NovelToon NovelToon
IBU TIRI SEWAAN

IBU TIRI SEWAAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Orang Disabilitas / Menikahi tentara / Anak Genius
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Lisa

Demi uang, Asia menerima tawaran menikah kontrak dengan Kapten Hugo, seorang tentara yang mengalami kelumpuhan parsial karena cidera tugas. Baginya pernikahan itu hanyalah jalan tercepat untuk melunasi utang seratus juta rupiah yang ditinggalkan ayahnya setelah kabur karena kalah berjudi.

Namun ia harus menjadi ibu tiri bagi putra bungsu yang super aktif dan sulit dikendalikan. Serta putri kelas 3 SMP yang membencinya karena merasa Asia telah menggantikan posisi mendiang ibunya.

Asia tak berniat menjadi istri yang baik atau ibu yang penyayang. Targetnya hanya satu: mengumpulkan uang sebanyak mungkin, lalu pergi saat kontrak pernikahan berakhir.

Hanya saja, keluar dari keluarga itu ternyata jauh lebih sulit daripada masuk ke dalamnya

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 18

"Asia ..." panggil Nyonya Malinda pelan, suaranya agak bergetar.

"Ya, Bu."

"Ibu mohon maklumi sikap Jenny, ya? Anak itu sebenarnya tidak bermaksud jahat."

Asia menoleh, memberikan perhatian penuh. "Iya, Bu. Asia mengerti kok. Wajar kalau Jenny butuh waktu."

Nyonya Malinda mengangguk lemah, jemarinya yang mulai keriput saling bertautan di atas meja. "Dia sangat kehilangan mamanya. Waktu Indira meninggal dua tahun lalu karena sakit, Jenny-lah yang paling terpukul. Dia anak perempuan satu-satunya, dan sejak kecil dia sangat menempel pada mamanya."

Beliau diam sejenak, mengenang masa-masa sulit itu. "Sejak kepergian Indira, ditambah lagi dengan kondisi Hugo yang terluka akibat tugas, Jenny terpaksa tumbuh dewasa sebelum waktunya. Dia merasa punya tanggung jawab besar untuk menjaga adiknya, menjaga papanya. Itulah kenapa dia membangun benteng yang begitu tebal di sekeliling dirinya. Dia takut kalau ada orang baru masuk, memori tentang mamanya akan hilang dari rumah ini."

Asia mendengarkan dengan saksama. Setiap untaian kalimat Nyonya Malinda membuat rasa maklum di hatinya semakin bertambah. Sejak awal di mata Asia, Jenny bukan sekadar remaja egois yang memberontak. Melainkan seorang anak perempuan yang sedang berjuang melindungi luka hatinya sendiri dengan cara menjadi kuat.

"Asia paham, Bu," sahut Asia tulus. Selain karena dia merasa tidak terlalu memikirkan sikap jenny karena dia hanya istri kontrak, dia sebenarnya juga paham. Dalam benak Asia, dia pun berpikir kalau dia juga sayang ibunya yang sudah meninggal.

Mendengar jawaban bijak dari Asia, gurat kecemasan di wajah Nyonya Malinda perlahan memudar. Senyum beliau kembali melebar, merasa lega karena keputusan Hugo memilih Asia ternyata tidak salah.

"Ya sudah, cepat habiskan sarapanmu, Nero. Kasihan Tante Asia sudah siap dari tadi," ujar Nyonya Malinda dengan nada suara yang jauh lebih ringan, sembari memberikan usapan sayang di kepala cucunya.

Nero sepertinya masih malas menyentuh sarapannya. Namun, bayangan saat naik motor membuatnya mempercepat kunyahannya. Meski sesekali ia masih tampak ogah-ogahan. Demi memenuhi syarat untuk bisa segera naik motor, akhirnya ia menelan suapan terakhirnya.

"Sudah!!" seru Nero sambil meletakkan sendok dengan bunyi berdenting di piring.

"Oke. Bagus. Lanjut minum susu dan siap-siap berangkat ya," Asia langsung memberikan tugas selanjutnya tanpa celah.

"Ya," jawab Nero, masih dengan nada malas.

"Harus semangat, dong. Kita mau naik motor, lho," goda Asia untuk membangkitkan gairahnya kembali.

Nero langsung tersentak, rasa malasnya hilang seketika. "Iya, iya! Aku mau naik motor! Oma, aku mau naik motor lho!" lapor Nero penuh antusias kepada sang nenek, seolah itu adalah sebuah pencapaian besar.

Nyonya Malinda tersenyum melihat cucunya yang kembali ceria. "Iya. Tapi hati-hati ya, jangan ngebut-ngebut."

"Siap!" jawab Nero mantap.

"Ayo. Bu, Asia sama Nero berangkat ya," pamit Asia sambil meraih tas sekolah Nero dan menggandeng tangan kecil bocah itu.

"Iya, hati-hati di jalan," sahut Nyonya Malinda seraya melambaikan tangan. Beliau menatap punggung mereka dengan perasaan lega.

***

Di dalam ruang kerja Kapten Hugo yang tenang, aroma kopi hitam menguar tipis. Gilang, yang baru saja selesai meletakkan map laporan di meja kerja atasannya, tidak langsung pamit undur diri. Pria itu justru bersandar santai di depan meja, melipat tangan di dada dengan senyum penuh arti.

"Bagaimana istri Anda, Kapten?" tanya Gilang, memecah keformalan. Sebagai sahabat dekat yang tahu persis rencana nikah kontrak ini, Gilang tentu penasaran.

Hugo yang sedang memeriksa berkas seketika menghentikan pulpennya. Ia mendongak dengan alis berkerut halus. "Asia?"

"Ya. Tentu saja Nona Asia. Memangnya siapa lagi?" Gilang terkekeh pelan.

"Baik-baik saja," jawab Hugo datar. Ia kembali menggoreskan pulpen di atas kertas. Berusaha menyembunyikan riak di hatinya.

"Hanya baik-baik saja?" kejar Gilang tidak puas dengan jawaban super irit sang sahabat. "Bagaimana perkembangan beliau di rumah dengan anak-anak? Nero dan Jenny?"

Hugo diam sejenak. Sorot matanya yang tegas mendadak tampak menerawang, menampilkan kilas balik kejadian tadi pagi di rumahnya. "Dia aneh."

"Ya?" Gilang mengerutkan kening, merasa heran dengan penilaian tersebut.

"Cara dia berkomunikasi dengan Nero terasa aneh," lanjut Hugo.

Gilang menegakkan posisi berdirinya, semakin tertarik. "Saya tidak mengerti."

"Dia punya cara aneh untuk membuat Nero patuh," Hugo mulai bicara panjang, hal yang jarang sekali ia lakukan jika menyangkut urusan domestik. "Saat Nero menolak mandi tadi pagi, dia tidak membujuknya sama sekali. Asia hanya menyuruh Nero main air dengan mainannya di dalam kamar mandi."

Gilang menaikkan sebelah alisnya, terkejut. "Nero mau?"

"Ya. Dengan iming-iming mainan, Nero pasti mau. Dia masuk kamar mandi tanpa air hangat dengan tenang. Tanpa drama." Hugo menggelengkan kepala sedikit, masih merasa heran dengan kepatuhan putranya yang biasanya harus dihadapi dengan ketegasan militer.

Gilang mengangguk-angguk paham, sebuah senyuman kekaguman terbit di wajahnya. "Jadi, dia melakukan pendekatan dengan pola pikir anak-anak."

"Ya."

Gilang mengangguk-angguk. Tampak menimang-nimang sebelum melemparkan pertanyaan berikutnya. "Lalu, bagaimana dengan Jenny? Apa hubungannya dengan Jenny juga lancar?"

Mendengar nama putri sulungnya disebut, guratan di wajah Hugo tampak semakin mengeras. Ia bersandar pada kursi rodanya, menatap lurus ke arah jendela ruang kerja.

"Tidak," jawab Hugo berat. "Dia masih mengingat Indira sebagai ibunya. Dia tidak mau menerima orang baru. Siapapun itu."

Gilang terdiam sejenak. Senyum jenaka yang tadi menghiasi wajahnya kini perlahan memudar, digantikan oleh rasa maklum yang mendalam. Sebagai sahabat yang juga menjadi saksi bagaimana terpukulnya keluarga Hugo saat kehilangan Indira, Gilang sangat mengerti posisi Jenny.

"Ya, aku paham," sahut Gilang pelan, menepuk bahu sang Kapten dengan penuh empati. "Dia sudah besar, jadi dia tahu betul apa yang terjadi. Usia remaja seperti Jenny memang yang paling sulit untuk menerima perubahan, apalagi kehadiran seorang ibu pengganti meskipun itu cuma di atas kertas."

"Tapi aku bersyukur Asia tidak tersinggung sama sekali dengan kata-kata Jenny yang tajam," kata Hugo.

"Kata-kata tajam?"

"Jenny selalu memilih kata-kata pedas jika membahas Asia."

"Sepertinya Jenny benar-benar terpukul mendapat ibu baru. Tapi mendengar Asia bisa bersikap biasa saja, itu melegakan. Dia tangguh," kata Gilang.

"Ya. Mungkin karena dia hanya kontrak jadi dia tidak memosisikan dirinya sebagai ibu. Dia bertindak sebagai teman," ujar Hugo gamblang menjelaskan Asia. "Jadi apapun yang anak-anak ku lakukan, dia tidak bergeming. Tapi tetap memperhatikan mereka."

"Sepertinya memilih Asia benar, Kapten," ujar Gilang dengan nada puas. "Dia benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Kontrak ini tidak sia-sia."

Hugo menutup map berkas di depannya, lalu menghela napas pendek. "Ya."

Hugo tidak menyahut lagi. Ia hanya menatap kosong ke luar jendela. Pikirannya mendadak melayang pada benteng pertahanan Jenny yang begitu kokoh, dan bagaimana Asia tadi pagi dengan sabar memilih mengalah demi meredam konflik.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!