Gerald—mantan tentara pasukan elit dari dunia modern—mengakhiri hidupnya setelah kehilangan tujuan hidup.
Namun kematian bukanlah akhir.
Ia terbangun di tubuh seorang prajurit rendahan di tengah medan perang dunia asing yang dipenuhi pedang, darah, dan kerajaan yang saling membunuh.
Tanpa sihir.
Tanpa kekuatan dewa.
Hanya perang.
Di saat umat manusia sibuk saling menghancurkan, bencana muncul dari bawah tanah.
Orc.
Ribuan monster brutal menyerbu benua dan memaksa seluruh kerajaan manusia bersatu demi bertahan hidup.
Di tengah kekacauan itu, Gerald mulai membangun pasukannya sendiri.
Bukan ksatria.
Bukan bangsawan.
Melainkan orang-orang buangan: pengemis, bandit, budak, pecandu alkohol, dan tentara gagal.
Pasukan sampah yang kemudian dikenal sebagai—
The 10th Battalion
Pasukan paling kacau.
Paling brutal.
Dan paling ditakuti di medan perang.
Dari unit buangan menjadi legenda perang umat manusia, Gerald akan membuktikan bahwa monster terb
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BAGERAAA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiga Hari Menuju Neraka
Keheningan masih menyelimuti desa bahkan setelah Raven pergi.
Tak ada yang bergerak beberapa detik.
Semua orang masih memproses apa yang baru saja terjadi.
Raven datang sendirian. Menghancurkan gerbang hampir tanpa usaha. Lalu pergi setelah mengancam akan memusnahkan mereka dalam tiga hari.
Dan yang paling mengerikan—
Pria itu terlihat belum serius.
“ANJIR…”
Elias masih duduk di tanah sambil wajah pucat.
“Itu manusia apa bencana alam…”
Boris menepuk pundaknya santai.
“Kalau dipikir-pikir dia keren.”
“KAU PIHAK MANA SIH?!”
“Aku pihak makanan.”
“ITU BUKAN PIHAK!”
Namun tak ada yang benar-benar tertawa kali ini.
Karena semua orang sadar: mereka baru saja melihat monster sesungguhnya.
Doran berdiri sambil mengusap darah di sudut bibirnya.
Dan anehnya…
Pria besar itu justru terlihat senang.
“HAHAHAHA…”
Tatapannya mengarah ke hutan tempat Raven pergi.
“Sudah lama aku gak ketemu lawan kayak begitu.”
Kael langsung menatapnya tidak percaya.
“Kau masih bisa ketawa?”
Doran menyeringai lebar.
“Kalau lawannya lemah mah gak seru.”
“…Psikopat.”
“Terima kasih.”
Gerald tetap diam.
Tatapannya masih ke arah gelap hutan.
Pikirannya bekerja cepat.
Tiga hari.
Artinya Raven memberi mereka waktu.
Dan itu berarti dua kemungkinan:
Raven terlalu percaya diri
atau dia memang yakin bisa menang kapan saja
Dua-duanya buruk.
“Gerald.”
Varn mendekat perlahan.
“Apa rencanamu?”
Gerald akhirnya berbalik melihat desa.
Pagar rusak. Rumah reyot. Dan pasukan kacau yang bahkan armor lengkap pun tidak punya.
Melawan benteng utara secara langsung mustahil.
Namun bertahan di sini juga sama bodohnya.
“Kita gak tunggu dia datang.”
Semua langsung menoleh.
“Hah?” Elias bingung.
Gerald mengambil tongkat kayu lalu menggambar di tanah.
“Kalau Raven menyerang…”
Ia membuat lingkaran kecil untuk desa mereka.
“…desa ini hancur.”
Tak ada yang membantah.
Karena setelah melihat Raven tadi… mereka semua tahu itu benar.
“Jadi sebelum itu terjadi…”
Tatapan Gerald berubah dingin.
“…kita yang bergerak duluan.”
Kael langsung mengangkat wajah cepat.
“Kau mau serang benteng?”
“Bukan bentengnya.”
Gerald menggambar garis-garis kecil di sekitar benteng.
“Supply mereka.”
Varn perlahan mulai mengerti.
“Makanan…”
Gerald mengangguk.
“Pasukan besar makan lebih banyak.” “Benteng besar butuh kayu.” “Dan Raven terlalu sibuk bangun kekuasaan.”
Tatapannya menyipit.
“Itu berarti jalur supply mereka panjang.”
Doran mulai tertawa kecil.
“HAHA…” “Jadi kita ganggu mereka?”
“Bukan ganggu.”
Gerald menusuk tanah dengan tongkatnya.
“…Kita bikin mereka kelaparan.”
Keheningan turun.
Dan perlahan…
Semua mulai paham.
Gerald tidak mau perang frontal.
Ia mau menghancurkan Raven sedikit demi sedikit.
“Anjir…” gumam Elias.
“Itu licik banget.”
“Perang memang licik,” jawab Gerald datar.
Boris langsung angkat tangan.
“Aku dukung strategi makanan.”
“Untuk pertama kalinya otakmu berguna,” jawab Elias.
“AKHIRNYA!”
Namun Kael masih terlihat ragu.
“Kau meremehkan Raven.”
Gerald menoleh.
“Tidak.”
Kael mengepalkan tangannya.
“Dia bukan cuma kuat.” “Dia pintar.” “Dan orang-orangnya fanatik.”
Tatapannya turun sedikit.
“Mereka takut sekaligus hormat sama dia.”
Gerald diam beberapa detik.
Lalu berkata pelan:
“Semua pasukan besar punya kelemahan.”
“Apa?”
“Mereka lupa rasanya lapar.”
Suasana kembali sunyi.
Gerald berdiri lalu melihat seluruh anggota batalion.
“Mulai sekarang kita bergerak malam.”
“Hah?” Luca bingung.
“Kita serang kereta supply.” “Kita hancurkan gudang.” “Dan kita bikin orang-orang Raven gak bisa tidur tenang.”
Doran menyeringai brutal.
“HAHAHAHA!” “Akhirnya mulai perang sungguhan!”
Elias langsung panik lagi.
“TUNGGU!” “KITA BARU JADI PASUKAN SEMINGGU!”
“Dan?” jawab Gerald.
“…Masuk akal lagi sialan.”
Namun di tengah pembicaraan itu—
WHUSSH!!
Suara langkah cepat terdengar dari luar.
Seorang penjaga berlari masuk sambil ngos-ngosan.
“GERALD!”
“Apa lagi?”
“Ada asap!”
Semua langsung menoleh.
“Asap?”
Penjaga itu menunjuk arah selatan.
“Desa di bawah bukit…”
Napasnya berat.
“…terbakar.”
Suasana langsung berubah dingin.
Kael langsung pucat.
“…Cepat banget.”
Gerald menyipitkan mata.
“Raven.”
Kael mengangguk pelan.
“Itu caranya.”
Doran memegang kapaknya sambil menyeringai.
“Dia mulai berburu.”
Namun Gerald justru melihat sesuatu yang lebih berbahaya.
Raven tidak menunggu tiga hari.
Pria itu sedang bermain dengan mereka.
Membuat mereka takut. Membuat mereka panik. Dan perlahan menghancurkan mental mereka sebelum perang dimulai.
Strategi klasik.
Dan efektif.
Gerald perlahan mengambil pedangnya.
Tatapannya dingin sekarang.
“Kalau dia mau mulai perang…”
Ia melihat seluruh anggota The 10th Battalion.
“…kita kasih perang.”
Dan malam itu—
Untuk pertama kalinya sejak reinkarnasi…
Gerald mulai membangun pasukan bukan untuk bertahan hidup.
Namun untuk membunuh seseorang.