Vero terjebak dalam Time Loop. Dia adalah satu-satunya orang yang mengingat ledakan itu. Dia harus menemukan pelakunya, menjinakkan bom, dan menyelamatkan seisi kota Jakarta. Namun, takdir memiliki aturan main yang kejam: Setiap kali Vero gagal dan mati, waktu yang dimilikinya berkurang satu menit.
Loop pertama: 60 menit.
Loop kedua: 59 menit.
Loop ketiga: 58 menit.
Dengan waktu yang terus tergerus, Vero dipaksa belajar menjadi detektif, tentara, dan penyusup dalam hitungan jam yang berulang. Di tengah kepanikan massal dan teror psikologis, dia menyadari satu hal mengerikan: Pelakunya mungkin bukan orang asing, dan ledakan ini hanyalah permulaan.
Ketika hitungan mundur mendekati nol, Vero tak hanya bertaruh nyawa—dia bertaruh pada keberadaan itu sendiri.
Bisakah dia menghentikan kiamat kecil ini sebelum waktunya habis total?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: WARNA TERAKHIR
07:09:05
Vero tidak membuang waktu untuk bernapas. Dia tidak membuang waktu untuk menenangkan diri.
Begitu kesadarannya kembali, tubuhnya melesat dari kursi seperti peluru yang ditembakkan dari laras senapan.
Wanita tua di sebelahnya bahkan belum sempat membuka mulut untuk menyapa, tapi Vero sudah berada lima langkah di depannya.
Dia tidak mendekati Sarah.
Dia tidak membutuhkan jurnalis itu lagi untuk saat ini. Dia tidak membutuhkan sketsa, tidak membutuhkan teori, dan tidak membutuhkan validasi.
Dia sudah memiliki jawaban—atau setidaknya, opsi terakhir dari jawaban itu.
Vero menyambar gunting dari pangkuan ibu perajut di ujung gerbong dengan gerakan yang begitu cepat dan kasar hingga ibu itu berteriak kaget, "Copet! Tolong!"
Vero mengabaikannya. Teriakan itu hanyalah kebisingan latar belakang.
Dia menendang pintu penyambung gerbong.
BRAKK!
Pria Jaket Hitam di Gerbong 4 menoleh. Matanya melebar, mengenali ancaman yang datang menerjang.
Tapi kali ini, Vero datang dengan persiapan penuh. Dia sudah mati di tangan pria ini dua kali—sekali ditusuk, sekali diledakkan. Dia sudah hafal setiap gerakan mikro-ekspresinya.
Saat Pria Jaket Hitam itu menggerakkan tangan kirinya ke saku dalam jaket untuk mengambil pisau, Vero tidak menghindar. Dia melempar tas ranselnya sendiri tepat ke arah wajah pria itu untuk menghalangi pandangan, lalu menerjang masuk ke pertahanan lawan (tackle).
"Arggh!"
Mereka berdua jatuh berguling di lantai gerbong. Penumpang menjerit dan berhamburan.
Vero tidak membiarkan pria itu bangkit. Dia mendaratkan satu pukulan keras tepat di hidung si Pria Jaket Hitam.
Buagh!
Darah segar muncrat. Pria itu pusing sejenak. Pisau lipatnya terlempar jauh.
Tangan kanan pria itu masih mencoba merogoh saku jaket luar—mencari pemicu manual.
"Tidak akan!" geram Vero.
Dia menahan tangan kanan pria itu dengan lututnya, menekan sekuat tenaga hingga terdengar bunyi tulang retak. Pria itu melolong kesakitan.
Vero mengabaikan pergumulan itu. Matanya terkunci pada satu objek: Tas hijau yang tergeletak miring di samping mereka. Ritsletingnya sudah terbuka separuh akibat benturan.
Vero mengulurkan tangan kanannya yang memegang gunting.
Dia melihat kabel-kabel itu.
Merah (salah).
Biru (salah).
Kuning (salah).
Hitam.
Ini dia. Momen kebenaran.
Jika Hitam juga salah, maka Vero benar-benar tidak punya harapan. Jika Hitam meledak, berarti tidak ada jalan keluar teknis dari neraka ini.
"JANGAN!" teriak Pria Jaket Hitam, meludah darah ke wajah Vero.
Vero tidak peduli.
Gunting itu menjepit kabel Hitam.
Ceték.
Kabel Hitam putus.
Vero memejamkan mata, otot-ototnya menegang, menunggu api. Menunggu kehampaan.
Satu detik.
Dua detik.
Tiga detik.
Jantung Vero berdetak di telinganya seperti genderang perang.
Hening.
Vero membuka satu matanya perlahan.
Dia melihat ke arah kotak sirkuit digital pada bom itu.
Lampu indikator merah yang biasanya berkedip pelan... kini mati total.
Layar digital gelap.
Tidak ada suara beep. Tidak ada hitungan mundur. Tidak ada ledakan.
Bom itu mati.
Benda itu kini hanyalah tumpukan tanah liat C-4 dan kabel rongsokan tanpa nyawa.
Sebuah gelombang euforia meledak di dada Vero. Dia ingin tertawa. Dia ingin menangis.
"Berhasil..." bisiknya, suaranya gemetar. "Kabel Hitam. Jawabannya Hitam!"
Dia menoleh ke bawah, menatap Pria Jaket Hitam yang masih ditindihnya.
Pria itu menatap bomnya dengan wajah tidak percaya. Dia menekan-nekan tombol pemicu di saku jaketnya dengan panik.
Klik. Klik. Klik.
Tidak ada reaksi. Sinyal penerima sudah diputus.
Vero tertawa lepas. Tawa kemenangan.
"Sudah berakhir, bangsat! Mainanmu rusak!" teriak Vero tepat di wajah pria itu. "Kau kalah! Kita semua selamat!"
Pria Jaket Hitam itu berhenti menekan tombol.
Ekspresi paniknya perlahan menghilang. Digantikan oleh tatapan dingin yang membuat tawa Vero tercekat di tenggorokan.
"Kau pikir ini permainan?" bisik pria itu.
"Apa?"
"Kau pikir aku datang ke sini tanpa rencana B?"
Pria itu menyentakkan pinggulnya dengan kekuatan luar biasa, membuat keseimbangan Vero goyah. Tangan kiri pria itu—yang tadi kehilangan pisau—bergerak ke bagian belakang celananya, di balik punggung, di area pinggang yang tidak pernah diperiksa Vero sebelumnya karena dia terlalu fokus pada bom dan pisau.
Vero melihat kilatan logam hitam.
Bukan bom. Bukan pisau.
Pistol.
Sebuah Glock 19 hitam pekat.
Mata Vero membelalak. "Tung—"
Pria Jaket Hitam itu tidak ragu. Dia tidak berpidato. Dia tidak memberi ancaman.
Dia menarik pelatuknya dari jarak nol sentimeter.
DOR!
Suara letusan itu memekakkan telinga di ruang tertutup gerbong.
Vero merasakan hantaman keras di dadanya, tepat di jantung.
Dunia berputar. Tubuhnya terlempar ke belakang, jatuh telentang di lantai gerbong yang dingin.
Langit-langit gerbong berputar.
Dia melihat Pria Jaket Hitam itu berdiri, mengusap darah dari hidungnya, pistol tergenggam erat di tangan kanan.
Penumpang lain menjerit histeris, tiarap, memohon ampun.
"Tolong! Jangan tembak!"
Pria itu menatap Vero yang terkapar. Napas Vero tersengal, darah membanjiri paru-parunya.
"Bom itu seni," kata pria itu datar, menatap mayat bomnya. "Tapi peluru tetap praktis."
Dia mengarahkan pistolnya ke kepala Vero untuk tembakan penutup.
"Sampai jumpa di neraka."
DOR!
Gelap.
Sentakan kasar.
Vero tersentak bangun, tangannya refleks mencengkeram dadanya. Jantungnya berdegup kencang—jantung yang sedetik lalu hancur diterjang peluru, kini berdetak utuh dan kuat.
Dia hidup.
Dia kembali.
Vero menunduk, melihat jam tangannya.
07:10:05.
Dia kehilangan satu menit lagi.
Tapi kali ini, di balik rasa sakit sisa kematian dan trauma suara tembakan itu, ada sebuah senyum tipis di bibir Vero. Senyum yang menakutkan.
Dia tahu cara mematikan bomnya.
Kabel Hitam.
Tapi dia juga belajar satu hal fatal: Mematikan bom saja tidak cukup. Pelaku itu bersenjata lengkap. Pisau di saku kiri dalam. Pemicu di saku kanan luar. Pistol di pinggang belakang.
Dia bukan hanya teroris. Dia mesin pembunuh yang siap mati.
"Oke," bisik Vero, matanya menyala dengan tekad baru yang lebih dingin. "Sekarang aku tahu semua kartumu."
Loop berikutnya bukan lagi tentang eksperimen.
Loop berikutnya adalah tentang eksekusi.
Dia harus melumpuhkan pria itu sepenuhnya, mengambil senjatanya, baru mematikan bomnya.
Dan dengan waktu yang tersisa kurang dari 50 menit, Vero tahu dia harus menjadi lebih dari sekadar akuntan yang beruntung. Dia harus menjadi pembunuh yang lebih baik daripada si pembunuh itu sendiri.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
about a time,project almanac ,edge of tomorrow,the butterfly effect,until dawn dsb...time loop sendiri didunia nyata mustahil terjadi ..🤔🤔🤔