NovelToon NovelToon
Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Menikahi Pria Yang Mencintai Adik Tirinya

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami / Perjodohan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Yellow Sunshine

Pada ulang tahun pernikahannya yang pertama, Hazel Frost menemukan suaminya, Mason Roux mencium wanita lain dengan kedua matanya. Dan yang lebih menghancurkan lagi, bahwa wanita itu adalah adik tiri suaminya, Jennifer.
Pernikahan yang seharusnya menjadi kebahagiaan pun perlahan berubah menjadi rahasia yang menyakitkan. Meski tahu hatinya tidak pernah benar-benar dimiliki, Hazel tetap bertahan. Ia mencoba membuat Mason melihatnya sebagai seorang istri, bukan sekadar wanita yang terpaksa harus dinikahi.
Namun semakin lama, Hazel mulai menyadari satu hal, bahwa tidak semua cinta bisa diperjuangkan sendirian. Lalu ketika ia akhirnya memilih berhenti dan pergi, Mason justru mulai menyadari perasaannya yang sebenarnya.
Tapi apakah semuanya sudah terlambat? Apakah Hazel masih bersedia kembali pada pria yang pernah menghancurkan hatinya? Atau justru Mason Roux yang akan menyesal seumur hidup karena kehilangan satu-satunya wanita yang benar-benar mencintainya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yellow Sunshine, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 9

(Flashback H-40 sebelumnya)

Kali ini, entah kenapa kamarku terasa lebih sunyi dari biasanya. Aku duduk di tepi ranjang dengan ponsel berada di tangan, seraya menatap layar yang sejak tadi tidak berubah. Kontak itu masih ada di sana, berisi nama dan nomor yang baru saja kutambahkan malam itu. Nomor yang seharusnya menjadi awal dari sesuatu, namun justru terasa seperti jarak yang belum bisa kutembus.

Jempolku sempat bergerak, mengetik beberapa kata, lalu menghapusnya lagi, berulang kali. Aku bahkan tidak tahu harus memulai dari mana. Dan di kepalaku, suara itu masih terdengar jelas—datar, tegas, dan tidak memberi ruang untuk ditawar.

“Ini tidak akan berhasil.”

Aku menutup mata sejenak, lalu menghela napas pelan. Meski begitu, anehnya kalimat itu tidak membuatku lantas ingin mundur. Kalimat itu tidak juga membuatku ingin melupakan semuanya. Sebaliknya, entah bagaimana, sesuatu dalam diriku justru terasa semakin hidup.

Aku pun tersenyum tipis. Mungkin aku memang keras kepala, bodoh, dan sudah terlanjur jatuh terlalu dalam dan terlalu cepat. Tanpa berpikir panjang lagi, aku membuka salah satu grup chat di ponselku, berisikan nama-nama yang selalu ada di sisiku, bahkan sebelum aku benar-benar mengerti arti dari kata 'jatuh'

Aku mengetik dengan cepat. 'Aku butuh kalian. Sekarang.'

Tidak sampai satu menit, satu per satu balasan sudah bermunculan.

'Ada apa, Hazel? Ini soal Mason?', balas Amber.

'Ya Tuhan. Apa yang terjadi, Hazel? Apa Mason menolakmu', tanya Brie.

Dan, Linda dengan sikapnya yang bijaksana, langsung memutuskan tempat dan waktu, dimana kami akan segera berkumpul. 'Baiklah. Kalau begitu, di kafe biasa. Satu jam lagi', balasnya.

Aku menatap layar itu, lalu mengetik satu kalimat lagi. 'Ini... jauh lebih buruk dari itu'

Tanpa ingin memperpanjang ceritaku di grup chat lagi, aku segera bersiap-siap dan pergi ke kafe yang memang biasa kami kunjungi. Siang ini, jalanan tampak tidak seramai biasanya. Sehingga, aku bisa sampai di lokasi kurang dari satu jam.

Kafe itu masih sama seperti biasanya. Hangat, hidup, dan terasa seperti tempat di mana segala hal, seburuk apa pun, bisa sedikit lebih ringan hanya karena dibagi. Kukira aku akan menjadi orang pertama yang datang dalam pertemuan ini, tapi nyatanya aku datang paling terakhir. Dan seperti yang sudah kuduga, mereka bertiga sudah duduk di meja favorit kami. Amber dengan sikap tenangnya, Brie yang terlihat tidak sabar, dan Linda yang menatapku tajam bahkan sebelum aku sempat duduk.

Aku pun menyapa mereka, lalu menarik kursi perlahan. Belum sempat aku membuka suara, mereka sudah begitu antusiasnya menghujaniku dengan pertanyaan demi pertanyaan.

“Baik,” kata Brie lebih dulu, seraya menyilangkan tangan di depan dada. “Ceritakan semuanya sebelum aku mulai berimajinasi sendiri.”

Linda mengangguk kecil. “Dari wajahmu, ini jelas bukan cerita bahagia.”

Amber tidak berkata apa-apa pada awalnya. Ia hanya menatapku lurus, seolah mencoba membaca sesuatu yang bahkan belum sempat kuucapkan. Lalu ia bertanya pelan, tapi langsung pada intinya. “Dia menyakitimu?”

Aku terdiam beberapa detik. Sejujurnya, aku tidak tahu bagaimana menjelaskan sesuatu yang bahkan tidak terasa seperti luka yang jelas. Tidak ada kata kasar, juga tidak ada penolakan yang brutal. Namun tetap saja, ada sesuatu yang tertinggal. Dan itu cukup untuk membuat dadaku terasa sesak.

Aku menarik napas pelan, sebelum akhirnya menjelaskan. “Undangan makan malam itu… ternyata bukan darinya,” kataku akhirnya.

Alis Brie langsung terangkat. “Apa maksudmu?”

“Itu dari ibunya,” lanjutku. “Bahkan dia sendiri tidak tahu apa-apa tentang makan malam itu.”

Keheningan pun mendadak mengisi ruang di antara kami. Aku bahkan bisa melihat mereka mulai menyusun kemungkinan di kepala masing-masing. Hingga akhirnya aku melanjutkan dengan lebih pelan.

“Dan dia… ternyata tidak pernah menyetujui perjodohan ini.”

“Apa?!” Brie hampir setengah berdiri dari kursinya.

Sementara, Linda menatapku lebih serius. “Lalu?”

Aku menunduk sebentar, menatap cangkir di depanku yang masih penuh. “Menurutnya…” suaraku sempat tertahan, “…perjodohan ini adalah ide yang konyol.” jelasku. Hingga detik ini, kata itu masih terasa sama menyakitkannya, bahkan saat aku mengucapkannya kembali.

Linda mengerutkan kening. “Dan kau masih duduk di sana?”

Aku mengangkat kepala perlahan. “Aku hanya... tidak bisa pergi begitu saja.”

Kalimat itu jatuh begitu saja di antara kami. Tidak ada yang langsung menjawab, juga tidak ada yang langsung menghakimi. Di antara kami, hanya ada hening yang menggantung beberapa detik lebih lama dari biasanya.

Aku bisa merasakan tatapan mereka padaku. Tatapan menunggu, mencoba mengerti, dan mungkin sedikit tidak setuju. Aku pun menelan saliva perlahan, lalu berkata lagi. “Aku tidak bisa mundur.”

Amber langsung menoleh sedikit, menatapku lebih dalam. “…Hazel.”

Aku menatap mereka satu per satu. Dan untuk pertama kalinya, aku tidak lagi menahan apa pun. “Aku sudah terlanjur jatuh cinta padanya”

Suasana pun kembali hening. Bahkan kali ini terasa benar-benar hening. Seolah seluruh suara di kafe itu menghilang, meninggalkan hanya kami berempat dalam ruang kecil yang penuh dengan sesuatu yang sulit dijelaskan.

Brie berkedip pelan, jelas terkejut. Linda menghela napas panjang, wajahnya menunjukkan kekhawatiran yang tidak ia sembunyikan. Sementara Amber, hanya diam dan mengamati, selalu seperti itu. Ia selalu menjadi yang pertama mengerti, meski tidak langsung menanggapi.

Linda akhirnya membuka suara lebih dulu. “Dia sudah bilang tidak, Hazel. Jelas-jelas tidak.”

Brie menambahkan dengan nada lebih tajam, “Mason bukan pria yang sedang ragu. Dia pria yang menolak konsep perjodohan ini sejak awal.”

Aku tidak menyela, melainkan membiarkan semua kalimat itu keluar dari benak mereka—karena apa yang mereka katakan memang tidak sepenuhnya salah.

Amber kemudian berbicara, lebih pelan, tapi justru terasa paling dalam. “Hazel, apa kau yakin ini bukan karena dirimu hanya merasa tertantang?”

Pertanyaan itu mengenai tepat di tempat yang paling jujur. Aku menunduk sebentar, seraya memikirkan jawabannya. Lalu aku mengangkat kepala lagi. “Kalau ini hanya tentang tantangan…” aku tersenyum tipis, nyaris tidak terlihat, “…sepertinya aku sudah menyerah sejak malam itu.” jawabku, berhenti sejenak, sebelum akhirnya melanjutkan kalimatku. “Tapi, nyatanya aku tidak pergi.”

Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan setelah itu. Mereka tahu, dan aku pun tahu. Bahwa ini bukan tentang ego, melainkan tentang sesuatu yang sudah terlanjur tumbuh, tanpa paksaan apapun.

Mereka pun saling berpandangan satu sama lain. Seolah sedang berdiskusi tanpa kata. Dan kemudian, Amber menghela napas panjang. “…Baiklah.”

Aku menatapnya. Ia menyandarkan tubuhnya ke kursi, lalu menatapku dengan ekspresi yang lebih lembut. “Jika kau ingin tetap maju, kita tidak akan membiarkanmu berjalan sendirian.”

Brie mendesah, lalu mengangkat bahu. “Tapi, kalau kau sampai jatuh, aku tidak akan bisa memaafkan pria itu.”

Linda menggeleng kecil. “Dan aku akan jadi orang pertama yang bilang padamu, ‘aku sudah bilang’.”

Aku tidak bisa menahan senyumku. Perkataan mereka mampu membuat hatiku hangat dan terasa ringan. Dan entah bagaimana, itu membuat semuanya terasa sedikit lebih mungkin. “Terima kasih,” kataku pelan.

“Belum selesai, Hazel,” ujar Brie cepat. “Sekarang kita pikirkan caranya.”

Dan seperti biasa, semuanya berubah menjadi lebih hidup.

“Bagaimana kalau membuatnya cemburu,” usul Brie tanpa ragu.

Linda langsung menggeleng. “Jangan. Itu justru akan membuatnya semakin menjauh.”

“Aku setuju,” kataku. “Dia sepertinya bukan tipe pria pencemburu.”

Amber berpikir sejenak. “Atau mungkin kau bisa mendekatinya... melalui hal-hal apa saja yang ia sukai?”

Aku menghela napas kecil. “Sepertinya ia tidak punya hal-hal semacam itu, selain bekerja.”

Brie menatapku tidak percaya. “Astaga. Jadi dia persis seperti apa yang digambarkan di artikel?”

Aku pun sontak tertawa kecil, untuk pertama kalinya sejak pagi tadi. Namun pembicaraan itu tidak lantas berhenti. Ide demi ide bermunculan—sebagian terasa masuk akal, dan sebagian lagi tidak. Hingga akhirnya, Amber terdiam, bahkan benar-benar diam.

Ia tidak lagi menyela, juga tidak lagi bereaksi. Ia hanya menatap meja, seolah sedang menyusun sesuatu di dalam pikirannya. Aku mengenalnya cukup lama untuk tahu akan hal itu, bahwa ini adalah tanda Amber sudah menemukan sesuatu. “…Kalau Mason terlalu sulit untuk didekati…” katanya pelan.

Kami bertiga langsung menoleh. Lalu Amber mengangkat pandangannya. “Maka dekati dunia di sekelilingnya.”

Linda mengerutkan kening. “Maksudnya?”

Amber pun menjawab tanpa ragu. “Orang tuanya.”

Aku terdiam. Saat ini jantungku rasanya berdetak sedikit lebih cepat. “Kalau kamu bisa masuk ke lingkaran keluarganya…” lanjut Amber, “dia tidak akan bisa menghindarimu selamanya.”

Kata-kata itu terasa masuk akal, bahkan terlalu masuk akal. Aku pun menelan saliva perlahan. “Rumahnya?”

Amber mengangguk. “Kunjungi mereka. Tapi bukan sebagai calon istri Mason seperti yang sudah mereka rencanakan dalam perjodohan itu.”

Ia menatapku cukup dalam. “Tapi sebagai seseorang yang tulus ingin mengenal mereka.”

Aku tidak langsung menjawab. Namun di dalam diriku, sesuatu mulai terbentuk. Sebuah rencana dan sebuah langkah, yang terasa berani, tapi juga menakutkan.

“Baik,” kataku akhirnya. Dan mereka bertiga pun langsung bergerak seolah keputusan itu adalah aba-aba.

Aku tidak punya banyak waktu untuk berpikir ulang. Karena mereka benar-benar tidak memberiku kesempatan untuk itu. Hingga akhirnya, kami berakhir di pusat perbelanjaan dalam waktu kurang dari satu jam. Brie menarik tanganku dari satu toko ke toko lain. Sementara Linda sibuk menilai setiap pilihan dengan kritis. Dan Amber mengawasi semuanya agar tetap berada dalam batas yang tepat.

“Kau harus terlihat seperti seorang menantu idaman,” kata Brie sambil mengangkat sebuah gaun.

Linda pun langsung menggeleng. “Tidak. Kurasa itu terlalu mencolok. Ini bukan pesta, Brie.”

Aku hanya berdiri di tengah-tengah mereka, membiarkan diriku dibentuk. “Aku memang sudah putus asa,” gumamku pelan.

Amber menoleh padaku. “Tidak,” katanya tenang. “Kau hanya sedang berjuang.”

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun cukup untuk membuatku berdiri sedikit lebih tegak. Setelah berhasil mendapatkan pakaian yang terbaik menurut mereka, mereka lalu menyeretku ke salon. Aku duduk di depan cermin, menatap pantulanku sendiri saat tangan-tangan profesional mulai bekerja.

Perlahan tapi pasti, wajahku pun berubah menjadi lebih rapi, lebih dewasa, dan lebih siap. Namun yang paling berbeda bukanlah itu, melainkan tatapan di mataku. Aku bahkan hampir tidak mengenali diriku sendiri. Bukan karena riasan pada wajahku. Tapi karena tekad yang kini terlihat begitu jelas.

Kami juga membeli bingkisan untuk orang tua Mason. Pilihan yang elegan dan tidak berlebihan. “Ini penting,” kata Linda serius. “Sebagai kesan pertama.”

Brie menyeringai. “Sarah sudah menyukaimu sejak awal. Dan jika kau mampu membuatnya semakin terpukau, maka persoalan hati Mason akan jauh lebih mudah.”

Aku tersenyum kecil. “Semoga.”

Malam pun akhirnya datang lebih cepat dari yang kubayangkan. Dan sebelum aku benar-benar siap, aku sudah berdiri di pinggir jalan bersama mereka bertiga. Hingga taksi yang akan mengantarku menuju kediaman keluarga Roux berhenti tepat di depan kami. Pintu taksi pun terbuka, namun aku belum masuk.

Amber menatapku, lalu berkata pelan, “Ingat. Kau tidak sedang memohon.” katanya, membuatku menahan napas sejenak .“Kau hanya berusaha membuka pintu.”

Brie menyilangkan tangan. “Kalau dia menyakitimu lagi, aku yang datang ke sana.”

Linda mengangguk. “Hubungi kami kapanpun, Hazel. Kami di sini.”

Aku menatap mereka satu per satu. Mereka adalah rang-orang yang selalu ada untukku. Yang tidak selalu setuju dengan keputusanku, tapi tetap tinggal untuk mendukungku. “Terima kasih… karena kalian sudah percaya padaku.”

Aku pun akhirnya masuk ke dalam taksi, lalu pintu taksi di sampingku tertutup. Dan perlahan, bayangan mereka mulai menjauh dari pandanganku saat mobil bergerak. Aku memeluk kotak kecil di pangkuanku, seraya menyaksikan lampu-lampu kota melintas di luar jendela berpendar dan bergerak.

Seperti pikiranku yang tidak berhenti. Kali ini, aku tidak akan menunggu. Aku akan menatap lurus ke depan dan mendekat padanya. Dan malam itu, tanpa ragu sedikit pun, aku menuju rumah keluarga Roux dengan tekad yang sudah bulat.

1
Dew666
👄
Hatnah Batulicin
aku kalau bca novel yg menyebutkan dirinya "aku" maaf tidak lanjut lgi 🙏🙏🙏
partini
aku menebak Endingnya bersatu lagi secara tergila gila Banggt sama suaminya,,aku baru baca Ampe Ina inu suaminya sama mantannya ending bersatu lagi 🤣
Yellow Sunshine: Tebakan yang menarik. Stay tuned ya! Kita lihat, apakah kisah Mason-Hazel akan happy atau sad ending 🤗
total 1 replies
partini
Thor ini flashback ke -01 kah
Yellow Sunshine: Cerita flashback dimulai dari Chapter 3 ya 🤗
total 1 replies
partini
hemmm wanita di mana" itu cinta buta di sakiti darah" pun ga terasa masih bertahan demi cinta weleh
Yellow Sunshine: Sakit sih 💔💔💔
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!