-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-
Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 16
Hujan baru saja membasahi aspal ibu kota saat sebuah mobil sedan premium memasuki basement kompleks apartemen elite di kawasan Jakarta Selatan. Sepasang suami istri melangkah keluar, menyisakan jejak basah yang samar di atas lantai marmer lobi sebelum lift eksekutif membawa mereka naik menuju salah satu unit penthouse terbaik di sana.
Beberapa menit kemudian, pintu jati besar terbuka. Raditya Mahardika melepas jas formalnya, melonggarkan ikatan dasi yang terasa mencekik sepanjang malam, sementara Kirana berjalan perlahan menuju ruang keluarga. Tubuhnya terasa lelah, tetapi isi kepalanya jauh lebih melelahkan setelah rentetan kejadian di ruang dansa hotel bintang lima tadi.
Raditya menyusul, menjatuhkan tubuh tegapnya di atas sofa kulit yang empuk. Dengan gerakan yang sudah menjadi refleks alami, ia menarik pinggang Kirana, membawa sang istri ke dalam pelukannya. Kirana tidak menolak; ia menyandarkan kepalanya yang terasa berat di atas bahu kokoh Raditya, menghirup aroma familier dari tubuh suaminya yang selalu berhasil menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Keheningan malam di lantai atas itu sempat bertahan beberapa saat, hanya ditemani suara dengung rendah pendingin ruangan dan kerlip lampu kota yang menembus dinding kaca.
Raditya mengelus lengan Kirana dengan ibu jarinya, matanya menatap lurus ke depan dengan pandangan menerawang.
"Sayang," panggilnya rendah, memecah kesunyian. "Menurutmu, apa Bianca punya hubungan khusus dengan Arlan?"
Kirana terdiam sejenak, jemarinya memainkan ujung kemeja Raditya dengan gerakan cemas. Ia menggelengkan kepala perlahan di atas bahu suaminya.
"Aku benar-benar tidak tahu, Mas. Yang aku tahu pasti, setelah keluar dari... penjara, Bianca memilih pergi ke Bandung. Dia bekerja di villa terpencil milik orang tua Arlan di tengah perkebunan teh. Tapi aku sendiri tidak menyangka kalau tiba-tiba malam ini dia muncul di Jakarta, berjalan di samping Arlan. Dan seperti yang Mas dengar sendiri tadi, Arlan memperkenalkannya sebagai asisten pribadi."
Raditya menundukkan kepala, mengecup puncak rambut istrinya sekilas sebelum berbisik, "Jadi, adikmu yang keras kepala itu sedang menyamar menjadi pelayan?"
Kirana menegakkan tubuhnya sedikit, menatap wajah tampan suaminya dengan dahi berkerut, namun ada binar geli yang tertahan di matanya. Ia mengangguk mantap.
"Iya, Mas. Dia sedang melakukan itu. Dan kalau aku tidak salah tebak, dia sepertinya terinspirasi dari cerita masa lalu seseorang. Seseorang yang sekarang sedang memelukku."
Mendengar itu, tawa kecil Raditya pecah. Suara tawa yang renyah dan terdengar sangat maskulin memenuhi ruang keluarga mereka. Ia menggeleng-gelengkan kepala, merasa geli dengan perbandingan yang dibuat istrinya.
"Beda jalur, Sayang," ujar Raditya sambil merapikan beberapa helai rambut Kirana yang jatuh menutupi pipi. "Dulu Mas menyamar jadi pembantu di rumahmu karena Mas ingin tahu mana perempuan yang tulus, mana yang benar-benar layak menjadi Nyonya Muda Mahardika tanpa melihat embel-embel hartaku. Mas melakukan itu demi mengejar cintamu. Sedangkan Bianca? Dia menjadi pelayan justru untuk membuang identitasnya, mencari ketenangan, dan bersembunyi dari dunia."
Kirana mencebikkan bibirnya, menatap Raditya dengan pandangan menantang yang justru terlihat menggemaskan di mata suaminya. "Sama saja, Mas. Pada intinya, kalian berdua sama-sama menyamar di rumah orang lain dan sama-sama keras kepala."
Raditya mendesah pasrah, senyum menyerah terukir di wajahnya. "Baiklah, baiklah. Memang selalu sulit, bahkan mustahil, untuk menang debat dari Nyonya Muda Mahardika ini."
Dengan gemas, Raditya mencolek ujung hidung Kirana, membuat istrinya memejamkan mata sesaat, sebelum ia mendaratkan sebuah kecupan yang dalam dan penuh kehangatan di pipi Kirana. Sentuhan itu lama, menyalurkan rasa cinta yang tidak berkurang sedikit pun sejak malam mereka pertama kali bersatu.
Namun, beberapa detik kemudian, gurat jenaka di wajah Raditya memudar, digantikan oleh ekspresi serius yang biasa ia tunjukkan di ruang rapat korporat. Ia memperbaiki posisi duduknya, menatap Kirana lekat-lekat.
"Tapi jujur, Sayang... Mas sedikit takut," aku Raditya, suaranya memberat. "Arlan Dirgantara bukan pria yang mudah dihadapi. Kita berdua tahu bagaimana kerasnya tabiat pria itu di dunia bisnis. Dia dingin, skeptis, dan punya trauma mendalam dari pernikahan pertamanya yang hancur karena mantan istrinya gila harta. Jika Arlan tahu bahwa 'Gita' yang selama ini dia anggap pelayan lugu dari desa sebenarnya adalah Bianca Adytama, Mas takut Bianca akan terjebak dalam kemarahan pria itu."
Kirana menunduk, menatap jemarinya yang kini saling bertautan. Ketakutan yang diutarakan Raditya adalah cerminan dari apa yang bergejolak di dalam dadanya sejak di ballroom tadi. Ia teringat bagaimana Arlan berdiri di samping Bianca—begitu protektif, dengan tangan yang terus mengunci pinggang adiknya seolah tidak membiarkan satu orang pun mendekat.
"Aku juga takut, Mas," lirih Kirana, suaranya sedikit bergetar karena emosi yang tertahan. "Bianca sudah terlalu banyak menderita. Dia kehilangan masa mudanya, kehilangan nama baiknya, dan dia pergi ke desa itu hanya untuk mencari kedamaian yang sederhana. Dia tidak ingin terlibat dengan pria mana pun, apalagi majikannya sendiri."
Kirana menarik napas dalam-dalam, lalu mendongak, menatap mata Raditya dengan keyakinan baru yang perlahan tumbuh. "Tapi... melihat cara Arlan menatap Bianca malam ini, ada sesuatu yang berbeda. Pria sedingin Arlan tidak akan membawa seorang pelayan desa ke pertemuan bisnis tingkat tinggi jika dia tidak menaruh perhatian lebih. Mas tahu sendiri bagaimana posesif dan protektifnya seorang Arlan Dirgantara jika dia sudah menetapkan sesuatu sebagai miliknya. Jika Arlan benar-benar sudah menaruh cintanya untuk Bianca, aku rasa dia tidak akan menyakiti Bianca. Dia justru akan menjadi tameng terkuat untuk melindunginya dari dunia luar."
Raditya terdiam, mencerna setiap kalimat istrinya. Sebagai sesama pria yang pernah berada di posisi posesif ekstrem saat mengejar Kirana, ia bisa memahami analisis tersebut. Sifat keras Arlan bisa menjadi pedang bermata dua: menghancurkan jika menjadi musuh, namun menjadi benteng yang tak tertembus jika menjadi pelindung.
Raditya menganggukkan kepalanya perlahan, menyetujui pendapat sang istri. Ia kembali menarik Kirana ke dalam pelukannya, menenggelamkan wajah istrinya di dadanya.
"Semoga saja begitu, Sayang. Semoga Arlan adalah jawaban dari akhir penderitaan Bianca, bukan awal dari badai yang baru."
**
Aroma kopi arabika yang pekat berpadu dengan wangi kertas dokumen yang baru dicetak, memenuhi setiap sudut ruang kerja Arlan yang luas di lantai teratas gedung Dirgantara Group. Sinar matahari pagi menembus dinding kaca setinggi langit-langit, memantulkan bayangan dua manusia yang sedang tenggelam dalam keseriusan mutlak.
Bianca berdiri sangat dekat di sisi meja jati Arlan. Jemari lentiknya menunjuk pada baris angka di lembar draft audit, sementara tubuh tegap Arlan condong ke arahnya. Jarak mereka begitu rapat, hingga setiap kali Arlan menghembuskan napas, helai rambut halus di dekat telinga Bianca bergerak samar.
"Peralihan dana dari anak perusahaan di Bandung sudah bersih, Tuan. Sesuai instruksi Anda, semua celah hukum yang sempat mereka manfaatkan sudah ditutup rapat," suara Bianca mengalir tenang, mengalun dengan diksi yang sangat teratur. Nada bicaranya tidak menyiratkan kepanikan, melainkan ketegangan profesional yang sangat elegan.
Arlan mendongak, menatap lekat-lekat mata kecokelatan wanita di sampingnya. Ada kilat kepuasan yang tertahan di manik mata pria itu.
"Kamu bergerak lebih cepat dari perkiraanku, Gita. Doni bahkan butuh waktu dua hari untuk menyusun draf sekokoh ini."
Bianca tersenyum tipis—sebuah senyuman yang sangat sopan namun menjaga jarak. Sisi cerdas Bianca Adytama selalu tahu bagaimana membedah kekacauan finansial, tetapi sisi Gita Ivara mengingatkannya untuk tetap menunduk, menyembunyikan keangkuhan masa lalu di balik kemeja kerja yang bersahaja.
Brak!
Pintu ganda berbahan kayu ek itu mendadak terbuka kasar, menghantam dinding dengan bunyi dentuman yang memekakkan telinga. Keheningan yang intim di dalam ruangan itu hancur seketika.
Stella melangkah masuk dengan napas memburu. Gaun merah menyala dan riasan wajahnya yang tajam tidak mampu menyembunyikan gurat kemarahan yang membakar matanya. Langkah sepatunya yang berhak tinggi menghentak marmer bagai genderang perang. Namun, hal pertama yang ditangkap oleh radar matanya bukanlah Arlan, melainkan posisi Bianca yang berdiri teramat dekat dengan mantan suaminya.
Aroma parfum Stella yang menyengat langsung merusak keharuman kopi di ruangan itu.
"Arlan! Apa-apaan ini?!" pekik Stella, suaranya melengking tinggi, dipenuhi rasa tidak terima yang meradang. Matanya beralih menatap Bianca dari ujung kepala hingga ujung kaki dengan pandangan menghina.
"Pelayan desa ini... kenapa dia bisa sedekat ini denganmu?!"
Arlan bahkan tidak berkedip. Ia menegakkan tubuhnya perlahan, menyandarkan punggung pada kursi kulitnya yang megah. Kedua tangannya bertaut di atas meja, menampilkan ketenangan seorang tiran yang tidak terganggu oleh badai sekecil apa pun.
"Kamu melupakan tata krama dasar, Stella. Ini kantor pribadiku, bukan ruang tamu rumahmu," ucap Arlan, suaranya sangat rendah, dingin, dan sarat akan otoritas yang membekukan udara sekitar.
"Persetan dengan tata krama!" Stella maju beberapa langkah, lalu dengan kasar membanting sebundel dokumen bersampul hukum ke atas meja jati Arlan tepat di depan wajah pria itu. Kertas-kertas di dalamnya agak mencuat, memperlihatkan cap merah bertuliskan Ditolak.
"Jelaskan padaku, apa maksud dari keputusan pengadilan ini?! Bagaimana bisa hak sita atas aset itu kembali jatuh ke tanganmu?!"
Arlan melirik sekilas ke arah berkas yang berantakan itu, lalu beralih menatap Stella dengan senyum sinis yang nyaris tak kentara. "Sederhana saja. Kamu menggunakan dokumen palsu untuk membekukan asetku, dan aku hanya mengembalikan apa yang seharusnya menjadi milikku dengan cara yang sepenuhnya legal. Kamu kalah, Stella. Dan permainanmu sudah selesai."
"Tidak mungkin! Aku tahu kamu sempat terpojok, Arlan! Seseorang membantumu menyusun strategi ini!" Stella berteriak, dadanya naik turun karena emosi yang meluap.
Tiba-tiba, pandangan Stella kembali terkunci pada Bianca yang sejak tadi berdiri diam dengan kepala sedikit menunduk namun dengan punggung yang tetap tegak lurus. Insting Stella sebagai wanita yang selalu mengandalkan kelicikan langsung menangkap sesuatu yang tidak beres. Gestur tubuh Bianca, cara wanita itu menatap berkas tanpa rasa takut, tidak mencerminkan seorang gadis udik dari kaki gunung.
"Kamu..." Stella menunjuk wajah Bianca dengan telunjuknya yang dihiasi kuteks merah. "Kamu yang melakukannya, kan? Pelayan sialan. Kamu yang membantunya memeriksa berkas-berkas rahasia itu?!"
Bianca menarik napas dalam-dalam. Keanggunan alaminya menolak untuk meladeni kegilaan wanita di depannya. "Saya hanya menjalankan tugas saya sebagai asisten Tuan Arlan, Nyonya Stella," jawab Bianca, suaranya begitu jernih, datar, dan tidak terpancing emosi sedikit pun.
"Jangan panggil aku Nyonya, kamu perempuan tidak tahu diri!" Stella maju, tangannya terangkat seolah ingin mencengkeram kerah baju Bianca.
Namun, belum sempat jemari Stella menyentuh kain kemeja Bianca, Arlan sudah berdiri dari kursinya. Gerakannya begitu cepat dan bertenaga. Dengan satu gerakan tangan yang tegas dan posesif, Arlan menarik lengan Bianca, membawa tubuh wanita itu ke belakang punggungnya yang lebar, menjadikannya tameng hidup yang tak tertembus.
Mata Arlan yang biasanya sedingin es, kini berkilat bahaya—sorot mata protektif yang begitu pekat hingga membuat Stella terkesiap mundur satu langkah.
"Sentuh dia setitik saja, Stella, dan aku pastikan tunjangan bulanan dari sisa saham keluargamu di perusahaan ini akan kuhapus hari ini juga," ancam Arlan, setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar seperti ketukan palu hakim yang tidak bisa diganggu gugat. "Aku tidak pernah main-main dengan ucapanku."
Stella menatap Arlan dengan pandangan tidak percaya. Rasa cemburu yang membakar hatinya bercampur dengan rasa hina yang mendalam. Mantan suaminya yang dulu begitu dingin dan tidak pernah peduli pada wanita, kini berdiri memasang badan demi seorang asisten baru yang tidak jelas asal-usulnya.
"Kamu melindunginya, Arlan? Kamu membela pelayan rendahan ini di depanku?!" Stella tertawa getir, suaranya melengking parau. "Kamu pikir dia tulus bersamamu? Dia hanya mengincar hartamu, sama seperti yang kamu tuduhkan padaku dulu! Kamu pria bodoh yang sedang dibutakan oleh wajah polosnya!"
Arlan sama sekali tidak terpengaruh. Ia menatap Stella seolah wanita itu hanyalah debu yang mengotori meja kerjanya. "Gita tidak pernah meminta apa pun dariku. Berbeda denganmu yang selalu lapar akan angka di rekening. Sekarang, keluar dari ruanganku sebelum keamanan menyeretmu dengan cara yang memalukan."
Stella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Ia tahu ia tidak bisa menang melawan Arlan di dalam gedung kekuasaannya sendiri. Namun, matanya kembali melirik Bianca yang berada di balik punggung Arlan. Tatapan Stella berubah menjadi sangat berbisa, dipenuhi dendam yang teramat pekat.
"Baik. Aku akan pergi," desis Stella, suaranya merendah namun terdengar sangat mengancam. Ia merapikan tas tangannya dengan sentakan kasar. "Tapi ingat ini, Arlan. Ini belum selesai. Aku akan membuat perhitungan denganmu. Dan untukmu, Gita..." Stella menatap Bianca dengan pandangan yang seolah ingin menguliti wanita itu hidup-hidup. "Jangan pikir kamu bisa hidup tenang di kota ini setelah merebut apa yang seharusnya menjadi milikku. Aku akan mencari tahu siapa kamu sebenarnya, dan aku akan memastikan kamu memohon di kakiku."
Tanpa menunggu jawaban, Stella berbalik dan melangkah pergi, membanting pintu ruangan dengan kekuatan yang sama besarnya saat ia datang.
Keheningan kembali merayap, namun kali ini atmosfer di dalam ruangan terasa jauh lebih pekat dan berat.
Arlan membalikkan tubuhnya perlahan, menatap Bianca yang masih berdiri di tempatnya. Genggaman tangan Arlan di lengan Bianca perlahan melonggar, namun tidak sepenuhnya terlepas. Ada kehangatan yang asing yang menjalar dari telapak tangan pria itu, sesuatu yang membuat jantung Bianca berdegup sedikit lebih cepat.
"Kamu tidak apa-apa?" tanya Arlan, suaranya melunak secara drastis, menyisakan nada berwibawa yang kini bercampur dengan rasa khawatir yang sangat posesif.
Bianca menarik tangannya perlahan, mencoba memulihkan jarak aman di antara mereka. "Saya baik-baik saja, Tuan Arlan. Terima kasih atas perlindungan Anda."
Arlan memicingkan mata, menatap Bianca yang kembali memasang topeng tenangnya. Sesuatu di dalam dada Arlan bergejolak; ia merasa ada misteri yang sangat besar yang menyelubungi asisten pribadinya ini. Mengapa seorang gadis desa bisa menghadapi ancaman Stella dengan mata yang begitu dingin dan berani? Ada rahasia yang terkunci rapat di balik ketegaran wanita ini, dan Arlan bersumpah pada dirinya sendiri untuk membongkarnya, keping demi keping.
"Jangan khawatirkan Stella. Dia tidak akan bisa menyentuhmu selama kamu berada di bawah kendaliku," ucap Arlan tegas, sebuah janji yang terdengar sangat protektif.
Bianca hanya mengangguk pelan, namun di dalam hatinya, rasa takut yang lain mulai merayap. Ia tidak takut pada Stella. Ia takut pada Arlan. Ia takut pada cara pria ini menatapnya, cara pria ini melindunginya dengan begitu posesif. Jika suatu hari nanti Arlan tahu bahwa pelayan yang dia lindungi adalah Bianca Adytama—wanita yang namanya hancur karena skandal sepuluh tahun lalu—apakah perlindungan ini akan berubah menjadi kurungan yang paling mematikan?
***
mungkin juga karna musuh raditya
mudah"an Kirana cepet tau dan mintol Radit buat kasih bodyguard jaga Bianca dari jarak jauh