Zivanna gadis 24 tahun yang sudah lulus kedokteran, praktek di rumah sakit besar menjadi Dokter muda. Menjadi seorang Dokter tidaklah mudah meski sudah berusaha keras. Zivanna mengalami kesulitan dan bahkan segala usahanya selalu tidak pernah terlihat.
Zivanna selalu menjadi bulan-bulanan orang-orang yang bertugas di rumah sakit, dianggap sepele bahkan dia Dokter yang lulus karena uang. Zivanna kerap kali dimarahi senior di depan banyak orang.
Dibalik semua itu tidak ada yang tahu bahwa dirinya adalah putri dari pemilik rumah sakit terbesar di Jakarta tempatnya bertugas.
Bukan hanya itu statusnya sebagai istri tersembunyi yang tidak ada mengetahui bahwa dia adalah istri Dokter senior yang bersikap dingin selama di rumah sakit kepadanya.
Pernikahan Zivanna dengan Dokter Pradikta penuh cerita dalam keterpaksaan pernikahan itu terjadi. Lalu bagaimana keduanya menghadapi pernikahan mereka dengan dunia pekerjaan dan juga rumah tangga mereka.
Jangan lupa untuk terus membaca....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ainuncepenis, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 29 Nyaman Bersamanya
Zivanna bersama dengan Aska duduk saling berhadapan dengan bersila kaki sembari menikmati kentang bakar tersebut, setelah keduanya ribut-ribut kecil dan ternyata keduanya bisa akrab juga.
"Dokter berasal dari mana?" tanya Aska.
"Jakarta," jawabnya singkat.
"Jakarta, ternyata kita sama," jawabnya.
"Benarkah? Lalu kamu memang ditugaskan di tempat ini?" tanya Zivanna.
"Ya, awalnya di desa Tasika, kami para tentara memang selalu ditugaskan di ujung-ujung perbatasan, sekitar beberapa bulan berpindah tempat ke tempat yang lain," jawabnya sembari mengunyah kentang bakar yang nikmat itu.
"Untuk apa para tentara harus ditugaskan? memang ada peperangan?" tanya Zivanna.
"Tidak juga sebenarnya, hanya saja kami menjalankan tugas untuk mengamankan dan mengawasi, warga di sini butuh bantuan, dan terkadang juga ada warga asing yang datang ke tempat ini, entahlah tujuan mereka apa dan di situlah kami harus mengawasi, terkadang orang-orang asing memanfaatkan kesempatan padahal orang-orang yang berada di ujung perbatasan seperti ini," jawab Aska dengan sedikit penjelasan.
"Begitu," sahut Zivanna.
"Lalu Dokter sendiri bagaimana? sebelumnya bekerja di rumah sakit mana dan kenapa bisa menjadi Dokter relawan?" tanya Aska.
"Rumah sakit citra kasih," jawabnya.
"Entahlah, tiba-tiba saja aku ditugaskan untuk berada di tempat ini tanpa persetujuanku," jawabnya.
"Berarti Dokter adalah Dokter yang spesial," sahut Aska.
"Kenapa kamu mengatakan hal seperti itu? Apa yang special ketika kita mendapat tugas untuk menjadi Dokter relawan, karena jujur saja aku tidak menyukainya," jawab Zivanna.
"Saya sudah sering bertemu dengan Dokter relawan, mereka yang ditempatkan untuk menjalankan tugas mulia adalah orang-orang pilihan, sudah pasti Dokter adalah pilihan dari orang yang menempat Dokter untuk berada di tempat ini, jadi maka dari itu saya mengatakan Dokter pasti sangat spesial dipilih tanpa melakukan pengajuan," jawab Aska.
"Bukan karena aku special, tetapi karena dia memang ingin membuangku," batin Zivanna dengan ekspresi wajahnya kembali sendu.
"Hey...Aska melambaikan tangannya tepat di hadapan Zivanna yang membuat lamunan Zivanna terbuyar.
"Dokter ternyata memiliki hobi melamun," ucapnya dengan geleng-geleng kepala.
Zivanna tidak merespon dan melanjutkan makannya untuk menikmati kentang bakar tersebut.
"Heeeee, hiks, hiks," perhatian mereka harus tertuju pada dua anak yang salah satunya menangis dengan berjalan tampak pincang membuat keduanya bingung.
"Kalian kenapa?" tanya Zivanna berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri anak tersebut.
"Dokter kaki Lulu tadi terinjak paku," teman yang satunya membuat perhatian Zivanna melihat kaki tersebut masih tertancap paku yang dimaksudkan.
"Astagfirullah...." Zivanna sudah mulai dengan menutup mulutnya menggunakan kedua tangannya.
Aska yang melihat hal itu juga langsung berdiri dari tempat duduknya.
"Ayo sini duduk!" Aska dengan sigap membantu anak kecil tersebut untuk mendapatkan tempat ternyaman kemudian ketika anak kecil itu duduk di salah satu bangku Aska tampak berlutut dan memeriksa paku itu.
"Dokter apa tidak ada suntikan bius agar anak ini tidak kesakitan saat pakunya dicabut?" tanya Aska.
"Oh, ada-ada!" Zivanna menganggukkan kepala dan langsung bergegas cepat meninggalkan tempat tersebut.
Tidak lama Zivanna kembali dengan membawa kotak medis dan dengan sigap dia langsung mengeluarkan suntikan. Zivanna menjalankan tugasnya sebagai Dokter profesional yang melakukan suntikan pada telapak kaki tersebut.
"Apa saya sudah bisa mencabut?" tanya Aska.
"Pakailah ini?" Zivanna memakaikan sarung tangan kepada pria itu dan juga menyemprotkan pada alkohol.
"Lulu kamu jangan takut ya, ini tidak sakit!" ucap Aska menenangkan Lulu membuat Lulu menganggukkan kepalanya dan Aska langsung mencabut paku tersebut dan sesuai dengan apa yang dia katakan bahwa tidak sakit karena sudah dibius.
Darahnya tampak keluar begitu banyak membuat Zivanna sudah pasti merasa ngeri, tetapi tangannya dengan cepat mengambil kapas dan membersihkan darah tersebut, Zivanna sudah menahan dirinya agar tidak muntah atau bahkan tidak pingsan karena darah yang mengalir terus.
Tetapi keberaniannya bertambah sampai membuat pendarahan itu berakhir. Zivanna terlihat begitu tenang seperti sudah menjadi Dokter profesional ketika mengobati telapak kaki anak tersebut dari memberi obat sampai memberi perban sehingga telapak kaki itu dapat terlindungi.
"Alhamdulillah!" ucapnya ternyata merasa bangga dengan dirinya bisa mengatasi anak kecil itu sendiri meski ditemani oleh Aska yang sejak tadi menjadi asistennya dengan menggunting perban dan melakukan apapun Zivanna.
"Bagaimana Lulu apa masih terasa sakit?" tanya Zivanna.
"Tidak Dokter, geli saat disentuh," jawabnya.
"Kamu sebaiknya kembali pulang dan istirahat, obat biusnya akan segera habis dan insya Allah kaki kamu besok sudah baik-baik saja dan bisa diinjakkan dengan baik," ucap Zivanna dengan lembut.
"Baik Dokter, terimakasih," ucap Lulu akhirnya meninggalkan tempat itu bersama dengan temannya.
Dia benar-benar merasa beruntung karena dibantu oleh Zivanna dan bahkan Zivanna juga terlihat lega, dengan senyumnya yang tampak lebar benar-benar sangat bahagia.
"Ini seperti apresiasi besar bagi Dokter," ucap Aska yang ternyata sejak tadi memperhatikan ekspresi Zivanna.
"Benar! Ini merupakan apresiasi yang sangat besar, bagaimana tidak saya tidak menyangka bisa melakukannya sendiri tanpa meminta bantuan Dokter atau perawat lain," ucapnya.
"Wau benarkah, apa Dokter baru saja melakukan sumpah Dokter?" tanya Aska.
"Tidak, hanya saja saya kurang dihargai di rumah sakit dan dianggap tidak pantas untuk menjadi Dokter," jawabnya jujur apa adanya.
"Maaf, saya jadi curhat kepada kamu, terima kasih sudah membantu saya untuk menangani Lulu," ucap Zivanna akhirnya berlalu dari hadapan Aska.
"Selama dia datang ke tempat ini dan aku belum pernah melihat yang tersenyum seperti itu dan siapa sangka dia ternyata bisa tersenyum seperti itu," ucap Aska dengan geleng-geleng kepala.
*****
Zivanna sudah kembali ke kamarnya dan bersiap-siap untuk tidur dalam satu ruangan terdapat dua bet dimana 2 dokter yang akan di sana dan Zivanna sudah pasti bersama dengan Sherina.
Zivanna tiba-tiba kepikiran dengan apa yang dikatakan Nayla.
"Mungkinkah Nayla saat ini sudah menikah bersama dengan Dikta?" batin Zivanna.
"Apa dia sanggup melakukan hal itu kepadaku? dia telah mengirimku ketempat ini dan otomatis memang ada tujuan untuk menikah dengan Nayla diam-diam tanpa sepengetahuan mama dan papa," batin Zivanna berburuk sangka kepada suaminya.
"Ya Allah, aku pikir sejak awal aku menerima pernikahan ini. Aku berpikir hasilnya tidak akan seperti ini dan siapa sangka ternyata semuanya begitu sulit, hubungan kami yang tidak pernah akur dan terlebih lagi dia terus saja menyalahkanku dalam hal apapun," batin Zivanna benar-benar sedih.
"Apa yang harus hamba lakukan untuk hari-hari berikutnya?" batin Zivanna benar-benar sedih.
Entahlah saat ini ternyata perasaannya tidak baik-baik saja dengan semua pikirannya tertuju pada pernikahannya.
Bersambung....