Mereka membunuhnya karena dia manusia murni.
Kesalahan terbesar yang pernah Benua Sangakama buat.
Arjuna Sasrabahu bangkit dari kematian membawa sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari dendam, sebuah sistem kekuatan warisan naga abyss yang haus akan darah dan kekuasaan. Di dunia yang memandang ras manusia sebagai kotoran paling hina, seorang pria yang seharusnya sudah mati justru sedang menghitung satu per satu nama di daftarnya.
Tujuh prefektur. Tujuh ras. Satu manusia murni dengan kalkulasi yang tidak pernah meleset.
Pertanyaannya bukan apakah dia akan menang? Pertanyaannya adalah berapa banyak yang akan jatuh sebelum Benua Sangakama menyadari kesalahan mereka?
[Ding!]
[Devil Dragon System teraktivasi sepenuhnya. Inang diterima]
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BE SA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26 Arc Of Embodiment: Kunyah, Tempa, Legendary
Harjasa tidak melepaskan pandangannya dari dua awakening stone yang tergeletak di lantai batu kediaman klan Hydra.
Energi Ether yang memancar dari kedua benda kecil itu menampar seluruh inderanya seperti gelombang yang tidak mengenal batas, dan seluruh pengalaman tiga ratus tahun hidupnya tidak mampu memberikan satu pun penjelasan yang masuk akal.
"Jadi itu apa sebenarnya?" tanya Dyah Ayu dengan kepala miring.
Harjasa berlutut, dan mengambil keduanya dengan sangat hati-hati.
"Awakening Stone Versi Satu dan Versi Dua, tetapi punya efek yang tidak lazim" jawabnya dengan suara yang belum sepenuhnya pulih, "Versi Satu menerobos puncak Mortal Frame Realm ke Spirit Awakening Realm. Versi Dua menerobos puncak Spirit Awakening Realm ke Qi Resonance Realm. Efek tidak lazim keduanya meningkatkan kapasitas dantian sepuluh poin Ether per jam secara permanen."
Dyah Ayu menatap kedua benda itu sejenak.
Sebagai mantan pelayan guild ia sangat tahu apa itu awakening stone. Namun awakening stone dari hasil bersinnya sangat berbeda pancaran aura, warna dan energi Ethernya. Maka dari itu Dyah Ayu tidak mengenali jika dua batu di hadapannya itu awakening stone.
Kemudian tangannya menyambar awakening stone versi satu dari telapak tangan Harjasa dengan kecepatan yang sama sekali tidak mencerminkan kesopanan apapun. Lalu melempar ke dalam mulutnya sendiri seperti seseorang yang baru saja menemukan makanan favorit setelah berhari-hari kelaparan.
Rahang Harjasa turun satu senti. “Apa yang kau lakukan?!”
Harjasa menatap telapak tangannya yang kini kosong dengan ekspresi seorang jenderal yang baru saja kehilangan sesuatu yang tidak ternilai tanpa sempat bereaksi apapun.
"Enak juga," gumam Dyah Ayu sambil menepuk dadanya sekali dengan kepalan tangan.
Arjuna menengadahkan satu tangan ke arah Harjasa tanpa berpaling dari sudut ruangan.
"Versi dua."
Harjasa meletakkannya di lantai di hadapan Arjuna dengan gerakan yang mengandung kepasrahan seorang jenderal yang sudah menyaksikan terlalu banyak hal tidak wajar dalam satu malam. Arjuna mengambil, dan menelannya.
Panel sistem melayang seketika.
[Breakthrough: Qi Resonance Realm: Morning Star]
[Teknik kultivasi Devil Dragon Abyss berevolusi ke Third Phase]
[Skill baru terbuka: Phantom Arcana Trap]
[Medan jebakan tak terbatas, gabungan dua elemen Dragon Soul Veins, syarat domain aktif, 3x per hari, maksimal 100 titik medan]
Cahaya merah gelap meledak dari tubuh Arjuna selama tiga detik, lalu padam sepenuhnya.
Di sisi lain ruangan, cahaya cokelat keemasan memancar dari seluruh tubuh Dyah Ayu. Tanah di bawah kakinya retak membentuk pola akar yang menjalar ke segala arah.
Aura Spirit Awakening Realm: Violet Star meledak ke seluruh penjuru ruangan, hingga dinding batu kediaman klan Hydra bergetar di setiap sambungannya.
Dyah Ayu memandang kedua tangannya.
"Luar biasa, aku memang luar biasa, hahaha …."
Harjasa memejamkan mata satu detik.
Tiga sosok tua melangkah masuk dari pintu ruangan dengan jubah biru kehijauan yang memancarkan aura klan Hydra yang sudah berdiri sejak tiga ribu tahun lalu.
Tetua Pertama klan Hydra bernama Baswara. Dia berdiri di tengah dengan tongkat kayu hitam yang mengandung aura Celestial Synchronization Realm: Celestial Star yang tidak ia sembunyikan.
Matanya memindai Arjuna, lalu Dyah Ayu. Setelah itu kembali ke Harjasa dengan sorot yang tidak memerlukan kata-kata untuk menyampaikan ketidaksetujuannya.
"Harjasa," ucap Baswara dengan suara yang rendah namun mengisi seluruh ruangan, "Kau membawa buronan level SS ke kediaman utama klan Hydra. Jelaskan!”
Harjasa membuka mulutnya, tetapi Dyah Ayu sudah melangkah maju lebih dulu.
"Aku yang akan menjelaskan. Aku bisa membuat senjata, armor, dan artefak hingga level Legendary dengan Arc Of Embodiment. Kalian butuh aku."
Keheningan yang sangat tidak nyaman turun di ruangan itu.
Tetua Kedua, Prawira, mengerutkan dahi dengan ekspresi yang mengandung sesuatu di antara heran dan tidak percaya.
"Manusia murni yang baru saja memiliki dantian beberapa jam lalu mengklaim bisa membuat senjata Legendary?" sangsi Prawira, suaranya mengandung nada yang tidak menyembunyikan keraguan sedikitpun, "Pengrajin terbaik klan Hydra membutuhkan ratusan tahun kultivasi untuk mendekati level Ultra Rare. Kau bicara tentang Legendary seolah itu semudah membalik telapak tangan."
"Karena memang semudah itu," jawab Dyah Ayu tanpa berkedip.
Tetua Ketiga, Satriya, mendengus. "Harjasa, kau membiarkan gadis yang bahkan tidak tahu diri ini bicara di hadapan tetua klan?"
Harjasa menghela nafas panjang.
"Tetua, awakening stone versi satu dan versi dua keluar dari bersin gadis ini beberapa menit yang lalu."
Ketiga tetua itu membeku serentak.
Baswara menatap Harjasa dengan sorot yang mempertanyakan apakah jenderal klannya baik-baik saja.
"Bersin?"
"Bersin," ulang Harjasa dengan nada yang tidak mengandung keraguan, "Aku menyaksikannya sendiri."
Prawira dan Satriya saling menatap. Kemudian keduanya berpaling ke Dyah Ayu dengan ekspresi yang masih belum sepenuhnya melepaskan keraguan mereka.
"Klaim tentang Arc Of Embodiment tidak bisa dibuktikan hanya dengan kata-kata," ucap Baswara akhirnya dengan nada yang sedikit lebih lunak namun tetap tidak menerima begitu saja, "Tunjukkan buktinya. Buat satu senjata di hadapan kami sekarang. Kalau klaimmu terbukti, kami akan mempertimbangkan."
Dyah Ayu mengangguk satu kali.
"Bahan logamnya mana?"
Satriya melempar besi tempa seukuran batu dari pinggangnya ke arah Dyah Ayu dengan gerakan yang mengandung tantangan yang tidak terselubung.
Besi itu adalah bahan dasar yang biasa digunakan pengrajin pemula klan Hydra, jauh dari kualitas yang diperlukan untuk menghasilkan senjata diatas level Common.
Level senjata, artefak, dan Cyborg Armor sendiri adalah Uncommon, Common, Rare, Super Rare, Ultra Rare, dan Legendary.
Dyah Ayu menangkapnya. Kemudian menggigitnya.
Ketiga tetua membeku untuk kedua kalinya dalam waktu yang sangat singkat.
Dyah Ayu mengunyah tiga kali dengan ekspresi yang sangat serius seolah sedang menilai kualitas bahan dari rasanya, lalu mengeluarkannya kembali dalam bentuk yang sudah berubah menjadi gumpalan logam yang jauh lebih murni dari aslinya.
"Kualitasnya buruk," komentarnya dengan nada yang datar, "Tapi cukup."
Ia meletakkan gumpalan logam itu di lantai dan duduk bersila di hadapannya.
“Arc Of Embodiment: Super Forging!”
Kemudian tangannya terangkat, dan dari ujung jarinya cahaya cokelat keemasan mengalir keluar membentuk formasi yang berputar mengelilingi gumpalan logam itu dengan kecepatan yang semakin meningkat setiap detiknya.
Lingkaran cahaya cokelat keemasan terbentuk di bawah ingot besi tempa itu, berlapis tiga dengan simbol-simbol kuno yang berputar berlawanan arah di setiap lapisannya.
Garis-garis formasi menyala semakin terang seiring energi Ether mengalir dari ujung jari Dyah Ayu, dan pola akar yang menjalar di lantai batu membentuk mahkota di sekeliling lingkaran itu seolah bumi sendiri yang merespons panggilannya.
Baswara, Prawira, dan Satriya tidak bergerak.
Gumpalan logam itu berpendar, mengepulkan cahaya tipis yang semakin lama semakin pekat. Lalu dalam waktu empat puluh detik mengeras menjadi sebilah pedang besar yang memancarkan aura yang membuat ketiga tetua itu serentak melangkah mundur satu langkah.
“Tingkat Rare?! I-ini mustahil!” ucap mereka serentak, Bagaimana bisa bahan dari besi tempa kualitas pemula bisa menjadi senjata tingkat Rare?!”
Dyah Ayu mengambil pedang itu, dan melemparkannya ke arah Baswara tanpa ekspresi yang berubah.
"Itu buktinya."
Baswara menangkap pedang itu dengan tangan gemetar yang tidak ia sadari. Matanya memandang benda di tangannya dengan sorot yang sudah sepenuhnya melepaskan seluruh keraguan yang ia bawa masuk ke ruangan ini.
Prawira, dan Satriya tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
Arjuna memandang semua itu dari sudut ruangan. Sudut bibirnya bergerak sangat tipis membentuk sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari senyuman biasa.
Kemudian lantai batu di bawah kaki mereka bergetar.
Ledakan yang mengguncang seluruh kediaman klan Hydra dari arah luar memotong keheningan itu seperti pedang yang tidak mengenal ampun.
Dinding batu bergetar hingga debu berjatuhan dari langit-langit ruangan. Suara teriakan membelah keheningan malam, diiringi deru sayap yang mengepak dengan frekuensi yang hanya bisa dihasilkan oleh satu jenis makhluk di seluruh Prefektur Draconis.
Harjasa berdiri seketika dengan mata yang menyala.
"Klan Wyvern," geramnya dengan suara yang keluar dari kedalaman dadanya seperti gemuruh yang tidak mengenal kompromi, "Mereka berani menyerang kediaman klan Hydra di masa tahanan kota?!"
Arjuna tidak berdiri. Tidak bergerak. Matanya merah membara hanya menatap dinding yang masih bergetar dengan ketenangan yang tidak wajar untuk seseorang yang baru saja menjadi sasaran serangan kedua dalam satu malam yang sama.