NovelToon NovelToon
MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

MAHAR UNTUK SANG PELAKOR

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Amira membawa Lista masuk ke hidupnya sebagai sepupu dan sahabat. Namun, Lista justru keluar sebagai pencuri suaminya.

​Diceraikan saat hamil dengan mahar yang menghina, Amira dipaksa pergi dengan tangan hampa. Tapi mereka lupa satu hal: Amira adalah pemilik takhta yang sesungguhnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 22: PEMBALIKAN TAKHTA YANG SESUNGGUHNYA

PEMBALIKAN TAKHTA YANG SESUNGGUHNYA

​Angin laut malam di Pelabuhan Harbour Bay mendadak terasa sedingin es saat menerpa wajah Amira. Di dalam kepalanya, suara panik Pak Sanusi tentang kepungan debt collector di penthouse-nya masih terngiang-ngiang jelas. Di depan matanya, Doni sudah melangkah jauh menuju kapal feri, membawa lari dua miliar rupiah dengan senyum kemenangan.

​Aris di balik layar ponsel pun masih menyeringai puas, merasa di atas angin karena tameng raksasa bernama Nicholas Wijaya.

​Namun, alih-alih panik, menangis, atau pingsan karena tekanan stres seperti yang mereka harapkan, Amira justru menarik napas dalam-dalam. Sesuatu di dalam dirinya—mungkin naluri seorang ibu yang harus melindungi bayinya, atau darah dingin mendiang Ayahnya—mendadak terkunci ke posisi paling fokus. Matanya yang semula menyiratkan keterkejutan, kini berubah menjadi setajam silet.

​Cukup sudah berakting menjadi wanita lemah. Cukup sudah bermain kucing-kucingan yang membuat alur ini berputar-putar. Malam ini, semua permainan kalian selesai.

​Amira merebut ponsel dari tangan petugas kepolisian pelabuhan dengan gerakan yang begitu cepat dan tegas. Ia mendekatkan wajahnya ke arah kamera, menatap langsung ke retina mata Aris dan Nicholas Wijaya yang berada di Jakarta.

​"Tuan Nicholas Wijaya yang terhormat," suara Amira tidak lagi lirih. Suaranya bergema begitu dingin, berat, dan dipenuhi otoritas mutlak yang sanggup membungkam keriuhan terminal feri. "Anda membawa dokumen pembatalan gugatan dari Pengadilan Tinggi atas sengketa piutang internasional, bukan?"

​Nicholas Wijaya di seberang sana menaikkan sebelah alisnya, sedikit terkejut dengan perubahan drastis aura Amira. "Betul. Dan hukum memihak saya sebagai kreditor utama, Keponakanku."

​"Anda salah," Amira tersenyum tipis—sebuah senyuman badas yang membuat Aris di sebelah Nicholas mendadak merinding ketakutan karena teringat sosok Broto Shinta saat menghancurkan kompetitor bisnisnya dulu.

​Amira merogoh tas kerjanya, mengeluarkan sebuah dokumen kecil berlapis mika transparan yang selalu ia bawa—dokumen yang bukan berasal dari berkas ayahnya, melainkan berkas pendirian awal Snack Pratama yang ia sahkan sendiri secara hukum tiga tahun lalu.

​"Anda bilang ayahku berutang pada anak perusahaan Anda di Singapura tiga belas tahun lalu. Tapi Anda lupa membaca satu detail kecil di dalam undang-undang perseroan terbatas dan hukum perdata internasional Indonesia, Tuan Nicholas," cecar Amira, suaranya naik satu oktav, menuntut perhatian penuh.

​"Pabrik Snack Pratama yang berdiri saat ini didaftarkan sebagai badan hukum baru pada tahun 2023. Segala bentuk utang masa lalu personal antara Ayahku dan perusahaan Anda tidak bisa dialihkan secara otomatis menjadi utang korporasi baru tanpa adanya adendum kesepakatan yang ditandatangani oleh aku selaku Komisaris Mutlak!"

​Amira menjentikkan jarinya ke arah Taufik dan petugas kepolisian. "Dan yang paling penting... status Anda di Singapura saat ini sedang dalam pengawasan otoritas moneter MAS (Monetary Authority of Singapore) terkait pembekuan aliran dana tak berskala. Jika Anda memaksa mencairkan dua miliar ini sebagai 'pembayaran bunga utang' di atas tanah Indonesia tanpa dokumen pajak deklarasi resmi, maka menit ini juga..."

​Amira menatap tajam ke arah Doni yang baru saja hendak menyetorkan paspornya di bilik imigrasi. "Petugas! Atas nama Undang-Undang Tindak Pidana Pendanaan Ilegal dan Penyelundupan Mata Uang Asing, tahan pria berhoodie hitam itu! Surat intervensi Tuan Nicholas cacat demi hukum karena tidak terdaftar di kementerian hukum luar negeri Indonesia!"

​Petugas imigrasi yang mendengar analisis hukum Amira yang begitu runtut, tegas, dan masuk akal langsung tersentak. Dua orang petugas bea cukai pelabuhan yang berada di dekat sana langsung bergerak cepat. Sebelum Doni sempat melangkah ke koridor kapal, tubuhnya langsung dipiting kasar dan dijatuhkan ke lantai. Tas ransel militernya direbut, dan ritsletingnya dibuka paksa, memamerkan tumpukan dolar Singapura yang belum dideklarasikan.

​"Mbak Amiraaa!!! Tolong saya, Mbak!!! Mas Arisss!!!" Doni berteriak histeris saat borgol besi benar-benar mengunci kedua pergelangan tangannya.

​Di layar ponsel, wajah Nicholas Wijaya yang tadinya tenang seketika berubah menjadi sangat murka. "Amira! Kamu berani menantang saya?!"

​"Aku tidak menantangmu, Om Nicholas. Aku sedang menggulung kalian," jawab Amira dingin.

​Ia tidak memberi kesempatan Aris untuk memaki. Amira langsung mematikan sambungan video itu secara sepihak, lalu dengan cepat mendial nomor Pak Sanusi.

​"Halo, Pak Sanusi? Dengarkan aku," perintah Amira begitu telepon tersambung. "Jangan biarkan para debt collector itu menyentuh pintu penthouse. Hubungi Om Harlan, katakan padanya bahwa kakaknya, Nicholas, mencoba menggunakan nama Wijaya Holdings untuk merampok aset kita. Suruh Om Harlan bawa pasukan pengamanan internal miliknya untuk meratakan para preman itu sekarang juga!"

​Di seberang telepon, Pak Sanusi terdengar terengah-engah, namun suaranya langsung dipenuhi rasa takjub. "Baik, Nduk! Baik! Om Harlan ternyata sudah ada di jalan menuju apartemenmu bersama tim pengacara dari Singapura! Kami akan kunci mereka dari luar!"

​Amira mematikan ponselnya, lalu mengembuskan napas panjang. Rasa mual di perutnya berganti menjadi kehangatan yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia mengusap perutnya lagi, kali ini dengan senyuman kemenangan yang seutuhnya.

​"Kita pulang ke Jakarta sekarang, Nak," bisik Amira di dalam hatinya. "Ibu akan tunjukkan pada mereka, bagaimana caranya meruntuhkan sebuah dinasti palsu."

Amira berjalan kembali melintasi terminal pelabuhan dengan kawalan ketat, sementara Doni digiring ke ruang tahanan khusus dengan barang bukti dua miliar yang berhasil diselamatkan penuh. Di Jakarta, Aris terduduk lemas di sofa ruang VIP setelah Nicholas Wijaya membanting gelas minumannya hingga hancur karena murka rencananya digagalkan oleh seorang wanita hamil muda. Namun, kejutan malam itu belum selesai; saat Aris melangkah keluar gedung untuk kembali ke polres karena masa penangguhannya dibatalkan, sebuah mobil van hitam menghadang jalannya, dan beberapa orang tak dikenal keluar untuk menyeret Aris masuk ke dalam—bukan polisi, melainkan pihak ketiga yang menjadi korban penipuan investasi terselubung milik Lista. Pembaca akan dibuat sangat penasaran, siapakah dalang baru di balik penculikan Aris, dan bagaimana Amira memanfaatkan situasi chaos ini untuk mengambil alih 100% perusahaan pada bab selanjutnya!

1
partini
semua orang kalau udah tersudut bilang nya khilaf
gendiz: ya kaaan kak 🤭
total 1 replies
partini
,👍👍👍👍
falea sezi
sejauh ini muter wae. lahh😕
gendiz: makasih ya sudah mau baca, semoga next bab enggak kerasa muter alurnya
total 1 replies
partini
busettt dari dari bab 1 Ampe yg ini Amira apes Thor, kata jadi Badas eh malah kaya gini
gendiz: makasih ya masukkan nya , semoga nanti next bab alurnya gak membingungkan lagi,🤭
total 3 replies
gendiz
bisa mereka dari segi cerita
gendiz
up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!