Pernikahan impian yang sudah dibangun dengan asa dan cinta akhirnya kandas, tidak pernah terbayangkan oleh Clarissa bahwa hidup nya tak seperti orang diluar sana. Dulu berharap memiliki pernikahan yang abadi sampai maut memisahkan dengan lelaki pilihannya. Perceraian tak terelakkan hingga membuat jiwanya terguncang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon introvert girl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sikap Tegas 1
Clarissa menimbang cukup lama, membayangkan kejadian yang akan terjadi selanjutnya. Sudah cukup bersabar dengan semua bukti yang terkumpul.
Sudah tiga jam yang lalu dia melepas kepergian suaminya dengan pelukan dan senyuman hangat.
Tidak ada pertanyaan atau sikap yang memancing emosi Ethan, semua dimainkan dengan halus termasuk memeriksa ponsel Ethan beberapa hari ini.
Kali ini Clarissa tidak mampu menahan getaran emosi yang memaksa untuk membuncah secepatnya. Berjalan mondar-mandir bahkan sembari mengerjakan pekerjaan rumah pun membuatnya memikirkan hal ini.
Entah darimana keberanian itu mendadak menyeruak namun dia ingin sekali lagi memberi peringatan kepada Wanita yang masih berusaha merusak rumah tangganya.
Memikirkan rencana apa yang harus dilakukan, sebelum semuanya terlambat. Lama membayangkan rencana pertemuannya dengan karyawan suaminya, Clarissa mendapat sepotong ide.
Mendadak terbesit di pikirannya untuk mendatangi suaminya di kantor dengan membawa kotak makan siang. Dulu semasa menjadi pengantin baru Clarissa sering melakukannya.
Clarissa mulai menyiapkan kotak makan siang dan mulai mengolah bahan mentah di dapur. Penuh semangat dan keyakinan untuk terus maju.
Selesai dengan urusan dapur, dia bergegas menuju kamar dan bersiap-siap. Auranya kian terpancar begitu keluar dari kamar mandi, duduk di meja rias dan menata rambut juga wajahnya. Tak lupa memilih dress selutut yang membuatnya terlihat muda dan cantik.
Keluar dari kamar dengan tas selempang dan bergegas menuju dapur untuk menata makanan di dalam kotak makanan. Semua sudah selesai dan siap untuk berangkat.
Clarissa menghela nafas sejenak, memejamkan mata menikmati detak jantungnya yang berdebar juga deru nafasnya yang siap untuk bertanding.
Clarissa keluar dari rumah tak lupa menguncinya dengan aman, memasuki mobilnya dan mulai menyetir dengan santai. Waktu masih menunjukkan pukul sebelas, jalanan tampak sepi sehingga tak terburu-buru mengendarai mobilnya.
Waktu bagai berjalan cepat, Clarissa telah tiba di parkiran. Menatap sejenak bangunan megah itu yang belum menunjukkan sosok yang dia cari. Clarissa keluar dengan pasti, tak lupa membawa kotak makan siang dan tas selempang yang bertengger di bahunya.
Memasuki perusahaan suaminya dan disapa hangat oleh security yang sudah mengenalnya yang tak lain adalah istri dari bosnya. Dia masih hapal letak ruangan suaminya. Beberapa karyawan menyapa hangat dan Clarissa membalas tak kalah ramah.
Hingga dia tiba di depan pintu lalu mengetuknya, setelah mendapat sahutan dia memberanikan diri untuk membukanya dan masuk. Sebuah senyuman ikut melekat mabis diwajahnya namun sayangnya membuat suaminya menjadi terkejut.
Suaminya tengah berbicara dengan beberapa orang didalam dan mata Clarissa tertuju pada yang dicarinya. Wanita itu juga ada disana.
Wanita itu juga tak kalah terkejut, apalagi pandangan Clarissa yang terlihat jelas seperti mengulitinya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Ingatannya saat pertama kali mereka bertemu membuat wanita itu sedikit gugup. Terlihat jelas menetralkan perasaannya namun terlalu kentara hingga salah tingkah.
Beberapa kali sibuk menata rambut, kacamata atau buku catatan yang di pangkuannya. Clarissa melihat jelas kegugupan wanita itu.
Mereka masih melanjutkan pembicaraannya meski Clarissa sudah ada sepuluh menit duduk tak jauh dari tempat mereka.
Pembicaraan tersebut berakhir setelah kesepakatan dari beberapa divisi dan mereka keluar satu persatu. Ethan masih merapikan laporannya, tampak heran karena Clarissa ikut bangkit dari kursinya dan melangkah keluar mengikuti jejak karyawannya.
Namun tak berpikir hal lain, dan masih tetap diam di dalam ruangannya. Lagipula jam istirahat telah tiba dan istrinya sudah membawa kotak makan siang. Dia berpikir kali ini akan makan siang di ruangannya bersama istrinya.
Tapi Ethan belum sempat mendapat jawaban dari Clarissa begitu membukakan pintu.
"Sayang, kamu kok ada datang tidak memberi kabar?" Balas Ethan yang terkejut kala melihat Clarissa yang membuka pintu, tubuhnya setengah berdiri namun kembali duduk seperti semula.
"Iya, kejutan. Aku bawa kotak makan siang" Balas Clarissa yang masih didekat pintu.
"Kamu duduk disana sebentar ya, beberapa menit lagi masih ada yang perlu di bahas" Balas Ethan kemudian mengarahkan agar pembicaraan mereka kembali dilanjutkan.
Clarissa tanpa banyak bicara, melangkah pelan dan duduk di meja kerja suaminya sembari mengamati suasana disana.
...****************...
Clarissa keluar dan mengikuti langkah kaki Wanita yang tidak lain adalah Liana yang juga akan bersiap untuk makan siang bersama rekan kerjanya.
"Liana...." Sahut Clarissa dengan nada lembut namun masih bisa didengar oleh beberapa orang yang juga ikut menoleh ke arahnya.
Liana spontan menoleh dikala namanya disebut kembali terkejut karena istri dari atasannya tahu namanya. Terjadi keheningan sesaat dan Clarissa berjalan pasti ke arahnya.
"Hallo Liana" Sala Clarissa dengan senyum manis namun membuat lawan bicaranya salah tingkah.
"Iya, Bu" balas Liana yang merespon dengan nada ramah.
"Masih ingat pertemuan pertama kita dimana?" Pertanyaan Clarissa bagai serangan yang mematikan karena beberapa karyawan memperhatikan kedua wanita cantik itu, tidak menyangka bahwa Liana ternyata mengenal istri atasan mereka. Begitulah asumsi mereka.
Liana semakin gugup, karena khawatir didengar karyawan lainnya. Lidahnya kelu dan pikirannya membeku tak tahu harus bertindak apa.
"Belum jera juga ya, Sebegitu menyenangkan menggoda suami orang?" Balas Clarissa lagi dengan nada yang dinaikkan satu oktaf.
"Bu, bisa kita bicara di luar" Suara Liana akhirnya keluar.
"Buat apa?, Kamu takut semua orang tahu kalau kamu suka menggoda suami orang, menggoda atasan kamu?
Beberapa karyawan mendadak histeris dalam hati tak menyangka akan terjadi pertikaian di jam istirahat kali ini. Liana berusaha membujuk agar Clarissa tidak berbicara terlalu banyak.
Namun Clarissa membuka tasnya dan mengambil beberpa lembar kertas dan melemparnya didepan muka Liana. Wanita semakin kehilangan mukanya.
"Saya tahu semua dan punya buktinya. Kamu bertukar pesan dengan suami saya dengan obrolan mesra"
Sementara Liana yang kian panik berusaha mengumpulkan lembaran foto yang berserak di lantai.
Emosi Clarissa belum mereda, dijambaknya rambut wanita itu hingga berubah posisi dari jongkok menjadi berdiri dengan kepala menunduk. Berusaha melepas genggaman Clarissa yang begitu kuat. Karyawan lain hanya menjadi penonton dan beberapa merekam.
Suara teriakan kian menggema, Clarissa membongkar semua. Genggamannya bekum lepas dari rambut wanita itu, dan dengan satu tangan lagi membuka ponselnya dan membuka ulang isi pesan dan membacanya.
Beberapa karyawan tidak percaya kalau rekan kerjanya bermain api dengan atasan mereka. Bahkan selama ini terlihat normal dan tidak ada yang mencurigakan.
Liana mencoba melepaskan diri dengan berjalan mundur, namun genggaman Clarissa kian kuat menjambak rambut wanita itu. Rasa sakit uang tak tertahankan membuat emosi Liana ikut terpancing.
Dengan tenaga yang tersisa dia menghempaskan cengkeraman Clarissa dan berhasil menjauh beberapa senti.
Clarissa tak tinggal diam, dia mendekat celat dan menampar wajah wanita itu. Dirampasnya beberapa lembar yang tadi di genggam Liana lalu kembali membantingnya ke tubuh wanita itu.
Lembaran bukti yang telah dipersiapkannya sejak lama, kini berceceran hingga beberpa karyawan dapat meraihnya dan melihat dengan jelas.