama yang memakai nama Vanessa," kata Darren.
Billy mengetik cepat. "Termasuk acara amal bulan depan?"
"Tarik sponsor. Alihkan dana ke yayasan yang tidak punya hubungan dengan Shen."
"Investasi di Shen Capital?"
"Hentikan negosiasi. Untuk kontrak berjalan, serahkan ke legal. Cari klausul reputasi."
Naomi mengangkat wajah. "Darren."
Ia langsung menoleh. "Terlalu keras?"
"Aku tidak minta kamu menghancurkannya untukku."
"Aku tahu." Darren menutup tablet Billy dengan satu jari, lalu menatap Naomi sepenuhnya. "Ini bukan hanya untukmu. Vanessa memalsukan dokumen medis, menyuap staf, menyebarkan klaim palsu, dan menyeret nama Wijaya Group. Kalau aku membiarkannya, besok orang lain akan melakukan hal yang sama."
Naomi diam.
"Tapi," tambah Darren, "kalau ada bagian yang membuatmu tidak nyaman, aku dengarkan."
Naomi merasakan sesuatu di dadanya melunak. Dulu banyak orang membuat keputusan atas namanya. Kevin. Vanessa. Bahkan Darren, dengan Akta Nikah dan semua dokumen gilanya. Kali ini, Darren berhenti dan bertanya.
"Lanjutkan," kata Naomi. "Tapi jangan pakai namaku untuk semua keputusan."
"Baik."
Billy menatap mereka bergantian, lalu pura-pura sibuk agar tidak terlihat terharu.
Sore harinya, Tiffany datang membawa kue tart kecil bertuliskan Selamat Menikah, Jangan Bikin Gue Stres. Jason datang di belakangnya membawa minuman, sementara Billy memesan dimsum karena katanya ia butuh karbohidrat setelah dua hari krisis.
Rainbow memakai pita baru dan berlari di antara kaki semua orang.
"Untuk pasangan paling bikin darah tinggi se-Kota Megah," kata Tiffany sambil mengangkat gelas jus. "Semoga mulai sekarang dramanya lebih banyak yang manis."
"Amin," kata Billy paling keras.
Darren melingkarkan tangan di belakang sandaran sofa Naomi, tidak menyentuh sebelum Naomi bersandar sendiri. Ketika Naomi akhirnya menyandarkan bahunya padanya, senyum Darren hampir tidak bisa disembunyikan.
Ponsel Darren berdering tepat saat tawa memenuhi ruangan.
Nama yang muncul di layar membuat suasana berubah.
Papa.
Darren menatap layar beberapa detik sebelum mengangkat.
"Ya, Pa."
Suara Raymond Wijaya terdengar rendah, berat, dan tidak memberi ruang untuk basa-basi.
"Pulang. Kita perlu bicara."