NovelToon NovelToon
Cowok Cupu Favoritku

Cowok Cupu Favoritku

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Perjodohan / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.1k
Nilai: 5
Nama Author: arina_ar

Kedatangan murid baru di SMA Adiwijaya langsung jadi perbincangan hangat. Kabar bahwa anak pemilik sekolah ikut pindah di hari yang sama, membuat suasana sekolah makin ramai dan penuh teka-teki.

Sekelompok murid berpengaruh berambisi mencari siapa sosok pewaris asli yang disembunyikan. Siapa pun yang dianggap mengganggu atau tidak pantas, akan mereka singkirkan tanpa ampun.

Naysilla, gadis pindahan yang polos dan tak paham aturan keras di sana, tiba-tiba jadi sasaran utama kecemburuan dan perundungan. Di saat ia dikucilkan, disudutkan, dan tak ada satu pun yang berani mendekat, selalu ada satu sosok yang diam-diam hadir.

Raynor Mohan, cowok berkacamata yang penampilannya sederhana, pemalu, dan selalu dipandang sebelah mata oleh semua orang. Namun bagi Naysilla, sosok itulah satu-satunya tempat aman untuk pulang. Di balik sikapnya yang cupu, Naysilla perlahan menemukan sisi lain yang hanya ia bisa lihat sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon arina_ar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 14.

"Gimana sekarang?" Angela menghapus keringat dingin di dahi Olivia.

"Aku nggak kuat Jes, tolong bawa aku ke dokter, aku mohon...!" ucap Olivia merintih pilu. Ia meringkuk lemah di atas sofa.

"Jes, apa nggak sebaiknya kita..."

"Nggak...!" potongnya tegas.

"Ini menyangkut nyawa, kalo dia kenapa-kenapa gimana?"

"Sialan...!" ia meremas kuat botol bekas mineral, menjadikannya tak berbentuk lantas membuangnya asal.

"Kenapa jadi gini... Kalian ngga bilang kalo serbuk itu sangat berbahaya. Kalian bilang itu cuma serbuk biasa buat bersihin kolam" cicit Olivia di tengah-tengah kesaktiannya.

"Nggak usah munafik deh lho! Gue tau kalo lo sebenarnya udah ngerti tentang serbuk itu. nggak usah sok polos, basi...!" Jessy mencengkeram kuat dagunya, menekannya, hingga kuku-kuku cantiknya menembus kulit.

"Dan asal lo tau, gue tau sebenarnya lo siapa. Lo cuma sampah yang diciptain buat dijadiin pelayan sampai kapanpun" ucapnya tegas, lantas mendorong kuat gadis berambut sebahu sampai terpental jauh.

"Nggak mungkin mereka tau, aku belum puas rasain ini semua. Aku suka diposisi ini, dipuja sana sini, dan dekat dengan teman-teman populer" batin Olivia.

Olivia menggelengkan kepala pelan. Sensasi sakit terbakar ia abaikan, ia lebih mengkhawatirkan tentang popularitas dari pada nyawanya sendiri.

"Tapi... Aku udah lakuin apa yang kalian mau, aku turutin semua perintah kalian sampai nyawaku ikut terancam" ia menunduk sedih. Memainkan ekspresi seperti biasa, agar mereka iba.

"Dari awal, aku nggak pernah datang ke kalian, tapi kalian yang datangin aku. Aku nggak minta semuanya, tapi kalian yang kasih ke aku" ucapannya ter jeda, jejak air mata mengalir sempurna.

"Sampai semua tuntutan kalian berikan, aku hanya ingin jadi teman kalian secara utuh"

"Aku sadar aku siapa, dan aku bangga punya temen yang hebat seperti kalian. Tapi, kalo kalian nggak peduli lagi, nggak apa-apa kok..."

Badannya bergerak perlahan, melawan rasa sakit di badan dan egonya yang tersentil pelan.

Ia mengambil pisau kecil yang terselip di sofa, mengarahkan ke nadinya dengan memasang ekspresi putus asa. Hingga berhasil membuat kedua temannya panik.

"Jes...!" Angela mengguncang pelan lengan si pirang. Yang hanya dibalas dengkusan kesal.

"Bawa lewat pintu belakang" putusnya pada akhirnya.

Olivia menang lagi, ia semakin menjadi menunjukan kesedihannya. Egonya terpenuhi, tentang tubuhnya yang terluka itu bisa diobati, pikirnya.

"Gimana soal keluarga Lena?" tanya Jessy melalui telepon, saat perjalanan menuju pusat kesehatan.

"Aman Queen, kalian ngomong itu kamar Olivia dan dia nggak ada di kolam waktu kejadian, itu ide yang bagus banget"

"Apalagi pas Olivia kesakitan karena makan racun itu, hahaha.... Itu jadi senjata buat mereka makin percaya kalo Olivia sakit makanya nggak ada di kolam"

"Terus..."

"Semua saksi kompak kasih keterangan kalo Naysilla adalah orang yang terakhir berinteraksi sama Lena. Gimana? Lo puas kan, lo aman Qween..."

Tut...

Jessy tersenyum penuh kemenangan. Tanpa sadar, bahaya lebih besar mengancam diam-diam.

...****************...

Naysilla mengusap pelan sudut bibirnya dengan tisu, usai menghabiskan semangkuk bubur ayam bertopping bakso. Orang lain mungkin menganggapnya aneh, tapi ia menyebut dirinya unik.

"Hoooaaam... masih ngantuk..."

Ia menyandarkan tubuh lemahnya di bahu sofa, matanya terpejam setengah. Tadi pagi ia bangun terlalu cepat, pukul dua dini hari. Saat Mohan baru pulang, dan obrolan mereka berlanjut hingga fajar menyingsing.

"Gue ada urusan, lo ke sekolah sendiri ya!" kata Mohan kala itu.

Naysilla tak bisa mencegah, tak bisa memaksa agar cowok itu selalu ada di sisinya. Padahal dalam hati, ia sangat menginginkannya.

Kakinya melangkah ke dunia luar. Udara pagi terasa sejuk, namun menusuk dingin hingga ke tulang. Ia berjalan pelan, hati-hati, diselimuti rasa takut dan ragu. Berdoa dalam diam: semoga di hari keempat ini, tak ada lagi perundungan.

"Eh, Nay. Tumben sendirian? Mana pangeran cupu lo?" seru salah satu siswi yang tak sengaja berpapasan.

"Pangeran cupu? Mending pangeran kodok deh hahaha..." sahut temannya disambut tawa riuh.

"Kalau buat gue sih, lebih pas disebut kutu. Soalnya nempel terus, kan? Upss..."

"Hahaha..."

Tawa mereka makin keras. Naysilla hanya melirik sinis, lalu berlalu tanpa peduli.

"Terus ajah kalian ngata-ngatain Momon gue. Kalian nggak tahu, dia itu memang pangeran tampan gue" batinnya tertawa puas.

Sesampainya di kelas, suasana tampak tak biasa. Semuanya duduk diam dan rapi, padahal jam pelajaran belum dimulai. Ia menatap heran.

"Masuk!" tegur seorang guru yang tiba-tiba di sampingnya.

Satu jam berlalu. Kegiatan belajar berjalan seperti biasa, meski dimulai dua puluh menit lebih awal dari jadwal.

Tak ada keributan, semua patuh dalam diam, wajah mereka tegang dan kaku. Naysilla duduk sendirian di pojok, terasa terasing. Olivia dan trio bully hari ini tak masuk, dan jujur, ia tak peduli.

Tiba-tiba suara pengeras suara menggema ke seluruh penjuru ruangan:

"Panggilan untuk seluruh kelas XI IPA 3 dan XI IPS 1, harap segera berkumpul di aula sekolah. Sekarang juga. Terima kasih."

Suasana seketika mencekam. Murid-murid saling pandang dengan cemas. Jantung Naysilla pun berdebar tak menentu, rasa penasaran bercampur takut merayap di dada.

Mereka digiring masuk ke aula besar. Di sana sudah berkumpul beberapa orang berpakaian rapi, wajah mereka serius dan berat. Dua orang berbicara bergantian, namun kata-katanya tak sepenuhnya ia mengerti.

Hingga akhirnya seorang pria berkepala botak yang diduga sebagai Wakil Kepala Sekolah melangkah maju dengan wajah penuh amarah.

"Naysilla Violetta!" serunya lantang. "Benarkah kamu orang terakhir yang berinteraksi dengan Lena? Dan benarkah kamu sempat menyentuhnya sesaat sebelum ia jatuh ke kolam?"

Darah Naysilla seakan berhenti mengalir. Ia maju selangkah, berusaha tegar meski gugup luar biasa. Tatapannya lurus ke depan.

"Benar Pak, saya orang terakhir yang ada di dekat Lena saat itu. Tapi—"

"Nah, kan! Udah jelas dong, dia pelakunya!" potong seorang siswa bertubuh gempal, berseru keras memprovokasi.

Seorang wanita berpakaian mewah ala sosialita melangkah mendekat, matanya merah padam menatap tajam ke arah Naysilla.

"Jadi benar kamu pelakunya? Dasar penjahat kecil! Kamu pikir dengan wajah polosmu itu, kamu bisa menipu kami semua?"

Naysilla terpaku, bingung dan tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. Ia bagai dikurung di tengah kerumunan yang serentak menyudutkannya.

"Bu, tenang dulu. Kita lihat dulu buktinya, jangan terburu-buru mengambil kesimpulan," tegur salah satu pria ber jas yang berdiri di sisi kanan.

"nggak bisa ditenangkan lagi, Pak!" bantah wanita itu dengan suara parau, air matanya mulai mengalir deras.

"Saya berdiri di sini menuntut keadilan. Anak saya, Lena... kini menderita gagal ginjal akibat tragedi kemarin. Dan semuanya... Semuanya ulah penjahat kecil itu!"

Tuduhan itu meluncur tepat ke wajah Naysilla. Suasana hening seketika, berat dan menyesakkan.

"Maaf Bu, saya tidak melakukan apapun ke anak ibu!" jawab Naysilla tegas dan lantang. Teman-temannya yang menyaksikan pun tertegun kaget.

"Kalau bukan kamu, siapa lagi, Kenapa anak saya bisa jatuh kalau bukan karena kamu yang mendorongnya...?" jerit wanita itu histeris, suaranya memilukan hati siapa saja yang mendengar.

"Kamu sendiri mengaku, kamu orang terakhir di sebelahnya, kamu yang paling dekat dengannya saat kejadian..." suaranya melemah, seketika ia ambruk jatuh terduduk, tangisnya pecah sejadi-jadinya.

"Saya emang yang terakhir bersamanya, Bu. Tapi saya sama sekali nggak nyentuh dia. Dia jatuh sendiri pas saya pergi dari sana," elak Naysilla mantap. Ia tak merasa bersalah, dan ia tak akan mengaku atas kesalahan yang tak pernah diperbuatnya.

"Dasar penjahat licik yang pandai berpura-pura!" sela siswa gempal itu lagi. "Pak, tangkap saja dia! Bukannya udah jelas dia pelakunya?"

"Lo ada masalah apa sama gue? Mana buktinya kalo gue yang lakuin itu?" tantang Naysilla, matanya menatap tajam ke sosok bertubuh gempal.

"Bukti? Kami semua saksinya! Kami semua tahu, lo yang terakhir, lo yang paling dekat, dan lo yang pasti dorong Lena sampe jatuh ke kolam yang terkontaminasi Tembaga sulfat..."

Degan cepat, ia menutup mulutnya rapat, saat tak sengaja membocorkan rahasia. Tubuhnya menegang dengan wajah pucat pasi.

Hening seketika menyelimuti ruangan. Semua mata kini beralih menatap tajam pada siswa bertubuh gempal itu. Ada ancaman, ada kecurigaan, dan ada pertanyaan besar yang melayang di udara.

"Tembaga sulfat?" ulang Wakil Kepala Sekolah perlahan, nada bicaranya berat dan mengancam. "Kok kamu tahu kalau zat itulah yang mengontaminasi air kolam? Padahal informasi itu belum kami umumkan kepada siapa pun..."

Klik...

Sebuah layar besar di belakang panggung tiba-tiba menyala, memutar rekaman kejadian hari itu yang selama ini disembunyikan.

1
Sofyan Sofyan
jangan lama2 ya😭
Aisyah Suyuti
good
kelinci kecil
penasaran, kira-kira siapa anak pemilik sekolah yang asli yah
arina_ar: ikuti terus kelanjutan ceritanya, nanti akan terjawab semuanya. terimakasih sudah mampir.
total 1 replies
🌹Widian,🧕🧕🌹
hai......
cupu tuh apaan ?
arina_ar: culun kak
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!