"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecurigaan Kaelan
Cukup lama Narno dan Beno berada di rumah Jamal, bahkan dia menawarkan untuk mengantarkan ketiganya pulang karena hari itu tiba tiba saja mendung dan pastinya akan turun hujan.
"Akan sangat berbahaya kalau kalian berjalan kaki, sebaiknya naik delman milik Mbah saja, Mbah akan mengantar kalian" ucap Narno
"Tapi Mbah, nanti malah merepotkan dan mungkin tidak akan hujan"
Belum satu menit Kinanti mengatakan itu, tiba tiba saja hujan deras langsung turun dan mereka segera berteduh kembali ke rumah Jamal.
"Sudah, menginap saja di sini, ayah juga pasti mengerti atau kamu kirim pesan pada Mbah Panca, di sini ada sinyal ko" ucap Kaelan
"Wira tidak bawa handphone kak, soalnya tadi di pinjam kak Purnama untuk nonton Dracin" jawab Prawira
"Kamu bisa pakai handphone punya kak Beno" ucap Beno memberikan handphone miliknya.
"Itu masalahnya kak, Prawira lupa nomornya" jawab Prawira langsung di geplak Kaelan karena dia heran kenapa Prawira tidak ingat nomornya sendiri.
"Kenapa bisa tidak ingat nomor sendiri! Kinanti, pakai handphone kamu saja" gerutu Kaelan
"Hehe... batrenya habis karena tadi terus buat video dengan Kalingga" jawab Kinanti memperlihatkan handphone miliknya yang mati.
"Tapi Kinanti ingat nomor kak Karna" ucap Kinanti
"Ini pakai handphone aku saja, lagipula punyaku batrenya masih menyala" ucap Beno
"Mbah, di sini kan tidak ada listrik, bagaimana Beno bisa memiliki handphone?" tanya Kaelan
"Beno kan sekolah lagi, Dia ikut kelas di tempat pak Liam dan setelah di tes ternyata Beno lulus dan sekarang bisa masuk ke kelas sepuluh katanya, les juga sudah dua bulan bersama seorang guru dari kampung Sukun" jawab Narno
"Jadi warga kampung bisa sekolah sekarang Mbah?" tanya Kaelan
"Iya, tapi hanya untuk laki laki saja, perempuan hanya sampai SD, karena adat di sini tetap mengharuskan perempuan tetap di rumah setelah mereka mendapatkan haid pertama mereka, kamu pasti sudah pernah dengar tentang perempuan perempuan dari kampung Sukun yang hamil lebih dulu karena mereka di sekolah menjalin hubungan dengan lelaki dari kampung lain, Mbah mencegah itu terjadi" jawab Narno
"Syukurlah, meskipun laki laki juga bisa saja bersikap kurang ajar lebih dulu, tapi Kaelan tetap senang karena Mbah mau melonggarkan hukum di sini tentang pendidikan" ungkap Kaelan
"Iya, ini supaya warga kampung kita juga tidak di hina orang, bahkan Beno membeli alat untuk mengisi daya baterai handphone miliknya, Mbah tidak tahu namanya tapi dia mengisinya di sekolah lalu di bawa pulang" jawab Narno
"Kenapa tidak pasang listrik saja di kampung ini Mbah? kampung Sukun sudah banyak listrik juga, bisa mengambil saluran dari sana karena dari kampung Mahoni terlalu jauh" ucap Kinanti membuat Kaelan tepuk jidat karena itu akan membuat Narno merasa kalau dirinya punya kesempatan untuk mendekati Kinanti dengan cara membahas tentang sekolah dan listrik ke kampung itu.
"Mbah juga sudah memikirkan itu, tapi Mbah tidak kenal dengan banyak orang yang bisa membantu" jawab Narno
"Kinanti bisa bantu bicara dengan Om Lintang dan Om Zaher, mereka akan mengurus jalur listrik ke sini kalau memang Mbah mau memasang listrik" ucap Kinanti membuat Kaelan ingin menjambak rambut perempuan yang sudah dia anggap seperti adiknya sendiri itu.
"Benarkah? kalau begitu Mbah akan ke kampung Mahoni besok untuk bicara dengan pak Lintang dan pak Zaher, kamu temani Mbah ya" ucap Narno yang sudah berhasil membuat Kinanti lebih dekat dengannya.
Kaelan terlihat marah, dia heran dengan strategi Narno sekarang yang membuatnya bingung, dulu Narno begitu menentang pendidikan di kampung itu, bahkan orang dari kota juga di larang masuk tanpa pajak yang begitu besar. tapi sekarang Narno mengijinkan pendidikan, orang orang kota masuk ke sana bahkan listrik di kampung itu dan Kaelan yakin ada alasan di balik apa yang di lakukan Narno itu.
"Kenapa?" tanya suara Parta yang terdengar di telinga Kaelan
"Aku curiga dengan Narno, dia mencurigakan" batin Kaelan
"Sepertinya dia merubah siasat untuk membuat kamu dan orang orang yang mendukung kamu lengah, bahkan merasa kalau Narno sudah menerima semua perubahan dalam kampung ini" jawab Parta
"Aku takut kalau sampai rencana ini dia gunakan untuk mendapatkan Kinanti dan setelah dia mendapatkan Kinanti, semua kelonggaran tentang pendidikan dan listrik ini akan dia hilangkan lagi" balas Kaelan
"Kalana juga belum memberi kabar tentang ari ari Kalingga, sepertinya Narno menyembunyikan itu di dasar tanah yang sulit di jangkau Raden Gatra" ucap Parta
Puk.
"Astagfirullah!" kaget Kaelan saat bahunya di tepuk Jamal
"Jangan melamun, Mbah Narno mau pulang, bapak mau mengantar mereka dulu" ucap Jamal
"Tidak perlu, aku pinjam payung kamu saja besok Beno akan kembalikan" jawab Narno
"Baiklah Mbah, maaf kalau sambutan kami kurang baik" ucap Jamal dan Narno mengangguk.
Dia sekali lagi menghampiri Kaini dan Kinanti lalu mengusap rambut keduanya bahkan rambut Prawira yang di inginkan oleh putri dari saudara Narno yang tinggal di kampung Sukun. Narno juga mengundang mereka ke rumahnya untuk makan siang besok sebelum mereka pulang ke kampung Mahoni.
"Kalingga, ayah tidak mau punya saudara seperti si Narno itu, bagaimana caranya supaya si Narno itu tidak mengganggu bibimu" gumam Kaelan yang sedang mengajak main Kalingga di dalam kamar.
"Kemana Maryani, sejak siang dia menghilang apa dia sedang pacaran dengan Panglima Parta"
"Benar benar menyebalkan dia sekarang, apa karena kami sudah bercerai mati dia jadi genit seperti janda di pertigaan jalan ke pemakaman itu"
"Kalingga, ibumu sudah jadi janda genit sekarang, dia bahkan tidak bersama kita sekarang padahal kemarin dia masih bersama kita di satu kasur"
Kaelan terus menggerutu tanpa dia tahu kalau Maryani sedang mendengarkan semua keluhannya di atas atap rumah Jamal, Maryani hanya bisa tersenyum saja karena Kaelan tidak pernah berubah, Kaelannya masih bawel seperti dulu saat mereka pertama bertemu.
Air mata Maryani mulai jatuh dan itu membuat Parta yang ada di sampingnya menghapus air mata Maryani.
"Aku akan menghilang nanti, aku bahkan hanya Arwah yang tidak bisa memiliki keinginan untuk bisa bersama anakku sepanjang hidupnya" ungkap Maryani
"Mungkin ada cara supaya kamu tetap ada, aku tidak mengerti masalah gaib karena aku hanya hidup sebagai pasukan gaib dari sejak aku ikut bersama Arsana" ucap Parta
"Aku bisa melihat kang Kaelan bahagia bersama Kalingga saja aku sudah senang, aku ingin mereka bahagia supaya aku bisa mati dengan tenang" jawab Maryani
"Kembang kantil ini, kembang kantil inilah yang secara tidak sengaja membuatku bisa bersama Kalingga, jika ini hilang dari jasadku, maka aku akan menghilang juga" ungkap Maryani yang tetap menyimpan kembang kantil itu di lidahnya.
"Jasadmu aman di sana, terjaga oleh bulu panglima Arsana jadi kamu tidak usah khawatir" jawab Parta
"Dan aku akan membuat jasad dan arwahmu menghilang Maryani..." sinis Salbiah yang sedang menjadi kuyang dan bersembunyi di salah satu atap rumah untuk memata matai rumah Jamal.