NovelToon NovelToon
Cinta Sesuai Takdir

Cinta Sesuai Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan
Popularitas:468
Nilai: 5
Nama Author: Hsnwy

Amelia hanya gadis desa biasa yang hidup dalam kekurangan dan percaya bahwa kerja keras cukup untuk bertahan hidup.

Sampai suatu malam…

orang yang paling dia percaya menjualnya untuk melunasi hutang.

Dibawa ke kota asing dan dijadikan barang di tempat pelelangan ilegal, Amelia mengira hidupnya sudah berakhir.

Namun di malam yang sama—

dia bertemu pria yang seharusnya tidak pernah masuk ke dunianya.

Lorenzo Moretti.

Pria dingin, berbahaya, dan ditakuti seluruh dunia bawah tanah.

Awalnya Lorenzo hanya berniat memburu pengkhianat.

Tapi satu keputusan kecil membuat semuanya berubah—

dia membawa pulang gadis desa yang bahkan tidak mengenal namanya.

Amelia pikir mansion megah itu akan menjadi tempat perlindungan.

Dia salah.

Karena sejak malam itu, dia justru masuk lebih dalam ke dunia penuh darah, pengkhianatan, dan perang kekuasaan.

Dan ketika organisasi misterius mulai mengincarnya…

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hsnwy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9 — Gadis yang Membuat Monster Murka

Bab 9 — Gadis yang Membuat Monster Murka

Lorong gedung itu berubah menjadi medan perang.

Suara tembakan menggema tanpa henti. Pecahan kaca berserakan di lantai. Bau darah dan mesiu memenuhi udara hingga membuat Amelia hampir sulit bernapas.

Pria bersenjata yang menyanderanya terus menyeretnya mundur sambil menempelkan pistol di kepala gadis itu.

“Jangan mendekat!” bentaknya panik.

Marco De Luca masih mengarahkan pistolnya. Rahangnya mengeras menahan emosi.

“Kalau kau menyentuh dia, kau mati.”

Pria itu tertawa kasar. “Aku tetap mati kalau melepaskannya!”

Tatapan Amelia langsung menuju Lorenzo Moretti.

Pria itu berdiri beberapa meter di depan mereka dengan pistol di tangan. Wajahnya tetap tenang. Terlalu tenang.

Namun justru itu yang membuat suasana terasa lebih mengerikan.

Karena semua orang di sana tahu…

semakin tenang Lorenzo, semakin berbahaya dirinya.

“Turunkan senjatamu, Moretti!” bentak pria penyandera itu lagi.

Lorenzo tidak bergerak.

Tatapan abu-abunya terkunci pada Amelia yang gemetar ketakutan.

Air mata gadis desa itu jatuh perlahan.

Dan entah kenapa…

pemandangan itu membuat sesuatu dalam diri Lorenzo terasa tidak nyaman.

Perasaan asing yang sudah lama hilang dari hidupnya.

Marco melirik Lorenzo pelan. “Bos…”

Namun Lorenzo mengangkat tangannya sedikit, menyuruh Marco diam.

Pria penyandera mulai panik karena Lorenzo tidak bereaksi sesuai harapannya.

“A-aku serius!”

Dor!

Ia menembak langit-langit untuk mengancam.

Amelia langsung menjerit kecil dan memejamkan mata ketakutan.

Tangan pria itu semakin kasar mencengkeram lengannya hingga terasa sakit.

“Aku akan membunuh gadis ini!”

Sunyi.

Lalu…

Lorenzo berjalan maju satu langkah.

Tatapannya dingin.

“Kalau kau ingin hidup,” suaranya rendah dan tajam, “lepaskan dia.”

Nada suaranya tenang.

Namun justru terdengar seperti ancaman kematian.

Pria itu mulai gemetar.

Karena aura Lorenzo benar-benar mengerikan.

“K-kau pikir aku takut?!”

Lorenzo melangkah lagi.

Satu langkah.

Dua langkah.

Tanpa rasa takut sedikit pun pada pistol yang mengarah ke Amelia.

Marco langsung menyadari sesuatu.

Bosnya marah.

Dan itu sangat buruk.

Pria penyandera tiba-tiba menarik Amelia lebih kasar hingga gadis itu meringis kesakitan.

“Berhenti!”

Dor!

Tembakan terdengar.

Namun bukan dari pria penyandera.

Tubuh pria itu mendadak membeku.

Matanya membelalak.

Lalu perlahan roboh ke lantai.

Darah mengalir dari dahinya.

Amelia ikut jatuh terduduk dengan napas kacau.

Ia bahkan tidak sadar kapan Lorenzo menembak.

Semuanya terlalu cepat.

Sunyi beberapa detik memenuhi lorong.

Lalu Lorenzo berjalan mendekat perlahan.

Amelia langsung menegang.

Sepatu hitam pria itu berhenti tepat di depannya.

Tatapan mereka bertemu.

Untuk pertama kalinya, Amelia bisa melihat wajah Lorenzo dari dekat.

Tampan.

Terlalu tampan untuk pria seberbahaya itu.

Namun matanya…

dingin seperti seseorang yang sudah kehilangan kemanusiaannya sejak lama.

Lorenzo melirik bekas merah di lengan Amelia akibat cengkeraman tadi.

Tatapannya langsung berubah lebih gelap.

“Bawa dia.”

Marco sedikit terkejut.

“Bos?”

“Aku tidak akan mengulanginya.”

“Baik.”

Amelia langsung panik saat dua pria berpakaian hitam mendekatinya.

“T-tunggu… aku harus pulang…”

Tidak ada yang menjawab.

Elena mencoba mendekat. “Tolong jangan sakiti dia!”

Namun salah satu anak buah Moretti menahan Elena.

“Diam di tempat.”

Amelia mulai semakin takut.

“Aku tidak mengenal kalian…”

Marco menghela napas pelan lalu berjongkok di depan Amelia.

“Kalau bukan karena Bos kami, kau sudah mati.”

“Aku… aku hanya ingin pulang…”

Tatapan Amelia mulai kabur karena takut dan lelah.

Namun sebelum Marco sempat bicara lagi—

Dor! Dor!

Tembakan kembali terdengar dari bawah.

Salah satu anak buah Moretti langsung berlari mendekat.

“Bos! Orang-orang Romano terus berdatangan!”

Lorenzo mengisi ulang pistolnya dengan tenang.

“Habisi mereka.”

“Baik!”

Suasana kembali kacau.

Jeritan dan suara tembakan terdengar dari berbagai arah gedung.

Amelia memeluk tubuhnya sendiri gemetar.

Ia tidak mengerti dunia ini.

Dunia penuh darah dan pembunuhan.

Dan yang paling menakutkan…

pria mengerikan itu seolah menjadi raja di dalamnya.

Lorenzo kembali menatap Amelia.

“Bisa berdiri?”

Amelia terdiam beberapa detik sebelum mengangguk pelan.

Kakinya masih gemetar saat berdiri.

Namun tiba-tiba—

Brak!

Ledakan keras terdengar dari bawah gedung.

Seluruh lantai bergetar.

Amelia kehilangan keseimbangan.

Tubuhnya hampir jatuh.

Namun sebuah tangan besar tiba-tiba menarik pinggangnya.

Refleks Amelia langsung memegang jas hitam Lorenzo.

Napasnya tercekat.

Karena sekarang jarak mereka sangat dekat.

Terlalu dekat.

Aroma parfum pria itu bercampur bau mesiu dan darah.

Dan anehnya…

di tengah ketakutannya, Amelia merasa sedikit aman.

Kesadaran itu langsung membuatnya bingung sendiri.

Lorenzo menatap gadis di pelukannya tanpa ekspresi.

Namun Marco bisa melihat sesuatu yang berbeda dari mata bosnya.

Perhatian.

Dan itu hampir mustahil terjadi.

“Bos, kita harus pergi sekarang!” teriak Marco.

Lorenzo akhirnya melepaskan Amelia perlahan.

“Bawa dia ikut.”

“Apa?” Amelia langsung panik. “Tidak! Aku tidak mau ikut!”

Namun Lorenzo sudah berjalan lebih dulu menuju tangga bawah.

Anak buahnya langsung mengikuti tanpa membantah sedikit pun.

Marco memandang Amelia sebentar.

“Percayalah, berada dekat Lorenzo Moretti jauh lebih aman daripada tetap di gedung ini.”

“Itu tidak membuatku tenang!”

Marco hampir tersenyum kecil.

Gadis ini benar-benar berbeda.

Biasanya semua orang terlalu takut untuk membantah Lorenzo.

Namun Amelia masih berani melakukannya meski tubuhnya gemetar.

Ledakan lain terdengar dari bawah.

Marco langsung menarik tangan Amelia.

“Kita tidak punya waktu.”

Mereka segera turun menuju lantai dasar yang sudah dipenuhi mayat dan darah.

Amelia memucat melihat pemandangan itu.

Beberapa tubuh tergeletak tanpa nyawa.

Dinding penuh bekas peluru.

Kaca hancur di mana-mana.

Dan di tengah semua kekacauan itu…

Lorenzo berjalan dengan tenang sambil memegang pistol.

Seolah neraka adalah rumahnya sendiri.

Saat mereka hampir keluar gedung, beberapa mobil hitam tiba-tiba berhenti di depan pintu utama.

Puluhan pria bersenjata turun dengan cepat.

Marco langsung mengumpat pelan.

“Sial… bala bantuan Romano.”

Lorenzo tersenyum tipis.

Namun senyum itu sangat dingin.

“Bagus.”

Marco langsung memahami arti tatapan itu.

Bosnya akan membantai mereka semua.

Dan benar saja—

Dor!

Lorenzo menembak pria pertama tepat di kepala.

Baku tembak kembali pecah.

Anak buah Moretti langsung menyerang tanpa ampun.

Amelia menutup telinganya ketakutan sambil berjongkok di belakang mobil.

Air matanya terus jatuh.

Ia ingin pulang.

Ingin kembali ke desa kecilnya.

Ingin kembali hidup sederhana bersama neneknya.

Namun sekarang…

hidupnya sudah terseret terlalu jauh ke dalam dunia gelap Lorenzo Moretti.

Di tengah kekacauan itu, salah satu pria Romano tiba-tiba berhasil mendekati tempat Amelia bersembunyi.

Pria itu menyeringai saat melihat Amelia sendirian.

“Jadi ini gadis yang dibawa Moretti?”

Amelia langsung mundur panik.

Pria itu menarik lengannya kasar.

“Lepaskan aku!”

“Diam!”

Amelia mencoba memberontak, tetapi tenaganya terlalu lemah.

Pria itu menyeretnya menjauh dari mobil sambil tertawa kasar.

“Bos Romano pasti senang melihat wajah cantikmu.”

Air mata Amelia jatuh semakin deras.

Ia benar-benar ketakutan.

Namun tiba-tiba—

Dor!

Tubuh pria itu langsung berhenti bergerak.

Matanya membelalak sebelum roboh ke tanah.

Darah mengalir dari dadanya.

Amelia membeku.

Lalu perlahan menoleh.

Lorenzo berdiri tidak jauh dari sana dengan pistol yang masih mengepul tipis.

Tatapannya gelap.

Sangat gelap.

Ia berjalan mendekat perlahan hingga berhenti tepat di depan Amelia.

“Berapa kali aku harus menyelamatkanmu malam ini?”

Suara pria itu rendah dan dingin.

Namun Amelia justru menangis semakin keras.

Karena ketakutan.

Karena lelah.

Dan karena dirinya sadar…

sekarang satu-satunya tempat aman di tengah neraka itu hanyalah di dekat Lorenzo Moretti.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!