.
Di dunia luar yang penuh dengan kultivator ambisius dan haus darah, penampilan Ji Huang yang pucat, lesu, dan serba putih membuatnya terus-menerus diremehkan. Namun, di balik kuapan malasnya, tersimpan Sword Intent legendaris yang mampu melumpuhkan musuh hanya dengan satu tebasan kasual tanpa keringat. Akankah Ji Huang berhasil menjaga ketenangan waktu tidurnya di tengah pusaran konflik dunia fana dan kultivasi yang bising
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danzo28, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Misteri Ibu dan Sup Ayam Si Mulut Pedas
Pagi hari di Kota Amerta disambut dengan embusan angin yang sejuk, namun bagi Ji Huang, kebahagiaan sejati terletak di bawah punggungnya.
Uang kompensasi dari turnamen kemarin—yang didapatkan setelah "meminjamkan" sedikit pelajaran pada Huang Jian—telah digunakan oleh ayahnya untuk membeli sebuah kasur baru. Ji Huang berguling ke kanan, merasakan kelembutan bulu angsa kualitas terbaik yang menopang tubuh fannya. Untuk pertama kalinya sejak dia bangkit di dunia ini, dia merasa tidurnya benar-benar memuaskan.
"Ah, ini baru namanya kehidupan," gumam Ji Huang polos, matanya masih setengah terpejam.
Kedamaian itu berlanjut saat aroma harum, meski sedikit berbau gosong, menusuk hidungnya. Kain seprai pengganti pintu kamarnya disingkap, dan Ji Tian masuk dengan langkah mengendap-endap yang sama sekali tidak senyap. Di tangannya, pria paruh baya itu membawa sebuah nampan kayu berisi semangkuk bubur dengan beberapa bagian yang menghitam.
"Huang-er! Anakku yang jenius! Lihat apa yang Ayah buatkan untuk sarapanmu!" Ji Tian berseru riang, menaruh nampan itu di samping kasur dengan wajah penuh binar kebanggaan. "Bubur arang naga! Sangat baik untuk kesehatan!"
Ji Huang duduk bersila di atas kasur empuknya, menatap mangkuk itu dengan tatapan lempeng. "Ayah, ini bukan bubur arang naga. Ini murni bubur yang gosong karena Ayah ketiduran saat memasaknya."
"Hahaha! Anakku memang pintar, tidak bisa dibohongi!" Ji Tian tertawa terbahak-bahak tanpa rasa bersalah, menggaruk kepalanya yang botak di bagian tengah.
Ji Huang mengambil sendok, mencicipi bubur itu dengan ekspresi datar. Sembari mengunyah, pikirannya mulai menjelajahi ingatan pemilik tubuh asli. Ada banyak celah kosong dalam memori bocah ini, terutama mengenai asal-usul mereka. Mengapa mereka, yang menyandang nama keluarga "Ji", justru menumpang hidup di kediaman Cabang Keluarga Huang?
"Ayah," panggil Ji Huang blak-blakan sembari menyuap sendok kedua. "Sebenarnya, siapa kita ini? Kenapa kita tinggal di tempat orang lain yang bermarga Huang?"
Mendengar pertanyaan polos itu, tawa Ji Tian mendadak terhenti. Pria yang biasanya selalu bertingkah konyol dan emosional itu perlahan menurunkan tangannya. Ekspresi wajahnya berubah drastis, menyiratkan kedewasaan dan kesedihan mendalam yang belum pernah Ji Huang lihat sebelumnya.
Ji Tian menghela napas panjang, tatapannya menerawang menembus jendela kamar. "Huang-er... kamu sudah besar, dan setelah apa yang terjadi kemarin, Ayah rasa kamu berhak tahu. Nama 'Ji' yang kita miliki bukan sembarang nama. Garis keturunan kita sebenarnya adalah silsilah utama dari Klan Ji yang Agung di Ibukota Kekaisaran Langit."
Ji Huang mendengarkan dengan tenang. “Klan Ji di Ibukota? Ternyata tubuh ini punya latar belakang keluarga raksasa,” batinnya.
"Lalu kenapa kita terdampar di kota kecil ini dan ditindas oleh keluarga cabang Huang?" tanya Ji Huang jujur tanpa filter.
"Karena perebutan kekuasaan, Nak," jawab Ji Tian, suaranya agak bergetar. "Kakekmu dikhianati, dan Ayah yang tidak memiliki bakat kultivasi tinggi ini terpaksa diasingkan ke sini untuk bertahan hidup. Kita berlindung di bawah Keluarga Huang karena mendiang kakekmu pernah memiliki budi silsilah pada mereka. Tapi... yang paling membuat Ayah berdosa adalah ibumu."
"Ibuku?" Ji Huang memiringkan kepalanya. Di dalam memori pemilik tubuh lama, wajah sang ibu benar-benar buram, seperti sengaja dihapus. "Di mana dia sekarang? Kenapa dia tidak bersama kita?"
Ji Tian meraba dadanya, mengeluarkan sebuah liontin perak tua yang sudah pudar. Air mata mulai menggenang di sudut mata pria paruh baya itu. "Ibumu... dia adalah wanita dari klan kultivator suci kuno yang terlalu tinggi untuk kita gapai. Hubungan kami ditentang oleh dunianya. Saat kamu masih bayi, demi melindungi kita berdua dari kejaran orang-orang kuat di dunianya, dia terpaksa menyerahkan dirinya dan kembali ke klannya. Dia berjanji akan tetap hidup, selama kita berdua tetap aman di tempat terpencil ini."
Ji Tian kembali terisak, menutupi wajahnya yang tambun dengan kedua tangan. "Ayah ini bodoh, Huang-er! Ayah tidak bisa berkultivasi tinggi, tidak bisa menjemput ibumu, dan bahkan membiarkanmu ditindas di sini..."
Ji Huang menatap ayahnya yang menangis. Meskipun dia adalah seorang mantan Dewa Pedang yang jiwanya sudah berumur seribu tahun, dia bisa merasakan ketulusan dan beban berat yang dipikul pria bodoh di depannya ini. Ji Huang mengulurkan tangannya, menepuk bahu Ji Tian dengan pelan.
"Ayah tidak bodoh. Ayah sudah membesarkanku dengan baik sampai kasur ini menjadi empuk," ucap Ji Huang dengan kepolosan yang menenangkan. "Soal ibu, kalau tempatnya terlalu tinggi, nanti kita tinggal terbang saja ke sana dan membawanya pulang. Mengapa harus menangis?"
Sebelum Ji Tian sempat terharu oleh ucapan anaknya, sebuah bayangan melangkah masuk dengan cepat melewati kain pintu.
"Ji Huang! Kamu baru saja sembuh tapi sudah membuat Paman Tian menangis lagi! Dasar anak tidak tahu diri!"
Ji Lan masuk dengan wajah ketus dan juteknya yang khas. Gadis cantik itu mengenakan gaun hijau berburu yang ketat, menonjolkan lekuk tubuhnya yang atletis. Di kedua tangannya, dia memegang sebuah rantang kayu tiga susun yang mengeluarkan aroma herbal yang sangat kuat dan harum.
Ji Tian buru-buru mengusap air matanya, tersenyum kikuk pada keponakannya. "Ah, Lan-er, bukan begitu... Ayah hanya kelilipan debu bubur arang."
Ji Lan mendengus, melirik mangkuk bubur gosong di samping Ji Huang dengan pandangan menilai, lalu menghentakkan rantang kayunya ke atas meja dengan kasar. Brak!
"Singkirkan bubur arang beracun itu," kata Ji Lan tajam, matanya menatap ke arah lain untuk menghindari tatapan langsung Ji Huang. "Ini... aku membawa Sup Ayam Ginseng Hitam. Tadi pagi pelayanku tidak sengaja memasak terlalu banyak di rumah, daripada dibuang mubazir dan mengotori dapur, lebih baik dikasih ke orang malas sepertimu agar tidak mati kelaparan."
Ji Huang menatap rantang itu, lalu menoleh ke arah Ji Lan. Sebagai mantan dewa, penciumannya sangat tajam. Dia bisa mencium esensi spiritual murni dari ginseng hitam berusia seratus tahun di dalam sup tersebut—bahan obat yang sangat mahal dan langka di Kota Amerta, yang tidak mungkin dimasak "tidak sengaja" oleh seorang pelayan.
Ji Huang membuka rantang tersebut, mengambil mangkuk sup yang masih mengepul, lalu meminum kuahnya. Rasa hangat seketika menjalar, menutrisi meridian tubuh fanya yang tersumbat.
Dia menurunkan mangkuknya, lalu menatap Ji Lan dengan pandangan polos dan jujur tanpa filter. "Sup ini rasanya sangat enak, Sepupu. Dan ginseng hitam ini masih sangat segar, baru diekstrak sekitar dua jam yang lalu menggunakan api spiritual yang stabil. Rumahmu tidak mungkin menyisakan makanan semahal ini untuk dibuang."
Wajah Ji Lan mendadak menegang.
"Sepupu, kalau kamu memang khawatir padaku dan sengaja memasakkan sup mahal ini untuk menyembuhkan meridianku, bilang saja jujur," lanjut Ji Huang dengan wajah lempeng tanpa dosa. "Tidak usah pura-pura gengsi begitu. Lagipula, kamu terlihat lebih cantik saat membawakan sup daripada saat marah-marah."
Blush!
Wajah jutek Ji Lan seketika meledak menjadi merah padam hingga ke ujung telinganya. Jantungnya berdegup kencang karena skakmat jujur dari kepolosan Ji Huang. Dia menghentakkan kakinya ke lantai kayu dengan sangat keras.
"K-kamu... dasar tidak tahu diuntung! Mulutmu itu benar-benar perlu dijahit!" Ji Lan berteriak panik, menunjuk Ji Huang dengan jari yang gemetar karena malu. "Aku tidak peduli padamu! Aku cuma tidak mau kamu mati sebelum mengembalikan rantang kayuku!"
Ji Tian yang melihat itu hanya bisa terkekeh pelan, merasa suasana kamarnya kembali ceria.
Mencoba mengalihkan rasa malunya, Ji Lan berdehem kencang dan melipat tangan di dada, kembali memasang ekspresi dingin meskipun wajahnya masih kemerahan. "Dengar, Ji Huang. Aku ke sini bukan cuma antar sup sisa. Ada hal penting yang harus kamu tahu."
"Apa itu?" tanya Ji Huang malas, kembali menyuap potongan ayam ginseng ke mulutnya.
"Aksimu menghancurkan lutut Huang Jian dan membuat Tetua Kelima ketakutan kemarin telah memicu badai," ucap Ji Lan dengan nada serius. "Beritanya sudah sampai ke telinga Keluarga Utama Huang di pusat kota. Mereka tidak percaya seorang 'sampah' sepertimu bisa melakukan hal itu. Dua hari lagi, perwakilan dari Keluarga Utama akan datang ke cabang ini untuk memeriksa apa kamu menyembunyikan bakat, atau menggunakan sihir terlarang."
Ji Lan menatap Ji Huang dengan cemas. "Orang-orang dari pusat kota sangat arogan dan kuat. Kultivasi mereka jauh di atas Tetua Kelima. Jika mereka menganggapmu sebagai ancaman atau penyusup, mereka tidak akan segan-segan mengeksekusimu di tempat."
Ji Huang mendengarkan informasi itu sambil mengangguk-angguk kecil. Setelah menghabiskan supnya hingga tetes terakhir, dia meletakkan mangkuk kosong itu dan merebahkan kembali tubuhnya ke atas kasur bulu angsa barunya yang luar biasa empuk.
"Keluarga Utama? Orang pusat?" Ji Huang menggumam dari balik selimutnya, suaranya kembali terdengar mengantuk dan acuh tak acuh. "Dunia ini benar-benar penuh dengan orang-orang yang gemar berisik dan mengganggu kenyamanan orang lain."
"Ji Huang! Apa kamu tidak dengar bahayanya?!" Ji Lan gemas melihat sepupunya yang kembali malas-malasan.
"Aku dengar, Sepupu," jawab Ji Huang polos dari bawah selimut. "Tapi sekarang perutku kenyang, kasur ini empuk, dan cuacanya sangat cocok untuk melanjutkan tidur siang. Soal orang pusat yang mau datang dua hari lagi... biarkan saja mereka datang. Kalau mereka sopan, aku akan mengabaikan mereka. Tapi kalau mereka berisik dan mengotori halaman kamarku..."
Ji Huang menarik selimutnya hingga menutupi dagu, seulas seringai tipis yang sadis tersembunyi di balik kain. "...aku rasa aku tidak keberatan mengubah mereka menjadi pupuk untuk pohon buah liar di depan paviliun ini."
Ji Lan menghela napas panjang, menghentakkan kakinya sekali lagi karena kesal terus-menerus diabaikan, lalu berbalik pergi meninggalkan kamar sambil mengomel sendirian. Sementara itu, Ji Tian sibuk membersihkan mangkuk sup kosong dengan wajah riang.
Di bawah kehangatan selimutnya, sang mantan Dewa Pedang memejamkan mata dengan damai, siap mengumpulkan tenaga fanya demi menyambut siapa pun yang berani mengusik ketenangan hidup malasnya yang berharga.