Mantan agen rahasia dari sektor 7 kini kembali setelah masa tugasnya delapan tahun selesai.... Faas laki-laki pendiam yang selalu di anggap keluarganya adalah aib karena sifat pendiam nya membuat keluarga membuang Faas ke Amerika dengan dalih untuk meneruskan pendidikannya di sana, namun bertahun-tahun lamanya, menurut keluarnya ,Faas tetaplah laki-laki pendiam yang tidak bisa berbuat apa-apa,selain menghabiskan uang keluarganya, padahal di balik pendiam nya Faas , ada rahasia tersembunyi yang tidak ada satu keluarga nya yang tahu .
_
_
_
Bismillahirrahmanirrahim....
Assalamualaikum...
bertemu lagi dengan author yang suka-suka...
yuk ikuti kisahnya ... , ini kelanjutan cerita tentang Faas sebagai rekan sektor 7 shadow Midi.
semoga sukaaaaa
dan selamat membaca.... yang tidak suka tinggal skip, dan untuk yang mau mengikuti cerita ini, mohon dukungannya ya, 🥰🥰🥰🥰 terimakasih 🙏🏻
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Marina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22
Malam semakin larut, namun di dua tempat berbeda, getaran emosi yang kontras sedang merajut takdir.
Di kamarnya yang mewah di kediaman Daneswara, Eliza berbaring telungkup di atas kasur sembari memeluk guling. Wajahnya merona merah menatap layar ponsel yang menyala. Sebuah pesan singkat masuk dari nomor yang kini ia simpan dengan nama "My heart".
Faas: "Sudah tidur, Eliza? Jangan tidur terlalu larut. Pasang alarm untuk sepertiga malam nanti, kita mengadu pada-Nya agar jalan satu minggu ke depan dipermudah."
"Awwww"
Eliza menggigit bibir bawahnya, menahan jeritan tertahan karena baper yang luar biasa. Sifat Faas yang selalu mengutamakan ibadah dan melibatkannya dalam setiap langkah spiritual membuat kekaguman Eliza semakin membumbung tinggi. Eliza berguling guling, betapa bahagianya malam ini, ia duduk langsung merapikan rambutnya yang menutupi wajah, sambil mengibas-ngibaskan pipinya dengan telapak tangan agar terasa sejuk lalu Dengan jemari yang gemetar karena salah tingkah, ia mengetik balasan.
Eliza: "Belum, Kak. Ini baru mau pasang alarm. Kak Faas sendiri kok belum tidur? Gak kangen apa sama calon istrinya yang imut ini? 🤭"
Di Dalam kamar yang tak kalah mewah, Faas yang baru saja selesai membersihkan diri menatap layar ponselnya. Laki-laki pendiam dan kaku yang biasanya hanya berbicara seperlunya itu mendadak menghela napas pendek, sebuah senyuman tipis terukir di wajah blasteran Arab-nya. Ia mengetik balasan dengan gaya kaku khas dirinya, namun sukses membuat jantung Eliza berdegup tidak keruan.
Faas: "Saya tidak perlu merindukanmu lewat ponsel, Eliza. Karena di setiap sujud saya malam ini, wajahmu sudah lebih dulu menetap di sana sebelum kamu sempat bertanya."
Blenyeng!
"awwww" Eliza menjerit kegirangan ,Eliza langsung berguling kembali di kasur, menutupi wajahnya dengan bantal karena saking malunya. Gombalan kaku tapi mematikan dari seorang Faas benar-benar meruntuhkan pertahanan hatinya. Jantung nya berdebar semakin kencang....
____
Sementara itu, kontras dengan kemanisan di kamar Eliza, suasana di kamar utama mansion Abrari terasa begitu sunyi dan sarat akan emosi tertahan.
Di bawah pendar lampu tidur yang temaram, Diana berbaring bersandar pada tumpukan bantal. Di ujung ranjang, Husen, pria paruh baya yang di luar sana ditakuti oleh para pebisnis saat ini sedang berlutut, memijat lembut kaki istrinya yang memang sudah mati rasa sejak belasan tahun lalu.
"Mas... sudah, tanganmu pasti lelah," ucap Diana lembut, mengusap bahu suaminya.
Husen mendongak, menatap wajah pucat wanita yang menjadi cinta matinya itu dengan tatapan penuh pemujaan. "Tidak, Diana. Selama ini tangan ini tidak bisa menjagamu dengan sempurna. Biarkan aku melakukan ini untukmu."
Diana tersenyum haru, namun matanya kemudian berkaca-kaca. Ia menggenggam tangan tegap Husen, menahannya. "Mas... jika kamu benar-benar mencintaiku, aku mohon sekali ini saja. Terima pernikahan Faas minggu depan. Tolong datanglah ke acaranya."
Husen seketika menegang, rahangnya mengeras. "Diana, anak itu membangkang! Dia memilih perempuan biasa yang tidak jelas asal-usulnya dibanding masa depan perusahaan!"
"Faas anakku, Mas. Anak kandungmu juga," bisik Diana dengan air mata yang mulai luruh. "Aku tidak butuh menantu kaya. Aku hanya ingin melihat putra sulungku bahagia sebelum usiaku habis. Mas... tolong datang bersamaku minggu depan. Jangan biarkan dia berdiri sendirian tanpa ayahnya."
Melihat air mata Diana yang mengalir, dinding keangkuhan Husen runtuh seketika. Rasa cintanya yang terlalu besar dan rasa bersalahnya yang mendalam karena tidak bisa memberikan kebahagiaan fisik pada Diana membuatnya tidak berkutik.
Husen menghela napas berat, menunduk lalu mencium punggung tangan Diana. "Baik... demi kamu, Diana. Aku mengalah. Aku akan ikut mendampingimu ke acara pernikahan Faas minggu depan. Tapi setelah itu, jika pilihannya salah, dia harus menanggung akibatnya sendiri."
Diana tersenyum lega dalam tangisnya, tanpa tahu bahwa persetujuan Husen malam ini akan menjadi tiket bagi sang kepala keluarga untuk melihat kejutan paling besar dalam hidupnya minggu depan.
Husen ikut tersenyum lalu membawa sang istri kedalam pelukannya..."tidurlah , ini sudah terlalu malam.
Diana mengangguk lalu menyusup kedalam dekapan suaminya"terimakasih mas".
____
Keesokan paginya di kantor pusat Apex Core, atmosfer profesional yang ketat kembali berputar.
Eliza datang dengan setelan kerja yang sangat rapi dan jilbab yang anggun. Ia bekerja dengan sangat cekatan di mejanya. Tidak ada satu pun staf di lantai itu, bahkan Diki sekalipun yang tahu bahwa "Tuan Malik Ibrahim", bos besar yang ditakuti dan dihormati di perusahaan raksasa ini, adalah Faas, pria yang semalam memberikan gombalan kaku pada Eliza melalui pesan singkat.
Pintu ruang kerja utama terbuka. Faas melangkah masuk dengan penyamaran penuhnya sebagai Tuan Malik, rambut beruban buatan, kacamata kotak tebal, dan kumis palsu yang lebat. Auranya begitu mengintimidasi dan kaku.
"Selamat pagi, Tuan Malik. Ini berkas laporan keuangan kuartal kedua yang harus Anda tanda tangani," ucap Eliza profesional, berdiri di depan meja kerja Faas dengan sikap hormat seorang sekretaris.
Faas yang berada di balik penyamaran Tuan Malik menatap sekretaris sekaligus calon istrinya itu dari balik kacamata tebalnya. Dadanya bergemuruh hangat melihat betapa profesionalnya Eliza menjaga jarak di kantor, sangat berbeda dengan sifat manjanya saat mereka berdua.
Faas mengambil pulpen, lalu sengaja menggeser berkas itu mendekat ke arah Eliza. Saat Eliza menerima berkas tersebut, ujung jari Faas sengaja menyentuh punggung tangan Eliza secara sekilas, sebuah sentuhan tak sengaja yang berpura-pura kaku namun sarat akan emosi tertahan.
Sedangkan Eliza langsung menarik tangan nya agar tak bersentuhan lagi walaupun tidak sengaja.
"Kerja bagus, Sekretaris Eliza," ucap Faas dengan suara yang disengaja berat dan berwibawa khas Tuan Malik. "Pastikan jadwal saya kosong di hari Kamis. Saya ada urusan... pribadi yang sangat penting"
Eliza sempat tertegun melihat tatapan tajam di balik kacamata bosnya yang entah kenapa terasa sangat familiar, lalu mengangguk sopan. "Baik, Tuan. Akan saya jadwalkan."
Eliza berbalik dan melangkah keluar ruangan dengan jantung yang berdegup kencang.
Eliza kembali ke meja kerjanya dengan perasaan campur aduk. Mengingat perintah Tuan Malik untuk mengosongkan jadwal pada hari Kamis ia tersadar bahwa hari itu adalah hari yang sama dengan akad nikah rahasianya bersama Faas.
Dengan napas yang diatur seprofesional mungkin, Eliza mengetuk pintu ruang kerja utama kembali. Setelah mendengar gumaman berat dari dalam, ia melangkah masuk dan berdiri tegak di depan meja mahoni besar milik Tuan Malik.
"Maaf mengganggu waktu Anda kembali, Tuan Malik," buka Eliza, menundukkan kepalanya sedikit tanda hormat. "Ada satu hal penting terkait kehadiran saya yang ingin saya sampaikan secara langsung."
Faas yang masih setia dengan penyamaran rambut beruban dan kumis tebalnya, mendongak dari balik kacamata kotak tebalnya. "Katakan, Sekretaris Eliza. Ada masalah dengan berkas yang tadi?"
"Bukan, Tuan. Saya ingin mengajukan permohonan cuti resmi selama dua hari, dimulai pada hari Kamis depan. Persis di hari Anda meminta jadwal dikosongkan," ujar Eliza dengan nada suara yang tenang dan tertata.
ini?"