SINOPSIS
Gretta Alesia Nobara, 18 tahun, pindah ke SMA Binara 2 untuk melarikan diri dari trauma perundungan di sekolah lama. Ia mengubah penampilannya agar lebih percaya diri dan bertekad memulai hidup baru dengan fokus pada pelajaran.
.
Gian Leminzo cowok pemalas di kelas bahkan sering tidur saat guru menerangkan, di snagat tampan dan di sukai banyak cewe tapi dia selalu menghiraukan cewek-cewek yang mendekatinya.
Namun pertemuan Gretta dengan Gian menjadi sebuah hal yang tidak terduga di antara keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rienza27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8 MAKAN MALAM
Reo berlari kecil mengejar Gian yang sudah berjalan duluan lagi. Begitu sampai di samping cowok bermuka datar itu, Reo langsung merangkul pundak Gian dari belakang dengan gemas. "Hee Gian, kenapa sih kamu dingin banget sama Gretta? Minimal kalau Sama cewek tuh bicara, bukan malah pasang muka tembok begitu."
Gian menghela napas malas, mencoba melepaskan rangkulan maut Reo dari lehernya. "Haaa? Terus aku harus bersikap seperti apa? Harus nangis bombay sambil dadah-dadah di pinggir jalan gitu? Ogah."
"Ya nggak gitu juga, dasar kulkas dua pintu!" cibir Reo.
"Berisik, Reo. Buruan jalan, perut gua udah demo," sahut Gian malas. Mereka berdua mempercepat langkah kaki dan akhirnya sampai di depan lobi gedung apartemen mereka.
Sementara itu, di tempat lain, Gretta baru saja membuka pintu rumahnya. Aroma manis mentega langsung menyambut indra penciumannya.
"Eh, kok malam banget pulangnya, Sayang?" tanya sang mama yang sedang mengelap etalase kaca di sudut ruangan.
"Iya, Mah. Tadi di jalan macetnya parah banget, makanya pulang kemalaman sampai jam segini," jawab Gretta sambil melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah.
Sang mama mengangguk-angguk paham, lalu menatap putrinya dengan pandangan menyelidik yang penuh perhatian. "Emm, bagaimana sekolah barumu? Apa ada yang macam-macam atau menjahilimu?"
Gretta langsung teringat kejadian di bus tadi—tentang bagaimana ia tertidur di bahu Reo dan bagaimana Gian yang ketus tapi sebenarnya memperhatikannya. Senyum kecil terbit di bibirnya. "Tidak ada kok, Mah. Mereka semua baik-baik banget sama aku."
"Syukurlah kalau begitu. Mama sempat khawatir kamu susah adaptasi," sang mama bernapas lega. "Ya sudah, kamu cepat naik ke kamar, mandi, dan ganti baju. Setelah itu kita makan malam sama-sama."
"Oke, Mah. Greta naik dulu ya," ujar Greta manis. Ia melangkah menaiki tangga menuju kamarnya, meninggalkan sang mama yang kembali sibuk membereskan toko kue kecil mereka yang berada di lantai dasar rumah.
Sementara itu, kembali ke tempat lain, tepatnya di dapur apartemen minimalis milik dua cowok sableng.
Suara desisan minyak bernada ritmis. Reo yang baru selesai mandi langsung berlari ke dapur dengan rambut yang masih agak basah karena mencium aroma yang sangat menggoda.
"He, Gian! Sedang masak apa lu? Bau kornetnya sampai kamar mandi tahu!" seru Reo antusias.
Kebetulan, di balik sifatnya yang sedingin es kutub, Gian itu pintar banget memasak. Bakat terpendamnya ini adalah penyelamat hidup mereka berdua. Bekal makan siang yang tiap hari dibawa Gian ke sekolah, dan juga bekal yang sering dipalak oleh Reo, adalah murni hasil masakannya sendiri.
Gian tidak berbalik. Dengan lihai ia menggoyang teflon di tangannya, membuat nasi goreng di dalamnya berputar di udara sebelum mendarat kembali dengan sempurna. "Lihat saja sendiri, tidak usah banyak tanya. Cerewet banget kayak burung beo," pekik Gian, matanya tetap fokus pada takaran kecap dan bumbu di atas kompor.
"Emmm, galak amat," Reo hanya duduk di kursi makan tepat di depan meja bar dapur. Ia menopang dagunya dengan senyum meremehkan yang sengaja dibuat-buat untuk memancing emosi Gian. "Awas aja kalau keasinan ya."
Setelah beberapa menit penuh ketegangan kuliner, asap mengepul indah dari atas piring. Gian mematikan kompor dan membawa dua piring nasi goreng kornet dengan telur mata sapi setengah matang yang terlihat sangat estetik ke atas meja.
"Dan akhirnya makanan ini sudah siap untuk disantap. Silakan dicoba," pekik Gian dengan nada menantang. Sebelum Reo sempat memegang sendok. "Kalau tidak enak, tidak usah dimakan. Lu laper apa kagak, bukan urusan gua." Selesai bicara, Gian langsung menyuap masakan buatannya sendiri dengan santai.
"Iya, iya! Astaga, sensitif banget kayak nolak cinta," gerutu Reo.
Reo kemudian menyendok nasi goreng itu ke dalam mulutnya. Begitu kunyahan pertama mendarat di lidahnya, mata Reo langsung membelalak lebar. Mulutnya mendadak berhenti mengunyah selama tiga detik karena saking terkejutnya. Perpaduan bumbunya benar-benar pas, gurih, manis, dan sedikit pedas yang menendang.
"Demi apa... ini enak banget!" puji Reo heboh. Tanpa babibu lagi, Reo langsung menyantap nasi goreng itu dengan kecepatan penuh, seolah-olah dia belum makan selama tiga hari tiga malam.
Melihat piring Reo yang bersih mengilat dalam waktu kurang dari lima menit, Gian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya keheranan. "Kau ini sebenarnya lapar atau rakus sih? Makannya kayak kesurupan reog."
Reo menyeka mulutnya dengan tisu sambil bersendawa pelan tanpa tahu malu. "Yah, karena makananmu enak banget, makanya aku makan sepuasnya sampai sebutir nasi terakhir. Lu cocok banget jadi Chef bintang lima, Gian."
Gian mendengus malas, menatap piring kotor Reo dengan pandangan penuh rencana licik. Berhubung perut sudah kenyang, hukum alam di apartemen mereka harus ditegakkan. Gian menyuruh Reo membereskan seluruh kekacauan di dapur.
"Sudah kenyang kan? Sekarang lu bereskan semua sisa piring kotor dan cuci teflonnya," ujar Gian, lalu berdiri dari kursinya bersiap melangkah ke kamar.
Reo yang baru mau selonjoran langsung protes, ia menunjuk sendoknya ke arah Gian dengan ekspresi tidak terima. "Hee! Enaknya kamu ya! Yang masak cuma satu wajan, kenapa piring kotornya jadi sekampung gini?"
Gian menghentikan langkahnya di ambang pintu dapur, berbalik lambat, lalu memberikan lirik sinis yang sanggup membuat bulu kuduk merinding. "Apa? Lu mau protes? Besok-besok masak sendiri."
Melihat ancaman mogok masak dari koki andalannya, nyali Reo langsung menciut seketika. Sambil nyengir kuda, ia menggelengkan kepalanya cepat. "Nggak ada! Nggak ada protes kok! Gian emang paling enak kok masakannya!"
"Bagus," sahut Gian dingin, lalu benar-benar menghilang di balik pintu kamarnya.
"Ah, sialan sih Gian... untung masakannya enak," gumam Reo pasrah. Dengan langkah gontai dan punggung yang masih agak pegal sisa kejadian di bus, ia mulai menyalakan keran air dan meratapi nasibnya di depan wastafel penuh piring kotor.
Sementara itu di dalam kamarnya, Gian menutup pintu rapat-rapat. Ia langsung merebahkan tubuh tingginya di atas kasur empuk tanpa berniat ganti baju santai terlebih dahulu. Diangkatnya ponsel pintar miliknya, menyalakan layarnya sebentar, melihat ruang obrolan yang sepi, lalu meletakkannya kembali di atas nakas dengan helaan napas berat.
Entahlah apa yang sebenarnya sedang berkecamuk di dalam pikirannya malam ini—apakah tentang kemacetan tadi, tentang sekolahnya. Karena rasa lelah yang teramat sangat, cowok berwajah dingin itu pun akhirnya memejamkan mata dan tertidur pulas dalam hitungan detik.
Kondisi ketenangan itu sangat berbanding terbalik dengan Gretta. Di rumahnya, jam dinding sudah hampir menunjukkan tengah malam, namun lampu belajarnya masih menyala terang Benderang. Gadis itu masih bergulat dengan buku-buku pelajaran barunya, mencatat beberapa formula dengan dahi berkerut, mencoba mengejar ketertinggalan materi di sekolah barunya demi masa depan yang cerah. Sambil sesekali menguap dan menahan kantuk dengan meminum air putih, Gretta terus berjuang membelah keheningan malam sendirian.