NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22.

"Makasih Kak Satria, gue seneng banget malam ini” ucapnya tulus, matanya berbinar cerah, seakan bebas dari segala beban yang selama ini membebani.

“Gue juga seneng… bisa liat lo senyum kayak gini. Cantik banget,” jawab Satria pelan, seolah takut suaranya akan merusak keindahan yang ada di hadapannya.

“Hah, apanya?” tanya Naysilla, dengan ekspresi polosnya.

“Bintangnya.”

“Mana Kak?” Naysilla buru‑buru menatap langit malam yang bersih dan kelam.

“Di matamu…” ucapnya lirih, dari lubuk hati yang paling dalam. Dadanya berdebar hebat, saat tatapan mereka bertemu dan tak mau saling melepaskan.

“Ih apaan sih, Kak Satria bisa aja deh gombalnya,” ia menutup wajahnya dengan telapak tangan, berusaha menyembunyikan semburat merah yang menjalar di pipinya.

“Tapi Nay… sebenarnya gue…”

“Gue capek, Kak, pulang yuk! Udah malem juga,” potongnya tiba‑tiba, seolah ada firasat yang menahannya untuk tak mendengar lebih jauh.

“Iya ayo” jawabnya lesu, seakan ada sesuatu yang hampir meledak tapi tertutup rapat.

Rasa manis yang sempat membuatnya terlena di ujung lidah Naysilla perlahan memudar, digantikan oleh hawa dingin yang merambat pelan.

"Yang ini lebih hangat, tapi hanya sebatas mata. Momon... Nggak ada yang bisa kasih gue kehangatan sampe menembus hati, selain lo, cuma lo satu-satunya" batinnya.

Malam itu di alun‑alun kota, terasa begitu damai, seolah semesta sengaja menutup mata dari badai yang sedang bergemuruh di tempat lain, tepat di dalam hati seorang pemuda yang hatinya baru saja dicabik oleh kenyataan yang ia yakini benar adanya.

Bagi Naysilla, kebersamaan itu adalah pelarian, satu‑satunya cara agar ia tak hancur. Namun bagi Mohan, setiap tawa yang terekam jelas di layar ponselnya adalah bukti bahwa gadis yang ia klaim sebagai miliknya, telah berkhianat diam-diam.

Jarak yang memisahkan mereka bukan lagi sekadar hitungan meter atau langkah kaki. Ada tembok tebal yang dibangun oleh rasa cemburu buta, kecurigaan yang menumpuk, dan rasa sakit yang tak lagi mau didengar alasan apapun itu.

Malam itu, di dua tempat yang berbeda, keduanya sama‑sama merasa menjadi korban. Sama‑sama merasa paling sakit, paling dikhianati, dan paling berhak untuk marah.

Tanpa satu pun yang sadar, bahwa di antara kenyataan yang tampak begitu nyata, ada benang halus yang sengaja dipelintir sedemikian rupa, agar keduanya terus saling menyakiti, hingga tak ada lagi sisa yang bisa disatukan.

Dan saat Naysilla perlahan tertidur lelap karena kelelahan, dengan hati yang sedikit lebih tenang berkat kehadiran Satria. Di tempat lain, Mohan justru terjaga, menatap langit‑langit kamar dengan tatapan yang menggelap.

"Gue pikir, cuma gue satu-satunya" ucapnya datar dan dingin.

Karena kehangatan yang ia rasakan, yang mampu mencairkan dinginnya hatinya, kini telah di ambil paksa oleh orang lain.

Kini, ia kembali membeku. Jika Naysilla bisa dengan mudahnya tertawa di tengah rasa sakitnya, maka ia pun tak lagi perlu menahan diri.

...****************...

Langkah kaki terseok pelan, membawa melodi tanpa suara, rumput hijau yang menjerit samar, karena tergesek sepatu mewah.

Di sini, di tempat biasa ia menghirup aroma tanah dan rumput basah, pada sebuah taman di bawah pohon bunga tabebuya. Keindahan alam masih bisa ia nikmati, tapi kehangatan cinta kini telah lenyap tanpa jejak.

"Na, lo nakal banget sih. Dalam keadaan sekacau ini, masih ajah bayangan lo gangguin gue" ia menepis bayangan gadis itu yang sedari tadi terus menggodanya.

Ia berdiri diam di bawah rindangnya dahan, menatap bunga‑bunga berguguran, bersama kenangan yang ikut berjatuhan.

Belum sempat ia menarik napas panjang, terdengar suara langkah ringan yang mendekat, diikuti tawa renyah yang sengaja dibuat terdengar manis.

“Hai... Sendirian ajah" sapa seorang gadis yang tiba‑tiba sudah berdiri tepat di sampingnya, senyumnya lebar, matanya tak lepas menatap wajah Mohan dengan pandangan yang tak lagi sembunyi‑sembunyi.

Mohan tak menoleh sedikit pun. Tatapannya masih terpaku pada setangkai bunga yang jatuh perlahan ke tanah.

"Mau gue temenin..." ia mendekat dengan senyum malu-malu, tapi pemuda itu tetap diam dengan ekspresi kaku.

“Nggak,” jawabnya pelan, nadanya sedingin angin yang berhembus di antara dahan.

Gadis itu tak mundur, malah semakin tersenyum menggoda. “Kenapa? Lo pasti kesepian kan karena ngga ada yang nemenin. Gue bisa kok gantiin jalang buat nemenin lo" ucapnya enteng tanpa beban.

Mohan menoleh sebentar, matanya menyorot tajam seorang gadis berambut ikal yang terus tersenyum ke arahnya. Lantas ia pergi tanpa kata dengan meninggalkan seribu tanya.

"Mohan, tunggu..." gadis itu memburu, dan dengan lancangnya menyentuh lengan kekar itu.

"Awas" ucapnya dingin. Ia menepis kasar sepasang tangan menjijikkan yang terus bergelayut manja padanya.

"Hanya Nasa ku yang boleh begini, hanya dia yang terlihat lucu dan indah setiap bermanja, yang lain terasa menjijikkan" batin Mohan lirih.

Tanpa sadar, ia mulai membandingkan setiap orang yang datang padanya dengan Naysilla, dan mejadikan Naysilla sebagai standar tertingginya.

"Dasar Cupu, untung ajah lo ganteng. Asal lo tau, gue mau deketin lo cuma karena gue pengen rebut lo dari cewek jalang itu" batinnya, penuh pemikiran busuk yang disembunyikan.

"Minggir..." ucapannya datar, ia mulai merasa muak pada gadis yang terus menghalangi langkahnya.

"Mata gue sepet liat rambut mie lo" ucap Mohan sarkas, tepat sasaran.

Seperti tombak tajam yang menembus dadanya. Gadis itu diam sejenak, menyentuh rambut ikal yang selama ini ia bangga-banggakan, sedangkan Mohan sudah melesat jauh di depan.

Mohan terdiam dengan pikiran tak pernah lepas dari Naysilla. Belum ada seminggu ia bersamanya, tapi hebatnya gadis itu sudah mampu mewarnai hidupnya, mengisi kekosongan yang selama ini terasa hampa.

Ia mengikuti pelajaran seperti biasa, duduk tenang seperti biasa, dan ketika waktu istirahat tiba, ia akan ke kantin biasa, duduk di kursi biasa, memesan makanan dan minuman yang biasa ia pesan, lantas memakannya dengan hambar.

"Mohan, gimana kabar Naysilla" ucap suara samar-samar dari arah belakang.

Mohan menghentikan aktivitas seketika. wajahnya menoleh ke samping, mendengar nama pusat dunianya di sebut, seketika membuatnya tak fokus.

"Gue mau jenguk Naysilla siang ini, lo mau ikut?" ucapannya pelan, ia menunduk malu menyembunyikan kegugupan.

"Sekarang" ucapnya Mohan datar, tapi penuh semangat di dalamnya.

Tanpa pikir panjang, ia menggenggam tangan gadis berkepang dua, menuntunnya pelan ke tempat tersembunyi yang mengantarkan mereka ke tempat tujuan.

Tanpa sadar, ia meraba halus tangan pada genggamannya. Tapi, terasa kosong, tak ada cincin yang biasa melingkar di jari manisnya.

Ia terdiam sejenak, wajahnya menoleh perlahan, memandang tangannya sendiri yang saling bertautan. Seketika ia tersadar, melepas kasar tautan itu, padahal ia sendiri yang memulai.

Dan gadis berkepang dua, terus mengikutinya tanpa suara.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!