NovelToon NovelToon
Matahari Dibalik Kabut

Matahari Dibalik Kabut

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Chani Bae

Di koridor kampus berbasis agama di Kota T, Asyifa Humaira menjalani hari-harinya sebagai mahasiswi biasa. Namun, mendadak berubah saat sebuah perjodohan direncanakan untuknya. Sosok calon suaminya bukanlah orang asing di kampus, melainkan Fadhlan Ganendra, dosennya sendiri yang dikenal dingin, killer dan perfeksionis sekaligus pria yang menyimpan kunci masa lalu Syifa.

​ Sebuah kecelakaan tragis tiga belas tahun silam merenggut memori masa kecil Syifa, menyisakan lubang kosong tepat di bagian yang seharusnya diisi oleh nama "Fadhlan". Bagi Syifa, Fadhlan adalah orang asing yang dingin. Bagi Fadhlan, Syifa adalah kepingan masa lalu yang tak pernah ia lupakan.
​Di balik pernikahan ini, keluarga besar menyimpan harapan besar agar Syifa menemukan kembali ingatannya yang hilang.

Akankah ikatan suci ini menjadi matahari yang bersinar membuka kabut masa lalu, ataukah Syifa akan jatuh cinta kembali pada sosok yang sama untuk kedua kalinya tanpa pernah mengingat siapa dia sebenarnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chani Bae , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 16

Aroma pandan, melati, dan bumbu dapur yang pekat menguar dari arah belakang kediaman Abi Musthofa malam itu. Ruang tengah hingga halaman sudah dipenuhi sanak saudara yang baru berdatangan dari luar kota, berbaur dengan tetangga yang cekatan membungkus jajanan. Riuh rendah obrolan dan tawa menciptakan kehangatan khas malam sebelum hajatan besar.

​Di dalam kamar, suasananya tidak kalah ramai. Jihan dan Adiba memutuskan menginap untuk menemani Syifa melewati malam terakhirnya sebagai seorang gadis lajang atau sering disebut 'malam midodareni' dalam adat Jawa.

​"Ciee... yang sebentar lagi statusnya sold out!" ledek Jihan, menyenggol bahu Syifa yang sedang merapikan mukenanya di atas kasur.

​Syifa hanya menyunggingkan senyum tipis, menyembunyikan gemuruh aneh di dadanya. "Apa sih, Jihan. Jangan mulai deh."

​Adiba yang sedang melipat sajadah ikut tersenyum menggoda. "Gugup engga, Syif, mau nikah sama Pak Fadhlan besok pagi?"

​"Hmm... biasa aja," jawab Syifa ketus, berpura-pura sibuk merapikan seprai.

​"Ah, yang bener?" Jihan mencondongkan badannya dengan mata berkedip-kedip jahil. "Besok selesai acara resepsi, ada malam pertama loh..."

​Syifa menaikkan sebelah alisnya, mencoba terlihat tegar. "Terus kenapa?"

​"Ya kamu bakal di-unboxing lah, woi, sama pak dosen!" Jihan seketika cekikikan, menepuk pundak Syifa dengan heboh.

"Bayangin, berduaan di kamar sama pak dosen yang selalu kamu bilang kulkas dua puluh pintu itu. Wah, kira-kira berubah jadi hangat engga ya?"

​"Jihan!" Wajah Syifa seketika merah padam hingga ke telinga. Ia melempar bantal kecil tepat ke wajah Jihan, yang disambut tawa terpingkal-pingkal oleh sahabatnya itu.

​"Eh, tapi Syif," Adiba menimpali, kali ini nadanya sedikit lebih serius namun tetap lembut, "Nanti kalau sudah sah, kamu engga boleh menolak ajakan suami untuk ibadah yang satu itu loh. Dosa besar."

​"Hehe, iya Ustadzah Adiba... paham," cicit Syifa, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan karena tidak kuat menahan malu terus-menerus digoda. "Tapi tolong, jangan bahas itu sekarang, oke? Tensi darahku bisa naik sebelum akad."

​Demi mengalihkan perhatian, Syifa meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Begitu layar menyala, ia tertegun. Ada tiga panggilan tidak terjawab dari satu nama: Pak Fadhlan.

​"Kenapa malah telepon sih? Kan Ummi sudah bilang engga boleh komunikasi dulu..." gumam Syifa lirih, melupakan keberadaan kedua sahabatnya.

​"Siapa?" tanya Adiba dan Jihan serempak, mata mereka langsung berbinar penuh selidik.

​Syifa tersentak, cepat-cepat membalikkan layar ponselnya ke kasur. "engga ada apa-apa, hehe."

​"Pak dosen, ya?" tebak Jihan jeli, langsung menyenggol lengan Adiba. "Telepon balik, Syif! Mungkin beliau kangen berat. Secara, besok kan udah jadi milik kamu seutuhnya."

​Syifa menggelengkan kepalanya kuat-kuat. Menuruti saran Jihan sama saja dengan bunuh diri, ia pasti akan menjadi bahan ledekan semalaman suntuk.

...----------------...

Larut malam, rumah perlahan mulai tenang. Tamu dan tetangga sudah pulang, menyisakan kerabat dekat yang beristirahat. Jihan dan Adiba pun sudah pindah untuk tidur di kamar Tasya, adik Syifa.

​Di kamarnya yang sunyi, Syifa duduk di tepi ranjang. Ia baru saja selesai membaca pesan singkat dari Fadhlan yang menanyakan mengapa teleponnya tidak diangkat. Belum sempat ia mengetik balasan, benda pipih di tangannya kembali bergetar kencang. Layarnya menampilkan nama pria itu lagi.

​Merasa tidak enak hati jika harus mengabaikannya lagi, Syifa mengembuskan napas pelan lalu menggeser tombol hijau. Ia menempelkan ponsel itu ke telinganya.

​"Assalamu'alaikum. Kenapa tidak diangkat telepon dari saya sejak sore?" Suara bariton Fadhlan mengudara di seberang sana, terdengar berat namun ada nada kecemasan yang halus.

​"Wa'alaikumussalam. Maaf, Pak... di rumah sedang ramai, banyak orang. Lagi pula, Ummi kan bilang kita tidak boleh komunikasi dulu sebelum akad," jawab Syifa pelan, suaranya berbisik agar tidak terdengar ke luar kamar.

​Terdengar helaan nafas pendek dari seberang. "Astaghfirullah. Maaf, saya lupa," jawab Fadhlan dengan nada yang melembut, kehilangan ketegasannya sebagai dosen di kampus.

​"Ya sudah. Kalau begitu, saya tutup teleponnya ya, Pak?"

​"Hm, tunggu!" sergah Fadhlan cepat. Suaranya mendadak tertahan. "Itu... saya—" Pria itu terdengar gugup, sesuatu yang sangat jarang terjadi.

​Syifa mengernyitkan dahi. "Kenapa, Pak?"

​"Ekhem. Tidak ada apa-apa," Fadhlan berdeham, mencoba menetralkan suaranya. "Hanya... ingin mengobrol sejenak. Saya kesepian di rumah. Di rumah Abi pasti sangat ramai, ya?"

​Syifa terdiam. Kalimat "Saya kesepian" yang diucapkan Fadhlan entah kenapa terdengar begitu rapuh di telinganya. "Iya, Pak. Ramai sekali. Keluarga besar Kakek dari luar kota sudah datang semua."

​Hening menjeda obrolan mereka selama beberapa saat. Syifa meremas ujung selimutnya. Kasihan juga mendengar dia kesepian di rumah sebesar itu sendirian... 'Apa Pak Fadhlan sedang merindukan orang tua dan kakeknya ya?' batin Syifa, sudut hatinya mendadak tersentuh.

​"Halo?" suara Fadhlan memastikan karena Syifa terlalu lama diam.

​"Hm, itu kalau Bapak sudah mengantuk, tidur saja," gurau Syifa, mencoba mencairkan atmosfer canggung di antara mereka.

​"Tidak. Saya tidak bisa tidur," sahut Fadhlan. Nadanya mendadak turun beberapa oktav, menyiratkan kegetiran yang mendalam. "Saya... sedang rindu sekali dengan Abi, Ummi, juga Kakek Nizar. Kalau mereka masih ada di sini bersama saya... pasti rumah ini juga akan ramai seperti di situ. Mereka pasti akan sangat bahagia kalau tahu saya akan menikah besok pagi."

​DEG.

​Dada Syifa mendadak sesak. Tebakannya benar. Di balik sosoknya yang selalu terlihat tegap, dingin, dan mandiri sebagai pewaris tunggal Ganendra, Fadhlan hanyalah seorang anak yatim piatu yang merindukan pelukan hangat keluarganya di momen paling krusial dalam hidupnya.

​Syifa menghembuskan nafas pelan, mencoba menyalurkan ketenangan lewat suaranya. "Ehmm...kalau kita sedang merindukan orang yang telah mendahului kita, jangan lupa untuk mengirimkan hadiah surat Al-Fatihah untuk beliau. Insya Allah, hati akan terasa sedikit lebih tenang. Ummi, Abi, dan Kakek Nizar... mereka semua Insyaa Allah sudah bahagia di sana melihat njenengan akan menikah besok, Pak."

​Di seberang telepon, Fadhlan tertegun mendengar penuturan lembut Syifa. Kata 'njenengan' yang meluncur dari bibir gadis itu terasa begitu magis di hatinya.

​"Menikah... dengan wanita yang saya cintai?" tanya Fadhlan lirih, nyaris seperti bisikan untuk dirinya sendiri, namun gema kalimat itu tertangkap jelas oleh indra pendengaran Syifa.

​Jantung Syifa melewatkan satu detakan. 'Wanita yang dia cintai? Siapa? A-aku? Eh, jangan terlalu percaya diri, Syif! Kamu kan baru kenal dia dua minggu,' batin Syifa berperang dengan logikanya sendiri, sementara pipinya mendadak memanas.

​Sadar suasananya menjadi terlalu intim, Fadhlan cepat-cepat berdeham dan mengalihkan pembicaraan. "Sebenarnya... saya merasa sedikit gugup untuk besok pagi. Kalau kamu bagaimana?"

​"Sedikit, Pak. Makanya, ini sudah malam, baiknya Bapak istirahat lebih awal supaya besok tidak kesiangan," jawab Syifa formal.

​"Iya, Dek. Kamu juga ya, supaya besok matanya tidak mengantuk," jawab Fadhlan spontan, tanpa sadar mengubah panggilan formalnya menjadi sebuah kata pendek yang manis: Dek.

​"Hmm? Y-ya sudah, saya mau tidur. Bapak juga jangan lupa istirahat," ujar Syifa terbata, kegugupannya kini naik dua kali lipat akibat panggilan itu.

​Tepat saat itu, suara ketukan pintu terdengar, disusul munculnya sosok Ummi Salwa di ambang pintu kamar. "Siapa yang telepon, Nduk? Sudah malam sekali. Kenapa kamu belum tidur?"

​Syifa tersentak kaget, refleks menjauhkan ponsel dari telinganya. "Anu, Mi... ini, Nafisah yang telepon, nanya-nanya soal baju besok," jawab Syifa spontan, terpaksa berbohong.

​Ummi Salwa menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum maklum. "Ya sudah, kalau sudah selesai ngobrolnya, segera tidur ya. Pengantin tidak boleh begadang."

​"Nggih, Ummi."

​Setelah Ummi Salwa menutup pintu, Syifa kembali menempelkan ponselnya ke telinga dengan perasaan dongkol. Di seberang sana, terdengar suara kekehan pelan yang tertahan dari Fadhlan. Pria itu jelas mendengar seluruh percakapan Syifa dengan ibunya.

​"Besok saya adukan ke Ummi kalau kamu sudah berbohong malam ini," ledek Fadhlan jahil.

​Syifa mendengus kesal. "Hmm, mengadu saja sana ke Ummi. Paling bukan cuma saya yang dimarahi, tapi Bapak juga bakal kena marah."

​Fadhlan kembali terkekeh, suara tawa yang terdengar begitu tulus dan hangat. "Ya sudah, saya tutup teleponnya. Jangan begadang, Syifa."

​"Saya tidak hobi begadang. Mungkin yang hobi begadang itu Anda, Pak Fadhlan Ganendra."

​"Ya, baiklah. Saya tidak akan begadang untuk malam ini. Wassalamu'alaikum."

​"Wa'alaikumussalam warahmatullah..."

​Panggilan terputus. Syifa menatap layar ponselnya yang menggelap dengan perasaan campur aduk. Obrolan mereka memang masih terasa begitu canggung, dibatasi oleh sekat-sekat formalitas dosen dan mahasiswi. Syifa selalu bingung harus mencari topik apa lagi agar suasana mencair.

​Namun bagi Fadhlan, obrolan singkat itu sudah lebih dari cukup untuk menenangkan debaran dadanya yang menggila menyambut hari esok. Di dalam ruang kerjanya yang sepi, Fadhlan menatap foto masa kecilnya. Ada rasa rindu yang membuncah. Ia sudah sangat ingin mengatakan kepada Syifa betapa ia merindukannya, ingin mengajaknya bersenda gurau tanpa sekat, dan menghabiskan waktu bersama seperti saat Syifa masih kecil dulu sebelum takdir merenggut ingatan gadis itu.

...****************...

1
Idah Faridah
alhamdullilah sah 👍
Rian Moontero
mampiiirr😍
Chani Bae ✨: Terimakasih kak sudah mampir 🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!