NovelToon NovelToon
Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Reinkarnasi: Hamil Anak Pameran Utama Pria

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Masuk ke dalam novel / Penyesalan Suami
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Unamed

Valeria Francesca terbangun di dalam tubuh wanita antagonis sebuah novel yang ditakdirkan mati tragis di meja operasi setelah kedoknya membobol keluarga konglomerat terbongkar. Di cerita asli, wanita ini menipu sang CEO, Alessandro Dirgantara, menggunakan pahlawan palsu dan jebakan kehamilan untuk memaksa menikah.

Saat terbangun di momen tepat sebelum melabrak Alessandro dengan hasil tes kehamilan, Valeria langsung merobek kertas itu. Demi selamat dari maut, ia memilih pura-pura penurut sambil diam-diam menabung untuk kabur.

Namun saat Valeria menyelinap ke rumah sakit untuk aborsi diam-diam agar bisa lari dengan tenang, Alessandro justru mendobrak pintu ruang operasi dengan mata memerah dan membentak, "Siapa yang memberi kamu izin menggugurkan anak kita?!"

Valeria melongo. Bos, bukankah di novel aslinya kamu yang paling ingin anak ini mati?!

!!(KARYA INI MURNI FIKTIF PENULIS)!!
!!(TEMPAT,LATAR MURNI IMAJINASI)!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Unamed, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14: Jeratan Hitam Yang Provokatif

Valeria Francesca hanya bisa meluncurkan seulas tawa kering, sama sekali tidak memiliki keberanian mental untuk memberikan respons verbal atas desakan Jovanka. Jika dirinya benar-benar nekat mengenakan busana transparan ekstrem seperti itu di depan mata Alessandro, ia dipastikan akan langsung mati di tempat karena menahan rasa malu sosial yang luar biasa dahsyat.

Setelah resmi berpamitan dan memisahkan diri di depan pintu gerbang utama pusat perbelanjaan, Valeria segera memesan taksi daring murni untuk mengantarkan dirinya pulang kembali menuju ke vila.

Di tengah jalannya rute perjalanan pulang, ponsel genggam di dalam tas mewahnya mendadak berdering kencang. Ia merogoh tasnya, menarik keluar gawai tersebut, dan seketika itu juga sepasang alis cantiknya langsung bertaut rapat begitu melihat layar digitalnya sedang berkedip-kedip memancarkan sebuah nama kontak panggilan masuk: "Ibu".

Mengingat rentetan catatan masa lalu yang teramat rumit, Valeria sama sekali tidak memiliki niat atau ketertarikan batin untuk menggeser tombol hijau. Ia membiarkan panggilan telepon tersebut terus berdering hingga akhirnya terputus secara otomatis karena kehabisan waktu. Namun, tepat pada detik di saat ia mengira pihak di seberang sana sudah menyerah, alunan nada dering gawai tersebut mendadak kembali bergaung hebat untuk kedua kalinya. Tingkat persistensi dan kegigihan panggilan yang terlampau agresif itu memberikan sebuah sinyal penegasan yang jelas; bahwa pihak pemanggil mutlak tidak akan pernah sudi berhenti menerornya sebelum Valeria bersedia mengangkat telepon.

Tidak memiliki alternatif pilihan lain, Valeria akhirnya terpaksa menggeser layar untuk menerima sambungan panggilan tersebut. Namun, belum sempat ia membuka bibir murni untuk meluncurkan sebaris kalimat sapaan formal, sebuah intonasi suara wanita paruh baya yang sarat akan nada ketidakpuasan, tuntutan, dan kejengkelan pekat sudah lebih dulu merangsek maju memotong udara dari seberang garis telepon. "Valeria! Kenapa sampai detik ini kamu belum juga mengirimkan jatah setoran uang bulanan untuk keluarga, hah?! Sisa pasokan uang di rumah sudah menipis dan kami semua sekarang sedang duduk manis menunggu kiriman dana dari kamu!"

Berdasarkan lembaran rahasia alur novel orisinal, semenjak detik pertama pemilik raga terdahulu berhasil mengamankan posisinya untuk menjadikan seorang Alessandro Dirgantara sebagai sosok pria pelindung sekaligus sumber finansialnya, wanita matre itu secara konsisten telah mentransformasikan dirinya menjadi sosok donatur tunggal yang menyokong seluruh kelangsungan hidup keluarganya di belakang jangkauan mata Alessandro. Seluruh pasokan uang saku bulanan yang fantastis, jajaran tas mewah bermerek, hingga ratusan perhiasan berlian berharga mahal yang didelegasikan oleh Alessandro... secara sepihak selalu habis ia peras murni untuk dikirimkan pulang demi memberikan dana bantuan darurat bagi keluarganya.

Tidak hanya wajib menanggung seluruh biaya operasional gaya hidup mewah kedua orang tuanya, Valeria asli bahkan juga dipaksa pasrah untuk melunasi seluruh rentetan utang pinjaman modal akibat kasus judi dan gaya hidup tidak sehat milik adik laki-lakinya. Seiring berjalannya roda waktu, tabiat buruk dari kedua orang tua Valeria asli akhirnya resmi berkembang menjadi sebuah kebiasaan beracun; mereka akan secara konsisten meluncurkan panggilan teror menuntut kiriman uang secara tepat waktu di setiap bulannya, benar-benar memperlakukan eksistensi sang anak perempuan kandung laksana sebuah mesin ATM berjalan yang tidak memiliki batas kuota.

Valeria menarik napas pendek, lalu menyahut menggunakan nada suara yang dibuat selayu mungkin, "Ibu... untuk bulan ini, aku bener-bener lagi nggak pegang pasokan uang tunai sama sekali di dalam dompetku."

Mendengar pengakuan tersebut, wanita paruh baya di seberang telepon yang bernama Helena sama sekali tidak memercayai untaian kalimat sang anak. Intonasi suaranya seketika meledak naik beberapa oktav, memekakkan telinga. "Bagaimana mungkin seorang wanita sepertimu bisa mendadak kehabisan pasokan uang, Valeria?! Bukankah kamu sudah berhasil menempel ketat dan mengunci hidup seorang pria konglomerat terkaya di kota ini? Di bawah perlindungan pria raksasa selevel Alessandro, alasan kegilaan macam apa yang membuatmu bisa sampai kekurangan uang?!"

Valeria yang sudah memprediksi arah serangan verbal tersebut tentu saja sudah menyiapkan sebaris kalimat alasan pembelaan diri yang teramat rasional di otaknya. "Seluruh jajaran tas mewah pemberian Alessandro yang kemarin sempat aku kirimkan pulang ke rumah... tempo hari posisinya secara tidak sengaja berhasil diendus dan diketahui oleh pihak Alessandro sendiri, Ibu. Pria itu mengamuk hebat menuduhku menyalahgunakan kebaikannya, dan akibat dari insiden itu, saat ini hubungan asmara kami sedang terjebak di dalam fase perang dingin yang teramat kaku. Alessandro memutus seluruh akses kartu kredit bulananku dan sama sekali nggak mau memberikan sepeser pun uang saku tambahan untukku sekarang."

Jika dipikirkan menggunakan logika keselamatan, jika saja pemilik raga terdahulu tidak terlahir memiliki lingkaran struktur keluarga parasit yang teramat mengisap darah laksana vampir seperti ini... Valeria yang sekarang dipastikan sudah sejak lama meluncurkan taktik pelarian darurat dengan cara mencairkan seluruh aset kekayaan pribadinya untuk kemudian kabur hidup tenang di belahan negara lain tanpa perlu repot-repot menanggung risiko menghadapi murka Alessandro di masa depan.

Helena terdengar mengeluarkan suara gerutuan ketus yang sarat akan kedengkian dari balik telepon. "Halah! Dasar gerombolan kalangan kaum borjuis kaya raya yang terlahir pelit dan kikir! Itu kan murni cuma perkara seonggok tas mewah sepele doang! Barang-barang itu kan esensinya sudah resmi dihadiahkan penuh untuk menjadi hak milik kamu, jadi apa celah kesalahannya jika seorang anak berinisiatif mengirimkan aset pribadinya murni untuk membantu ekonomi rumah orang tuanya?! Menurut pandangan Ibu, pria kaya itu murni cuma lagi cari-cari alasan busuk aja karena dari sananya dia emang pelit dan nggak sudi kasih kamu pasokan uang tambahan!"

Valeria tidak memiliki sisa minat atau energi batin murni untuk meluncurkan debat kusir melawan kebebalan logika sang ibu. Ia hanya menyahut dengan nada suara yang acuh tak acuh dan pasrah, "Iya, iya, Ibu... aku paham. Berikan aku ruang waktu beberapa hari ke depan murni untuk meluncurkan taktik manja guna membujuk kembali suasana hati Alessandro. Begitu hubungan kami mencair dan akses aliran uang sakuku sudah resmi dipulihkan kembali olehnya, aku berjanji akan langsung mengirimkan setoran dananya ke rekening Ibu."

Mengingat di sepanjang lembaran sejarah masa lalu sang anak perempuan memang selalu terbukti teramat rajin mengirimkan upeti dana tunai dan barang mewah ke rumah setiap beberapa hari sekali, Helena akhirnya memilih untuk memercayai kebohongan Valeria tanpa menaruh prasangka lebih lanjut. Ia meluncurkan kalimat desakan terakhir dengan nada memerintah yang kental, "Kalau begitu, kamu harus bergerak cepat untuk membujuknya! Jangan menunda-nunda waktu lagi! Begitu dana tunainya sudah berhasil kamu cairkan dari tangannya, detik itu juga kamu wajib langsung mentransfer seluruh isinya ke rekening rumah, kamu dengar tidak?!"

Valeria memberikan suara gumaman afirmasi yang teramat malas murni untuk memenuhi formalitas jawaban, lalu segera berburu sebaris alasan kesibukan darurat murni agar bisa memutuskan sambungan telepon beracun tersebut secepatnya. Sekarang, karena kendali jiwa yang menempati raga fisik ini sudah sepenuhnya beralih ke dalam genggaman kesadarannya, ia bersumpah demi apa pun tidak akan pernah sudi bersikap sebodoh pemilik terdahulu murni untuk terus pasrah membiarkan dirinya dijadikan sebagai seonggok mesin ATM abadi bagi lingkaran keluarga parasit tersebut.

Begitu kendaraan taksi daringnya menapakkan kaki di area halaman teras vila pribadi sore harinya, Valeria segera meletakkan seluruh barang bawaan mewah di atas sofa ruang tengah, lalu meluncurkan tubuh fisiknya naik ke lantai atas menuju kamar mandi utama murni untuk menunaikan ibadah mandi sore terlebih dahulu. Setelah menghabiskan waktu berjam-jam murni untuk memeras otak di meja mahjong otomatis serta dipaksa melewati fase olahraga batin di dalam butik pakaian dalam mewah bersama gerombolan sosialita tadi, seluruh permukaan kulit tubuhnya saat ini terpantau telah basah kuyup dibanjiri kepulan peluh keringat, membuat material pakaian formal harian yang melekat di tubuhnya terasa teramat lengket menempel di kulit punggungnya.

Setelah menyelesaikan seluruh ritual mandi sore dan membungkus raganya dengan setelan piyama tidur berbahan katun yang longgar, Valeria melangkah turun menyusuri anak tangga menuju ke arah area dapur bawah murni untuk menuangkan secangkir air putih dingin guna membasahi tenggorokannya yang terasa teramat kering.

Namun, mungkin disebabkan oleh faktor permukaan telapak tangan yang masih dalam kondisi basah dan belum dikeringkan secara sempurna pasca mandi, permukaan gelas kaca bening yang baru saja ia tarik keluar dari dalam lemari nakas mendadak tergelincir bebas dari sela-sela jangkauan jemarinya, meluncur jatuh ke atas lantai, lalu menggelinding cepat masuk terperosok ke area kolong bawah kabinet dapur yang teramat sempit.

"Ah! Sialan!"

Valeria meluncurkan sebaris pekikan kecil penuh kejengkelan, lalu dengan gerakan refleks segera memosisikan seluruh tubuh fisiknya murni untuk berjongkok rendah di atas lantai tegel demi menjangkau dan memburu keberadaan gelas kaca tersebut dari balik kegelapan kolong kabinet.

Tepat pada detik krusial di saat Valeria sedang memosisikan tubuhnya dalam gestur berjongkok dengan posisi bagian bokongnya yang padat meliuk terangkat tinggi ke udara terbuka demi meraba-rabba area kolong kabinet yang dalam... siluet postur tubuh tegap Alessandro Dirgantara terpantau baru saja resmi menapakkan kaki melintasi koridor ruang tengah untuk pulang ke rumah.

Langkah kaki tegap sang CEO besar seketika terhenti kaku tepat di batas ambang ruang dapur begitu indra penglihatannya disuguhkan oleh sebuah visualisasi pemandangan yang teramat eksotis dan provokatif dari arah depan. Di balik remang pencahayaan sore dapur, ia melihat Valeria sedang sibuk meraba-raba kolong kabinet, di mana setelan piyama katun tipis yang ia kenakan saat ini terpantau telah bergeser dan tersingkap naik ke atas akibat pergerakan agresifnya, secara otomatis mengekspos sebaris lekuk pinggang rampingnya yang berkulit putih bersih sehalus porselen di udara terbuka.

Terlebih lagi, akibat dari gestur tubuh Valeria yang sedang membungkuk dalam dengan posisi bokong yang terangkat tinggi menantang ruang, material kain celana piyama katunnya yang tipis seketika mengetat kuat, mencetak dan mengekspos setiap lekuk kurva pinggul femininnya yang teramat padat, sintal, dan memikat mata dalam anatomi yang teramat sempurna. Wanita itu bahkan sempat menggerak-gerakkan dan menggoyang-goyang posisi pinggulnya ke arah kanan dan kiri demi memperluas jangkauan jemarinya di dalam kolong, sama sekali tidak menyadari betapa sugestif, intim, dan berbahaya visualisasi gestur tubuhnya tersebut bagi kesehatan mental pria normal yang sedang berdiri mengintip di belakang punggungnya.

Sepasang kelopak mata Alessandro seketika berkedut hebat, dan dalam satu kedipan mata saja, seluruh sorot manik mata hitamnya yang setajam elang langsung bertransformasi menjadi kian gelap gulita, dipenuhi oleh kepulan hawa gairah purba yang mendadak meletup membakar akal sehatnya.

Setelah berjuang keras selama beberapa menit, jemari Valeria akhirnya berhasil menyentuh dan menarik keluar permukaan gelas kaca tersebut dari balik kolong. Ia segera menegakkan kembali posisi berdirinya, namun tepat pada detik saat sudut matanya tidak sengaja menangkap adanya seonggok bayangan hitam tinggi sedang berdiri mematung di area ruang tengah, Valeria seketika tersentak kaku dilanda keterkejutan yang luar biasa hebat hingga gelas di tangannya hampir saja kembali meluncur jatuh ke lantai untuk kedua kalinya.

Sembari mengusap rongga dadanya yang berdegup kencang akibat efek kejut emosional, ia menatap Alessandro dengan sepasang mata bulat yang membelalak polos. "Ka-kamu... sejak kapan kamu udah resmi menginjakkan kaki di rumah, Ales? Mengagetkan orang saja!"

Jakun di tenggorokan Alessandro tampak bergerak naik dan turun secara perlahan akibat pria itu sedang bersusah payah meneguk paksa cairan ludahnya sendiri demi menstabilkan kembali kontrol suaranya yang hampir goyah. Ia memalingkan fokus pandangan matanya ke arah lain dengan gerakan kaku yang teramat cepat, menyahut datar, "Baru saja."

Alessandro menjeda kalimatnya satu detik murni untuk mendinginkan kepulan hawa panas di kepalanya sebelum melanjutkan pertanyaan kasual, "Aktivitas apa yang sedang kamu eksekusi di bawah lemari tadi?"

Valeria mengangkat gelas kaca di tangannya tinggi-tinggi ke udara laksana selembar dokumen bukti fisik. "Ini loh... gelas minumku tadi mendadak licin dan menggelinding masuk ke dalam kolong kabinet yang sempit, makanya aku terpaksa harus berjongkok murni buat ambil barangnya kembali."

Pandangan mata Alessandro perlahan kembali bergulir tipis, menyapu permukaan gelas di tangan Valeria sebelum akhirnya garis pandangannya secara tidak sengaja justru terperosok menatap ke arah struktur kerah bagian atas piyama katun Valeria; akibat potongan kain piyama yang terlampau longgar, pemandangan indah mengenai belahan dada putih mulus milik Valeria malam itu tampak terlihat terekspos samar-samar dari sudut berdirinya yang tinggi.

Pria berkuasa itu berdeham pendek demi membersihkan tenggorokannya yang mendadak kembali terasa kering, meluncurkan pertanyaan pendek menggunakan nada bariton yang dibuat sebersih mungkin dari adanya riak emosi pribadi, "Jam digital di dinding bahkan belum resmi menunjukkan waktu petang, kenapa kamu sudah menyelesaikan ibadah mandi sore seawal ini?"

Valeria menyahut dengan intonasi yang teramat kasual dan santai sembari jemarinya bergerak lincah memutar keran dispenser murni untuk menuangkan air putih hangat ke dalam gelasnya, "A-ah... itu, tadi siang aku kan sempat terpaksa pergi keluar murni untuk menemani Meisya dan gerombolan wanita sosialita lainnya bermain mahjong sekaligus berbelanja di pusat perbelanjaan bawah kota. Karena cuaca di luar sana lumayan terik dan gerah, seluruh tubuhku rasanya penuh dengan kepulan peluh keringat yang lengket, makanya aku memilih langsung mandi begitu menapakkan kaki di rumah."

Setelah menyelesaikan untaian kalimat penjelasannya, Valeria segera mengangkat gelas kaca tersebut tinggi-tinggi, lalu mulai meneguk aliran air hangat itu ke dalam kerongkongannya dengan gerakan yang teramat rakus demi menuntaskan rasa dahaga biologisnya. Kepalanya secara alami terangkat mendongak ke arah atas, mengekspos keindahan visual mengenai struktur leher jenjangnya yang berkulit putih bersih, mulus, di mana urat tenggorokannya tampak bergerak naik dan turun secara teratur menyerap aliran air. Beberapa butir tetesan air putih tampak tergelincir bebas keluar dari sudut belahan bibir ranumnya, mengalir lambat menyusuri permukaan dagu lancipnya sebelum akhirnya jatuh membasahi area tulang selangka atasnya, memancarkan sebuah aura sensualitas feminin yang teramat alami, polos, namun luar biasa memikat indra penglihatan.

Menyaksikan seluruh rangkaian adegan visual yang mematikan tersebut dari jarak dekat, Alessandro seketika merasakan adanya sekeranjang gelombang hawa panas yang teramat akrab... kembali meledak merangsek maju secara brutal dari dalam dadanya, meluncur lurus menguasai seluruh pembuluh darah di rongga perut bagian bawahnya.

Valeria menghentikan aktivitas minumnya setelah isi gelasnya tersisa sepertiga porsi, lalu meletakkan wadah kaca tersebut di atas meja counter. Begitu ia memutar tubuhnya dan mendapati siluet Alessandro ternyata masih terus berdiri kokoh mematung di posisi semula tanpa menggerakkan tapak kakinya sepeser pun, sebaris rasa bingung mendadak menyeruak di otaknya. Ia mengerjapkan matanya polos, lalu menawarkan bantuan, "Ales... kenapa kamu cuma berdiri diam terus dari tadi di situ? Apakah tenggorokan kamu saat ini juga sedang dilanda rasa haus biologis yang sama? Kalau iya, sini gelas kamu biar sekalian aku tuangkan air putih hangat dari dispenser."

Alessandro dengan gerakan cepat langsung menarik kembali seluruh fokus pandangan matanya dari area bibir Valeria, berbalik tubuh dengan gestur yang teramat kaku murni untuk menggantungkan mantel jas kerjanya di atas rak tiang kayu ruang tengah, sembari menurunkan sepasang manik mata hitamnya dalam kegelapan. "Tidak perlu repot-repot. Saya tidak sedang didera rasa haus."

Valeria tidak menaruh curiga atau memikirkan kejanggalan sikap tersebut lebih lanjut. Ia segera membilas kembali gelas kaca miliknya di bawah kucuran air keran wastafel, lalu menyusunnya kembali ke dalam rak penyimpanan lemari nakas dengan gerakan yang teramat manis.

Beberapa puluh menit setelah fase pendinginan batin selesai, pelayan wanita paruh baya rumah terpantau sudah selesai menata dan menyajikan seluruh rentetan menu masakan makan malam di atas meja makan raksasa, membiarkan kepulan aroma kelezatan kuliner yang teramat wangi merangsek maju memenuhi seluruh penjuru ruang udara rumah.

Karena sistem pencernaan dan kondisi organ lambung Valeria saat ini sudah dikonfirmasi telah pulih kembali ke status seratus persen sehat oleh tim medis rumah sakit siang tadi, otomatis untuk menu makan malam kali ini dirinya tidak lagi dipaksa pasrah untuk menelan cairan bubur putih hambar menyerupai lem kertas; ia sudah resmi mendapatkan hak hukumnya murni untuk bisa mengonsumsi hidangan kuliner normal seperti sedia kala.

Untuk menu jamuan makan malam istimewa kali ini, kepala pengasuh rumah tampak menyajikan tiga varian menu masakan kelas atas yang teramat menggugah selera: satu piring besar ayam panggang kecap kemangi yang harum, satu mangkuk sayur pakcoy siram kuah bawang putih hangat, serta satu porsi besar hidangan ikan kakap putih tim saus jahe spesial ala restoran bintang lima.

Namun, mungkin disebabkan oleh faktor anomali biologis dari fase trimester awal kehamilan muda yang sedang mendekam di dalam perutnya, tepat pada detik pertama saat kepulan aroma dari hidangan ikan kakap tim tersebut merangsek masuk menusuk rongga hidungnya... seluruh sistem saraf pencernaan Valeria seketika mendadak bergejolak hebat dilanda reaksi kram mual dan rasa ingin muntah yang teramat pekat menyengat pangkal tenggorokannya secara tidak terduga.

Oleh karena itu, di saat sepasang jemari lentiknya mulai bergerak mengayunkan sumpit murni untuk berburu lauk pauk di atas meja, Valeria secara sadar dan sengaja langsung membelokkan rute jangkauannya murni untuk menjauh dari radius piring ikan kakap; ia hanya terus konsisten memetik potongan daging ayam kecap serta sayuran hijau yang posisinya berada di area tepi meja.

Ketajaman radar pengamatan yang dimiliki oleh Alessandro Dirgantara tentu saja langsung berhasil menangkap adanya kejanggalan dari pergerakan gestur kecil sang kekasih. Pria berkuasa itu menurunkan garpunya sejenak, lalu melayangkan sebuah tatapan mata menyelidik yang tertuju lurus pada wajah Valeria. "Bukannya di dalam rentang lembaran sejarah kuliner kehidupan kamu selama ini... jenis hidangan ikan laut adalah menu makanan yang paling teramat kamu cintai dan puja di atas dunia ini, Valeria?"

Alessandro masih memiliki ingatan memori yang teramat jernih mengenai momen jamuan makan malam perdana mereka di restoran bintang lima beberapa bulan lalu pasca-resminya status pacaran mereka; saat itu, pemilik tubuh Valeria asli secara khusus sengaja memesan rentetan menu ikan laut porsi besar dan meluncurkan kalimat sesumbar manja bahwa dirinya mutlak tidak akan pernah bisa bertahan hidup bahagia di dunia ini jika sehari saja tidak disuguhkan hidangan ikan di atas meja makannya. Atas dasar rekaman data itulah, Alessandro merasa heran melihat tabiat sang wanita malam ini.

Seluruh urat saraf di dalam rongga dada Valeria seketika langsung mengetat kuat dilanda gelombang kepanikan darurat begitu mendengar kalimat interogasi tipis tersebut. Ia memaksakan otot wajah cantiknya agar tidak memancarkan gurat kegelisahan, berdeham kaku, lalu segera meluncurkan sebaris kalimat alasan pembelaan diri yang dibuat seolah-olah dirinya sedang bersuara manja, "A-ah... kalau urusan yang itu... itu murni karena penampakan fisik dari menu ikan kakap malam ini terlihat dipenuhi oleh jalinan ratusan duri tajam di sela-sela dagingnya, Ales. Aku lagi malas dan ogah banget kalau harus membuang waktu dan energi batin murni hanya untuk memilah duri-duri itu dari mulutku, terlampau merepotkan dan bikin emosi."

Alessandro sama sekali tidak meluncurkan kalimat bantahan verbal atau komentar sinis apa pun untuk menanggapi keluhan manja tersebut. Pria berkuasa itu hanya terdiam membisu, lalu dengan gerakan tangan yang teramat tenang dan anggun ia mulai mengayunkan sumpit peraknya sendiri menuju ke arah piring ikan kakap. Ia mengambil potongan daging yang terletak di area perut—bagian daging kakap yang paling tebal, lembut, kaya akan kandungan minyak ikan sehat, serta bersih dari adanya duri halus—lalu dengan tingkat kesabaran yang luar biasa detail ia mulai memisahkan setiap sisa duri yang menempel di sana secara steril, sebelum akhirnya meletakkan potongan daging ikan bersih tersebut tepat di atas permukaan mangkuk nasi milik Valeria.

Valeria seketika langsung tertegun kaku di tempat duduknya selama beberapa detik penuh, menatap ke arah potongan daging ikan di mangkuk nasinya sebelum akhirnya mengangkat wajah cantiknya murni untuk melayangkan sepasang mata bulat yang dipenuhi oleh binar takjub, syok, dan keterkejutan yang luar biasa besar ke arah wajah Alessandro.

Alessandro membalas tatapan mata bulat tersebut dengan ketenangan sedingin es yang lempeng. "Sekarang porsi daging ikan di mangkukmu sudah bersih total dari adanya sisa duri. Makanlah."

Sebentuk aliran gelombang kehangatan asing yang teramat tebal, lembut, dan mengharukan mendadak merangsek maju secara brutal, memenuhi seluruh rongga dada dan lubuk hati Valeria yang terdalam malam itu.

Asalkan ia mau bersikap jujur pada realitas kehidupannya, jangankan dari jajaran figur kakek atau nenek kandungnya di dunia nyata dulu, bahkan dari seluruh lingkaran pria atau mantan kekasih terdekat yang pernah singgah mengisi lembaran asmaranya di dimensi masa lalu... mutlak belum pernah ada satu pun sosok manusia yang memiliki tingkat kesabaran moral sepeka dan sedetail ini murni untuk bersedia meluangkan waktu membuang duri ikan dari atas piring demi kenyamanan makannya. Tindakan kecil namun sarat akan perlindungan emosional dari seorang Alessandro malam ini... benar-benar sukses mengguncang benteng pertahanan hatinya.

Menatap Valeria yang hanya terus duduk mematung menatap wajahnya dalam durasi yang terlampau lama laksana sebuah patung lilin, Alessandro menaikkan sebelah alis tebalnya, meluncurkan pertanyaan bariton rendah, "Ada apa? Kenapa kamu justru menatap saya seperti itu?"

Kesadaran jiwa Valeria seketika langsung tersentak bangun dari fase lamunannya. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya dengan gerakan yang teramat bertenaga demi mengusir seluruh debaran aneh yang sedang menari-nari di dalam dadanya. "N-nggak... nggak ada apa-apa kok, Ales! Cuma kaget aja, hehe."

Ia bersusah payah menekan kuat-kuat gejolak debaran romantis di hatinya, reminding fungsi otaknya kembali bahwa dirinya saat ini sedang berada di dalam misi penyamaran darurat demi melindungi keselamatan janin di perutnya. Menyadari bahwa sepasang manik mata hitam milik Alessandro saat ini sedang terus diam membisu menanti dirinya murni untuk menelan potongan daging ikan tersebut, Valeria terpaksa harus mengorbankan indra penciumannya; ia menutup rapat urat saraf hidungnya, menguatkan mentalnya, lalu menyuapkan potongan daging ikan kakap tersebut ke dalam mulutnya sebelum akhirnya dengan gerakan kilat langsung menyekop satu porsi besar nasi putih hangat ke dalam mulutnya murni untuk menindas dan menenggelamkan reaksi mual yang sempat bergejolak di lambungnya.

Setelah berhasil menelan makanannya dengan selamat tanpa meluncurkan aksi muntah, Valeria mendongakkan wajah cantiknya ke arah depan, meluncurkan seulas senyuman manis yang teramat cerah, lebar, dan memancarkan binar ketulusan batin yang teramat megah ke arah mata Alessandro. "Sumpah rasanya enak banget, Ales! Daging ikannya bener-bener terasa lembut dan meleleh pas menyentuh lidah aku!"

Menatap lurus ke dalam binar senyuman manis yang teramat bersih, jujur, dan memancarkan keindahan feminin yang terlahir murni dari dalam lubuk jiwa Valeria malam itu... sepasang jemari tangan Alessandro yang sedang menggenggam sumpit perak seketika mendadak mengetat kuat tanpa disadari oleh dirinya sendiri.

Di sepanjang rentang waktu berbulan-bulan fase jalinan hubungan asmara aktif mereka selama ini, ia dipastikan hampir tidak pernah sekalipun memiliki rekaman memori murni untuk bisa menyaksikan seulas senyuman yang memancarkan binar ketulusan sebersih dan sehidup itu dari bibir sang kekasih; di masa lalu, setiap porsi senyuman manis yang diluncurkan oleh Valeria asli selalu tercatat berada di dalam kategori akting kepura-puraan yang sarat akan motif manipulasi materi, ketamakan uang, atau egoisme pribadi.

Alessandro tidak meluncurkan rentetan kalimat balasan verbal untuk menanggapi pujian tersebut; ia hanya memberikan seulas gerakan anggukan kepala yang teramat tipis sebagai bentuk formalitas respons. Namun, tepat pada detik berikutnya, sang CEO besar secara misterius kembali menundukkan postur wajah tampannya ke arah bawah, kembali mengayunkan sumpit peraknya dengan gerakan yang teramat senyap murni untuk kembali melanjutkan aktivitas memisahkan duri ikan dari sela daging kakap, lalu secara konstan terus-menerus mendistribusikan jatah daging bersih tersebut ke dalam mangkuk nasi milik Valeria sepanjang jalannya makan malam. Pria itu bertindak dalam keheningan total, namun seluruh fokus perhatiannya terkunci penuh di sana.

Hanya gema suara detukan halus dari sela-sela geseran peralatan makan piring perak yang tersisa mengalir memecah kesunyian di dalam ruang makan mewah malam itu; sebuah suasana yang terasa teramat sunyi, sepi, namun anehnya justru memancarkan seberkas rasa kedamaian batin dan keharmonisan rumah tangga yang teramat langka dan hangat bagi kedua belah pihak. Dengan formasi di mana pihak pria terus fokus murni melakukan pengulitan duri ikan, sementara pihak wanita bersusah payah menguatkan mental aktingnya murni untuk menyambut umpan lauk tersebut... jalannya makan malam itu berakhir dituntaskan dengan tingkat keselarasan yang luar biasa sempurna.

Begitu seluruh rangkaian ibadah makan malam itu selesai dituntaskan, Alessandro segera memutar tubuh tegapnya melangkah menaiki anak tangga menuju ke kamar tidur utama di lantai dua murni untuk menunaikan ritual mandi malam serta pembersihan diri. Di sisi lain, Valeria awalnya sudah menjadwalkan rencana batin murni untuk melangkahkan kakinya keluar pagar teras menuju ke area halaman taman vila murni untuk berjalan-jalan santai selama beberapa menit demi membantu mempercepat proses pencernaan makanan di dalam perutnya.

Namun, tepat pada detik krusial di saat sepasang kaki piyamanya baru saja hendak menapakkan kaki melintasi area lantai selasar depan... seluruh gerakan tubuh Valeria seketika mendadak membeku kaku laksana tersengat petir di siang bolong begitu sebuah memori ingatan darurat mendadak meledak di dalam otaknya.

Tunggu... tunggu dulu! Demi Tuhan... kantong belanjaan berisi selembar gaun malam pertempuran jala hitam transparan hadiah "baju haram" dari Jovanka di butik sore tadi... bukankah sampai detik ini posisinya masih tergeletak pasrah secara terbuka di atas permukaan meja nakas samping tempat tidur kamar tidur utama?!

Kesadaran akan adanya bahaya kehancuran kedok pertahanan moralnya seketika membuat Valeria dirundung oleh rasa kepanikan tingkat dewa yang membuat sendi pergelangan kakinya hampir saja terkilir lemas di atas lantai. Tanpa membuang waktu satu milidetik pun, ia langsung memutar balik poros tubuhnya, meluncurkan langkah seribu untuk berlari kencang menaiki anak tangga menuju ke lantai dua laksana seorang buronan maut yang sedang dikejar malaikat pencabut nyawa.

Tepat di saat postur tubuh fisiknya berhasil mendobrak masuk menerobos melintasi ambang pintu kamar tidur utama dengan napas yang memburu pendek tersengal-sengal... pemandangan pertama yang menyambut sepasang mata bulat Valeria seketika sukses membuat seluruh pasokan darah di tubuhnya laksana membeku total hingga ke dasar tulang.

Di sana, tepat di samping meja nakas kayu mahoni, sosok Alessandro Dirgantara terpantau sudah berdiri kokoh mematung dengan balutan jubah mandi kimono satin hitam pasca mandi, memancarkan sebuah ekspresi wajah tegas yang terlihat teramat subtle, misterius, dan sarat akan makna mendalam yang tidak bisa diterjemahkan oleh akal sehat manusia.

Di dalam sela-sela jangkauan telapak tangan kanannya yang besar dan kekar... pria berkuasa tersebut saat ini terpantau sedang menggenggam erat selembar busana pakaian dalam dewasa berbahan kain jala renda jaring transparan berwarna hitam pekat pemberian Jovanka sore tadi—sebuah busana pertempuran ranjang yang tingkat transparansi material kainnya mendekati angka seratus persen, yang kini sedang terekspos bebas di bawah siraman lampu kamar.

___

Bersambung~~

1
Putri Amalia
semoga ngk Hiatus yah author 😭
FearMe: semoga ya😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!