Delapan tahun merajut kasih, hubungan Zacheriyya Tengiz dan Evander Vale-Knight hancur lebur dalam satu malam akibat pengkhianatan yang tak termaafkan.
Alih-alih menyesal, Evander justru menyebut tindakan kejamnya sebagai pembalasan ego yang setimpal atas kesalahan masa lalu.
Terluka dan murka, Zacheriyya pergi dengan sumpah tidak akan pernah memaafkan pria itu sampai ia mati.
Dua tahun berlalu dalam pelarian, takdir dengan kejam mempertemukan mereka kembali.
Rasa cinta yang dulu membara kini telah sepenuhnya bermutasi menjadi kebencian yang dingin dan mematikan. Pertemuan tak terduga ini seketika menyulut kembali sumbu dendam lama dan perang ego yang sengit di antara keduanya.
Mereka kini berdiri berseberangan sebagai dua mantan kekasih yang saling membenci setengah mati, siap saling menjatuhkan lewat tatapan tajam dan kata-kata berbisa.
Di tengah pusaran benci dan luka lama yang kembali menganga, siapakah yang akan hancur terlebih dahulu dalam permainan rasa yang berbahaya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#24
BUGH! BUGH! BUGH!
Suara benturan keras dari sarung tinju berbobot 14 ons yang menghantam punching pad bergema di seluruh sudut sasana olahraga Markas Komando EOD Pusat Los Angeles.
Lantai karet berdinding beton itu menebarkan aroma khas perpaduan antara pelapis keringat, karet sintetis, dan minyak terapi otot.
Tiga puluh menit yang lalu, pengawas piket sore mengarahkan seluruh 35 peserta warga sipil menuju fasilitas kebugaran utama markas untuk sesi orientasi fisik mandiri.
Waktu sore itu dibebaskan—sebuah masa rehat yang sengaja diberikan agar para peserta bisa merelaksasi otot-otot yang kaku usai lari perbukitan dan sesi teori bawah tanah yang melelahkan.
Namun, alih-alih beristirahat atau sekadar menikmati fasilitas Treadmill ber-AC, perhatian puluhan peserta dan beberapa prajurit jaga langsung tersedot ke arah ring tinju berpagar tali baja di tengah ruangan.
Di sana, di bawah pijaran lampu sorot sasana yang terang benderang, Zacheriyya bergerak seperti kilat.
Rambut panjangnya dikuncir kuda ketat, bergerak liar mengikuti setiap sudut manuver tubuhnya. Ia mengenakan kaos singlet taktikal hitam yang membungkus ketat lekuk tubuhnya yang atletis dan celana pendek olahraga.
Kedua tangannya terbungkus sarung tinju merah. Langkah kakinya di atas matras begitu presisi, cepat, dan tanpa cela—khas seorang instruktur pertarungan jarak dekat berlisensi militer.
Di hadapannya, Evander berdiri menahan gempuran. Pria itu bertelanjang dada, memperlihatkan bahunya yang lebar, otot dada yang bidang bertorehkan garis-garis ketegasan fisik, serta peluh yang mengalir berkilauan menelusuri perut berototnya.
Kedua tangannya memegang pad penahan pukulan.
BUGH!
Sebuah pukulan straight kanan yang sangat telak merangsek masuk, menembus pertahanan pad Evander dan menghantam tepat di pelindung dada pria itu.
Benturan kuat itu membuat tubuh tegap Evander terdorong mundur dua langkah, roda sepatu olahraganya mencicit di atas matras.
"Lagi! Jangan mengendur!" gertak Zacheriyya dingin, matanya berkilat tajam. Tanpa memberi jeda satu detik pun, Zacheriyya merangsek maju, melayangkan kombinasi jab-hook kiri yang begitu cepat dan mematikan hingga udara di sekitarnya seolah bersiul.
BUGH! BUGH!
Evander gagal mengantisipasi sudut pukulan kedua. Sarung tinju Zacheriyya mendarat telak di rusuk kirinya, disusul dorongan bahu yang membuat Evander tersudut hingga punggungnya menghantam tali ring.
Di luar ring, para peserta warga sipil menyergap napas bersamaan.
Svea menutup mulutnya dengan kedua tangan, sementara Daniel dan Lucas melotot tak percaya melihat bagaimana seorang peserta bertubuh tegap seperti Evander dibantai tanpa ampun oleh sang instruktur wanita.
"Gila... Instruktur Zacheriyya benar-benar tidak memberi ampun," bisik Lucas ngeri. "Lihat gerakan kakinya, cepat sekali!"
"Evander yang cari penyakit sendiri," balas Svea menggelengkan kepala. "Siapa suruh dia tadi berteriak mengajukan diri mengajak duet bertarung begitu melihat Zacheriyya ada di ring?"
Memang, tiga puluh menit lalu saat rombongan baru tiba, Evander-lah yang secara terbuka melangkah maju.
Saat melihat mantan kekasihnya sedang melakukan pemanasan sendirian di dalam ring, pria itu dengan percaya diri meminta 'sesi hukuman khusus' dari Instruktur Zacheriyya sebagai ganti atas pelanggaran barisan pagi tadi.
Dan di sinilah mereka sekarang.
Di dalam ring, Zacheriyya menempelkan dahi dan sarung tinjunya ke dada Evander yang naik-turun memburu napas. Jarak mereka kini nihil. Peluh Zacheriyya menetes di atas dada telanjang Evander, sementara deru napas hangat mereka beradu di udara sore yang dingin.
"Kenapa?" bisik Zacheriyya lurus di depan wajah Evander, suaranya sengaja ditahan agar tidak merambat keluar dari arena ring. "Kenapa kau melakukan tindakan konyol ini, Evander? Kau sengaja membiarkan dirimu jadi samsak hidupku di depan semua orang?"
Evander menengadah sedikit, menyandarkan kepalanya pada tali ring di belakangnya. Meski tubuhnya merasakan nyeri memar akibat pukulan-pukulan telak sang mantan kekasih, bibir pria itu justru mengukir senyuman miring yang begitu tampan dan nakal.
"Tidak, sayang..." bisik Evander dengan suara bass yang sangat rendah, bergema intim hanya untuk pendengaran Zacheriyya. "...aku cuma merindukanmu. Sangat merindukanmu sampai rasanya dipukuli olehmu pun terasa jauh lebih baik daripada tidak disentuh sama sekali."
Mata Zacheriyya membelalak pelan. Penggunaan kata panggil 'sayang' itu seperti sengatan listrik yang langsung membakar sarafnya.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" desis Zacheriyya tajam, mendorong dada Evander dengan sarung tinjunya. "Aku bukan lagi kekasihmu. Hubungan itu sudah berakhir dua tahun lalu!"
Evander terkekeh pelan. Ia memanfaatkan dorongan itu untuk memutar posisinya secara kilat. Dengan manuver tubuh yang sangat halus dan bertenaga, Evander membalikkan keadaan—memenjarakan tubuh kecil Zacheriyya di antara kedua lengannya yang kekar dan tali ring.
"Iya, aku tahu," ucap Evander mulai memainkan lelucon gilanya. Wajahnya mendekat hingga jarak bibir mereka hanya tersisa dua sentimeter. "Kau bukan kekasihku lagi... karena kau itu istriku sekarang. Mantan kekasih yang naik cetak jadi masa depanku."
"Evander Vale-Knight!" ancam Zacheriyya menahan geram di balik giginya yang rapat.
Para peserta di luar ring bertepuk tangan dan bersorak, mengira apa yang sedang terjadi di dalam ring adalah bagian dari demonstrasi teknik kuncian rapat dalam pertempuran jarak dekat.
Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik riuh tepuk tangan itu, dua orang di tengah ring sedang melakukan pertarungan verbal yang sarat akan kode dan bahasa terselubung.
Zacheriyya merendahkan tubuhnya, menyusupkan lutut kanannya di antara dua paha Evander—sebuah posisi kuncian takedown mematikan yang biasa digunakan untuk melumpuhkan musuh.
"Kau pikir ini permainan, huh?" bisik Zacheriyya, memiringkan kepalanya dengan tatapan menantang. "Kau mau bermain di sini, Mr. Vale-Knight? Let's play by my rules."
(Mari kita bermain dengan aturanku.)
Zacheriyya sengaja menggeser tumpuan lututnya ke atas, menekan bagian dalam paha Evander dengan sentuhan yang begitu intens dan berbahaya. Pria itu menegang seketika, matanya berkilat gelap menahan gejolak mendadak yang menyengat selangkangannya.
"Kau tahu betul..." bisik Zacheriyya lagi, menempelkan bibirnya di bawah daun telinga Evander, menghembuskan napas hangat yang beraroma mint. "...sentuhan lututku di titik ini bisa membuatmu berlutut dan tak bisa 'bangkit' selama tiga hari, Evan. Kau mau aku menghancurkan 'keperkasaanmu' di sini, di depan para penontonmu?"
Evander merapatkan giginya, napasnya makin berat dan dalam. Pria itu menyeringai liar, membalas permainan berbahaya mantan kekasihnya. Tangannya yang terbungkus pad bergerak turun secara tertutup di balik punggung Zacheriyya, menekan pinggang bawah wanita itu agar makin merapat pada tubuhnya yang panas.
"Try me, Cher," balas Evander dengan bisikan vulgar yang sangat dalam dan serak, menyenggolkan ujung hidungnya ke leher Zacheriyya. "Hancurkan aku sesukamu. Lagipula, kau adalah pemilik setiap jengkal bagian tubuhku. Tapi ingat... makin keras kau menekan ku di sini, makin keras juga aku akan membalas mu di dalam kamarmu nanti malam. Aku akan memastikan kau tidak akan bisa berjalan tegak untuk apel pagi besok."
Kata-kata yang teramat berani dan vulgar itu membuat tubuh Zacheriyya merinding seketika.
Sensasi panas membakar menjalar dari perut bawahnya hingga ke seluruh permukaan kulitnya.
Bahasa yang hanya dimengerti oleh mereka berdua—bahasa pemicu gairah dan dominasi yang selalu mereka gunakan saat masih memadu kasih dulu—kini kembali meledak di tengah-tengah ring militer.
Zacheriyya tahu ia bisa kehilangan kendali jika terus meladeni kegilaan Evander.
Dengan dorongan napas terakhir dan pertahanan profesionalitasnya, Zacheriyya menarik lututnya, menggunakan tumpuan tali ring untuk melompat mundur dua langkah, memutus kontak fisik berbahaya di antara mereka.
TAP!
Zacheriyya mendarat dengan stabil di matras. Ia mengangkat kedua sarung tinjunya ke posisi bertahan, napasnya memburu, dadanya naik-turun dengan cepat. Pipi dan telinganya merona merah padam—sesuatu yang untungnya dianggap oleh para peserta luar sebagai akibat dari kelelahan fisik.
"Sesi demonstrasi selesai!" seru Zacheriyya dengan suara nyaring dan tegas melintasi sasana, memutus gejolak panas di antara mereka.
Tepuk tangan meriah langsung meledak dari para peserta warga sipil dan beberapa prajurit yang menonton di pinggir ring.
"Luar biasa! Pelatihan kuncian yang sangat intens!" teriak Daniel kagum.
"Evander hebat juga bisa bertahan dari serangan Instruktur Zacheriyya selama itu!" puji Lucas.
Svea dan Alessia yang berdiri agak dekat hanya bisa saling bertukar pandang dengan wajah miris. Mereka berdua tahu betul bahwa apa yang baru saja terjadi di dalam ring bukanlah sekadar "demonstrasi teknik kuncian", melainkan ajang flirteran gila dan pelepasan rindu paling ekstrem yang pernah dilakukan oleh dua orang mantan kekasih.
"Aku yakin sepuluh ribu persen," bisik Svea pada Alessia sembari menggelengkan kepala. "Ruang simulasi EOD ini bakal meledak bukan karena bom, tapi karena hawa panas dari mereka berdua."
Alessia menghela napas panjang, memijat pelipisnya. "Tolong ingatkan aku untuk membeli penyumbat telinga besok. Aku punya firasat buruk soal ketenangan koridor asrama nanti malam."
Di dalam ring, Evander melepaskan pad dari tangannya, membiarkan benda itu jatuh ke matras. Pria itu menyapu keringat di wajah dan dadanya dengan handuk kecil yang dilempar oleh petugas jaga, tanpa pernah melepaskan pandangannya dari Zacheriyya.
Zacheriyya berbalik membelakangi Evander, melepas tali kuncir rambutnya dan membiarkan rambut hitamnya terurai bebas.
Namun sebelum ia sempat melangkah turun dari tangga ring, suara bass Evander kembali terdengar pelan di belakangnya—suara yang hanya diperuntukkan bagi dirinya.
"Terima kasih atas 'hukumannya', Instruktur," bisik Evander dengan senyuman miring yang begitu menawan. "Badanku memang pegal semua... tapi hatiku belum pernah merasa sesegar ini selama dua tahun terakhir."
Zacheriyya menghentikan langkahnya di tangga ring. Ia tidak menoleh, namun sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat manis—senyuman yang ia sembunyikan rapat-rapat dari dunia luar.
"Bersihkan dirimu, Peserta Evander," sahut Zacheriyya dingin namun hangat. "Dan siap-siap. Jadwal piket malammu dimulai pukul delapan tepat."
Zacheriyya melangkah turun, meninggalkan sasana dengan langkah tegap. Sementara Evander berdiri di tengah ring, menatap punggung wanita pujaannya dengan Binar cinta yang tak akan pernah padam.
Zacheriyya
omg evander aku padamu😘😘
gemes deh ama merka berdua