SINOPSIS
Arkan Pradipta tidak pernah merasa dirinya gagal.
Ia hanya terlalu sering dipaksa mengalah oleh keadaan.
Di usia dua puluh dua tahun, hidupnya nyaris berhenti di tengah jalan. Kuliah Manajemen Bisnisnya tertunda, motor tuanya lebih sering batuk daripada melaju, dan setiap hari ia harus berpikir bagaimana cara membantu ibunya serta memastikan adiknya, Naya, tetap bisa mengejar masa depan.
Bagi orang lain, Arkan hanyalah pemuda miskin dari Pontianak yang tidak punya apa-apa.
Sampai suatu hari, saat ia dipermalukan karena tidak mampu menyelesaikan urusan biaya adiknya, sebuah suara asing muncul di kepalanya.
[Sistem Triliuner Absolut sedang melakukan pemindaian.]
[Saldo rekening: memprihatinkan.]
[Aset pribadi: tidak terdeteksi.]
[Kesimpulan: Tuan Rumah bukan miskin biasa.]
[Tuan Rumah adalah bencana finansial berjalan.]
Arkan mengira dirinya sedang berhalusinasi.
Namun beberapa detik kemudian, hidupnya berubah.
Rp3.000.000.000.000 masuk ke rekeningnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arrofy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 22 RUMAH BARU MENANTI
Pria lebih tua yang sejak tadi diam akhirnya bicara. “Tentu, Pak Arkan. Untuk kebutuhan properti dan kendaraan, kami dapat menyediakan dukungan pembayaran prioritas, escrow, dan verifikasi dokumen.”
Olivia langsung mencatat. “Saya akan minta tim legal properti mengirim dokumen ke pihak bank bila diperlukan.”
Arkan bersandar sedikit.
Pertemuan itu jauh lebih singkat daripada yang ia kira.
Tidak ada rasa kagum berlebihan.
Tidak ada tanya jawab panjang.
Tidak ada Arkan yang kebingungan mendengar istilah asing.
Karena Olivia menyaring semuanya.
Dan sistem mengawasi dari belakang.
Nadira mengeluarkan sebuah map tipis. “Pak Arkan, ini kartu prioritas sementara. Kartu permanen akan kami kirimkan setelah struktur rekening selesai.”
Olivia mengambil map itu lebih dulu, memeriksa cepat, lalu menyerahkannya kepada Arkan.
Arkan menerimanya.
Sebuah kartu hitam sederhana terletak di dalamnya. Tidak terlalu mencolok, tetapi beratnya terasa berbeda di tangan.
[Sistem mendeteksi peningkatan simbol status.]
[Catatan: kartu ini lebih pantas berada di dompet Tuan Rumah daripada struk bensin kusut tiga minggu lalu.]
Arkan mengabaikan komentar itu.
Ia menatap Nadira.
“Satu hal lagi.”
Nadira segera menegakkan tubuh. “Silakan, Pak.”
“Jangan membuat saya merasa sedang dikejar.”
Ruangan itu hening sebentar.
Kalimat Arkan tidak keras, tetapi cukup membuat tiga orang bank itu memahami posisinya.
“Saya ingin layanan yang rapi,” lanjut Arkan. “Bukan perhatian yang berisik.”
Nadira menunduk sedikit. “Kami pahami, Pak. Itu tidak akan terjadi.”
Arkan berdiri.
Pertemuan selesai.
Tidak sampai dua puluh menit.
Ketika mereka keluar dari ruangan, Olivia berjalan di samping Arkan dengan ekspresi puas yang sangat tipis.
“Anda menangani itu dengan baik.”
“Karena Anda memotong bagian yang tidak perlu.”
“Itu memang pekerjaan saya.”
Arkan menatapnya. “Setelah ini?”
Olivia membuka tabletnya.
“Jadwal Bu Sari untuk kontrol sudah selesai. Obat dan rekomendasi dokter sedang disiapkan. Setelah beliau siap, kita langsung berangkat melihat rumah transisi.”
“Langsung?”
“Ya. Saya sudah memilih tiga properti. Semua legal, siap huni, tidak terlalu mencolok, tetapi cukup aman dan nyaman.”
Sistem langsung muncul.
[Daftar properti transisi telah diselaraskan.]
[Opsi 1: aman, nyaman, terlalu sederhana menurut sistem.]
[Opsi 2: seimbang, cocok untuk adaptasi keluarga.]
[Opsi 3: lebih layak, namun berpotensi membuat Ibu Sari membaca doa perlindungan terlalu panjang.]
Arkan hampir tersenyum.
“Mulai dari opsi dua.”
[Keputusan rasional.]
Olivia meliriknya. “Saya juga menyarankan opsi dua.”
Arkan menatap Olivia sesaat.
Kadang ia lupa bahwa perempuan ini tidak mendengar sistem.
Namun anehnya, keputusan mereka sering bertemu di titik yang sama.
Ketika mereka kembali ke ruang privat, Bu Sari sudah selesai berganti dan Naya sedang merapikan map. Wajah ibu mereka tampak lebih tenang. Mungkin karena dokter tidak mengatakan hal menakutkan. Mungkin karena semua berjalan terlalu rapi untuk diperdebatkan.
“Sudah selesai, Bang?” tanya Naya.
“Sudah.”
Bu Sari menatap Arkan. “Banknya?”
“Sudah diurus.”
Singkat.
Tidak ada penjelasan panjang.
Tidak ada drama.
Arkan mengambil tas kecil ibunya.
“Setelah ini kita lihat rumah.”
Naya langsung membeku. “Sekarang?”
“Sekarang.”
Bu Sari tampak terkejut, tetapi Arkan tidak memberi ruang untuk ketakutan tumbuh terlalu lama.
“Cuma lihat. Kalau cocok, kita urus. Kalau tidak, cari yang lain.”
Olivia menambahkan dengan tenang, “Tidak perlu khawatir, Bu. Properti yang dipilih bukan rumah mencolok. Lebih seperti tempat tinggal nyaman dan aman untuk masa transisi.”
Naya menatap Olivia, lalu menatap Arkan.
“Berarti… kita benar-benar pindah?”
Arkan tersenyum tipis.
“Kita benar-benar mulai.”
Mereka keluar dari ruang privat.
Namun kali ini, mereka tidak kembali ke parkiran motor.
Di depan lobi eksekutif, sebuah mobil hitam sudah menunggu. Bukan mobil super mewah yang menarik perhatian, tetapi cukup elegan untuk membuat petugas keamanan berdiri lebih tegak.
Seorang sopir membuka pintu belakang.
Bu Sari berhenti melangkah.
Naya juga.
Arkan menatap mobil itu sebentar.
Sistem berbicara di kepalanya dengan nada yang terdengar hampir lega.
[Transportasi sementara tersedia.]
[Status: jauh lebih bermartabat daripada kendaraan prasejarah.]
[Catatan: sistem dapat bernapas.]
Arkan tidak menjawab.
Ia hanya menoleh kepada ibu dan adiknya.
“Ayo.”
Bu Sari masuk lebih dulu, masih hati-hati.
Naya menyusul dengan wajah yang berusaha tenang tetapi jelas menyimpan kagum.
Arkan masuk terakhir.
Olivia duduk di kursi depan.
Pintu mobil tertutup dengan suara lembut.
Hening.
Nyaman.
Dingin.
Berbeda jauh dari suara motor tua yang selalu bergetar di kaki mereka.
Mobil mulai bergerak meninggalkan rumah sakit.
Naya menatap keluar jendela, melihat Pontianak pagi yang bergerak di balik kaca gelap. Bu Sari duduk diam, tangannya menggenggam tas kecil, tetapi kali ini ia tidak mengatakan apa-apa.
Arkan bersandar.
Pagi baru berjalan beberapa jam, tetapi hidup mereka sudah bergerak lebih jauh daripada bertahun-tahun sebelumnya.
Di layar ponsel, sistem menampilkan tujuan berikutnya.
[Tujuan: Properti Transisi Opsi 2.]
[Estimasi waktu: 18 menit.]
[Status: langkah naik kelas berikutnya dimulai.]
Arkan menatap jalan di depan.
Rumah lama masih menunggu di belakang.
Tapi untuk pertama kalinya, ia tidak merasa sedang meninggalkannya.
Ia merasa sedang menjemput sesuatu yang terlalu lama tertunda.