NovelToon NovelToon
Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Cegil Andara: Mencintai Kakak Angkatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:9k
Nilai: 5
Nama Author: Fega Meilyana

"Abi, tolong lamarin Kak Kafa untuk aku."
"Dara, kamu sadar gak kalau kamu itu perempuan?"
"Sadar, kenapa memang?"
"Ya mana ada perempuan yang meminta ayahnya untuk melamar seorang laki-laki untuk dirinya sendiri seberani itu?"
"Ada, dan itu aku."

***

"Kak Kafa, nikah yuk!"
"Kamu belum capek?"
"Tidak akan pernah capek."

Andara (20) si gadis cegil yang selalu terang-terangan mengatakan bahwa ia mencintai Kafa (30). Ia tidak akan berhenti sampai mendapatkan cinta sang Kakak.
Kafa adalah anak angkat dari Azzam dan Aira, orang tua kandung Andara.
Apakah Andara bisa mendapatkan hati dan cinta Kafa?
Awalnya tidak, namun takdir memihak Dara.

***

"Abi, aku akan menikahi Andara. Aku akan menyembuhkan segala traumanya."
Baca terus kisah mereka... Novel ini spin off dari buku 'Penawar Luka Aira'

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fega Meilyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Girls Time

Dua hari kemudian, Azzam dan Aira akhirnya kembali dari Bandung. Mobil mereka memasuki halaman rumah menjelang sore.

Andara dan Azra sudah berdiri di teras menyambut kepulangan kedua orang tua mereka.

"Bunda!" Andara langsung memeluk Aira begitu perempuan itu turun dari mobil.

"Masya Allah... Bunda kangen sama Dara."

"Dara juga."

Azzam ikut mengusap kepala putrinya. "Gimana? Udah benar-benar sehat?"

"Alhamdulillah, Abi. Lihat kan, Dara udah seger lagi."

Azzam tersenyum lega melihat wajah putrinya yang kembali ceria. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa dua malam sebelumnya telah terjadi sesuatu yang nyaris membuat Azra kehilangan ketenangan.

Sebelum kepulangan kedua orang tuanya, Andara sempat berbicara serius dengan Azra.

"Kak, kita jangan bilang apa-apa ke Abi sama Bunda ya."

Azra langsung menggeleng. "Nggak bisa, Dara. Ini bukan masalah kecil. Mereka harus tau."

Andara menggenggam tangan kakaknya. "Please, Kak. Udah cukup Abi sama Bunda kepikiran. Mereka baru pulang dari Bandung. Aku nggak mau mereka tambah cemas."

"Tapi kalau nanti terjadi sesuatu lagi gimana?"

"Nggak akan. Aku janji bakal lebih hati-hati. Mau ke mana-mana pasti sama Sam dan Doni. Nggak akan keluar sendirian."

Azra masih tampak ragu. "Dara..."

"Tolong, Kak. Kalau Abi tau, beliau pasti nyalahin diri sendiri karena ninggalin aku. Aku nggak mau itu."

Melihat tatapan memohon adiknya, hati Azra akhirnya luluh.

Ia mengembuskan napas panjang. "Baik. Tapi ini terakhir. Kalau ada apa-apa lagi, kita langsung kasih tau Abi sama Bunda."

Andara mengangguk cepat. "Janji."

Sebelum Azzam dan Aira pulang, Azra juga telah memanggil tukang untuk mengganti jendela balkon kamar Andara yang pecah. Kini semuanya tampak seperti semula. Tidak ada lagi pecahan kaca. Tidak ada bekas lemparan batu. Seolah-olah malam penuh teror itu tidak pernah terjadi.

Begitu memasuki rumah, Aira melihat ke sana kemari sambil tersenyum.

"Rumah rasanya sepi ya kalau dua hari ditinggal."

"Iya, Bun," jawab Andara sambil terkekeh kecil.

Azzam kemudian menoleh kepada kedua anaknya. "Selama Abi sama Bunda nggak di rumah, kalian baik-baik aja kan?"

Azra dan Andara saling berpandangan sekilas. Hanya sepersekian detik. Lalu Andara tersenyum lebar.

"Baik-baik aja kok, Bi. Tenang aja."

Azzam mengangguk tanpa menaruh curiga sedikit pun.

Sementara Azra hanya menundukkan kepala. Dalam hati, ia berharap keputusan mereka untuk menyembunyikan kejadian itu tidak akan menjadi penyesalan di kemudian hari.

***

Pagi itu, setelah memastikan kedua orang tuanya sudah tidak terlalu lelah sepulang dari Bandung, Andara menghampiri Azzam yang sedang menikmati secangkir kopi di ruang keluarga.

"Abi..."

Azzam menoleh sambil tersenyum. "Iya, Sayang?"

Andara langsung duduk di samping ayahnya. "Abi, Dara izin ya. Mau pergi sama Jule sama Nuha."

Azzam mengangkat sebelah alis. "Mau ke mana?"

Andara tersenyum lebar. "Biasa, Bi. Girls time. Mau jalan-jalan sebentar."

Azzam masih menatap putrinya beberapa saat. "Ingat pesan Abi. Jangan pergi ke tempat yang sepi dan jangan jauh-jauh."

"Iya, Abi. Tenang aja. Sam sama Doni ikut kok."

Azzam mengangguk pelan.n"Ya sudah. Abi izinkan. Tapi jangan pulang malam."

"Iya, siap, Abi!" Wajah Andara langsung berbinar.

Ia memeluk lengan ayahnya dengan manja. "Abi memang the best!"

Azzam hanya tertawa kecil. "Kamu ini."

Tak lama kemudian, Sam dan Doni sudah bersiap di depan rumah.

Azzam keluar menghampiri keduanya. "Sam, Doni."

Kedua pria itu langsung berdiri tegak. "Iya, Pak."

Azzam menatap mereka dengan serius. "Tolong jaga putri saya. Jangan sampai lengah."

Sam mengangguk mantap. "Siap, Pak. Kami akan memastikan Non Andara tetap aman."

Doni ikut mengangguk. "Selama kami bersama Non, tidak akan ada seorang pun yang mendekatinya tanpa seizin kami."

Azzam merasa sedikit lebih tenang. Ia kemudian menoleh kepada Andara yang sudah melangkah keluar rumah sambil membawa tas kecil. "Hati-hati ya, Dara."

Andara mengacungkan jempol sambil tersenyum. "Siap, Abi! Bye, Abi... Bye, Bunda!"

Aira melambaikan tangan dari teras. "Hati-hati, Sayang."

Mobil pun perlahan meninggalkan halaman rumah Malik. Azzam masih memperhatikan mobil itu hingga menghilang dari pandangan, tanpa menyadari bahwa di suatu tempat, ada seseorang yang diam-diam kembali mengawasi setiap pergerakan putrinya.

***

Mobil yang membawa Andara akhirnya memasuki area parkir pusat perbelanjaan.

Begitu tiba di lobi, Zuleykha dan Nuha sudah lebih dulu menunggu.

"Daraa!" seru Zuleykha sambil melambaikan tangan.

Andara tersenyum lebar. "Maaf ya, lama."

"Enggak kok, kita juga baru nyampe," jawab Nuha.

"Yuk!"

"Ayo langsung."

Ketiganya pun berjalan menuju tempat tujuan. Meski sudah sama-sama berstatus mahasiswa, bukan berarti mereka kehilangan jiwa anak-anak.

Sesekali bermain dan tertawa lepas seperti ini justru menjadi cara mereka melepas penat setelah berminggu-minggu disibukkan dengan kuliah dan tugas.

Begitu sampai di depan pintu masuk, Sam dan Doni ikut berhenti.

"Kami tunggu di sini aja, Non."

Andara menoleh. "Kalian nggak usah di sini terus."

"Hah?"

"Kalian bisa pergi ngopi atau makan dulu..Mainnya pasti lumayan lama."

Sam dan Doni saling berpandangan. "Tapi, Non..."

Andara tersenyum meyakinkan. "Aku aman kok. Kalau udah selesai, nanti aku telepon."

"Beneran, Non?"

"Iya. Kalian juga butuh istirahat."

Sam masih terlihat ragu. "Kalau begitu... kami cari tempat yang nggak jauh dari sini. Nanti kalau Non butuh apa-apa, langsung telepon."

"Siap. Oh iya, bentar."

Andara membuka tas kecilnya lalu mengeluarkan beberapa lembar uang. "Nih. Buat beli kopi."

Sam langsung menggeleng. "Nggak usah, Non."

"Iya, ini udah tugas kami."

Andara malah menyelipkan uang itu ke tangan Sam. "Udah. Anggap aja aku yang traktir."

"Nggak enak, Non."

"Kalau ditolak berarti kalian nggak nganggap aku."

Doni terkekeh pelan. "Non ini..."

Sam akhirnya menyerah. "Baik. Terima kasih, Non."

"Sama-sama."

"Pokoknya jangan jauh-jauh ya."

"Iya."

Setelah memastikan kedua bodyguard itu menuju kedai kopi yang masih berada di lantai yang sama, Andara kembali menghampiri kedua sahabatnya.

"Gimana? Udah beres?"

Zuleykha menyenggol bahunya. "Bodyguard lo baik juga ya."

"Ya iyalah. Mereka udah gue anggap kakak sendiri."

Nuha tersenyum. "Untung mereka nurut sama lo. Kalau nggak, bisa-bisa mereka berdiri di belakang kita pas lagi main."

"Hahaha, iya juga ya," sahut Andara sambil tertawa. "Udah, yuk masuk!.Siapa yang kalah nanti traktir es krim!"

"Woi! Enak aja!" protes Zuleykha.

Sementara tawa mereka bertiga memenuhi area timezone. Tak jauh dari sana, sepasang mata diam-diam memperhatikan mereka dari balik keramaian pengunjung mall.

Tatapan itu tertuju lurus pada Andara. Seolah sedang menunggu saat yang tepat untuk bergerak.

Begitu memasuki area game, ketiganya langsung berubah seperti anak kecil yang baru pertama kali datang ke taman bermain.

"Woy! Udah lama banget gue nggak ke sini!" seru Andara antusias.

Nuha menggeleng sambil tertawa. "Padahal terakhir ke sini baru enam bulan lalu."

"Itu juga udah lama!"

Zuleykha menunjuk arena basket. "Main basket dulu, yuk!"

"Gass!"

Mereka bertiga mengambil bola masing-masing.

"Yang paling sedikit masuk nanti traktir minum!"

"Deal!"

Peluit virtual berbunyi. Bola demi bola dilempar.

"Masuk! Yess!"

Andara bersorak sambil melakukan selebrasi kecil.

Nuha tak mau kalah. "Eh, gue juga masuk!"

Sementara Zuleykha, bola pertama memantul. Bola kedua meleset. Bola ketiga bahkan nyangkut di pinggir ring.

"Hah?! Ini ringnya miring deh!"

Andara dan Nuha langsung tertawa. "Alasan! Waktu habis!"

Skor akhir muncul.

Andara : 87 poin.

Nuha : 79 poin.

Zuleykha : 42 poin.

"HAHAHAHA! Jul, parah banget! Katanya atlet."

"Atlet rebahan!"

Zuleykha manyun. "Udah, sekali doang. Nggak ngaruh."

Mereka kemudian berpindah ke permainan balap motor.

"Siapa yang terakhir nyampe finish, traktir es krim!"

"Siap!"

Lampu hijau menyala. Ketiganya langsung memutar gas.

Andara yang hobi balapan sejak dulu memimpin jauh di depan.

"WOHOO!" Nuha menyusul di belakang.

Sedangkan Zuleykha, Motor virtualnya berkali-kali menabrak pembatas. "Ya Allah! Belok terus!"

"Jul! Itu jalan, bukan trotoar!" teriak Andara sambil tertawa.

Garis finish terlewati. Andara juara pertama. Nuha kedua.

Zuleykha masih berusaha menyelesaikan satu putaran. Begitu selesai, ia langsung melepas setir dengan wajah pasrah. "Oke. Gue emang nggak bakat."

"Jelas. Lo bakatnya makan," celetuk Nuha.

Mereka pun kembali tertawa.

Belum puas, mereka mencoba permainan air hockey.

Andara melawan Nuha.

Seru. Saling balas gol. Skor berakhir imbang.

"Lanjut!"

Kini giliran Zuleykha melawan Andara.

Baru sepuluh detik... "GOL!"

"Dua!"

"Tiga!"

"Lima!"

Pertandingan selesai dengan skor telak. Andara menang mutlak.

Zuleykha menjatuhkan kepala di atas meja permainan. "Harga diri gue tinggal berapa, sih?"

Andara menepuk bahunya. "Masih ada kok. Tipis."

Nuha langsung tertawa terbahak-bahak. Mereka lalu mencoba permainan capit boneka.

Andara berhasil mendapatkan seekor boneka kelinci kecil pada percobaan kedua. Nuha berhasil membawa pulang gantungan kunci lucu.

Sedangkan Zuleykha, sudah menghabiskan beberapa token. Bonekanya selalu lepas tepat sebelum masuk ke lubang hadiah.

"YA ALLAH! Ini boneka dendam sama gue!"

Andara sampai memegang perutnya karena terlalu banyak tertawa. "Jul... Kayaknya hari ini semesta lagi nggak berpihak sama lo."

Setelah hampir dua jam bermain, mereka duduk di bangku sambil menghitung hasil permainan.

Nuha membuka catatan di ponselnya. "Oke, kita rekap. Basket yang kalah siapa?"

"Jule."

"Balap motor?"

"Jule."

"Air hockey?"

"Jule."

"Capit boneka?"

"...tetap Jule."

Andara langsung mengangkat kedua tangan. "Dengan ini... Kami menetapkan saudari Zuleykha sebagai pecundang resmi hari ini!"

"YEAAAY!" Nuha ikut bertepuk tangan.

Zuleykha menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. "Udah. Jangan temenan sama gue lagi. Malu gue."

Andara dan Nuha langsung memeluknya dari kanan dan kiri. "Nggak bisa. Soalnya yang kalah hari ini wajib traktir kita berdua es krim!"

"Heh! Dasar teman nggak tahu diri!"

Ucapan itu justru membuat ketiganya kembali tertawa lepas hingga beberapa pengunjung di sekitar mereka ikut menoleh karena melihat tingkah konyol tiga sahabat tersebut.

Setelah puas tertawa di area permainan arcade, Andara menatap papan petunjuk yang terpampang di depan mereka.

Matanya langsung berbinar. "Eh! Playtopia Adventure!"

Nuha mengikuti arah telunjuk Andara. "Wah... Yang ada halang rintang itu ya?"

"Iya! Gue pengen banget coba!"

Zuleykha langsung menggeleng cepat. "Jangan-jangan tinggi. Takut."

Andara langsung merangkul bahu sahabatnya itu. "Katanya nggak takut apa-apa."

"Tadi aja udah kalah mulu. Kalau sekarang mundur juga lengkap sudah penderitaanmu."

"Heh!" Zuleykha melotot ke Nuha.

Akhirnya mereka bertiga membeli tiket dan mengenakan perlengkapan keselamatan. Petugas membantu memasangkan helm, harness, serta tali pengaman.

"Kalau takut, bilang ya, Kak."

"Iya, Mas."

Begitu semuanya siap, mereka memasuki arena.

"Waaah!" Andara langsung berdecak kagum.

Di depan mereka terdapat berbagai rintangan. Jembatan gantung. Jaring laba-laba. Tangga tali. Terowongan gantung. Hingga flying fox pendek di bagian akhir lintasan.

"Siapa duluan?" tanya Nuha.

"Gue!" seru Andara tanpa ragu.

Ia melangkah paling depan. Dengan lincah Andara melewati satu demi satu rintangan.

"Wih, Dar! Keren banget!"

Azra pernah mengajarinya panjat tebing sejak kecil, ditambah keberaniannya yang memang di atas rata-rata.

Tak butuh waktu lama, Andara sudah berada di rintangan berikutnya.

Sementara di belakang... "Ya Allah... Ini goyang!" Suara Zuleykha terdengar memelas.

Andara menoleh sambil tertawa. "Jul! Itu namanya jembatan gantung! Ya emang goyang!"

Nuha yang berada di belakang Zuleykha ikut menyemangati. "Ayo! Dikit lagi!"

"Gue nggak berani! Kalau jatuh gimana?"

Andara langsung menunjuk harness yang terpasang di tubuh mereka. "Kan ada pengamannya! Nggak bakal jatuh."

Dengan wajah setengah pasrah, Zuleykha akhirnya melangkah pelan.

Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Baru setengah jalan.. "Aaaaa!"

Jembatan kembali bergoyang.

Nuha sampai tertawa sambil memegang tali pengaman. "Jul! Jangan teriak! Malah bikin gue ikut panik!"

Butuh hampir lima menit sampai akhirnya Zuleykha berhasil melewati rintangan pertama. "Alhamdulillah... Gue hidup."

Andara dan Nuha langsung bertepuk tangan. "Selamat! Saudari Zuleykha berhasil melewati level balita!"

"Heh!"

Mereka kembali melanjutkan ke rintangan berikutnya. Kali ini berupa jaring yang harus dipanjat.

Andara kembali menjadi yang tercepat. Nuha menyusul di belakangnya.

Sedangkan Zuleykha, baru naik beberapa langkah sudah mengeluh. "Capek...Kalian tungguin dong."

Andara menggeleng sambil tertawa. "Nggak bisa. Yang terakhir nanti traktir minuman lagi!"

"APA?! Kalian niat banget bikin gue bangkrut!"

Gelak tawa mereka bertiga menggema di sepanjang arena.

Untuk sesaat, Andara benar-benar melupakan segala beban yang memenuhi pikirannya beberapa hari terakhir.

Yang ada hanyalah tawa. Dan kebersamaan dengan dua sahabat yang selalu berhasil membuatnya merasa hidup kembali.

Tak terasa, waktu berlalu begitu cepat. Setelah puas bermain di Playtopia Adventure, ketiganya keluar dengan napas sedikit tersengal.

"Aduh... Kaki gue pegel banget," keluh Zuleykha sambil memijat betisnya.

Nuha langsung tertawa. "Lah, tadi siapa yang semangat nantang Andara balapan di rintangan?"

"Itu tadi. Sekarang beda cerita."

Andara ikut terkekeh. "Makanya olahraga, Jul."

"Ih, berisik."

Mereka bertiga kembali tertawa. Saat keluar dari area permainan, azan Magrib mulai berkumandang dari pengeras suara mal.

Andara langsung menghentikan langkahnya. "Yuk, salat dulu."

"Iya."

Mereka pun menuju musala. Sementara itu, Sam dan Doni yang sedari tadi menjaga dari kejauhan juga menuju tempat wudu untuk menunaikan salat.

Beberapa menit kemudian, mereka kembali bertemu di depan musala.

"Non, sudah selesai?"

"Sudah."

"Lapar nggak?" tanya Nuha.

"Lapar banget."

"Ayo cari makan."

Mereka pun berjalan menyusuri lantai restoran.

"Ramen?"

"Nggak ah."

"Steak?"

"Kurang pengen."

"Sushi?"

"Lain waktu aja."

Zuleykha mengembuskan napas. "Kenapa ya Kalau lapar malah bingung mau makan apa."

"Itu penyakit sejuta umat," celetuk Andara.

Nuha mengangguk setuju. "Iya. Kalau ditanya mau makan apa, jawabnya terserah. Pas dikasih saran, semuanya ditolak."

Ketiganya kembali tertawa. Saat sedang memperhatikan deretan restoran, tiba-tiba terdengar sebuah suara menyapa.

"Hai, Andara."

Andara menoleh. "Loh, Kak Tristan? Di sini juga?"

Tristan tersenyum ramah. "Iya. Saya habis beli beberapa kebutuhan kantor. Kebetulan sekali ketemu kalian."

"Iya juga ya, Kak." Andara tersenyum. "Kakak sendirian?"

"Iya."

Di sampingnya, Nuha langsung mendekat lalu berbisik pelan di telinga Andara. "Dar, itu bule dari mana? Ganteng banget. Kenalin dong."

Andara memutar bola matanya sambil menahan tawa. "Ck, gak bisa liat cowo ganteng lo."

Lalu ia menoleh kembali kepada Tristan. "Oh iya, Kak. Kenalin ini dua sahabat aku. Yang ini Zuleykha. Yang ini Nuha."

Kedua gadis itu tersenyum sopan. "Salam kenal, Kak."

Tristan mengangguk ramah. "Salam kenal. Senang bertemu dengan kalian."

Andara kembali bertanya. "Oh iya, Kak. Kakak juga mau makan?"

"Iya. Tapi saya masih bingung mau makan apa."

Andara langsung melihat ke sekeliling. Matanya kemudian berhenti pada sebuah restoran masakan Indonesia.

"Nah! Itu aja gimana? Kakak kan kemarin bilang masih mau nyobain makanan Indonesia."

Tristan mengikuti arah telunjuk Andara. "Kelihatannya menarik."

Nuha dan Zuleykha ikut mengangguk. "Boleh tuh."

"Yuk."

Andara tersenyum. "Kalau gitu ayo."

Mereka pun berjalan bersama menuju restoran tersebut, sementara Sam dan Doni mengikuti beberapa langkah di belakang dengan tetap waspada mengamati keadaan sekitar.

Begitu memasuki restoran, seorang pelayan segera menghampiri mereka. "Selamat malam, Kak. Untuk berapa orang?"

Andara menjawab sambil tersenyum. "Enam orang, Mbak."

"Baik, silakan ikut saya."

Mereka mengikuti pelayan menuju meja yang masih kosong.

Namun...

Dari sekian banyak restoran di mal itu...

Dari sekian banyak meja yang tersedia...

Tatapan Andara justru berhenti pada sosok yang paling ingin ia hindari.

Kafa. Laki-laki itu sedang duduk berhadapan dengan Giska.

Jarak meja mereka hanya terpaut beberapa meter.

Jantung Andara seolah berhenti berdetak sesaat. "Kenapa harus ketemu lagi. Kapan aku benar-benar bisa melupakan Kak Kafa?" batinnya.

Belum sempat Andara mengalihkan pandangan, Giska lebih dulu melambaikan tangan dengan ramah.

"Loh... Andara, Jule, Nuha."

Ketiganya tersenyum sopan.

"Halo, Bu."

"Malam, Bu."

Kafa yang sejak tadi diam ikut menoleh. Tatapannya langsung berhenti pada Tristan yang berdiri di samping Andara. Rahangnya mengeras tanpa sadar.

"Tristan lagi...Kenapa Andara selalu bersama laki-laki itu?" batinnya.

Andara mencoba tetap bersikap biasa. "Halo, Kak."

Kafa mengangguk pelan. "Halo."

Tatapannya masih tertuju pada Andara. "Kamu... ngapain di sini?"

Andara mengangkat sebelah alis. "Memangnya kenapa? Nggak boleh?"

Kafa segera menggeleng. "Bukan begitu maksud Kakak."

"Aku ke sini sama Jule sama Nuha."

Ia lalu melirik ke arah Tristan. "Sekalian ketemu Kak Tristan."

"Oh..."

Suasana sempat hening sesaat. Giska kemudian tersenyum, berusaha mencairkan suasana.

"Oh, jadi kalian lagi girls time ya?"

"Iya, Bu," jawab Zuleykha.

"Iya, Bu. Kita dari sore," tambah Nuha.

Giska mengangguk sambil tersenyum. "Pantes."

Andara kemudian melirik beberapa kantong belanja yang berada di samping kursi Giska.

"Wah...Bu Giska belanja banyak banget."

Giska tertawa kecil. "Iya. Soalnya besok saya sama Kafa lamaran. Jadi masih banyak yang harus disiapkan."

Deg!

1
Aidil Kenzie Zie
padahal Giska takut Kafa yg akan berulah e e e ternyata bapaknya yang nyari 3B 🤭🤭🤭
Syti Sarah
kok Willy jdi sprti itu ya .anak2 yg gak brdosa yg. mnjdi kroban nya
syora: ulh yg gmna nih takutnya udh yg dibuat over dosis,bikin kita trauma 🤭🤭🤭🤭
total 4 replies
Nifatul Masruro Hikari Masaru
duh kasian nasib keluarga yang anaknya diculik
cutegirl
sok deh bapak bapak
Syti Sarah
mungkin ini lh nanti pnyebab Giska sama Kafa gak jdi mnikh kli ya.org tua Giska trllu mrndahkn org lain yg di anggap nya tidak setara dgn nya .jngan trllu mrndahkn org lain nnti akan nyesel sndiri pak
Syti Sarah: kata aku dong Thor 🤭🤭🤣🤣🤣
total 2 replies
Syti Sarah
yg kuat ya dar 🥺
Aidil Kenzie Zie
kamu masih berharap Dara ngejar???😡😡 sakit kamu Kaf🤣🤣🤣🤣
Syti Sarah
mulai deh Tristan bikin ulah


mntapkn hti kamu dar,kamu juga brhak bhgia
cutegirl
bagus dar lanjutkan
Nifatul Masruro Hikari Masaru
kayaknya sekarang giliran kafa yang mendekati
Syti Sarah
Bru Mrsa khilngan kn kamu kaf ,itu lh juga yg dara rasakan
Ayudya
mampir kak
cutegirl
up lgi dong ka😋
Syti Sarah
ciiie,ada yg lgi cmburu tuh 🤭🤭

selicik itu mmang Tristan ya ,dia lbih dulu mngmbil hati Azzam untuk mlncarkn rncan nya .smoga aja sellu DLAM lindungan Allah SWT 🥰
Nifatul Masruro Hikari Masaru
yang cemburu gantian
Anak manis
ikut sedih🥲
Shabrina Darsih
jd ukut sedih
Syti Sarah
ikhlasin aja dar,Toh nanti ujung2 nya Kafa sndiri yg mngjar kamu.biar dia MRSA apa yg kamu rasain dar.mncintai seseorang tpi tak bisa untuk menggapai nya
Aidil Kenzie Zie
nggak usah dipedulikan lagi Dar cuex bebek aja🤣🤣🤣
Syti Sarah
ya udh dar,lupain aja .kamu juga hrus bhgia dara
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!