NovelToon NovelToon
The Farmer'S Muse

The Farmer'S Muse

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir / Cintapertama
Popularitas:690
Nilai: 5
Nama Author: Lia Lby

【Tina gadis yang tangguh×Andry pengusaha kaya penyayang+Cinta Pandangan Pertama+Keluarga, Komedi Romantis】

Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung justru menjadi sumber beban batin bagi Tina. Ia terjebak dalam dinamika keluarga yang timpang​Kehidupan Tina mulai terusik oleh kehadiran seorang pemuda kota kaya yang diam-diam kagum akan ketangguhan dan ketulusannya. Tanpa diduga, pemuda tersebut datang membawa rombongan besar untuk melamar Tina.​Bagi orang lain, pernikahan ini mungkin dianggap sebagai tiket emas untuk lolos dari penderitaan. Namun, sebagai wanita dewasa yang realistis, Tina tidak langsung mengiyakan. Ia tahu pernikahan bukanlah pelarian, melainkan babak baru yang penuh tanggung jawab. Di hadapan lamaran itu, Tina berdiri dengan sejuta tanya: apakah ini awal dari kebahagiaannya, atau justru awal dari badai yang baru?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lia Lby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 17

Keesokan paginya, suasana di dalam batu itu berubah menjadi sangat mencekam. Udara dingin yang berembus dari celah-celah dinding seolah membawa aroma kecemasan yang pekat.

 Sakit Bu Aminah mendadak memburuk secara drastis. Wanita tua yang biasanya menjadi poros kedamaian di rumah itu kini hanya bisa terbaring lemah, napasnya terdengar berat dan tersengal-sengal di atas kasur kapuk tipis.

Fandi, yang biasanya selalu bersikap cuek, acuh tak acuh, dan kerap membawa masalah bagi seisi rumah, pagi ini menampakkan gelagat yang berbeda. Rasa egoisnya perlahan terkikis oleh ketakutan yang teramat sangat. Di lubuk hatinya yang paling dalam, ada rasa ngeri yang luar biasa akan kehilangan sosok ibu. Walau begitu, dinding gengsi yang tinggi di dalam dirinya masih belum runtuh sepenuhnya. Ia tidak berani mendekat ke sisi kasur, melainkan hanya berdiri mematung di pojok kamar ibunya. Jemarinya yang kasar sesekali menyeka air mata yang menetes membasahi matanya yang sudah sembab dan memerah.

"Abah, bagaimana ini? Penyakit mama semakin parah, Bah. Obat-obatan kampung dari rebusan daun yang kita berikan sama sekali tidak mempan lagi ke Mama," ucap Rika dengan suara bergetar menahan tangis.

Pak Rahman yang duduk di lantai hanya bisa memandangi istrinya dengan tatapan kosong. Tubuh tuanya tampak ringkih, seolah semua beban dunia sedang ditimpakan ke atas pundaknya siang ini. "Abah juga tidak tahu harus bagaimana lagi, Rika..." sahut Pak Rahman, suaranya parau dan terdengar sangat putus asa.

Rika menghapus air matanya, lalu menatap sang ayah dengan pandangan memohon. "Bagaimana kalau kita gadaikan saja sertifikat rumah ini kepada orang asuransi yang datang kemarin sore, Bah? Kita butuh uang banyak sekarang juga untuk menebus obat dan membawa Mama ke rumah sakit di kota."

"Jangan, Bah! Jangan lakukan itu!" sela Tina dengan cepat, melangkah masuk ke dalam kamar. Wajahnya pias, namun tatapannya menyiratkan ketegasan yang mutlak. "Kalau kita gadaikan rumah ini ke tengkulak, hidup kita sekeluarga akan menjadi semakin melarat. Kita tidak akan punya tempat tinggal lagi jika tidak bisa menebusnya nanti."

"Terus kamu mau bagaimana, Tina?!" potong Rika dengan nada meninggi karena panik. "Kamu tidak lihat badan Ibu sudah semakin lemas? Bahkan obat sirup dan tablet dari Puskesmas kecamatan juga sama sekali tidak mempan!"

"Mama...! Mama...! Kenapa? Mama, bangun!"

Tiba-tiba, sebuah lengkingan suara histeris dari Lisa memecah perdebatan di dalam kamar. Bocah perempuan itu menjerit sambil menggoyang-goyang bahu ibunya yang tak bergeming.

"Ada apa, Lis?!" Tina bergegas mendekat, menjatuhkan lututnya di tepi kasur.

"Badan Mama semakin panas, Kak! Panas sekali seperti terbakar!" ratap Lisa dengan tangisan yang pecah, air matanya mengalir deras membasahi pipi. "Gimana ini, Kak? Huhu... bagaimana kalau Mama kenapa-kenapa? Bagaimana kalau Mama meninggalkan kita?"

Keadaan semakin kacau. Di tengah kepanikan itu, Lisa tiba-tiba menoleh, menatap Fandi yang masih berdiri mematung di sudut ruangan dengan pandangan penuh kebencian. "Ini semua salah Kak Fandi! Semua ini gara-gara kamu!"

Fandi tersentak, wajahnya yang semula sembab langsung mengeras. "Kenapa malah menyalahkan aku, Lisa?!" bantahnya dengan nada ketus, mencoba menutupi rasa bersalah yang sebenarnya mulai menggerogoti hatinya.

"Kak Fandi tidak usah membela diri lagi!" teriak Lisa histeris, meluapkan seluruh kemarahan yang selama ini ia pendam sendiri. "Coba kalau Kak Fandi tidak mengambil uang tabungan Kak Tina dan uang celenganku! Kita pasti masih punya simpanan uang tunai yang cukup untuk membawa Ibu ke rumah sakit hari ini juga tanpa harus berdebat begini! Dasar anak tidak tahu di untung! Pembawa sial!"

"Kurang ajar kamu, ya, Lis!" bentak Fandi murka. Kilat amarah instan menyelimuti matanya. Lelaki itu melangkah maju dengan cepat, mengangkat telapak tangannya, bersiap untuk melayangkan pukulan ke wajah adik bungsunya.

Namun, sebelum tangan Fandi sempat menyentuh kulit Lisa, tubuh Tina sudah lebih dulu melompat ke depan, menghalau dan berdiri pasang badan sebagai tameng di hadapan Fandi.

"Sudah, cukup! Hentikan!" teriak Tina dengan sisa kekuatannya. Napasnya terengah-engah, matanya menatap tajam ke dalam manik mata Fandi hingga adiknya itu tertegun dan menurunkan tangannya perlahan. "Kamu tidak lihat Mama lagi sakit parah di depanmu?! Masih sempat-sempatnya kamu mau memukul adikmu sendiri?!"

Tina mengalihkan pandangannya pada Lisa yang masih sesenggukan di lantai. "Lisa, masuk ke dalam, jaga Mama. Kompres kening Mama pakai air hangat," perintah Tina lembut namun penuh penekanan.

Di tengah kebuntuan dan rasa putus asa yang menghimpit dada, sebuah kilasan ingatan tiba-tiba melintas di dalam kepala Tina. Ia teringat pada sosok Ibu Yuna—atau Tante Yuna—tetangga panggungnya yang selalu bersikap sangat hangat dan baik kepadanya. Tanpa berpikir panjang lagi, Tina berbalik arah dan bergegas melangkah lebar keluar dari rumah.

"Tina! Kamu mau kemana, Nak?" panggil Pak Rahman dari ambang pintu depan.

"Tunggu sebentar, Bah! Tolong jaga Mama dulu! Tina punya solusinya, Tina mau cari bantuan uang!" sahut Tina tanpa menghentikan langkah kakinya.

Tina berlari menyusuri jalanan tanah desa yang berdebu di bawah sengatan terik matahari siang. Wajahnya tampak luar biasa pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang membuatnya terlihat bagaikan sesosok mayat hidup yang berjalan tanpa arah. Tina benar-benar sudah tidak memiliki pilihan lain selain membuang urat malunya untuk meminjam uang tunai dalam jumlah besar kepada Ibu Yuna. Langkah ini ia ambil bukan karena ia tidak memiliki kerabat atau saudara sedarah di desa ini, melainkan karena semua kerabatnya selalu menutup mata dan menjauh setiap kali keluarganya tertimpa kemalangan. Tidak ada satu pun dari mereka yang memiliki ketulusan sedalam Ibu Yuna, wanita yang secara status hukum hanyalah orang lain di hidup mereka.

Namun, begitu langkah kaki Tina yang terengah-engah sampai di depan pekarangan rumah panggung besar milik Ibu Yuna, sepasang matanya seketika menangkap keberadaan sebuah benda yang sangat tidak asing. Sebuah mobil SUV hitam mewah yang mengilat di bawah bayangan pohon peneduh terparkir rapi di sana.

Melihat kendaraan itu, jantung Tina bagai dihantam godam besar. Dada dan pikirannya langsung disergap rasa dingin; ia sangat tahu dan hafal betul bahwa itu adalah mobil milik Andry.

Tina berdiri mematung di bawah kolong rumah panggung, mendongak menatap ke arah lantai atas yang jendelanya terbuka lebar. Benar saja, sayup-sayup terdengar suara bariton Andry yang sedang bercakap-cakap di ruang tamu atas. Logika Tina berbisik keras menyuruhnya untuk segera memutar balik dan pergi sejauh mungkin dari tempat itu. Namun, bayangan napas ibunya yang tersengal-sengal di rumah kembali mencuat, meruntuhkan egonya. Ia tidak punya pilihan lain. Ia harus tetap maju.

Tina melangkah perlahan menaiki satu demi satu anak tangga kayu dengan sangat berhati-hati, hampir tanpa suara. Tepat saat sepasang kakinya mencapai borders tangga teratas dan ia baru saja ingin membuka bibir untuk mengucapkan salam, sebuah kalimat yang keluar dari dalam ruangan seketika mengunci seluruh persendian tubuhnya.

"Jadi bagaimana, Dry? Bagaimana perkembangan usahamu untuk mendekati dan mendapatkan si Tina itu?" tanya Ibu Yuna dengan nada suara yang terdengar sangat penasaran sekaligus antusias.

"Ya... begitulah, Tan," sahut suara Andry terdengar menghela napas pendek, diiringi denting sendok yang beradu dengan cangkir teh. "Rencana awal yang saya susun di sekolah kemarin memang gagal total karena dia melemparkan kontrak itu ke guru lain. Tapi, Tante tenang saja, saya sangat yakin rencana kedua saya kali ini pasti akan berhasil seratus persen."

Ibu Yuna terdengar terkekeh renyah. "Memangnya... apa sih rencana pertamamu yang sampai bisa gagal itu? Dan apa pula rencana keduamu yang kamu banggakan ini? Tante jadi penasaran, jangan sampai usaha tante untuk membantu mu jadi sia-sia.

Andry terdengar mendengus tipis, nadanya berubah menjadi penuh percaya diri dan sarat akan kelicikan yang matang. "Rencana pertama itu saya mau menjerat dia lewat jalur pelatihan formal di kota selama sebulan, agar dia terikat secara administrasi dengan yayasan saya. Tapi karena gagal, rencana kedua ini jauh lebih halus, Tan. Saya sengaja memanfaatkan kesulitan finansial keluarganya. Tante tahu sendiri kan kalau ibunya sedang sakit dan adiknya terlilit masalah? Saya sudah mengatur agar semua akses pinjaman mereka di koperasi kecamatan dialihkan ke tangan saya. Setelah, sertifikat rumah mereka sudah berada di bawah kuasa saya. Lambat laun, Tina tidak akan punya pilihan lain selain datang bertekuk lutut dan menerima saya sebagai suaminya agar rumah mereka aman."

*Deg.*

Mendengar kalimat demi kalimat yang meluncur dari mulut pria yang selama ini ia kira sebagai penolong itu, seluruh dunia Tina serasa runtuh seketika. Tubuhnya bergetar hebat, dadanya terasa sangat sesak hingga ia kesulitan untuk menghirup oksigen. Kenyataan pahit bahwa kebaikan Ibu Yuna selama ini ternyata hanyalah kedok untuk memuluskan rencana keponakannya, benar-benar menghancurkan sisa-sisa harapan di dalam jiwanya.

Tina berdiri mematung di luar pintu, air mata kemarahan dan rasa terhina mengalir deras membasahi pipinya yang pias. Ia merasa sangat bodoh dan kotor karena sempat berpikir untuk meminta bantuan kepada mereka.

Dengan sisa-sisa kesadaran yang tersisa, Tina membalikkan badannya, berniat untuk berjalan pergi dan turun meninggalkan tempat terkutuk itu. Namun, baru saja satu kakinya melangkah mundur, seluruh pandangannya mendadak berubah menjadi gelap gulita. Kepalanya terasa berputar hebat, tenaganya menguap habis tanpa sisa. Tubuh ringkih Tina ambruk, pingsan dan terjatuh di atas lantai papan teras depan rumah Ibu Yuna dengan suara deburan yang cukup keras. *Bruk!*

Di dalam ruangan, Andry dan Ibu Yuna yang masih asyik mengobrol seketika menghentikan kalimat mereka. Suara benda jatuh yang cukup berat di luar pintu depan langsung memicu rasa curiga.

"Suara apa itu, Dry?" tanya Ibu Yuna, wajahnya berubah tegang.

"Tunggu, Tan, biar saya lihat," sahut Andry, bangkit berdiri dan melangkah cepat menuju pintu depan. Begitu pintu kayu itu ditarik terbuka, mata Andry seketika membelalak sempurna. "Tina...?!"

"Astaghfirullahal'adzim! Tina!" jerit Ibu Yuna yang ikut menyusul di belakang. Wajah wanita paruh baya itu seketika memucat saat melihat tubuh gadis desa yang sedang mereka bicarakan kini sudah terbaring tak berdaya di atas lantai papan dengan mata tertutup rapat.

Rasa panik yang luar biasa langsung melanda Andry. Keangkuhan dan ketenangannya sebagai pria kota seketika sirna, digantikan oleh rasa takut yang nyata melihat kondisi Tina yang tampak seperti mayat hidup. "Tina, bangun! Tina!" panggil Andry, langsung berlutut dan menopang kepala gadis itu dengan lengannya yang gemetar.

"Cepat bawa turun, Dry! Kita harus bawa dia ke Rumah Sakit pakai mobilmu!" perintah Ibu Yuna dengan suara panik yang melengking, ikut melangkah turun mengikuti Andry yang dengan cekatan langsung mengangkat tubuh ringkih Tina ke dalam dekapannya.

Namun, tepat di saat yang bersamaan, ketika Andry baru saja mencapai anak tangga terbawah sambil menggendong tubuh Tina, sesosok wanita lain muncul dari balik pagar pekarangan dengan napas yang terengah-engah. Itu adalah Rika, yang sengaja berlari menyusul adiknya karena merasa cemas akan kondisi mental Tina yang tidak stabil sejak keluar dari rumah tadi.

Langkah kaki Rika seketika terkunci di atas tanah pekarangan. Pandangan matanya langsung tertuju pada tubuh adiknya yang terkulai lemah di dalam gendongan seorang pria kota asing yang tidak ia kenal.

"Tina...!!!" Teriak Rika histeris, menggema memecah keheningan siang, berkejaran dengan tatapan mata Andry yang membelalak panik menyadari bahwa rahasia besarnya kini berada di ujung tanduk.

1
Mamah Dini11
ya mendingan di ambil tin kan gajinya gede ,jdi bisa bantu ortumu. kalau masalah paud carikan dulu penggantimu, ya setidaknya kalau gajinya gede kan bisa mengurangi bebanmu
Mamah Dini11
kenapa gk ngontrak aja tin atau ngekos gitu biarkan kakamu yg malas dan benalu itu yg ngerjain di rumah itu , permisi thor mampir ni...moga ceritanya menarik 🙏
Imi Omi
yah ngayal 🤣
Imi Omi
aku suka ceritanya, lanjut terus Thor 👍
Imi Omi
😤
Imi Omi
katanya nunggu tapi kalau ngak di terima kayaknya dia bakalan buat rencana gila lagi🤣
Imi Omi
jadi bahan gosip sekampung🫠
Imi Omi
mungkin yang di maksud Lisa tu, aku atau kak Tina 🤣🤣🤣
Imi Omi
🤣
Imi Omi
waduh di lamar dong 🤭
Imi Omi
😭😭
Imi Omi
Akhirnya dia sadar juga😭
Imi Omi
baru juga dinasehati udah nasehatin orang 🤣
Imi Omi
Dimarahin Bu Yuna gak tuh🤣
Imi Omi
uwah ketahuan
Imi Omi
ngak tahu diri banget si jadi anak laki-laki 😤
falea sezi
buruk bgt cerita muter doank g jelas. MC. nya bodoh mood baca jd anjlok
falea sezi
MC oon semua😒
falea sezi
🤣🤣 tina goblok novel apaaan ini muter doank😒 MC nya bloon kok lulusan sarjana lulusan SD. kali. makanya oon ma adek g bs tegas. ma. ortu jg gt
Imi Omi
🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!