Ada nama yang tak pernah disebut.
Ada kebenaran yang selalu disembunyikan di balik senyuman.
Dan ada cinta yang tumbuh… tanpa benar-benar tahu siapa yang dicintai.
Dhea hanya ingin mencintai dengan sederhana.
Namun semakin dekat, ia justru menyadari—
tidak semua yang terlihat, adalah yang sebenarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NisfiDA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hidup Yang Berbeda
“Mbak Dhea, ini bunganya ditaruh di mana?” tanya seorang gadis bernama Nisa.
“Oh, kamu bisa taruh di ujung pojok sana ya,” jawab Dhea sambil tersenyum kecil.
“Baik, Mbak.”
Hari ini, Dhea akhirnya memiliki pegawai baru di toko bunganya.
Selama ini, ia selalu mengurus semuanya sendirian. Mulai dari membersihkan toko, menyusun bunga, melayani pelanggan, sampai mengantar pesanan sendiri.
Namun sekarang, Dhea memutuskan menerima seseorang untuk membantunya. Bukan karena tokonya sudah sangat besar.
Melainkan karena ia merasa kasihan kepada gadis itu. Nisa adalah anak perantauan yang sedang membutuhkan pekerjaan untuk membantu kehidupan keluarganya.
Dan Dhea tidak tega menolaknya.
“Capek nggak?” tanya Dhea saat melihat Nisa masih sibuk menyusun bunga.
Nisa langsung menggeleng cepat.
“Nggak kok, Mbak. Malah saya senang bisa kerja di sini.”
Dhea tersenyum kecil mendengar jawaban itu.
Walaupun hidup mereka sama-sama sederhana, setidaknya sekarang Dhea bisa membantu orang lain sedikit demi sedikit.
Kring!!!
Suara bel pintu terdengar membuat Nisa langsung berdiri tegak saat melihat seorang pria masuk ke dalam toko bunga itu.
“Selamat pagi, Mas. Mau cari bunga apa?” tanya Nisa dengan lembut.
Namun pria itu justru tersenyum kecil sambil melihat ke arah Dhea.
“Eh, kamu punya pegawai baru ya sekarang?”
Seketika Dhea langsung menoleh. Dan wajahnya langsung berubah cerah saat melihat siapa yang datang.
“Mas Aren!”
Aren tersenyum kecil sambil berjalan mendekat ke arah meja kasir. Sedangkan Nisa terlihat sedikit bingung melihat perubahan ekspresi Dhea yang tiba-tiba menjadi sangat senang.
“Iya,” jawab Dhea sambil mengangguk kecil. “Sekarang Dhea punya pegawai baru.”
Aren lalu menatap Nisa sekilas dan menganggukkan kepalanya sopan.
“Bagus dong. Jadi kamu nggak terlalu capek lagi.”
Dhea langsung tersenyum kecil mendengar nada perhatian dari Aren.
Sedangkan Nisa diam-diam memperhatikan mereka berdua bergantian. Entah kenapa, suasana di antara Dhea dan pria itu terasa berbeda.
“Mbak kenal Mas ini?” tanya Nisa dengan wajah bingungnya.
Seketika Dhea langsung sedikit salah tingkah.
“I-iya,” jawabnya pelan sambil melirik Aren sekilas. “Mas Aren teman dekat Mbak.”
Deg.
Entah kenapa, ucapan itu membuat Aren tersenyum kecil tanpa sadar. Sedangkan Nisa langsung mengangguk paham.
“Owalah, pantas saja Mbak Dhea langsung senang banget pas Mas ini datang,” goda Nisa kecil.
“Nisa…” rengek Dhea malu.
Aren justru terkekeh pelan melihat wajah Dhea yang mulai memerah.
“Kalau begitu aku nggak ganggu kalian kerja dulu,” ucap Aren santai sambil bersandar kecil di dekat meja kasir.
Namun baru beberapa detik kemudian.
“Mas Aren mau minum?” tanya Dhea cepat.
Hal itu langsung membuat Nisa menatap Dhea diam-diam.
Karena baru kali ini, ia melihat Dhea terlihat sangat perhatian kepada seseorang.
“Tapi kalau dibilang teman dekat, kayaknya nggak deh, Mbak,” ucap Nisa sambil menatap Dhea dan Aren bergantian.
Dhea langsung mengernyit bingung.
“Lalu seperti apa?” tanya Aren santai sebelum Dhea sempat berbicara.
Nisa langsung tersenyum kecil.
“Seperti pasangan kekasih kalian berdua.”
Deg.
Seketika wajah Dhea langsung memerah.
Sedangkan Aren justru terlihat santai sambil menahan senyum kecilnya.
“Oh? Memangnya terlihat seperti itu?” tanyanya lagi.
“Iya benar,” jawab Nisa cepat.
“Kelihatan banget seperti pasangan.”
“Mas Aren…” rengek Dhea malu sambil melirik Aren.
Namun pria itu malah terlihat semakin ingin menggodanya.
“Iya sih,” ucap Aren santai.
“Memang masih belum.”
Seketika Dhea langsung menoleh cepat ke arah Aren.
“Karena Dhea belum menjawabnya,” lanjut Aren sambil tersenyum kecil.
Deg.
Mata Nisa langsung membesar karena terkejut. Sedangkan wajah Dhea kini benar-benar merah sampai ke telinganya.
“M-mas!” protesnya panik.
Aren justru terkekeh kecil melihat reaksi Dhea yang salah tingkah begitu.
“Kenapa Mbak Dhea belum menjawabnya?” tanya Nisa polos.
“Nanti Masnya diambil orang loh, Mbak, kalau kelamaan jawabnya.”
Deg.
Seketika Dhea langsung membelalakkan matanya malu.
“Nisa!” protesnya panik.
Namun Nisa justru tertawa kecil melihat reaksi Dhea yang begitu gugup. Sedangkan Aren terlihat sangat menikmati situasi itu.
“Benar juga sih,” ucap Aren santai sambil mengangguk kecil.
“Aku kan lumayan.”
“Mas Aren!” Dhea langsung semakin salah tingkah.
Aren justru terkekeh pelan.
“Loh, memang salah?”
Dhea langsung menutupi wajahnya malu.
Sedangkan Nisa diam-diam tersenyum geli melihat mereka berdua. Karena menurutnya, hubungan Dhea dan Aren memang sudah terlihat seperti pasangan sejak awal.
“Kalau saya jadi Mbak Dhea,” lanjut Nisa santai. “Dari kemarin juga sudah saya ambil itu Masnya.”
Deg.
Seketika Aren langsung tertawa kecil. Sedangkan Dhea kini benar-benar tidak berani menatap wajah Aren lagi karena terlalu malu.
“Sudah, sudahlah,” ucap Aren sambil menahan tawanya kecil.
“Ini, aku membawakan kalian camilan.”
Aren lalu meletakkan tiga kantong kecil berwarna hitam di atas meja kasir.
Mata Dhea langsung membesar.
“Mas beli lagi?”
“Iya.”
Sedangkan Nisa terlihat penasaran sambil melirik isi kantong tersebut.
“Wah, banyak banget…”
Dhea langsung menatap Aren dengan wajah tidak enak.
“Mas, kenapa jadi sering banget beliin makanan begini sih?”
“Karena aku mau,” jawab Aren santai seperti biasanya.
Dhea langsung menghela napas pasrah. Sedangkan Nisa justru terkekeh kecil melihat tingkah mereka berdua.
“Masnya benar-benar suka memanjakan Mbak Dhea ya,” godanya.
Deg.
Seketika Dhea kembali salah tingkah.
“Nisa…”
Namun Aren justru tersenyum kecil tanpa menyangkal ucapan itu sama sekali.
“Memang iya,” jawabnya santai.
Mata Dhea langsung membelalak malu. Sedangkan Nisa kini benar-benar yakin, hubungan mereka tinggal menunggu waktu saja untuk resmi bersama.
“Terus, ini Mas mau ke mana lagi?” tanya Dhea kepada Aren sambil memperhatikan pria itu yang berdiri di depan meja kasir.
Aren langsung memasukkan kedua tangannya ke saku celana sambil tersenyum kecil.
“Hm… sebenarnya aku mau kerja.”
“Loh?” Dhea langsung terkejut.
“Mas kerja?”
Mendengar pertanyaan polos itu, Nisa langsung menahan tawanya. Sedangkan Aren mengangkat satu alisnya.
“Memangnya aku kelihatan pengangguran?”
“Iya sedikit,” jawab Dhea jujur.
Seketika Nisa langsung tertawa kecil.
“Dhea!” protes Aren sambil ikut tertawa.
“Habisnya Mas sering banget datang ke sini.”
“Karena aku memang sengaja nyempetin waktu buat datang.”
Deg.
Seketika Dhea langsung terdiam mendengar jawaban itu.
Sedangkan Aren terlihat santai seperti tidak merasa mengatakan sesuatu yang membuat jantung Dhea berdetak lebih cepat.
“Mas kerja apa?” tanya Nisa penasaran.
“Aku punya butik dan studio rias.”
Mata Nisa langsung membesar kagum.
“Wah, pantesan Mas Aren jago dandan.”
Aren terkekeh kecil.
“Lumayan.”
Sedangkan Dhea kini justru menatap Aren diam-diam.
Karena semakin lama, ia baru sadar kalau kehidupan Aren dan dirinya benar-benar sangat berbeda jauh.
“Nanti aku akan membawamu ke butik dan studio riasku,” ucap Aren santai sambil menatap Dhea.
Seketika mata Dhea langsung membesar.
“Serius?”
Aren mengangguk kecil.
“Iya.”
“Mas punya butik sebesar itu?”
“Lumayan.”
Sedangkan Nisa terlihat kagum mendengar ucapan Aren.
“Wah, keren banget…”
Namun berbeda dengan Nisa, Dhea justru terlihat sedikit gugup.
“Tapi… Dhea takut mengganggu nanti.”
Aren langsung mengernyit kecil.
“Mengganggu bagaimana?”
“Ya… kehidupan Mas sama Dhea kan beda banget.”
Deg.
Ucapan itu langsung membuat Aren terdiam sesaat. Sedangkan Dhea perlahan menundukkan pandangannya.
“Mas punya butik, studio rias, terus hidupnya juga bagus,” lanjutnya pelan. “Sedangkan Dhea cuma punya toko bunga kecil begini.”
Seketika Aren langsung berjalan mendekat ke arah Dhea. Lalu tanpa ragu, pria itu mengetuk pelan kening Dhea.
Tok!
“Awhh…”
“Mulai lagi kebiasaan buruknya,” ucap Aren sambil menghela napas kecil. “Kenapa harus membandingkan hidup kita?”
“Kan memang kenyataannya begitu…”
“Terus kenapa kalau berbeda?”
Tatapan Aren perlahan melembut.
“Aku nggak pernah melihat kamu dari semua itu, Dhea.”
Deg.
Seketika Dhea langsung terdiam. Sedangkan Aren tersenyum kecil sambil mengusap pelan kepala gadis itu.
“Jadi berhenti berpikir aneh-aneh lagi, hm?”
“Iya, iya,” ucap Dhea sambil mengelus pelan keningnya.
“Tapi nggak harus juga mengetuk kening Dhea begitu ih. Sakit, Mas.”
Aren langsung terkekeh kecil melihat wajah cemberut Dhea.
“Biar sadar.”
“Mas hobinya nyakitin Dhea ya sekarang.”
“Loh, tadi juga siapa yang nabrak tiang listrik sendiri?”
“Ihh, jangan dibahas lagi,” rengek Dhea malu.
Sedangkan Nisa yang melihat mereka sejak tadi hanya bisa menahan tawanya.
“Lucu banget sih kalian,” gumamnya pelan.
Seketika Dhea langsung salah tingkah.
“Nisa jangan ikut-ikutan.”
Namun Aren justru terlihat semakin santai.
“Memang lucu kok.”
Deg.
Wajah Dhea langsung kembali memerah. Sedangkan Aren malah tersenyum kecil melihat reaksinya yang selalu mudah malu seperti itu.