No Plagiat ❌
Sejak kecil, Valerie Sinclair selalu bermimpi tentang seorang anak laki-laki bernama Hazel yang tumbuh bersamanya, namun setelah Hazel di mimpinya tumbuh remaja wajahnya tak pernah terlihat jelas. Setelah kehilangan kedua orang tuanya dalam kecelakaan tragis, Valerie menikah kontrak dengan Damian demi membalas budi keluarga konglomerat yang diselamatkan orang tuanya.
Seiring waktu, Valerie jatuh cinta pada Damian karena sosoknya begitu mirip dengan pria dalam mimpinya. Namun sikap Damian yang dingin membuat Valerie memilih bercerai. Saat Damian akhirnya menyadari perasaannya dan berusaha merebut kembali hati Valerie, sebuah kecelakaan mengungkap rahasia mengejutkan tentang mantan istrinya yang membuat Damian prustasi.
Mampukah Damian mendapatkan kembali cinta wanita yang pernah ia sia-siakan, atau kesempatan kedua ini justru datang terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Luh Belong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesalahpahaman keluarga.
Mobil melesat menembus jalanan malam. Sesampainya di rumah sakit, Damian kembali mengangkat Valerie dan berlari menuju instalasi gawat darurat.
“Dokter! Tolong!”
Beberapa perawat yang melihat kondisi Valerie segera mendorong brankar.
“Tolong baringkan pasien di sini!”
Dengan sigap mereka membawa Valerie memasuki ruang penanganan darurat. Lalu pintu ruang pemeriksaan tertutup, meninggalkan Damian yang berdiri di luar.
Damian tidak mampu menyembunyikan kepanikannya. Ia mondar-mandir di depan pintu ruang perawatan, berkali-kali menatap lampu yang masih menyala.
Donny berdiri tak jauh darinya.
“Tuan Muda... duduklah sebentar.”
Damian menggeleng pelan, tatapannya tak pernah lepas dari pintu ruangan itu. Didalam hatinya mulai menyalahkan dirinya atas apa yang terjadi pada Valerie pada hari ini.
Nyonya Margaretha bersama Harrison dan Jennifer tiba di rumah sakit dengan langkah tergesa. Wajah mereka dipenuhi kecemasan sejak menerima kabar mengenai Valerie.
Begitu memasuki lorong rumah sakit, pandangan mereka langsung tertuju pada Damian yang masih mondar-mandir di depan ruang perawatan.
Kemeja putih yang dikenakannya tampak kusut, sementara sorot matanya kosong, dipenuhi kecemasan dan penyesalan. Ia bahkan tidak menyadari kedatangan mereka hingga Nyonya Margaretha memanggil namanya.
“Damian.”
Damian menghentikan langkahnya, lalu menoleh.
“Bagaimana keadaan Valerie?”
Nyonya Margaretha terlihat khawatir, dan suaranya terdengar bergetar.
Damian menggeleng pelan.
“Dokter masih di dalam, jadi aku belum tahu bagaimana kondisinya.”
Jawaban itu membuat suasana kembali sunyi. Tak seorang pun sanggup mengucapkan sepatah kata. Mereka hanya bisa duduk di kursi ruang tunggu dengan hati yang dipenuhi kecemasan, sesekali melirik pintu ruang perawatan yang masih tertutup rapat.
Menit demi menit berlalu begitu lambat.
Hingga akhirnya pintu ruang perawatan terbuka. Seorang dokter bersama dua perawat keluar sambil melepaskan sarung tangan medis.
Nyonya Margaretha segera berdiri dan menghampiri dokter.
“Dokter... bagaimana keadaan cucu saya?”
Nyonya Margaretha menunggu jawaban dokter dengan penuh harap.
Dokter memberikan senyum tipis yang menenangkan.
“Syukurlah, kondisi pasien sudah sadar dan saat ini dalam keadaan stabil.”
Semua orang mengembuskan napas lega.
“Ketika tiba di rumah sakit, tekanan darahnya sangat rendah akibat dehidrasi yang cukup berat hingga menyebabkan ia kehilangan kesadaran.”
“Kami telah memberikan cairan infus dan penanganan medis. Saat ini kondisinya berangsur membaik.”
Namun, senyum tipis di wajah dokter perlahan memudar. Ekspresinya berubah serius.
“Ada hal lain yang perlu kami sampaikan kepada keluarga.”
Suasana yang semula sedikit lega kembali menegang.
“Dari hasil pemeriksaan medis, kami menemukan tanda-tanda yang mengarah pada dugaan kekerasan seksual. Kami telah melakukan penanganan sesuai prosedur untuk memastikan keselamatan dan kesehatan pasien.”
Semua orang sontak mengalihkan pandangan ke arah Damian. Nyonya Margaretha menatapnya dengan sorot mata penuh ketidakpercayaan. Harrison tampak membeku, wajahnya menyiratkan keterkejutan yang begitu jelas. Sementara itu, Jennifer menatap Damian dengan tajam. Tatapannya dingin dan penuh tekanan.
Sementara itu, Damian membeku di tempatnya. Rahangnya mengeras, kedua tangannya mengepal begitu kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya terasa sesak, seolah ada tangan tak kasatmata yang meremas jantungnya tanpa ampun.
Dokter melanjutkan penjelasannya dengan suara tenang.
“Saat ini yang paling dibutuhkan pasien adalah rasa aman, dukungan dari keluarga, dan kenyamanan. Mohon jangan memaksanya menceritakan apa yang terjadi apabila ia belum siap. Korban kekerasan seksual umumnya mengalami syok dan trauma yang sangat mendalam.”
Dokter memberi jeda sejenak sebelum kembali berbicara.
“Kami juga menyarankan agar pasien mendapatkan pendampingan psikologis setelah kondisi fisiknya benar-benar stabil. Jika keluarga memutuskan untuk melaporkan kejadian ini kepada pihak berwajib, rumah sakit dapat membantu sesuai prosedur yang berlaku.”
Ia memandang mereka satu per satu.
“Untuk sementara, kalian sudah boleh menjenguknya. Tapi tolong jangan membuat pasien terlalu lelah.”
Tak seorang pun mampu menjawab.
Keheningan menyelimuti lorong rumah sakit. Di tengah kesunyian itu, Damian perlahan memejamkan mata. Penjelasan dokter terus terngiang di kepalanya, menjadi beban yang terasa semakin berat memenuhi dadanya.
Nyonya Margaretha kembali mengalihkan pandangannya ke arah Damian, tatapannya dipenuhi amarah dan kekecewaan.
“Damian...”
“Apa... ini perbuatanmu semalam?”
Lorong rumah sakit kembali hening.
Damian tidak mampu mengangkat kepalanya. Dengan rahang mengeras dan dada yang terasa sesak, ia hanya menganggukkan kepala pelan sebagai jawaban.
Melihat pengakuan itu, Nyonya Margaretha sontak kehilangan kendali. Dengan tangan yang gemetar, ia menunjuk-nunjuk Damian.
“K-kamu menindas cucuku Valerie?” bentaknya, suaranya pecah menahan emosi.
Damian tetap terdiam. Ia tidak membela diri maupun mencari alasan.
“Dimana otakmu Damian?!”
“Tubuh Valerie jauh lebih kecil darimu. Dia cucuku... gadis yang seharusnya kamu lindungi.”
“Kamu justru membuatnya menyedihkan!”
Setiap kalimat yang keluar dari mulut Neneknya, terasa seperti fakta yang tidak dapat Damian hindari.
“Kamu yang menemukannya dalam kondisi tidak sadarkan diri. Mengalami dehidrasi, syok, dan kekerasan seksual!”
“Apa kamu tidak memikirkan sedikit pun penderitaan yang selama ini dia pendam?”
“Apa kamu tidak bisa menyentuh dan menghabiskan malam seperti pria normal?!”
“Apa jangan-jangan kamu memiliki selera yang menyimpang?”
“Sehingga Valerie kabur dari rumah dalam kondisi syok seperti itu?”
Damian memejamkan mata. Jemarinya mengepal erat, sementara rasa bersalah terus menghimpit dadanya.
“Aku bisa menjelaskan semuanya pada Nenek.”
“Tapi tolong percaya padaku, aku tidak bermaksud menyakiti Valerie.”
“Aku sadar, aku salah.”
“Aku... tidak punya alasan untuk membenarkan apa yang telah kulakukan semalam.”
“Aku minta maaf.”
Nyonya Margaretha menggeleng berkali-kali.
“Apa kamu pikir maafmu cukup menghapus luka yang sudah kamu tinggalkan di hati dan tubuh Valerie, Damian.”
Melihat emosi ibunya semakin tak terkendali, Harrison segera menghampiri Nyonya Margaretha. Dengan lembut, ia menggenggam bahu wanita itu agar sedikit lebih tenang.
“Bu... tenanglah,” ucap Harrison pelan. “Sekarang lebih baik melihat kondisi Valerie.”
Nyonya Margaretha masih terlihat marah. Dadanya naik turun menahan sesak, sementara tatapannya tetap tertuju pada Damian dengan penuh kekecewaan.
“Aku tidak menyangka, menikahkan Valerie dengannya adalah keputusan yang paling aku sesali.”