NovelToon NovelToon
Can I Stay? | By Shea

Can I Stay? | By Shea

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Cintapertama / Ketos
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Shea Alicia

Michelle kembali ke Indonesia setelah enam tahun menetap di luar negeri untuk menemui calon tunangannya, Alvin. Namun, ia tak pernah menyangka bahwa begitu banyak hal telah berubah, termasuk pria yang pernah berjanji akan menunggunya. Waktu dan jarak telah mengubah Alvin hingga Michelle merasa tak lagi mengenali sosok yang dulu begitu dicintainya.

Kenyataan yang paling menghancurkan hatinya adalah Alvin kini telah memiliki seorang kekasih yang begitu dicintai. Tempat yang dulu menjadi milik Michelle, kini telah diisi oleh orang lain.

Benarkah waktu mampu menghapus cinta yang pernah begitu dalam? Ataukah masih ada secercah rasa yang tersisa di hati Alvin untuk Michelle? Saat takdir kembali mempertemukan mereka, apakah mereka akan menemukan jalan pulang... atau justru menyadari bahwa beberapa cinta memang ditakdirkan untuk menjadi kenangan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shea Alicia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 28

Devis bersandar di tembok belakang kantin, cowok itu memperhatikan ponsel di tangannya. Pesannya sudah dibaca, tapi tidak ada respon. Cowok itu menegakkan posisi berdirinya, lalu pergi dari belakang kantin sebelum kulitnya bentol-bentol karena nyamuk.

​"Vis, dari mana aja lo?" tanya Arga begitu Devis datang dari samping kantin.

​"Biasa," jawab Devis acuh, lalu duduk di samping Ezra yang baru memesan es tehnya.

​"Dicariin Michelle tuh tadi, dia celingukan di situ," kata Ezra. "Tapi cabut, takut lihat mukanya Gino."

​"Syaland lo!" umpat Gino sambil melempar kulit kacang, cowok berbadan gempal dengan kulit sawo matang itu memasang tampang tidak terima.

​Ezra mengangkat kedua tangannya. "Ampun baang, bercanda gue!"

​"Tapi bener sih, cewek-cewek yang mau ke sini langsung kabur kalau lihat Gino. Kenapa ya?" tanya Dion yang duduk di samping Arga, membuat Gino kini menatapnya.

​"Lo kalo ada masalah bilang langsung ke gue, Yon. Kita gelut sekarang, di mana? Di sini apa di luar aja?"

​"Jangan di luar, No, entar kalau dia udah pakek jaket denimnya bisa berubah jadi ​singa kelaparan itu bocah."

​Gino mencibir. "Nggak takut gue! Entar pulang sekolah gimana?"

​Dion tertawa. "Nggak lah, nggak ada waktu buat olahraga nih gue, mau ada rapat dinas. Ya nggak, Vis?"

​Devis hanya bergumam, pandangan cowok itu tertuju pada pintu masuk kantin, memperhatikan para siswa yang lalu lalang melewati pintu itu.

​"Vis, lo ada masalah? Diem aja perasaan."

​Devis menggeleng, lalu beranjak.

​"Ehh, mau ke mana Vis?" tanya Ezra gelagapan.

​"Cabut," jawab Devis singkat, lalu langkahnya tertahan. Cowok itu berbalik. "Michelle tadi ke mana?"

​Pertanyaan Devis lantas membuat teman-temannya saling bertatapan, bingung. Kecuali Ezra dan Arga yang memainkan alis mereka.

​"Mau nyari Michelle lo? Ada apa sama dia?" tanya Arga.

​"Wahhh! Baru juga putus lo, Vis, gercep banget!" sahut Ezra.

​Dion yang tidak mengerti menatap Devis, Ezra, dan Arga bergantian. "Michelle yang mana, bro? Kok gue nggak tau?"

​"Dih, emang lo siapa?" cibir Ezra yang langsung mendapat lemparan kulit kacang dari Dion.

​"Ke sana, Vis, paling juga ke kelas. Tadi gue lihat si anak renang tuh nyamperin dia, sekelasnya Michelle kan tuh bocah," ujar Arga.

​"Anak renang?"

​"Si Raffi Raffi itu."

​"Raffa, bego! Raskal mah si anak futsal pacarnya Tania!" sahut Dion membenarkan jawaban Arga.

​Devis memutar bola matanya malas karena teman-temannya malah berdebat sendiri, ia memilih meninggalkan kantin dan mencari cewek itu. Cewek yang berani-beraninya hanya membaca chat dan mengabaikan dirinya, mengabaikan seorang Devis Zelvaron.

​.

.

.

.

.

​"Alvin Alvin Alvin!"

​Shena dan Devan memasuki ruang khusus anggota futsal putra dengan tergesa sambil menenteng dua kantung kresek berisi gorengan legendaris dari salah satu kantin sekolah. Dua cowok itu tampak ngos-ngosan seperti baru kejar-kejaran dengan anjing tetangga.

​"Lo berdua kenapa lari-lari, dikejar utang?" tanya Raskal, menatap dua rekan timnya itu.

​"Bukan dikejar, kita buru-buru ke sini mau ngasih info!" jawab Shena yang menumpu tangan pada lutut sambil mengatur napas.

​"Sini dulu gorengannya, udah laper banget nih." Raskal mengambil alih gorengan dari tangan Shena, lalu meletakkannya di atas meja.

​"Info apa?" tanya Alvin, cowok itu mengalihkan perhatian dari ponselnya pada Shena dan Devan.

​"Michelle!" jawab Devan tidak santai. "Masa gue denger Devis mau deketin Michelle."

​"Emang iya?" tanya Shena, seingatnya ia tidak mendengar perkataan itu saat menguping obrolan Devis dan teman-temannya tadi.

​Devan melirik Shena, lalu mengedipkan satu mata seolah memberi isyarat. Shena yang mengerti lantas mengangguk cepat.

​"Dia lagi nyariin si Michelle tuh!"

​"Terus?"

​Shena dan Devan, bahkan Raskal dibuat tercengang dengan jawaban santai Alvin. Cowok itu bahkan kembali menunduk menatap ponselnya.

​"Nggak ada respon lain gitu, Le?" tanya Shena. "Itu Devis loh, Le, Devis! Lo lupa sama kejadian Key dulu?"

​"Urusannya udah beda, Key ya Key, Michelle ya Michelle."

​Shena mengerutkan kening. "Le." Cowok itu berjalan mendekati Alvin, lalu menepuk pundaknya. Shena mendekat, membisikkan sesuatu yang membuat Alvin langsung menatapnya tidak suka.

​Alvin berdecak, cowok itu beranjak dan keluar dari ruangan dengan sedikit bantingan saat menutup pintu. Devan sampai terlonjak karena suara pintu tertutup, sementara Raskal menatap Shena yang malah tersenyum puas.

​"Lo bisikin apa tuh sepupu lo?" tanya Raskal pada Shena.

​Shena mengedikkan bahu. "Nggak apa-apa, sini gue minta gorengannya."

​Devan tidak puas dengan jawaban Shena, cowok itu mendekat dan berdiri di samping Shena yang kini makan pisang goreng sambil duduk di atas meja.

​"Kalau dipikir-pikir, kenapa tadi harus laporan ke Alvin ya? Kalau Michelle sepupunya Alvin kayak yang dia bilang, berarti Michelle juga sepupu lo dong?" tanya Devan, bingung. "Kenapa nggak lo aja yang peringatin Michelle soal Devis?"

​Shena masih menikmati gorengan di tangannya, gorengan terenak yang pernah Shena makan selama sekolah. Karenanya bisa mendapat gorengan ini sebelum kehabisan adalah sebuah keberuntungan.

​"Michelle itu urusan Alvin, bukan gue," jawab Shena. "Mereka punya hubungan rumit, jauh dari gue. Kalau gue ikut campur, percuma, nggak ngefek," tambahnya, sok misterius, yang malah membuat Raskal dan Devan tidak mengerti.

​"Lo ngomongin apa sih? Pakek bahasa manusia dong!" kesal Devan.

​Shena mengedikkan bahu. "Gue aja nggak paham, yang pasti urusan Michelle sama Alvin, bukan urusan gue."

​Tapi Shena tahu apa yang terjadi antara Alvin dan Michelle, juga apa yang bisa membuat Alvin mau bergerak seperti tadi padahal sebenarnya cowok itu tidak peduli.

1
ᥫ᭡Baby
astaghfirullah, pikiranku
ᥫ᭡Baby
meyra cegil
ᥫ᭡Baby
njirr, bawa-bawa manusia ini /Sweat/
ᥫ᭡Baby
padahal Michelle duluan
ᥫ᭡Baby
kasihan di cuekin
Alzen
typo lagi yang
Alzen: ini aja po dulu 2 tahun 😓
total 3 replies
Alzen
cepat updateee
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: iyaaaaa
total 1 replies
Alzen
ceroboh banget/Shame/
Alzen
padahal yang kemarin juga bagus novelnya
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: eh iyaa 😓
total 3 replies
🥑⃟Hati Yang Kau Sakiti●⑅⃝ᷟ◌ͩ
selamat berkarya 🙏
ᥫ᭡Baby
Devis aja /Grin//Grin/
ᥫ᭡ׅ꯱hׁׅ֮ꫀׁׅܻ݊ɑׁׅ: 2in /Bye-Bye/
total 1 replies
ᥫ᭡Baby
jadi Michelle kasian, jadi Alvin kasian, jadi Nara kasian, jadi pembaca sekarat /Curse/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!