NovelToon NovelToon
Jeratan Cinta Suami Kejam

Jeratan Cinta Suami Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Siti Fatimah

"Ini apa maksudnya? Bisa jelaskan padaku ...aku mohon!"

"Hari ini akan diadakan acara pernikahanmu sayang dan Tuan 💙 lah yang akan membeli sekaligus bersedia meminangmu menjadi Istrinya. Bersiaplah! Ini demi kebaikan kamu."

Bagai diterpa badai di siang bolong. Alih-alih mendapatkan kesempatan untuk bahagia, ia malah dijerumuskan dalam lembah jurang yang sangat dalam oleh Papa kandungnya sendiri, tak percaya dan mengharapkan semua ini hanyalah mimpi namun nyatanya yang terjadi sungguhlah nyata.

"Usap air mata kamu! Kamu lupa tinggal menghitung menit ijab kabul akan segera dilaksanakan, jadi berhentilah menangis!" perintah Papanya tanpa memikirkan kehancuran sang Putri.

"Kenapa Papa setega ini sama Cantika? Kenapa Papa tidak membiarkan Cantika untuk mati daripada harus menikah dengan pria itu, dia pria yang sama sekali tidak Cantika kenal. Bahkan pria itu sudah memiliki istri! Kenapa Papa membiarkan semua ini terjadi, kenapa Pa?" tegas Cantika dengan menangis semakin menjadi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Fatimah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22 [ Fakta Yang sebenarnya]

"Wanita yang sudah beristri? Apa dia masih mencintaiku?" batin Monika, Pipi Monika memerah, ia tersipu malu dan dan kepedean jika seseorang yang dimaksudkan adalah dirinya padahal aslinya sangatlah tidak.

"Yang... Kenapa pipi kamu jadi memerah?''tanya Adrian menyadarkan lamunannya.

"Tidak! Aku hanya ingat awal pertama kita disaat lagi pdkt dulu, tidak disangka hubungan rumah tangga kita sudah berjalan selama ini, ya?"

Monika semakin menampakkan kemanjaan dan keharmonisan rumah tangganya didepan Kean, tapi ada maksud lain ia berbuat seperti ini, alasan utamanya karena ia ingin melihat seperti apa tanggapan dari sang mantan.

"Ayo Kean... Tunjukkan kecemburuan kamu... Aku tau kamu masihlah mencintai ku... Ayo tunjukkan keperdulian kamu... Ayo...."

Dalam hati, Monika menunggu cepat respon Kean dan ia sangat berharap Kean memberikan gertakan dan kejelasan langsung jika dia masih sangatlah mencintainya, tapi...

"Aku akui Adrian sangatlah bodoh! Bahkan aku juga ikut bodoh bisa-bisanya terjerat dalam cinta Wanita licik dan egois seperti dia! Adrian Lelaki baik yang tak pantas untuk dimanfaatkan! Didunia ini masih banyak Wanita yang lebih cantik dan sempurna! Adrian berhak mendapatkan yang lebih dari Monika! Dia sangat berhak!"

Kean membatin, tatapannya semakin menyala ia pula tak henti-hentinya mengalihkan lirikannya pada Wanita itu, tapi tanpa memiliki maksud lain apalagi berencana memilikinya biarpun Wanita itu pernah mengandung benih anak kandungnya.

"Oh iya aku sampai lupa? Kita sudah lama tidak bertemu dan terakhir kali aku bertemu Putri kalian kalau tidak salah usianya sekitar dua atau tiga tahunan, sekarang dia pasti sudah cukup besar apa kalian tidak berencana mempertemukan aku dengan keponakan aku itu?"

Sekejap raut wajah keduanya berubah sendu, terutama Adrian wajahnya berubah sedih, melihat perubahan yang terjadi Kean merasakan ada yang tidak beres, tanpa berfikir lama ia langsung bertanya.

"Kenapa kalian jadi kompak sedih? Keponakan aku sudah pasti tumbuh sangat cantik kan?"tanya Kean, ia beranggapan respon dari keduanya akan menunjukkan senyumannya tapi...

"Kamu tidak akan bisa bertemu dengannya lagi."

Deg

Hati Kean seketika berdetak kencang layaknya habis mendapatkan pukulan, kata tidak akan bisa bertemu apa maksudnya?

"Perjelas apa maksudmu? Memangnya dia kemana?"

"Putri telah meninggal!"

Hatinya semakin berdetak tak karuan, ia layaknya mendapatkan pukulan membabi buta, pikirannya berkecamuk.

"Putri meninggal?! Bagaimana bisa!" Nada suaranya naik, wajahnya memerah menandakan ada kemarahan dan kesedihan yang bercampur jadi satu.

"Tak hanya Putri, tapi calon anakku yang masih dalam kandungan istri ku ikut direbut dalam genggamanku... Mereka meninggal setelah menjadi korban tabrak lari dan pelakunya yang dengan keji dan tak berperikemanusiaan itulah yang telah membunuhnya."

"Tidak!" Kean mendadak tak stabil, mendengar kabar meninggalnya putri kesedihan tak mampu disembunyikan di balik wajah tampannya.

"Katakan! Apa yang kamu katakan tidaklah benar, kan? Pu... Putri meninggal itu semua bohong, kan?!"

Suara itu pecah memenuhi ruangan, bergetar oleh amarah sekaligus ketakutan yang tak mampu lagi disembunyikan.

Tatapan matanya memerah, kedua tangannya mencengkeram kuat bahu Adrian seolah berharap dengan cara itu kenyataan bisa berubah. Nafasnya memburu tak beraturan, dadanya naik turun menahan gejolak yang terasa menghancurkan isi hatinya perlahan.

Langkahnya mundur satu langkah, kepalanya menggeleng pelan berkali-kali.

"Tidak...!"

Suasana mendadak terasa begitu sunyi. Bahkan udara di sekelilingnya terasa menyesakkan. Hatinya seperti diremas paksa ketika tak ada satu pun orang yang berani membantah ucapan itu.

Dan diamnya mereka... menjadi jawaban paling menyakitkan yang pernah ia terima.

Seketika lututnya melemas. Tubuhnya jatuh terduduk ke lantai dengan tatapan kosong. Tangannya mengepal kuat di dada, mencoba menahan rasa sakit yang terasa begitu menusuk hingga sulit bernapas.

"Anakku... Maafkan Papa... Maafkan Papa tidak bisa menyelematkan kamu... Maafkan Papa... Papa bodoh! Maafkan Papa..."batinnya yang hancur lebur.

Di pemakaman umum

Kakinya sudah menginjak disalah satu pemakaman umum, Lelaki mengenakan jas hitamnya dan berkacamata hitam ia menatap arah makam atas nama Putri.

Air matanya mengalir dari pelupuk matanya, teringat terakhir kali ia bertemu dengan anak ini usianya yang masih berkisar dua sampai tiga tahunan.

Ia pula ingat setiap kali bertemu ia selalu mengajaknya bercanda dan main bersama biarpun anak itu masih belumlah bisa bicara, tapi sekarang... Semua sudah lenyap! Tak ada suara tangisannya lagi... Tak ada ketawanya yang mampu menenangkan pikiran Lelaki berstatus ayah kandungnya itu.

"Papa yang salah! Jika saja Papa perhatian lagi padamu mungkin kamu masih bisa Papa genggam, Papa yang salah! Maafkan Papa... Maafkan Papa..."

Bersambung

1
Siti Fatimah
Maaf, bab 14 masih belum lulus review dari semalam
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!