NovelToon NovelToon
My Teacher Is My Husband

My Teacher Is My Husband

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Balas Dendam
Popularitas:932
Nilai: 5
Nama Author: Rosemary Mary

Bagaimana perasaan mu jika kau terpaksa harus menikah muda? Terutama dengan orang yang usianya jauh lebih tua dari mu? Inilah yang terjadi dengan Clara Adeline Ferguson. Ia adalah putri tunggal keluarga Ferguson yang terkenal kaya. Papa nya juga adalah salah satu donatur terbesar sekolah SMA Citra Kirana di kota X.

Kenapa? Scandal apa yang telah dia lakukan sehingga ia harus menikah begitu dini? Ya. Jawaban nya adalah. Clara itu sangat nakal dan juga tidak pernah mendengarkan kedua orang tuanya,ia bahkan bisa di bilang anak manja dengan perilaku buruk, tidak jarang ia membuat onar di sekolah, ia bahkan selalu mendapat nilai merah di raport nya dan terancam tidak naik ke kelas tiga karena sering bolos sekolah.

Sementara itu Zidan, adalah seorang guru laki-laki termuda di sekolah SMA Citra Kirana yang katanya adalah keponakan kepala sekolah, namun identitas Zidan ini tidak lah akurat seperti sedikit tertutup dan tidak ada yang tau tentang keluarga nya kecuali sang paman.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rosemary Mary, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode #21

"lah ini kenapa? Kok lampu nya mati?" tanya Clara kaget dan hendak berdiri dari duduknya.

"Jangan kemana-mana, tunggu di sini saja, biar saya yang cek," kata Zidan yang kemudian berdiri dari duduknya lalu hendak melangkah pergi.

"Pak Zidan," kata Clara memegang pergelangan tangan Zidan.

Zidan berhenti dan menoleh ke arah Clara, ia segera mengambil ponsel dari saku celana nya dan kemudian menyalakan senter ponsel tersebut.

"Saya ikut ya," ucap Clara ikut berdiri.

"Hm," jawab Zidan mengalah.

Dan akhirnya mereka berjalan keluar dari kamar bersama dengan tangan Clara yang masih memegang lengan baju Zidan.

Suasana villa benar-benar sepi, ternyata bukan hanya kamar Zidan yang lampunya mati, satu villa benar-benar gelap gulita karena ternyata ada pemadaman listrik di komplek tersebut di karenakan cuaca buruk.

Angin mulai berhembus kencang menyibak gorden-gorden villa, gemuruh mulai terdengar kuat dan kilat mulai menyala masuk dari kaca jendela.

"Astaga," Clara yang memang takut dengan petir merasa kalau jantung nya berdegup kencang keringat dingin pun mulai membasahi jidat nya.

Perlahan rintik-rintik hujan mulai terdengar di genteng villa, dan rasa dingin dari cuaca yang buruk tersebut mulai menyeruak ke mana-mana.

"Seperti nya pemadaman listrik karena akan ada badai, sebaiknya kamu kembali ke kamar saja, di setiap kamar jelas ada lilinnya kau masuk lah ke kamar nyalakan lilin dan segera tidur," ucap Zidan kepada Clara yang saat ini berdiri di samping nya.

"Ngak, saya gak mau, saya takut," jawab Clara kini ia semakin erat memegang lengan Zidan.

Zidan melihat Clara yang menempel di samping nya dengan tangan yang melekat di lengan nya.

Ia merasa kalau saya ini memang Clara benar-benar ketakutan.

"Saya mau kembali ke kamar saya, jika kamu tidak mau masuk ke kamar kamu, apa kamu mau tidur di kamar saya?" kata Zidan lagi.

Seketika Clara terdiam, dia bingung harus bagaimana, saat ini yang dia pikirkan hanyalah lah badai dan juga petir yang menyambar dan Clara tidak akan bisa sendirian dalam situasi ini, biasanya di rumah ia selalu di temani oleh sang mama atau bibi pelayan nya.

Hujan semakin deras, dan petir pun kini bukan hanya sekedar gemuruh saja melainkan petir yang menyambar kuat di sertai kilat dan juga hujan berangin.

"Boleh gak saya nunggu hujan nya berhenti di kamar bapak? Janji gak bakal gangguin bapak tidur kok, saya takut dengan cuaca yang seperti ini," jujur Clara kepada Zidan.

Zidan terdiam dan merasakan dinginnya tangan Clara yang melingkar di lengan nya.

"Ya sudah, ayo cepat masuk," kata Zidan yang hatinya luluh juga karena permohonan dari Clara yang sedang ketakutan.

Tiga puluh menit pun berlalu.

Clara tetap duduk di kursi meja belajar sambil menatap lilin yang ada di atas nya dengan berharap kalau sebentar lagi hujan badai akan segera berhenti.

Sementara itu Zidan sudah berbaring di ranjang nya sambil membaca buku di sinari dengan senter dari ponsel nya.

Sesekali ia melihat Clara yang duduk di atas kursi dengan dua kaki yang juga ia naikan ke atas kursi serta tatapan mengarah ke lilin dan juga kedua tangan yang memeluk lutut nya.

Sesekali dirinya terlihat kaget karena suara petir dan mencoba untuk tetap tenang karena situasi sekarang tak sama seperti dulu, kalau dulu dirinya bisa memeluk sang mama atau bibi pelayan ketika takut namun tidak dengan sekarang.

Rasanya dia benar-benar menjadi gadis mendiri setelah berpisah dari sang mama.

Mengingat hal ini perlahan air mata nya mulai menetes membasahi pipi mulus nya, ia sangat merindukan masa-masa itu, kembali ia berfikir kalau seandainya dari dulu ia menjadi anak baik yang selalu bisa di atur mungkin sekarang dia tidak akan ada di villa bersama dengan suami dingin dan cuek seperti Zidan.

"Clara nyesel ma, Clara nyesel banget," batin Clara sambil mengelap air mata nya.

Melihat itu hati Zidan tersentuh, ia turun dari ranjang nya dan mengambil selimut cadangan yang ada di dalam lemari lalu membawa nya kepada Clara.

"Kamu pakai ini dan tidur lah, di ranjang, aku akan membangunkan mu jika hujan sudah berhenti," kata Zidan sambil memberikan selimut tersebut kepada Clara.

"Tapi ... Pak Zidan mau tidur di mana?" tanya Clara sambil mendongak menatap Zidan.

"Sayang masih ada tugas yang belum selesai saya kerjakan, saya akan mengerjakan nya terlebih dahulu," ucap Zidan lagi.

"Be-beneran nih?" ujar Clara sambil menerima selimut tersebut.

"Ya," jawab Zidan singkat.

Clara berdiri berhadapan dengan Zidan dan hatinya kini terasa sedikit hangat setelah melihat Zidan yang mulai sedikit peduli dengan nya.

"Tunggu apa lagi?" tanya Zidan membuat lamunan Clara buyar.

Namun saat Clara hendak melangkah menuju ranjang, tiba-tiba saja ...

Duarr! ...

Sebuah petir yang begitu kuat dengan sambaran kilat menyala-nyala muncul secara bersamaan membuat Clara kaget dan menjerit ketakutan.

"Aaaaa!" teriak nya sambil menutup kedua kuping.

Seketika Zidan menarik Clara ke dalam pelukan nya.

Deg ... Deg ... Deg ...

Suara detak jantung Clara yang berdegup kencang karena kaget, nafas nya terasa sesak ini pertama kalinya hujan badai yang begitu kuat membuat nya benar-benar takut.

"Tenang lah hanya hujan badai biasa yang terjadi di alam kamu tidak perlu takut karena berada di dalam villa," lirih Zidan yang masih mendekap Clara di dalam pelukan nya.

Tidak ingin egois Clara merasakan sebuah kenyamanan dan juga kehangatan berada di dalam pelukan Zidan, rasa takut nya juga berkurang setelah mendengar ucapan Zidan barusan yang memang seratus persen benar.

"Kenapa aku jadi sepeduli ini kepada nya? Apa yang aku lakukan? Kenapa aku menyentuh bahkan memeluk nya?" ujar Zidan yang tidak mengerti akan perlakuan dirinya sendiri.

Lima menit kemudian, Zidan yang merasa Clara sudah cukup tenang segera melepaskan pelukan nya.

"Sudah, tidur lah, jangan menutup kuping mu, itu berbahaya," kata Zidan yang kemudian berjalan menuju meja kerja nya.

Clara hanya bisa diam, ia tidak tau harus menjawab apa karena terlalu gugup, ia kemudian dengan perlahan naik ke atas ranjang dan mulai meringkuk di sana, hal asil karena terlalu takut dan juga mengantuk dirinya pun berkahir tidur di ranjang Zidan.

Kini jam sudah menujukkan pukul dua belas malam, Clara telah tidur namun cuaca masih sangat buruk.

Zidan duduk di kursi meja kerja nya sambil sesekali menoleh ke arah Clara.

"Apa itu tadi? Kenapa rasanya dia sangat nyaman untuk di peluk? Aroma tubuh nya yang harum membuat ku merasa sangat rileks," batin Zidan.

"Ah, Zidan apa yang sedang kau pikirkan? Dia hanyalah alat, aku tidak boleh jatuh cinta, di larang keras bagiku untuk jatuh cinta dengan anak itu," batin Zidan.

Keesokan harinya.

Clara membuka mata nya dan melihat ke sekeliling, ia melihat kalau saat ini dirinya masih berada di kamar Zidan, dan di sebrang sana di ujung ranjang terdapat Zidan yang sedang tertidur di atas sofa.

"Semalaman pak Zidan tidur di sana?" batin Clara sedikit merasa bersalah.

Bersambung....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!