NovelToon NovelToon
Blazing Asura: The Untamed God

Blazing Asura: The Untamed God

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:3k
Nilai: 5
Nama Author: fandy syahputra

Di puncak tertinggi Sembilan Ranah, Yu Fan adalah legenda—seorang Master Tingkat 9 yang menyentuh ranah kedewaan. Namun, kepercayaan adalah pedang bermata dua; ia dikhianati oleh sahabat masa kecilnya dan dibuang ke Dunia Fana dalam keadaan hancur.
Setelah 50.000 tahun tersegel dalam kegelapan yang sunyi, Yu Fan terbangun di dunia yang telah berubah total. Kekuatannya sirna, ingatannya terkikis, namun api amarah di jiwanya tetap membara. Di dunia baru ini, sang pengkhianat dipuja sebagai Dewi Kebajikan, dan sekte yang membantainya telah menjadi penguasa tunggal yang paling disegani.
Mengenakan jubah hitam dan memikul kutukan energi Yin yang dingin, Yu Fan harus memulai kembali perjalanannya dari titik terendah. Di antara kepingan ingatan yang hilang dan dunia yang penuh kebohongan, Sang Ashura akan bangkit kembali—bukan untuk menjadi pahlawan, melainkan untuk menghancurkan langit yang telah memuarakannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fandy syahputra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 3: Titah Sang Penguasa dan Gerbang Cakrawala

Kabar mengenai seorang pemuda misterius yang menembus ranah Master Tingkat 2 hanya dalam waktu satu purnama menyebar seperti api yang ditiup angin kencang ke seluruh penjuru ibu kota Kerajaan Tianwu. Dalam tiga hari, nama "Si Baju Hitam dari Paviliun Merah" sudah bergema di setiap sudut kota—dari kedai teh tempat para pendekar tua berdebat dengan nada sangsi, hingga lorong-lorong gelap tempat para informan menjual potongan informasi dengan harga yang semakin naik setiap harinya.

Namun, kegemparan paling nyata terasa di dalam Aula Agung Kerajaan Tianwu.

Ruangan itu begitu luas sehingga suara langkah kaki seorang pun akan bergema panjang sebelum mati di ujung dindingnya. Pilar-pilar batu giok hijau tua yang menjulang setinggi dua puluh kaki diukir dengan relief peperangan kuno—ribuan sosok prajurit yang mengangkat pedang, naga yang menyemburkan api, dan dewa yang menatap ke bawah dengan ekspresi yang sulit dibaca antara murka atau kasihan. Di ujung aula, di atas sebuah panggung bertingkat tiga yang dilapisi batu hitam mengkilap, berdiri sebuah takhta emas.

Dan di atas takhta itu, duduk Raja Jin Wu.

Ia adalah pria berusia lima puluh tahun yang tidak terlihat seperti pria berusia lima puluh tahun. Tubuhnya tinggi dan tegap, dengan bahu lebar yang menunjukkan bahwa pemiliknya tidak pernah benar-benar berhenti berlatih sejak muda. Rambutnya hitam dengan sedikit uban di pelipisnya, diikat rapi dengan mahkota emas berbentuk kepala naga. Wajahnya tegas—rahang yang kuat, alis yang tebal dan serius, dan mata yang berwarna cokelat tua seperti tanah yang telah menyaksikan terlalu banyak musim gugur. Dari tubuhnya, tekanan spiritual seorang Master Tingkat 5 Tahap Akhir memancar tanpa ia perlu sengaja melepaskannya—seperti panas yang keluar dari bara yang sudah sangat lama terbakar. Bagi manusia fana biasa, berdiri di hadapannya saja sudah cukup untuk membuat lutut bergetar.

Di sisi kiri dan kanannya, para menteri dan panglima perang berdiri dalam barisan rapi, berbisik satu sama lain dengan raut wajah yang tegang.

"Leluhur Taixu tidak mungkin salah lihat," bisik Menteri Pertahanan—seorang pria paruh baya bertubuh gempal dengan kumis tebal melintang yang membuat wajahnya terlihat selalu serius. "Tetapi satu bulan untuk Tingkat 2? Itu tidak masuk akal. Bahkan Putri yang jenius pun membutuhkan waktu sepuluh bulan!"

"Mungkin dia menggunakan obat terlarang?" timpal menteri lain dengan nada sinis, sambil melipat tangannya di depan dada.

"Cukup!"

Dua kata dari Raja Jin Wu, namun efeknya seperti gong raksasa yang dipukul langsung di dalam telinga—seluruh ruangan membungkam seketika. Matanya yang tajam menatap ke arah pintu besar yang terbuka dengan tenang.

Dan di sana, Yu Fan melangkah masuk.

Ia mengenakan jubah hitam baru yang dibelikan Yuexin tiga hari lalu—bahan sutra kasar yang tebal, potongannya sederhana tanpa ornamen berlebihan, namun justru membuat sosoknya terlihat seperti bilah pedang yang tidak butuh perhiasan untuk terlihat berbahaya. Rambutnya yang hitam terikat rapi ke belakang dengan tali berwarna gelap, memperlihatkan garis wajahnya yang tidak bisa disebut tampan secara biasa—lebih tepatnya, ada sesuatu di wajahnya yang asing. Tulang-tulang wajahnya tersusun dengan proporsi yang sangat presisi, dan matanya—abu-abu gelap seperti langit sesaat sebelum badai—memancarkan kedamaian yang terlalu dingin untuk berasal dari seseorang yang baru saja bangun dari koma tiga hari.

Di belakangnya, Jin Taixu berjalan dengan kedua tangan terkait di punggung, langkahnya santai namun matanya tidak pernah berhenti memindai ruangan. Di barisan depan keluarga kerajaan, Jin Yuexin berdiri dengan senyum tipis yang tidak lepas dari bibirnya—senyum seseorang yang sudah tahu akhir dari pertunjukan ini jauh sebelum pertunjukan dimulai.

Yu Fan berlutut dengan satu kaki di depan takhta, kepala sedikit tertunduk. "Yu Fan menghadap Baginda Raja. Semoga Baginda panjang umur dan penuh kemuliaan."

Raja Jin Wu tidak langsung menjawab. Ia melepaskan sedikit tekanan auranya—hanya sedikit, seperti seseorang yang membuka celah kecil di pintu untuk mengintip, bukan membuka pintu sepenuhnya. Namun tekanan itu sudah cukup untuk membuat lantai batu giok di sekitar kaki Yu Fan berderak kecil dan para menteri yang berdiri paling dekat secara tidak sadar mengambil setengah langkah mundur.

Yu Fan tidak mundur. Tidak bergerak sama sekali. Ia membiarkan energi Yin di dalam tubuhnya menyerap tekanan itu secara pasif—bukan melawan, melainkan menelan, seperti air hitam yang tenang di dasar danau yang menelan batu tanpa satu pun riak.

Sudut bibir Raja Jin Wu melengkung sangat tipis. "Bangunlah, Yu Fan."

Percakapan di aula berlangsung singkat namun berat. Ketika nama Akademi Langit Biru pertama kali disebut, Yu Fan merasakannya seperti sebuah kompas yang tiba-tiba menunjuk ke arah yang jelas di dalam dadanya. Dan ketika Raja menyebut bahwa di sana ia akan bertemu perwakilan dari seluruh tujuh sekte besar—termasuk Sekte Teratai Putih—sesuatu di dalam dadanya berdenyut lagi dengan cara yang tidak ia izinkan untuk ia perlihatkan.

Malam sebelum keberangkatan, Yuexin menemuinya di balkon paviliun dengan bekal perjalanan dan kata-kata yang terasa lebih berat dari bungkusan kain sutranya. Tentang Han Bihan—pemimpin Sekte Teratai Putih yang mengabdikan seluruh jiwanya pada Dewi Kebajikan. Tentang cahaya yang terlalu terang yang membutakan mata dari kegelapan di bawah kaki.

Yu Fan tidak tidur malam itu. Ia hanya duduk, memegang kepingan giok emas di telapak tangannya, menatap aksara kuno yang terukir di permukaannya hingga fajar mulai menyingsing di ufuk timur.

Penghancur.

Sebuah nama. Atau sebuah takdir. Ia belum tahu mana.

Hari keempat perjalanan menuju Akademi Langit Biru membawa mereka ke jalur yang disebut penduduk setempat sebagai Lembah Mata Naga.

Jalan setapak yang mereka tempuh menyempit drastis, diapit dua dinding tebing batu merah yang menjulang tinggi hingga menutup sebagian langit. Di sela-sela tebing, angin berhembus dengan bunyi siulan yang berganti-ganti nadanya seolah tebing itu sendiri sedang berbicara dalam bahasa yang tidak dimengerti manusia. Pohon-pohon di kanan kiri jalur tumbuh condong ke arah berlawanan, seolah lari dari sesuatu yang sudah lama berdiam di dalam lembah itu.

"Tempat ini tidak nyaman," gumam Yuexin, tangannya tanpa sadar bergerak ke gagang pedangnya yang tersimpan di pinggang. Pedang itu bergagang biru langit dengan urat-urat emas yang meliuk seperti awan—senjata kelas satu yang jelas bukan produk pandai besi biasa.

"Sudah ada dua pasang mata yang mengikuti kita sejak gerbang lembah," ucap Yu Fan tenang, tanpa menoleh. Matanya tetap menatap jalur di depan mereka. "Satu di sebelah kiri, tersembunyi di antara batu-batu besar yang menjorok. Satu lagi di atas, di tebing kanan, kira-kira empat puluh depa dari sini."

Yuexin menoleh kecil ke arahnya, alisnya terangkat. "Kau bisa merasakannya dari tadi?"

"Sejak satu jam lalu."

Sebelum Yuexin sempat merespons, sebuah suara tawa yang kasar dan tidak menyenangkan meledak dari kedua sisi tebing sekaligus—seperti dua batu yang dipukul bersamaan.

"Bagus juga indramu, anak muda!"

Dari balik batu-batu besar di sisi kiri, empat sosok melompat turun ke jalur dengan gerakan yang terlatih—mereka mendarat bersamaan, suara hentakan kaki mereka bergema serentak di dinding tebing. Di atas, dari tepian tebing kanan, dua sosok lagi meluncur dengan tali yang tergulung cepat, mendarat di belakang Yu Fan dan Yuexin untuk memotong jalur mundur.

Enam orang. Semua bertopeng kain abu-abu yang menutupi setengah wajah bagian bawah mereka. Jubah mereka berwarna cokelat tua, polos tanpa lambang—bukan karena mereka tidak memiliki afiliasi, melainkan karena mereka sengaja menyembunyikannya.

Pemimpin mereka adalah seorang pria bertubuh paling besar di antara keenamnya. Badannya seperti lemari batu—leher tebal, bahu yang hampir selebar dua orang biasa, dan tangan yang menggenggam sebatang kapak bermata dua dengan santainya seperti orang lain memegang kipas. Di dadanya, terlihat samar bekas luka bakar berbentuk cakar, tanda seseorang yang pernah bertarung dengan sesuatu yang sangat panas dan selamat.

"Hari-hari ini, jalan menuju Akademi Langit Biru memang ramai," ucap pria bertopeng itu dengan nada yang mencoba terdengar santai namun gagal menyembunyikan keserakahannya. "Terlalu banyak calon murid kaya yang membawa bekal berharga. Sayang sekali kalian memilih rute yang salah."

"Lembah Mata Naga adalah wilayah netral," ucap Yuexin dingin, auranya berubah seketika—dari gadis yang ramah menjadi putri kerajaan yang tahu persis cara berbicara kepada ancaman. "Merampok di sini berarti melanggar perjanjian antara tujuh kerajaan."

"Perjanjian?" Pria itu terkekeh. "Siapa yang peduli perjanjian di tempat yang tidak ada saksinya?"

Dua dari enam perampok bergerak maju dari kiri dan kanan secara bersamaan—manuver yang terlatih untuk memaksa target mereka terkepung dari sudut yang berbeda.

Yu Fan turun dari kudanya dengan satu gerakan yang sangat ekonomis. Tidak buru-buru. Tidak dramatis. Ia menyerahkan tali kekang kudanya kepada Yuexin dengan cara yang sama seperti seseorang menaruh cangkir teh di atas meja.

"Kau tidak butuh pedang?" tanya Yuexin pelan, matanya memindai situasi dengan cepat dan cermat.

"Belum," jawab Yu Fan singkat.

Perampok pertama yang menyerang adalah yang paling cepat di antara keenamnya—seorang pria bertubuh kurus dan ringan dengan sepasang belati pendek di kedua tangannya. Ia bergerak dengan teknik yang memperlihatkan latar belakang seorang pembunuh bayaran, bukan sekadar bandit jalanan biasa—langkahnya tidak bersuara, tubuhnya condong rendah saat berlari, dan sudut serangannya menyasar titik buta di bawah ketiak kiri Yu Fan, sudut yang hampir tidak pernah terlindungi secara naluriah.

Hampir.

Yu Fan memiringkan tubuhnya ke kanan hanya sebatas yang diperlukan. Ujung belati kiri perampok itu melewati ruang kosong di samping tubuhnya. Bersamaan dengan itu, tangan kiri Yu Fan menangkap pergelangan tangan perampok tersebut—bukan mencengkeram, melainkan hanya menyentuhnya dengan telapak tangan terbuka. Sentuhan itu terasa seperti memegang es basah bagi si perampok, dingin yang menusuk langsung ke tulang. Sebelum ia sempat menarik kembali tangannya, Yu Fan memutar badan sembilan puluh derajat dan menggunakan momentum serangan lawan untuk melontarkan perampok itu ke udara. Tubuh si perampok kurus berputar dua kali sebelum menghantam dinding tebing dengan suara keras yang membuat beberapa kerikil kecil berjatuhan dari atas.

Ia tidak bangun lagi.

Dua detik. Satu gerakan. Satu pun langkah kaki Yu Fan tidak berpindah dari tempatnya.

"Apa?!" Pria bertubuh besar itu menegakkan punggungnya. Untuk pertama kalinya, sesuatu di matanya berubah dari keserakahan menjadi sesuatu yang lebih mirip kehati-hatian. "Tingkat 2? Bagaimana bisa seseorang Tingkat 2 melakukan itu?!"

Tiga perampok yang tersisa di depan maju serentak kali ini, tidak lagi meremehkan. Yang pertama mengayunkan pedang panjang dari atas ke bawah dengan tenaga penuh—serangan yang dirancang untuk membelah, bukan menusuk. Yang kedua menyerang dari samping dengan tombak yang ujungnya diberi pemberat besi, sehingga kecepatan rotasinya menambah kekuatan hantaman berlipat ganda. Yang ketiga mengincar kaki Yu Fan dengan jaring besi kecil yang dilempar bersamaan dengan serangan dua kawannya—teknik klasik untuk melumpuhkan kaki target agar tidak bisa mundur.

Yu Fan menarik napas satu kali yang sangat panjang dan sangat pelan.

Di dalam tubuhnya, energi Yin yang selama ini ia jaga agar tidak meluap mulai ia lepaskan sedikit—sangat sedikit, seperti membuka celah di bendungan yang sangat besar. Hawa dingin merembes keluar dari pori-pori kulitnya, tidak terlihat namun langsung terasa. Napas tiga perampok yang menyerang itu membentuk uap putih tipis di udara saat mereka mendekat.

Jaring besi datang pertama. Yu Fan melangkah maju, bukan mundur—mengambil setengah langkah ke depan yang tidak terduga, sehingga jaring itu jatuh tepat di belakang tumitnya alih-alih menangkap kakinya. Pedang panjang yang datang dari atas dihindari dengan cara yang sama—Yu Fan tidak menangkis, ia hanya menggeser posisi tubuhnya satu sentimeter ke samping, dan mata pedang yang berat itu menghantam tanah berbatu dengan benturan yang terasa hingga ke gigi penggunanya sendiri.

Kemudian tombak datang dari samping.

Yu Fan menangkapnya.

Bukan dengan Qi, bukan dengan teknik khusus—ia hanya merentangkan tangan kirinya dan menjepit batang tombak di antara telapak tangan dan lengan bawahnya dengan waktu yang tepat, menyerap momentum rotasi tombak itu sepenuhnya. Energi Yin di tangannya mengalir ke dalam kayu tombak, dan dalam sepersekian detik, kayu itu mengembun lalu retak dari dalam—membelah menjadi dua di titik yang ia pegang.

Dengan bagian tombak yang masih ada di tangannya, Yu Fan memutar pergelangan tangan.

KRAK!

Bagian tombak itu menghantam sisi kepala pemegang pedang panjang tadi dengan tepat, mengirim pria itu berputar dan jatuh ke tanah. Lalu, dengan gerakan yang sama tanpa jeda, ujung patahan tombak itu dilemparkan ke depan—meluncur sejauh dua puluh depa dan menancap tepat di tanah, antara dua kaki perampok yang melempar jaring, menghentikannya di tempat karena terkejut.

Tiga orang dilumpuhkan. Empat detik. Yu Fan berdiri di posisi yang sama—satu kaki sedikit di depan, tangan kanan menggantung santai di sisi tubuh, tangan kiri menggenggam setengah tombak yang pecah.

Hanya tinggal pria bertubuh besar dengan kapak bermata dua, dan satu perampok lagi yang bertopeng yang selama ini tidak bergerak—berdiri di tepi jalur, matanya memindai situasi dengan tenang yang berbeda dari kawanannya. Dari cara berdinya, cara ia membagi berat tubuhnya di antara kedua kaki yang terbuka lebar, ini bukan perampok biasa.

Pria bertopeng diam itu melangkah maju, membuka topengnya.

Wajah yang muncul adalah wajah seorang pria berusia tiga puluh tahun dengan dua bekas luka paralel memanjang dari dahi kiri hingga sudut rahang kanannya—luka yang dibuat dengan sengaja, bukan kecelakaan. Matanya berwarna abu-abu dengan pupil yang terlihat terlalu kecil untuk ukuran mata di bawah sinar terang siang hari. Pria itu tersenyum, dan senyumnya tidak menyenangkan.

"Master Tingkat 3," ucapnya bukan kepada Yu Fan, melainkan seolah menginformasikan sesuatu kepada dirinya sendiri. Dari balik jubahnya, ia mencabut sepasang pedang pendek yang bilahnya berwarna merah tua seperti darah yang sudah mengering—senjata yang diberi perlakuan racun tingkat rendah, cukup untuk melumpuhkan dalam hitungan menit.

"Kau bukan perampok biasa," ucap Yu Fan.

"Tidak," jawab pria itu. "Aku dibayar untuk memastikan seseorang tidak pernah sampai ke Akademi Langit Biru."

Ia melesat.

Kecepatannya jauh berbeda dari kelima kawannya. Ia bergerak seperti bayangan—tidak berlari melainkan mengalir, tubuhnya berpindah posisi dengan cara yang menyulitkan mata biasa untuk memprediksi arahnya. Kedua pedang pendeknya berputar dalam pola yang saling mengisi satu sama lain—ketika yang kiri menyerang, yang kanan sudah mengunci sudut perlindungan; ketika yang kanan mundur, yang kiri sudah melanjutkan tekanan.

Teknik Bayangan Kembar— sesuatu di dalam diri Yu Fan yang tidak punya nama mengenali pola itu secara instan.

Yu Fan melempar setengah tombak yang ada di tangannya ke udara. Dalam setengah detik ia membiarkan dirinya mundur tiga langkah, memancing pria itu untuk maju lebih dalam dari yang seharusnya ia rencanakan sendiri. Saat jarak antara mereka kurang dari satu depa, Yu Fan menghentikan langkah mundurnya—mendadak dan total.

Pria bertopeng itu bereaksi cepat, memutar dua pedangnya dalam gerakan silang yang dirancang untuk memotong apapun yang ada di depannya.

Yu Fan mengepalkan tangan kanannya.

Energi Yin meledak dari kepalan itu dalam satu denyutan pendek—bukan ledakan besar yang dramatis, hanya satu denyutan yang sangat terkonsentrasi, sedingin inti bintang yang padam. Udara di depan kepalan itu mengeras sepersekian detik, membentuk sesuatu yang tidak kasat mata namun sangat nyata.

Kedua pedang merah itu menghantam dinding udara yang mengeras itu, dan memantul balik.

Tekanan pantul itu menghantam bahu dan pergelangan tangan pria bertopeng dengan gaya yang berlipat ganda dari kekuatan serangannya sendiri. Kedua pedang itu terlepas. Pria itu terdorong mundur empat langkah, berlutut dengan satu kaki, nafasnya memburu.

Di atas mereka, setengah tombak yang dilempar Yu Fan tadi akhirnya jatuh kembali—tepat menancap di tanah, dua senti di depan lutut pria bertopeng yang berlutut itu.

Sunyi.

Angin lembah berhembus pelan, mengangkat sedikit debu dari jalur berbatu.

Pria bertopeng itu mendongakkan kepalanya menatap Yu Fan dengan ekspresi yang untuk pertama kalinya tidak mengandung rencana apa pun. Hanya satu hal murni: ketidakpercayaan.

"Siapa... kau sebenarnya?"

Yu Fan tidak menjawab. Ia membalikkan badan, berjalan kembali ke arah Yuexin yang berdiri dengan pedang biru langitnya sudah setengah tercabut dari sarungnya, matanya memindai situasi sekitar dengan waspada.

"Sudah selesai?" tanya Yuexin.

"Sudah."

Yuexin memasukkan kembali pedangnya. Matanya menatap enam tubuh yang tergeletak atau berlutut di jalur lembah, lalu menatap punggung Yu Fan yang berjalan santai. "Yu Fan," panggilnya pelan.

"Apa?"

"Teknik terakhir yang kau gunakan. Dinding udara yang mengeras itu." Yuexin berhenti sebentar, memilih kata. "Itu bukan teknik dari ilmu yang diajarkan Kakek."

Yu Fan menghentikan langkahnya. Ia menatap telapak tangan kanannya sebentar—tidak ada bekas apa pun, tidak ada cahaya, tidak ada sisa energi yang terlihat. "Aku tahu," ucapnya akhirnya.

"Lalu dari mana asalnya?"

Jeda yang panjang. Di atas mereka, seekor elang melintas di celah sempit antara dua dinding tebing, terbang ke arah langit yang biru.

"Aku tidak tahu," jawab Yu Fan pelan. "Tubuhku yang tahu. Bukan aku."

Malam kelima, mereka berkemah di tepian sungai kecil yang mengalir di pinggir jalur utama. Api unggun kecil menyala di antara dua batu besar, dan suara air yang mengalir mengisi keheningan yang tidak terasa canggung.

Yuexin duduk bersila di depan api, membersihkan pedang biru langitnya dengan kain khusus yang selalu ia bawa dalam tas perjalanannya. Cahaya api bermain di permukaan bilah pedang yang sangat bersih, menciptakan pantulan berwarna oranye dan emas yang bergerak-gerak.

"Di Akademi," ucap Yuexin tanpa mengangkat wajahnya dari pedangnya, "kelas pertama yang akan kita masuki adalah Ujian Penerimaan. Semua calon murid baru—tidak peduli dari kerajaan mana atau sekte apa—harus melaluinya."

Yu Fan duduk sedikit jauh dari api, lebih nyaman di pinggiran lingkaran cahaya tempat bayangan mulai menebal. "Ujian apa?"

"Bertarung." Yuexin tersenyum tipis. "Di Akademi Langit Biru, semua hal diputuskan dengan pertarungan. Penerimaan, peringkat, hak belajar pada guru terbaik—semuanya. Di sana tidak ada nama kerajaan yang bisa membantumu. Tidak ada warisan keluarga yang bisa kau gunakan sebagai tameng."

Yu Fan menatap api. Di dalam kepalanya, sesuatu sedang bergerak pelan-pelan, seperti lapisan es yang mulai mencair perlahan dari tepinya. Bukan ingatan yang utuh—hanya sensasi, hanya rasa. Rasa bahwa Akademi Langit Biru bukanlah tujuannya yang sesungguhnya, melainkan sebuah jembatan menuju sesuatu yang jauh lebih besar dan jauh lebih berbahaya.

"Yuexin," ucapnya tiba-tiba.

"Hm?"

"Han Bihan." Ia mengucapkan nama itu dengan sangat hati-hati, seperti seseorang yang memegang pecahan kaca. "Kau pernah melihatnya langsung?"

Yuexin berhenti menggerakkan kainnya. "Tidak. Tapi kakek pernah. Waktu aku tanya bagaimana rupanya, Kakek hanya diam sebentar, lalu bilang..." Yuexin mengerutkan dahinya, mengingat. "Bahwa ada orang-orang yang wajahnya terlalu sempurna untuk dipercaya."

Yu Fan tidak menjawab. Ia hanya menutup matanya.

Dan di balik kelopak matanya yang terpejam, sekali lagi—sekelebat jubah putih yang berkibar, dan setetes darah emas di atas batu giok yang putih bersih.

Hari ketujuh. Dari puncak bukit terakhir sebelum dataran akademi, mereka melihatnya untuk pertama kalinya.

Akademi Langit Biru.

Kompleks bangunan yang sangat luas itu dikelilingi tembok tinggi berwarna biru pucat yang terbuat dari batu langit—jenis batu yang hanya bisa ditambang di ketinggian lebih dari sepuluh ribu kaki. Di dalam tembok itu, menara-menara berdiri dalam berbagai ketinggian, yang tertinggi menembus awan rendah yang menyelimuti kawasan akademi seperti selendang. Bendera-bendera dengan tujuh simbol berbeda berkibar di gerbang utama—tujuh sekte, tujuh warisan, satu arena.

Di antara bendera itu, di ujung paling kanan, berkibar sehelai bendera putih dengan gambar bunga teratai yang sangat detail di tengahnya.

Dada Yu Fan berdenyut.

Ia meremas tali kekang kudanya lebih erat, matanya tidak bisa lepas dari bendera itu meski ia inginkan.

"Sudah siap?" tanya Yuexin di sampingnya, meliriknya dengan ekspresi yang lebih serius dari biasanya.

Yu Fan melepaskan pandangannya dari bendera teratai itu. Ia menatap gerbang besar yang mulai terlihat di kejauhan, dijaga oleh dua patung naga batu raksasa yang seolah hidup karena ukiran yang begitu detail.

"Siap atau tidak," ucapnya akhirnya, "kita tetap harus masuk."

Kuda mereka melangkah turun dari bukit, menuju gerbang yang terbuka lebar, menuju ribuan orang yang belum mereka kenal, menuju pertarungan yang belum mereka ketahui bentuknya.

Dan di dalam saku jubah hitamnya, kepingan giok emas berdenyut sangat lemah—satu kali, seperti jantung yang mengingatkan pemiliknya bahwa ia masih hidup dan bahwa ada hutang yang belum terbayar di suatu tempat di langit yang jauh.

1
Jojo Shua
🔥🔥
Jojo Shua
🫰
Xiao
eumm
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
Muo
semangat thor/Determined//Determined/
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 2 replies
F.S
hai Pembaca sekalian kalau kalian suka dengan novel ini jangan lupa kasi rating 5 ya
WER
semangat author 👍👍👍👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya ". zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 3 replies
F.S
hehehe🤭 support terus
T28J
cocok sama saya Thor... 👍
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka..
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!