Mereka menyebutnya perempuan api dari Bukit Menoreh.
Putri seorang punggawa sakti yang tumbuh bersama pedang dan dendam.
Saat kematian ayahnya menyeretnya ke dalam pusaran perang dan kesalahpahaman, Srikandi percaya kerajaan telah mengkhianati darah ayahnya.
Namun semakin jauh ia melangkah… semakin ia sadar bahwa luka manusia tak pernah sesederhana hitam dan putih.
Terlebih ketika hatinya justru jatuh pada lelaki yang tak mungkin ia miliki.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya Melinda Damayanty, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEBUAH TANDA
"Ukiran ini?" Srikandi menatap tulisan yang ia salin dari panah. .
"Sepertinya bukan dari panah prajurit biasa. Ini panah khusus ...," lanjutnya lirih.
Grrooookkk! Terdengar dengkuran keras Doko yang membuat Srikandi terkejut.
"Anak itu!" gerutunya.
Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju kamarnya yang digunakan Doko. Ia membuka pintu pelan, di sana pria itu tidur dengan selimut tipis miliknya.
Dengkurannya sangat keras, Srikandi sampai mengangkat bahu untuk menahan bising.
"Maaf Kangmas. Aku totok syarafmu biar aku bisa berpikir," gumam Srikandi lalu menotok urat leher dan dengkuran itu perlahan menghilang.
Setelah tenang, Srikandi keluar kamar hati-hati dan kembali ke alas tikar nipah. Ia menatap kembali aksara yang ia salin di dinding.
"Hanya orang-orang tertentu yang memiliki ilmu tinggi, hingga bisa menulis di alas sekecil ini," gumamnya meraba kembali anak panah.
Malam makin larut, Srikandi tak sedikit pun bisa memicingkan mata. Pikirannya masih berputar pemilik anak panah. Ia merebahkan diri ke alas nipah. Menjadikan lengan sebagai bantal, matanya menatap kosong langit-langit ruangan.
"Ayah ... Apa yang membuatmu menahan serangan? Kau tak mungkin semudah itu terbunuh kecuali memang ada yang sengaja membunuhmu ...."
Perlahan mata Srikandi berat lalu ia pun tertidur dengan pikiran yang masih kalut.
Pagi menjelang, Rukmi berteriak.
"Srikandi!" gadis itu terkejut bukan main. Ia langsung bangun dari tidurnya.
Tubuhnya terasa sakit semua, lalu menatap alas tidur. Baru ia sadar jika semalam ia tidur di lantai.
"Srikandi!" teriak Rukmi lagi.
"'Ada apa Bi?" Srikandi memijit pelipisnya.
"Arang habis! Cepat buatkan, aku ingin memasak!" perintah Rukmi kesal..
Srikandi menatap tajam perempuan paru baya itu. Lalu di sana Doko sudah duduk menunggu.
"Cepat ... Kangmas mu lapar!" teriak Rukmi.
Srikandi berdiri tepat di hadapan bibinya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun tidur. Matanya pun sembab akibat semalaman tidak tidur nyenyak. Matanya menatap tajam perempuan berusia empat puluhan itu.
"Ada anak laki-laki, kok Bibi berteriak ke anak perempuan?" tanyanya sinis.
"Enak saja!" teriak Doko sok berkuasa.
Srikandi meliriknya melalui ekor mata, pria berbaju mengkilap itu mendadak diam.
"Pulanglah Bi. Aku sedang tidak mau buat arang!" usir Srikandi halus.
Rukmi yang dari tadi memegang kain lap, begitu kesal. Ia melempar kain itu dan mendengkus kesal di wajah keponakannya itu.
Doko diam-diam keluar rumah dan pergi begitu saja. Ia tetap takut berhadapan dengan sepupunya itu.
Rukmi pun keluar dari rumah, ia menatap Srikandi yang berdiri bersandar di meja. Tubuh gadis itu lemas, wajahnya kuyu tanpa sinar.
"Terus kau makan apa?" tanyanya masih berada kesal.
"Aku bisa bakar ubi atau ambil ikan dari sungai, Bi. Jangan khawatirkan aku!" jawab Srikandi tenang.
"Huh ... Sok sekali kau! Aku pasti akan kembali dan menuntut hakku!" seru Rukmi kesal dan pergi dari sana.
Srikandi menghela nafas panjang, sejak ayahnya gugur. Pihak istana belum memanggilnya, bahkan ucapan belasungkawa pun tak ia terima.
"Sri Baginda, apa yang kau pikirkan. Ayah sudah gugur lebih dari seminggu, tapi kau belum beri kabar," keluhnya.
Ia duduk di kursi kayu, kursi buatan tangan ayahnya. Hampir seluruh perabotan rumah, Abda buat sendiri. Hanya kursi tamu saja yang diberikan kerajaan untuknya.
Sementara itu, di sebuah rumah dinas milik Senopati di desa Tiro. Kebo Ireng duduk di temani empat dayang-dayang memakai keben ketat.
"Kangmas Senopati, gerangan apa yang kau pikirkan?" tanya salah satu dayang lembut.
"Hhhhh!" helaan nafas besar terdengar.
Umbul-umbul kerajaan berdiri kokoh di desa Tiro. Desa yang berhadapan dengan delapan jalan besar.
Desa Tiro dipimpin seorang Senopati tampan, gagah dan sakti mandraguna. Seluruu Senopati yang bertugas memimpin wilayah masih kerabat dengan Prabu Laksa atau Raja dari Kerajaan Kali Ireng sendiri.
Kebo Sekti Ireng, pria berusia lima puluh tahun, tidak menikah. Tapi ia memiliki empat selir dan empat dayang-dayang untuk memenuhi kebutuhan biologisnya.
Wilayah Desa Tiro yang strategis, karena semua perdagangan melewati jalur itu. Makanya di sana banyak kedai makan, pasar dan kios remang-remang.
Kios remang-remang paling besar dan paling banyak pelanggannya adalah Kios milik Nyimas Padan Laran. Karena sang pemilik sangat cantik dan memilki aura pemikat magis. Santer terdengar Nyimas Padan Laran menggunakan susuk kembang kantil yang tersohor itu.
Kembali ke kediaman Kebo Ireng, pria itu baru mendapat kabar jika ada masalah besar. Ia diminta untuk tetap diam dan waspada.
"Kangmas?" suara lembut seorang dayang membuyarkan lamunannya.
"Aku tidak apa-apa, Nyimas. Hanya saja, masalah politik ini membuatku pusing," jawabnya lalu meremas area sensitif sang dayang.
Terdengar lenguhan manja keluar dari mulut wanita itu. Hingga terjadilah sesuatu pergumulan yang hanya orang dewasa yang boleh melakukannya.
Sementara Adipati Sengko sudah bersiap, ia akan menuju rumah punggawanya yang gugur di medan perang, Ki Abda.
Seorang abdi dalem pria mengenakan surjan coklat gelap dan jarik batik sogan menunduk hormat di hadapan Adipati Sengko. Ia berjalan berjongkok ketika menemui majikannya itu.
"Baiklah, aku menemuinya!" ujar Sengko lalu berjalan dengan gagah sementara abdi dalem tetap berjalan dengan berjongkok.
Ketika di teras, para pesuruh istana sudah duduk sambil menakup tangan ke atas. Salah satunya membawa bungkusan kain dari sutra.
"Menghadap Adipati!" seru semuanya sambil menundukkan kepala.
"Katakan!" seru Sengko penuh wibawa.
"Adipati, Sri Baginda Ratu menitip makanan untuk diberikan pada Srikandi!" jawab salah satu pesuruh.
Mereka mengenakan pakaian prajurit berwarna kuning dengan ikat kepala batik, celana pangsi senada, serta kain selempang kuning yang melintang di dada.
Sengko menerima bingkisan yang dililit kain sutra warna merah muda dengan simbol kerajaan di sana. Seluruh pasukan khusus itu menunduk membubarkan diri dengan jalan mundur. Lalu menaiki andong kerajaan dan pergi dari sana.
Sengko menatap bingkisan itu, ia yakin jika isinya makanan dan sedikit koin untuk keperluan Srikandi.
"Aku pergi!" ujar Sengko lalu dengan menggunakan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi.
Tubuhnya melesat ringan ke arah lereng bukit.
Sedangkan di rumah kecil itu, Srikandi baru saja membuat arang. Jemari dan wajahnya sedikit menghitam, keringat mengucur dari anak-anak rambut hingga membuat wajahnya basah.
Asap membumbung tinggi, api mulai membakar kayu untuk dijadikan arang. Gadis itu masuk dalam rumah bersamaan dengan datangnya Sengko.
"Demi sang hyang Widhi!" seru Sengko terkejut ketika berpapasan dengan Srikandi.
"Paman!" Srikandi juga tak kalah terkejutnya.
Kini sang gadis, hanya diam menunduk. Bingkisan sutra sudah ada di atas meja makan.
"Nduk, kamu buat arang sendiri?" desis Sengko menatap betapa menyedihkan anak perempuan punggawanya itu.
"Aku butuh makan ... Adipati," jawab Srikandi sekenanya.
"Kau bisa beli di pasar, Nduk!" keluh Sengko lagi, jika ia Abda, pasti ia akan meluluri anak gadisnya.
"Turun ke bawah malas dan pasti dapatnya sedikit ...."
"Jangan membantah perkataan orang tua!" seru Sengko tak menyukai sangkalan Srikandi.
"Maaf Paman, tapi semenjak kecil Ayah memang mengajariku membuat arang sendiri," sahut gadis itu tenang.
Sengko pun tak dapat mengatakan apa-apa. Lalu matanya menatap ruang tamu, tikar nipah sudah dilipat. Matanya jeli melihat ukiran aneh di bilik kayu penopang.
"Srikandi, apa kau menemukan sesuatu di hutan?" tanya Sengko yang membuat Srikandi bungkam.
Bersambung.
Apakah Srikandi akan memberitahukan temuannya?
Next?
nyi padan serem akh
lanjut