Theo Falcon menganggap Zarlin Rahesa tidak lebih dari seorang ibu rumah tangga yang membosankan dan parasit. Demi ambisi dan pesona Bianca Amsel, Theo memfitnah, mengabaikan, dan bahkan menceraikan Zarlin tanpa memberinya sepeser pun. Dengan sebuah koper dan hati yang hancur, Zarlin pergi. Theo mengira Zarlin akan sangat terpukul. Namun, ia sangat salah. Zarlin menghilang dan kembali sebagai sosok yang sama sekali tidak dikenali, satu-satunya pewaris sebuah konglomerat yang cemerlang.
Situasi menjadi semakin kacau ketika Tristan Avalanka, CEO paling disegani dan dihormati dari perusahaan besar itu, berdiri di garis depan untuk melindungi Zarlin. Ketika bisnis Theo runtuh dan topeng Bianca terbongkar, Theo hanya bisa berlutut di tengah hujan deras, merangkak untuk memohon maaf kepada mantan istrinya. Tetapi bagi Zarlin, pintu pengampunan telah tertutup rapat, dan penyesalan Theo... sudah terlambat.
Follow tiktok : aricia.agestis6
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reenie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10. Masakan Ibu
Pukul dua belas siang, Amelia Rahesa telah tiba di Rahesa Group. Aroma harum dari semur daging ayam, udang balado, dan sayur rebus yang masih hangat menyebar ke ruangan.
Amelia datang tanpa pengawalan ketat yang mencolok. Wanita paruh baya yang tetap terlihat anggun dan bersahaja itu tersenyum lebar sambil menata beberapa wadah rantang stainless di atas meja ruang kerja.
"Ibu tahu kalian pasti belum makan siang karena terlalu sibuk mengurus proyek pelabuhan baru itu," ujar Amelia, membelai pipi Zarlin dengan penuh kasih sayang.
"Jadi Ibu sengaja memasak makanan kesukaanmu, Zarlin. Sudah lama sekali kan kamu tidak makan masakan Ibu?"
Zarlin menatap deretan makanan di depannya dengan mata yang berbinar. Selama tiga tahun rumah tangga dengan Theo Falcon, dialah yang selalu berdiri di dapur sejak subuh, memasak, dan melayani semua kemauan Theo serta Ibunya.
Selama tiga tahun itu pula, tidak pernah sekalipun ada orang yang balik bertanya apakah Zarlin sudah makan, atau memasakkan makanan hangat untuknya. Dia selalu menjadi pihak yang memberi, tanpa pernah menerima.
Melihat rantang masakan ibunya, Zarlin merasa seperti kembali menjadi putri kecil yang dijaga segenap jiwa raganya.
"Terima kasih, Ibu... aku rindu sekali dengan semur daging buatan Ibu," bisik Zarlin, menahan getaran di suaranya agar sang ibu tidak menyadari kesedihan yang sempat melintas.
Bramasta terkekeh, merangkul pundak istrinya. "Ibu kalian ini memang paling tahu cara memanjakan anaknya. Ayo, Tristan, duduk di sini. Jangan sungkan, kamu sudah seperti anak sendiri bagi kami."
Tristan yang sejak tadi berdiri sopan langsung mengulas senyum tipis, sebuah senyuman tulus yang sangat jarang dia perlihatkan di draf bisnis.
"Terima kasih, Pak. Masakan Ibu Amelia memang selalu menjadi yang terbaik sejak saya masih SMA dulu."
Mereka berempat akhirnya duduk melingkar di meja ruang kerja, menikmati makan siang bersama dalam suasana kekeluargaan yang sangat kental.
Di sela-sela momen makan bersama itu, mata Tristan tidak lepas dari gerak-gerik Zarlin. Dia mengingat bahwa pergelangan tangan kanan Zarlin sedang memar parah akibat cengkeraman Theo, dan pergerakan sekecil apa pun pasti akan menimbulkan rasa nyeri.
Saat Zarlin hendak meraih botol air mineral berukuran besar yang tutupnya masih tersegel rapat, Tristan langsung mengambil botol itu sebelum Zarlin sempat menyentuhnya.
"Biar aku saja," ujar Tristan tenang.
Dengan satu putaran tangan kananya yang kokoh, Tristan membuka segel botol itu dengan mudah, lalu menuangkan airnya ke dalam gelas kosong di depan Zarlin.
Tidak berhenti sampai di situ, saat melihat Zarlin agak kesulitan memotong daging semur yang cukup tebal dengan sendok tangan kanannya, Tristan mendahuluinya.
Dia mengambil sepotong daging yang paling empuk, memotongnya menjadi bagian-bagian kecil di piringnya sendiri menggunakan pisau kecil, lalu memindahkannya ke atas piring Zarlin.
"Makanlah yang banyak. Kamu terlihat lebih kurus dua hari ini," ujar Tristan.
Zarlin tersentak sedikit, pipinya memerah seketika akibat perhatian dari Tristan di depan kedua orang tuanya. Dia melirik Tristan dengan tatapan berterima kasih sekaligus gugup.
Amelia yang melihat interaksi manis itu diam-diam menyenggol lengan suaminya, Bramasta, sambil tersenyum penuh arti.
Sebagai seorang ibu, Amelia bisa melihat dengan jelas bagaimana cara Tristan menatap putri tunggalnya, tatapan penuh pemujaan, rasa ingin melindungi, dan cinta yang teramat dalam yang sengaja ditahan demi menghormati batasan Zarlin.
Bramasta hanya berdeham pelan sambil tersenyum misterius, membiarkan kedekatan kedua anak muda itu mengalir apa adanya, tanpa tahu bahwa Tristan sebenarnya sedang berupaya menyembunyikan luka memar KDRT Zarlin dari penglihatan mereka.
...****************...
Kontras dengan makan siang di Rahesa Group, suasana di ruangan Falcon Corp justru terasa tegang. Jam dinding sudah menunjukkan pukul setengah dua siang, dan perut Theo terus berbunyi memberitahu rasa lapar yang teramat sangat.
Di atas meja kerjanya yang berantakan, kini hanya tersisa satu cup mi instan seduh yang kuahnya sudah mulai mendingin dan mengental.
Theo menusuk mi itu dengan garpu plastik dengan raut wajah masam. Rasanya hambar, asinnya berlebihan, dan sama sekali tidak menggugah selera.
...Slurp...
Theo mengunyah mi itu dengan paksa, namun pikirannya kembali ke masa lalu. Dulu, setiap jam dua belas siang tepat, pintu ruang kerjanya akan diketuk dengan sopan.
Zarlin selalu masuk dengan pakaian sederhananya, membawa sebuah tas kain berisi kotak bekal hangat yang dimasak penuh ketulusan.
Saat itu, Theo selalu menganggap perhatian Zarlin sebagai hal yang mengganggu. Dia bahkan sering memaki Zarlin jika rasa masakannya kurang pas, atau sengaja mendiamkan bekal itu hingga dingin karena dia lebih memilih makan siang mewah di restoran bersama Bianca.
"Kalau tidak niat makan, tidak usah sok repot-repot datang ke kantor membawa sampah ini, Zarlin! Membuat malu saja kalau dilihat karyawan lain!"
Kalimat makian kasarnya dulu kini bergema kembali di dalam kepalanya, menampar egonya dengan begitu keras.
Tepat saat Theo meletakkan garpunya dengan rasa mual yang mendadak menyerang batinnya, pintu ruangan itu terbuka tanpa diketuk.
Bianca masuk dengan penampilan yang diusahakan tetap modis, tampak agak lelah karena efek begadang semalam. Dia membawa tas mewahnya, lalu mengempaskan tubuhnya ke sofa ruangan Theo sambil mengeluh pelan.
"Oh, Theo... kepalaku masih pusing sekali," keluh Bianca langsung, memijat pelipisnya tanpa melirik ke arah meja kerja Theo.
"Untunglah setelah minum obat tadi posisiku agak mendingan, jadi aku paksakan datang ke kantor demi membantumu."
Melihat Bianca akhirnya datang, Theo sempat merasakan secercah harapan di hatinya. Pria itu menatap Bianca, berharap wanita yang katanya mencintainya itu akan menyadari kalau dia belum makan siang dengan layak, lalu menawarkan diri untuk membelikannya makanan sehat.
"Kamu sudah datang, Bianca?" Theo berdeham, melirik cup mi instan di mejanya.
"Aku... aku baru sempat makan ini karena menunggumu."
Bianca melirik sekilas ke arah cup mi instan tersebut, lalu mendengkus pelan tanpa minat. Di otaknya saat ini hanya ada tuntutan Reno yang meminta uang foya-foya sepuluh juta rupiah tadi pagi.
"Aduh, Theo, kenapa makan mi instan? Bau kuahnya membuat kepalaku makin pusing," sahut Bianca ketus, alih-alih perhatian. Dia malah membuka ponselnya.
"Oh ya, Theo, pelabuhan kemarin terus menagih uang operasional. Bisakah kamu menandatangani memo pencairan dana darurat lima puluh juta sekarang? Aku harus segera menyelesaikannya agar kepalaku tidak pecah karena terus diteror mereka."
Theo terdiam di kursinya. Tatapan matanya kosong menatap Bianca yang sibuk dengan urusannya sendiri. Tidak ada pelukan hangat dan pertanyaan "Kamu sudah makan belum, Sayang?", sama sekali tidak ada ketulusan untuk mengurusnya yang sedang stres berat.
Yang dibawa Bianca ke ruangannya siang ini hanyalah keluhan, kepala pusing, dan tuntutan pencairan dana yang tanpa Theo ketahui, sebagian akan ditransfer Bianca ke rekening Reno.
Theo perlahan menyandarkan punggungnya ke kursi kebesaran, menatap cup mi instannya yang kini sudah dingin.
Rasa kehilangan yang amat pekat mencengkeram dadanya. Pria bodoh itu baru menyadari bahwa Bianca mungkin wanita karier yang hebat di atas ranjang dan meja rapat, tapi untuk urusan menjaga dan merawat hidupnya, Bianca tidak sebanding dengan Zarlin Rahesa yang telah dia buang ke jalanan.
itu justru malah menguatkan kebenaran...
semoga lancar proses perceraiannya !!
dah nikmati aja karmamu 🤪