NovelToon NovelToon
Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Kupu-Kupu Malam Sang Ceo

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Romansa
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Zenaaa

Di siang hari, Renata adalah seorang gadis biasa yang bekerja sebagai pustakawati polos berkacamata tebal. Namun, saat malam tiba dan lampu kota Jakarta mulai menyala, ia berubah menjadi "Papillon" (Kupu-Kupu)—gadis hostess paling misterius dan mahal di Kupu-Kupu Bar, sebuah kelab malam eksklusif rahasia para konglomerat.
​Renata tidak mencari uang demi kemewahan. Ia menjebak dirinya di dunia malam demi mengungkap misteri kematian kakak perempuannya yang tewas mengenaskan setelah melayani seorang pria berkuasa dari Dirgantara Group.
​Rencananya berjalan mulus hingga malam itu tiba. Adrian Dirgantara, CEO dingin dan pewaris tunggal Dirgantara Group, masuk ke bar dan langsung memilih Papillon. Adrian tidak mencari hiburan, melainkan seorang "istri sewaan" untuk memenuhi wasiat kakeknya demi mempertahankan takhta perusahaan.
​Satu kesepakatan di bawah lampu remang-remang bar mengubah segalanya. Renata melangkah masuk ke sarang musuh sebagai istri Adrian, sementara Adrian tidak pernah t

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zenaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 33: Langkah di Atas Tanah Makau

Pendar cahaya neon berwarna-warni dari kasino-kasino raksasa yang menjulang tinggi di Cotai Strip, Makau, memantul dengan sangat indah di atas permukaan jalanan yang basah setelah diguyur hujan rintik-rintik subuh itu. Kota judi ini tidak pernah tahu arti kata tidur; di balik kemegahan arsitektur bergaya Eropa abad pertengahan dan riuh rendah suara mesin slot yang bergemerincing, terdapat perputaran uang haram mengalir deras tanpa henti, menelan korbannya satu per satu ke dalam jurang kehancuran.

​Sebuah mobil Mercedes-Maybach hitam dengan kaca antipeluru dan nomor registrasi khusus berhenti dengan sangat anggun tepat di depan lobi utama The Grand Romero Resort & Casino. Pintu mobil segera dibukakan dengan hormat oleh petugas dengan seragam beludru mewah berornamen benang emas asli.

​Adrian Dirgantara melangkah keluar lebih dulu dari dalam kabin mobil yang senyap dan mewah. Malam ini, ia melepaskan seluruh identitasnya sebagai CEO Dirgantara-Mahardika Tbk dan tampil sebagai seorang investor independen papan atas yang misterius dari Singapura. Setelan jas beludru hitam berpotongan pas badan tanpa dasi yang dipadukan dengan kemeja sutra gelap membuatnya terlihat sangat berwibawa, jantan, dan menyimpan bahaya yang tak kasat mata bagi siapa pun yang berani mengusik ketenangannya.

​Adrian membalikkan tubuhnya perlahan, mengulurkan tangan kanannya yang kokoh untuk membantu Renata turun dari kursi belakang. Begitu kakinya yang mengenakan stiletto hitam tinggi bertatahkan kristal swarovski menyentuh lantai marmer lobi yang mengkilap, Renata langsung menjadi pusat perhatian mutlak semua orang di sekitarnya.

​Ia mengenakan gaun malam backless satin berwarna merah marun—sebuah pilihan warna yang sengaja ia pilih sebagai bentuk pesan terselubung untuk mendiang kakaknya, Maya. Gaun itu melekat sempurna pada lekuk tubuh rampingnya, mengekspos kulit punggung dan pundaknya yang putih mulus kontras dengan warna kain yang pekat. Rambut cokelatnya ditata bergelombang ke samping, menyisakan ruang bagi sepasang anting berlian di telinganya yang sebenarnya telah dimodifikasi oleh tim siber Elena menjadi alat komunikasi mikro penangkap sinyal frekuensi radio tertutup (RFID). Atas nama penyamaran dan taktik, mereka harus terlihat seperti pasangan konglomerat yang haus akan ekspansi kekuasaan.

​"Tetap dekat denganku, Sayang. Jangan lepaskan genggamanmu barang satu detik pun," bisik Adrian sangat rendah, melingkarkan lengan kekarnya di pinggang ramping Renata dengan cengkeraman yang sangat posesif saat mereka melangkah memasuki area kasino utama yang bising oleh denting koin dan sorak-sorai para penjudi kelas atas dari berbagai belahan dunia.

​"Aku selalu di sampingmu, Adrian," balas Renata, suaranya terdengar sangat tenang, namun matanya yang tajam di balik riasan smokey eyes bergerak dengan kecepatan seorang peretas genius, memindai setiap sudut ruangan, menghitung posisi kamera pengawas tersembunyi, hingga mengidentifikasi pergerakan para pengawal bersenjata yang menyamar di antara kerumunan penonton.

​Mereka tidak melewati jalur umum, melainkan dipandu oleh seorang pelayan pribadi eksklusif menuju lift privat berlapisi dinding emas. Lift tersebut melesat cepat menuju lantai teratas—zona VVIP Grand Romero yang memiliki sistem keamanan biometrik ketat dan hanya bisa diakses oleh mereka yang memiliki nilai aset minimal ratusan juta dolar di dalam rekening bank internasional.

​Di sana, di sebuah ruangan luas yang menguar bau cerutu Kuba mahal dan wiski bertahun-tahun, seorang pria paruh baya berwajah oriental dengan bekas luka tipis di alis kirinya sedang memegang stik biliar dengan santai. Dia adalah Mateo Romero, kepala operasional Klan Romero wilayah Asia Timur sekaligus pria yang mengendalikan seluruh rahasia kotor di balik Klub Kupu-Kupu Hitam yang merenggut kebahagiaan keluarga Mahardika.

​"Ah, Tuan Adrian dan Nona Renata dari Phoenix Holding," sapa Mateo dengan aksen bahasa Inggris yang fasih dan berat saat melihat kedatangan mereka. Ia meletakkan stiknya ke rak kayu di dinding, lalu berjalan mendekat dengan senyuman ramah yang sama sekali tidak sampai ke mata. Sorot matanya sedingin es—tipe mata seorang predator korporasi yang terbiasa menilai manusia hanya berdasarkan angka keuntungan materi yang bisa diperas. "Koneksi kalian di perbankan Hong Kong benar-benar membuatku terkesan. Tidak semua orang bisa mendapatkan akses langsung ke lantai tertinggi ini dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam setelah mendarat."

​Adrian menjabat tangan Mateo dengan cengkeraman yang sama-sama kuat, sebuah perang psikologis bawah sadar yang langsung pecah di antara kedua pria dominan tersebut. "Kami datang jauh-jauh dari Jakarta melalui Singapura karena kami mendengar Klan Romero membutuhkan mitra strategis yang memiliki nyali besar dan pergerakan agresif untuk mendanai perluasan jaringan resor baru di Asia Tenggara. Dan Phoenix Holding memiliki likuiditas bersih yang lebih dari cukup untuk mewujudkannya tanpa perlu campur tangan atau pengawasan ketat dari bank lokal yang menyulitkan."

​Mateo terkekeh rendah, suara tawa yang terdengar penuh kepuasan namun licik. Pandangannya kemudian beralih perlahan, menyusuri lekuk tubuh Renata dari atas hingga bawah dengan tatapan menilai yang sangat intens dan lancang. Gerakan mata pria itu seketika membuat rahang Adrian mengeras di tempat. Cengkeraman tangan kokoh Adrian di pinggang Renata semakin mengerat, menarik tubuh istrinya lebih rapat ke sisinya, seolah siap mematahkan leher Mateo jika pria itu berani melangkah satu senti lebih dekat.

​"Dan saya lihat... Anda membawa rekan yang teramat sangat menawan, Tuan Adrian," ucap Mateo dengan nada suara yang bergetar penuh minat terselubung, tidak menyembunyikan kekagumannya pada kecantikan dingin Renata. "Seorang analis keuangan yang tidak hanya genius di atas kertas, tapi juga... memiliki daya hancur visual yang mematikan bagi fokus lawan bisnis di meja perundingan."

​Renata tersenyum jernih, sebuah senyuman profesional yang menyimpan racun dingin di balik keindahannya. Ia melangkah maju satu tapak, membebaskan diri sedikit dari kekangan tangan Adrian untuk menghadapi langsung tatapan mengintimidasi dari sang penguasa kasino Makau tersebut.

​"Bisnis dalam skala besar selalu membutuhkan keindahan dalam eksekusinya, Tuan Romero," ujar Renata, suaranya mengalun tenang namun sarat akan ketegasan yang tak terpatahkan. "Dan saya di sini bukan hanya untuk menemani suami saya, melainkan untuk memastikan bahwa setiap sen yang akan kita pertaruhkan bersama malam ini di tanah Asia Tenggara akan melipatgandakan nilai kekuasaan, wilayah, dan legitimasi Klan Romero tanpa celah hukum sedikit pun."

​Mateo tertegun sejenak mendengarkan keberanian wanita di hadapannya. Ia mengangguk pelan dengan binar mata yang semakin tertarik. "Menarik. Sangat menarik. Kalau begitu, mari kita lihat seberapa besar nyali dan kejeniusan yang kalian bawa ke meja saya."

Visual ada di Ig serasilente._

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!