NovelToon NovelToon
Cinta Untuk Andara

Cinta Untuk Andara

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu
Popularitas:2.7k
Nilai: 5
Nama Author: Bareta

Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.



Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.



Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.



Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.




Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?



Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 2

Tidak sanggup menghabiskan waktu tanpa ingatan tentang hari-harinya bersama Fajar, Andara memutuskan untuk segera pindah.

 

Bukan sekedar mencari tempat yang lebih kecil, Andara memilih lokasi yang letaknya cukup jauh dari rumah kontrakan yang sekarang supaya ia tidak perlu sering-sering melewati jalan yang membuatnya sulit bangkit dari kesedihan dan penyesalan yang begitu dalam.

 

Sejujurnya Andara sudah nyaman tinggal di situ tapi situasinya sudah tidak memungkinkan karena setiap jengkal dan sudut rumah membuat Andara teringat setiap momen bersama Fajar mulai dari masa kehamilan, kelahiran dan hari-hari membesarkan Fajar sampai berusia 4 bulan.

 

Sekarang pun Andara suka tiba-tiba menangis apalagi saat merapikan barang-barang milik Fajar yang akan disumbangkan ke panti asuhan. Hanya beberapa potong pakaian yang Andara simpan sebagai kenang-kenangan.

 

Seluruh perabotan yang ada di dalam rumah termasuk alat-alat dapur juga sudah dijual atau dibagikan pada tetangga karena Andara akan menempati kamar kost yang kecil sehingga tidak membutuhkan apa-apa kecuali peralatan makan.

 

“Sudah siap Neng ?” Bu Entin, tetangga seberang rumah menghampiri Andara yang sedang melamun di dekat pintu masuk.

 

“Eh iya Bu. Sudah semuanya, tinggal serah terima kunci sama bu Rodiah.”

 

Kesedihan yang ditahan sejak tadi akhirnya pecah juga. Bu Entin, orang yang paling sering membantu Andara menyeka air matanya.

 

“Maafin ibu ya Neng. Ibu sudah lalai menjaga Fajar.”

 

“Jangan bilang begitu Bu. Ibu nggak salah apa-apa.”  Sambil meneteskan air mata Andara langsung memeluk wanita baya yang paling peduli dan sangat perhatian padanya.

 

“Kalau saja ibu lebih awal membawa Fajar ke dokter mungkin…..” Suara bu Entin terbata di sela isak tangis.

 

Andara pun melepaskan pelukan dan tersenyum meski bibirnya terasa pahit.

 

“Semuanya sudah takdir. Dulu ibu yang mengajari Ara untuk menerima apapun yang terjadi sebagai kehendak Tuhan. Meski rasanya berat, Ara akan belajar untuk ikhlas melepas kepergian Fajar.”

 

Bu Entin mengangguk pelan dan tersenyum tipis, kedua tangannya menangkup wajah Andara.

 

“Jangan pernah menyerah ya Neng ! Tuhan tidak akan memberikan cobaan lebih dari kemampuan hamba-Nya.”

 

“Iya Bu.” Andara kembali mengangguk.

 

“Kalau ada apa-apa, jangan sungkan datang kemari, ibu pasti akan membantu sebisa mungkin.”

 

“Terima kasih karena sudah membuat Ara merasa memiliki ibu lagi.”

 

Meski sangat berat, perpisahan penuh air mata itu harus dijalani. Bu Entin mengantar Andara sampai ke ujung gang dimana taksi online sudah menunggunya sejak 5 menit yang lalu.

 

“Jaga kesehatan Neng !”

 

“Ibu juga. Terima kasih buat kebaikan ibu selama ini.”

 

Perlahan mobil bergerak namun Andara tetap melambaikan tangan dari jendela yang dibiarkan terbuka sampai akhirnya kuda besi itu berbelok dan bu Entin sudah tidak kelihatan lagi.

 

Kembali Andara menyeka kedua sudut matanya yang basah dan mengucapkan doa dalam hatinya.

 

Ya Tuhan, berikan kekuatan supaya hamba-Mu yang lemah ini tidak akan menyerah dan selalu percaya kalau ada rencana indah di balik semua cobaan ini.

 

 

 

*****

 

 

Setelah memastikan jadwal praktek dokter Dita, pagi-pagi sekali Andara berangkat ke rumah sakit. Biarpun seharian menunggu, Andara sudah bertekad harus bertemu dengan dokter yang baik hati itu.

 

Bukan untuk membahas soal penyakit yang menyebabkan Fajar meninggal tapi menyerahkan uang yang dimilikinya sebagai cicilan biaya rumah sakit yang dipinjamkan dokter Dita.

 

Baru sekitar limabelas menit Andara menunggu saat resepsionis memanggilnya.

 

“Dokter Dita menunggu anda di ruang NICU.”

 

Mendengar kata NICU, tiba-tiba tubuh Andara seperti tersengat aliran listrik. Bayang-bayang peristiwa beberapa hari yang lalu membuat Andara terdiam.

 

“Bu Andara ! Bu !”

 

Bukan hanya meninggikan volume suara, petugas resepsionis yang sudah beranjak dari tempat duduknya mengibas-kibaskan tangan di depan wajah Andara.

 

“Eehhh maaf. Saya akan segera naik ke atas.”

 

Andara langsung pergi dan naik ke lantai 2.

 

Tubuh Andara rasanya panas dingin saat melangkah ke arah NICU yang berada di ujung lorong sebelah kanan dari lift.

Jantungnya berdebar tidak karuan saat pintunya terbuka dan seorang wanita baya keluar sambil menyeka air matanya dengan tisu. Tidak sampai satu menit dokter Dita ikut keluar, mengenakan scrub warna hijau tua, menandakan dokter itu sempat berada di ruang operasi.

 

Andara bergeming, memperhatikan percakapan yang kelihatan serius. Pasti sesuatu yang buruk sedang terjadi karena bahu wanita baya itu mulai berguncang meski isak tangisnya masih agak pelan.

 

“Ara !”

 

Begitu melihat Andara, dokter Dita melambaikan tangan menyuruhnya untuk mendekat. Ragu-ragu Andara melangkah. Bau khas rumah sakit seakan-akan lebih tajam dari sebelumnya membuat jantung Andara kembali berdebar-debar tidak karuan.

 

“Selamat pagi dokter.”

 

“ASI-mu masih lancar ?” 

 

Pertanyaan dokter Dita membuat Andara melongo, begitu pula wanita baya yang berdiri di antara mereka langsung berhenti menangis dan memicingkan mata.

 

“Eeehh… Masih dokter.”

 

“Mau membantu cucunya ibu Mira ?”

 

“Maksud dokter ?”  Wajah Andara kelihatan semakin bingung.

 

“Bu Mira, apa ibu bersedia mengijinkan Andara menyusui Lily ?”

 

“Dia ?” Wanita yang dipanggil Mira itu menunjuk Andara, selain bingung, ekspresinya terlihat tidak yakin dengan pertanyaan dokter Dita.

 

“Andara memang masih muda Bu,” dokter Dita tersenyum.  “Putranya yang berusia 4 bulan baru saja meninggal 3 hari yang lalu jadi tidak ada salahnya kita mencoba membiarkan Ara menyusui Lily.”

 

“Ada apa dengan ibunya, Dok ?” Pertanyaan polos Andara membuat dokter Dita kembali tersenyum.

 

“Mamanya Lily baru saja meninggal beberapa jam yang lalu, pendarahan setelah melahirkan dan Lily tidak mau minum susu formula, semuanya dimuntahkan kembali.”

 

Mira yang masih ragu berpaling pada dokter Dita.  “Dokter yakin cucu saya bisa berhenti menangis setelah minum ASI bukan dari ibunya sendiri ?”

 

“Bukan hal baru seorang bayi menerima donor ASI dari ibu lain. Yang lebih berbahaya justru membiarkan bayi yang baru lahir menangis terlalu lama. Sebagai dokter, saya hanya mencoba memberikan solusi terbaik, keputusan ada di tangan keluarga.”

 

Beberapa kali Mira menghela nafas sambil menimbang-nimbang saran dokter Dita. Tidak mungkin menghubungi menantunya yang sedang sibuk mengurus jenazah istrinya, putri kandung Mira.

 

Suara tangis bayi dari dalam ruangan kembali terdengar cukup keras bahkan menurut Andara suaranya mulai agak serak.

 

“Lakukan yang terbaik untuk Lily,” ujar Mira dengan berat hati.

 

Dokter Dita mengangguk dan beralih pada Andara.  “Ikut saya masuk ke dalam Ra !”

 

Meski belum sepenuhnya memahami tujuan dokter Dita, Andara menurut. Setelah memakai baju pelindung, Andara masuk ke ruang NICU, menghampiri dokter Dita yang sedang menggendong bayi kemerahan yang masih menangis meski sudah tidak sekeras tadi.

 

“Namanya Lily, Ra, baru lahir sekitar pukul 4 subuh dan ibunya meninggal sebelum sempat menggendong anaknya. Saya yakin batin Lily bisa merasakan kepergian ibunya. Dekaplah dia Ra dan biarkan kalau Lily menginginkan ASi langsung dari sumbernya.”

“Tapi dokter….”

“Jangan biarkan Lily menyusul ibunya Ra !”

 

 

1
Baretta
Terima kasih Kak Evi Lusiana 😊😊
Evi Lusiana
mampur thor,awal yg menyedihkan smoga andara sgra mnemukan kebahagiaan,semangat thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!