Di Oakhaven, cinta adalah racun paling murni, dan aku baru saja meminumnya hingga tetes terakhir."
Dulu, aku adalah mesin pembunuh bagi pemerintah. Kini, aku adalah Marie Vance—seorang putri bangsawan yang dibuang untuk dijadikan boneka. Di kota yang selalu menangis di bawah hujan neon ini, aku terikat kontrak darah dengan Julius Vance, monster yang menguasai aliran Nectar di jantung kota. Dia menginginkan kemampuanku untuk mengungkap konspirasi, sementara aku menginginkan kepala setiap orang yang menghancurkan hidupku. Namun, di antara ranjang yang dingin dan pengkhianatan yang mematikan, aku menyadari satu hal: kami berdua adalah predator yang saling memangsa, hingga tak ada lagi yang tersisa kecuali dendam yang manis... dan cawan hitam yang siap menampung darah kami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Neef, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayangan dari Masa Lalu yang Menghujam
*"Ternyata neraka tidak cukup dalam untuk menimbun bangkai pengkhianat sepertimu, ya?"*
Suaraku bergetar, bukan karena takut, melainkan karena gejolak kebencian yang mendidih hingga ke ubun-ubun. Di depanku, berdiri **Arthur Vance**—bukan Paman Julius, melainkan sepupu jauh yang telah lama menghilang dari silsilah resmi keluarga—pria yang di dunia asalku adalah letnan kepercayaanku. Dialah yang menaruh racun di dalam cangkir kopi eksperimenku tepat sebelum aku terbangun di tubuh Marie. Dan sekarang, dia berdiri di sini, di jalanan becek Oakhaven, menatapku dengan wajah pucat pasi seolah melihat hantu.
Pria itu gemetar hebat. Pedang perak yang tadi ia jatuhkan kini tergeletak di lumpur, memantulkan cahaya lampu neon hijau dari kejauhan.
*"Kau... kau sudah mati,"* bisiknya, suaranya parau. *"Aku melihat tubuhmu hancur di lab. Aku sendiri yang memastikan detak jantungmu berhenti. Bagaimana kau bisa ada di sini? Di dunia ini?"*
Julius, yang sejak tadi duduk di sampingku di dalam kereta, perlahan menurunkan tangan yang sempat ia siapkan untuk mengeluarkan sihir kegelapannya. Dia menatapku, lalu menatap pria di luar kereta, dan seringai tipis yang berbahaya muncul di wajahnya. Dia tidak tampak terkejut; dia tampak seperti seorang penonton yang baru saja menyadari bahwa pertunjukan ini akan jauh lebih menarik daripada yang dia bayangkan.
*"Jadi, istriku,"* gumam Julius dengan nada yang merendahkan namun penuh rasa ingin tahu. *"Ternyata masa lalumu tidak hanya sekadar 'kehidupan yang tidak berarti'. Kau datang dari tempat yang sama dengan pria ini, bukan?"*
Aku tidak menoleh ke arah Julius. Fokusku sepenuhnya terkunci pada Arthur. Di dunia ini, Arthur Vance bukanlah prajurit militer, melainkan seorang *mage* pengembara yang telah menjual jiwanya pada kekuatan sihir terlarang untuk memperpanjang hidupnya. Itulah sebabnya dia terlihat sama persis dengan pria yang membunuhku di dunia asal.
*"Arthur,"* ucapku, melangkah turun dari kereta kuda dengan gerakan yang sangat tenang. Setiap langkahku di atas genangan air terdengar nyaring di tengah kesunyian malam. *"Kau selalu suka menjadi anjing peliharaan bagi mereka yang berkuasa. Dulu kau menjualku pada pemerintah, sekarang... siapa yang membayar tenagamu untuk menghentikan kereta ini?"*
Arthur mundur selangkah, napasnya memburu. *"Kau tidak mengerti, Marie Nahzfreo! Atau siapapun kau sekarang! Dunia ini... dunia ini adalah tempat pembuangan bagi jiwa-jiwa yang tidak diinginkan oleh takdir. Aku tidak membunuhmu karena aku membencimu, aku melakukannya karena aku diperintah oleh 'Dewan Langit' untuk memastikan bahwa jiwa yang memiliki 'Kekuatan Inti' tidak akan pernah sampai ke puncak Oakhaven!"*
Kekuatan Inti. Istilah itu membuatku tersentak. Jadi, kemampuanku memurnikan *Nectar* tadi bukanlah kebetulan?
Sebelum Arthur sempat menjelaskan lebih jauh, sebuah anak panah cahaya yang sangat terang melesat dari kegelapan, menembus bahu Arthur. Pria itu menjerit kesakitan dan ambruk ke tanah.
*SRETT!*
Seseorang melompat dari atap kereta—pria bertopeng burung hantu yang tadi bertemu denganku di lab bawah tanah. Dia mendarat dengan anggun di depan Arthur, pedang peraknya sudah terhunus, memancarkan aura sihir putih yang dingin.
*"Cukup bicaramu, Pengkhianat,"* desis pria bertopeng itu. Dia tidak melihat ke arahku, namun kehadirannya membuat Julius keluar dari kereta dengan aura gelap yang meledak-ledak.
*"Berani sekali kau menyentuh properti milik keluarga Vance di wilayahku,"* geram Julius. Tangannya terangkat, dan bayangan hitam mulai merayap keluar dari tanah, membentuk ribuan tentakel tajam yang siap mencabik-cabik pria bertopeng burung hantu itu.
Pertarungan itu terjadi begitu cepat hingga hampir mustahil untuk diikuti mata manusia. Pria bertopeng itu bergerak secepat kilat, menangkis serangan bayangan Julius dengan pedang peraknya yang memancarkan cahaya murni. *CLANG! BOOM!* Setiap benturan antara sihir hitam Julius dan sihir murni pria bertopeng itu menciptakan gelombang kejut yang meruntuhkan bangunan-bangunan tua di sekitar kami.
Aku berdiri di antara mereka, terombang-ambing oleh dua kekuatan yang sangat kontras. Arthur, yang terluka di tanah, mencoba merangkak ke arah kakiku.
*"Marie... dengarkan aku,"* bisiknya dengan sisa tenaga. *"Julius tidak ingin menggunakanmu untuk kekuasaan. Dia ingin menggunakan tubuhmu sebagai 'Kunci' untuk membuka Gerbang Dimensi yang telah disegel ribuan tahun lalu. Jika dia berhasil, Oakhaven akan hancur dan jiwa aslimu tidak akan pernah bisa kembali ke mana pun..."*
*"Cukup!"* aku berteriak, menginjak tangan Arthur agar dia diam. *"Aku tidak butuh penjelasan dari seorang pembunuh. Aku akan mencari kebenarannya sendiri!"*
Tiba-tiba, pria bertopeng itu melompat mundur, menarik Arthur dengan satu tangan yang diselimuti sihir, lalu menatapku di balik topengnya. *"Kau pikir kau bisa menguasai permainan ini, Marie? Kau baru saja menyentuh permukaan dari konspirasi yang melibatkan dewa-dewa yang sudah mati!"*
Dia menghentakkan pedangnya ke tanah, dan sebuah cahaya putih yang sangat menyilaukan membutakan pandanganku. Aku merasakan ditarik oleh kekuatan gravitasi yang aneh.
Ketika cahaya itu memudar, mereka berdua telah menghilang. Hanya menyisakan bercak darah Arthur di tanah becek.
Julius berdiri di sampingku, napasnya sedikit terengah, jubah hitamnya sedikit robek. Dia menatap ke arah tempat pria itu menghilang dengan kemarahan yang tertahan.
*"Mereka membawanya pergi,"* desis Julius. *"Itu masalah besar. Jika mereka membawanya, mereka akan tahu bahwa segel di tubuhmu sudah mulai retak."*
Dia berbalik menatapku, matanya kini tidak lagi memuja, melainkan menuntut jawaban.
*"Siapa pria itu, Marie? Dan apa sebenarnya hubunganmu dengannya di kehidupanmu yang lama?"*
Aku menatap Julius, lalu menatap tanganku yang masih terasa panas karena sisa sihir tadi. Aku tahu, jika aku memberitahu yang sebenarnya, Julius mungkin akan membunuhku karena aku dianggap sebagai ancaman bagi rencananya. Tapi jika aku berbohong, dia akan curiga dan menempatkanku dalam pengawasan yang lebih ketat.
*"Dia adalah masa laluku yang ingin kuhancurkan, Julius,"* jawabku datar. *"Sama sepertimu. Kalian berdua hanyalah dua sisi dari mata uang yang sama. Kalian berdua menginginkan sesuatu dari tubuh ini, dan kalian berdua tidak akan berhenti sampai kalian mendapatkan apa yang kalian mau."*
Julius terdiam. Dia melangkah maju, mencengkeram bahuku, dan menarikku mendekat hingga wajah kami hanya berjarak beberapa inci.
*"Aku tidak seperti mereka,"* bisiknya dengan nada yang terdengar seperti janji sekaligus ancaman. *"Mereka menginginkan tubuhmu untuk tujuan mulia yang palsu. Aku menginginkanmu untuk bertahan hidup. Kita adalah satu-satunya dua orang di kota ini yang mengerti bahwa di dunia yang kotor ini, menjadi monster adalah satu-satunya cara untuk menjadi manusia."*
Dia kembali ke kereta, meninggalkan aku sendirian di bawah hujan yang semakin lebat.
Aku naik ke kereta, duduk di sampingnya. Kami berdua terdiam selama sisa perjalanan menuju *The Black Cup*. Namun, di tengah kesunyian itu, aku merasakan sesuatu yang aneh. Di dalam sakuku, koin perak yang seharusnya sudah hancur tadi, kini perlahan-lahan menyatu kembali menjadi utuh di dalam genggamanku.
Sebuah catatan kecil muncul di permukaan koin itu dengan ukiran yang bercahaya biru redup:
*Jangan pernah percaya pada pria yang menjanjikan keselamatan, karena dialah yang sebenarnya menggali kuburmu.*
Aku menatap Julius yang sedang memejamkan mata di sampingku, wajahnya tampak tenang, seolah dia sedang memikirkan strategi perang berikutnya. Apakah dia benar-benar melindungiku? Atau apakah aku sedang dibawa perlahan-lahan menuju tempat di mana aku tidak akan pernah bisa kembali?
Saat kereta berhenti di depan klub malam *The Black Cup*, seorang pelayan membuka pintu dengan terburu-buru. Wajahnya pucat pasi.
*"Tuan Julius... ada masalah di gudang utama,"* ucapnya terbata-bata. *"Seseorang telah membobol brankas rahasia, dan mereka mengambil satu-satunya benda yang selama ini kau jaga dengan nyawamu."*
Julius membuka matanya. Tatapannya berubah menjadi dingin, lebih dingin dari salju manapun. Dia menoleh ke arahku, dan untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan yang nyata di wajahnya.
*"Mereka mengambilnya,"* bisiknya. *"Benda yang menahan kutukan di tubuhmu."*
Aku menatapnya dengan bingung. *"Kutukan? Apa maksudmu?"*
Julius tidak menjawab. Dia langsung melompat keluar dari kereta dan berlari ke dalam klub. Aku menyusulnya, jantungku berdegup kencang. Jika benda itu dicuri, maka kutukan yang menahan jiwaku di tubuh Marie akan lepas. Dan itu artinya... aku mungkin akan lenyap dalam waktu 24 jam.
Kami sampai di ruangan rahasia, dan pemandangan di depan kami membuatku membeku. Brankas itu terbuka lebar. Di tengah ruangan, terdapat sebuah cawan—bukan cawan hitam dari ballroom, melainkan sebuah cawan kristal putih murni yang berisi jantung yang masih berdetak.
Dan jantung itu... jantung itu adalah jantung ayah Marie yang telah diawetkan secara sihir.
*"Kau bilang kau ingin kebenaran, bukan?"* Julius menatapku dengan wajah yang kini menunjukkan keputusasaan. *"Ini kebenarannya. Ayahmu tidak mati karena dibunuh. Dia mengorbankan jantungnya agar kau bisa terus hidup di tubuh ini. Dan sekarang, mereka membawanya pergi untuk menghentikan detak jantung itu, yang berarti mereka secara tidak langsung sedang memastikan kau mati malam ini."*
Pintu ruangan itu tiba-tiba tertutup rapat, dan suara tawa yang sangat familiar terdengar dari balik dinding. Suara Elara.
*"Selamat malam, Marie. Selamat malam, Julius. Karena kalian tidak bisa berbagi takhta ini, biarkan aku yang mengirim kalian berdua ke tempat di mana takhta tidak lagi berarti."*
Api hitam mulai menyembur dari celah-celah lantai, membakar ruangan itu dalam hitungan detik. Kami terjebak. Dan di luar sana, aku mendengar suara langkah kaki tentara bayaran yang jumlahnya ratusan, mengepung gedung ini.