Evelyn Carter tewas dalam kecelakaan mobil di abad ke-21. Namun saat membuka mata, ia tidak berada di rumah sakit, melainkan di sebuah istana kuno.
Ia kini hidup dalam tubuh Ratu Evelyn Lancaster, ratu muda yang terkenal lemah dan sedang menunggu kematian karena racun dari para selir. Di istana, semua orang sudah bersiap menyambut kematiannya.
Selir kesayangan raja ingin merebut tahta ratu. Para menteri diam-diam mengatur kekuasaan baru. Tapi mereka tidak tahu satu hal... Ratu yang bangun hari itu, bukan lagi wanita yang sama. Di dalam tubuh itu hidup jiwa wanita modern yang cerdas dan tidak mudah diinjak.
Selain itu, Ratu memiliki Ruang Ajaib. Tempat rahasia yang menyimpan obat, pengetahuan, dan teknologi masa depan.
Kini, orang-orang yang menunggunya mati akan segera sadar. Ratu yang mereka anggap lemah… justru akan menjadi penguasa sejati di istana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rere ernie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter — 7.
Malam itu lebih tenang dari biasanya, tidak ada panggilan darurat, dan tak ada bisikan-bisikan panik dari pelayan. Namun justru karena itu, suasana terasa aneh.
Evelyn sedang membaca di ruangannya, lampu minyak berpendar lembut. Bayangannya jatuh di dinding, pikirannya masih sibuk dengan satu hal... Raja.
Hari ini, Raja Alexander terlalu diam. Terlalu mudah menutup kasus, seperti sudah memutuskan sesuatu.
Ketukan pelan terdengar.
Tok.
Tok.
Bernard yang bersama Evelyn di dalam ruangan segera membuka pintu.
Kasim itu sedikit terkejut. “Yang Mulia Raja…”
Evelyn mengangkat kepala, tak ada keterkejutan seolah sudah menduga Raja Alexander akan datang malam itu tanpa pemberitahuan.
Alexander masuk tanpa pengumuman panjang, langkahnya santai. Namun, aura yang ia bawa tetap menekan. Para pelayan langsung mundur keluar, pintu ditutup. Kini, di dalam ruangan hanya mereka berdua.
Evelyn menutup buku di tangannya. “Jarang sekali Yang Mulia datang tanpa alasan.”
Alexander tidak langsung duduk, Ia berjalan pelan mengamati ruangan. Tatapannya berhenti pada beberapa benda kecil di meja. Tanaman dalam pot kecil, daunnya segar tapi tidak biasa.
“Kau sibuk,” katanya akhirnya.
Evelyn tersenyum tipis. “Lebih baik sibuk... daripada menjadi target.”
Alexander melirik Evelyn sedikit, cukup untuk menunjukkan ia memahami maksud wanita itu. Ia duduk di kursi seberang, tapi tidak langsung bicara. Hanya menatap Evelyn, seperti ingin menembus pikirannya.
“Kau tidak takut,” katanya tiba-tiba.
Evelyn mengangkat alis. “Haruskah aku takut?”
Raja Alexander menyandarkan tubuhnya. “Semua orang di istana ini takut. Mereka takut salah bicara, takut salah langkah dan takut... mati.”
Ia berhenti, tatapannya menajam. “Namun sekarang... kau tidak takut pada semua itu.”
Evelyn tidak langsung menjawab, ia hanya memutar cangkir tehnya perlahan.
“Takut tidak akan menyelamatkanku.” Ucap wanita itu. “Jadi... untuk apa?”
Jawaban itu terlalu jujur, Alexander tersenyum tipis. “Kau yang sebelum ini… tidak akan mengatakan itu.”
Kalimat itu menggantung di udara.
Evelyn menatap Raja Alexander tanpa gentar, sorot matanya dingin dan tajam. “Evelyn yang kamu kenal dulu… sudah mati. Dia lenyap, saat racun itu membuatnya hampir kehilangan nyawa.”
Hening, udara seakan berhenti.
Alexander tidak bereaksi, namun dalam tatapannya ada getaran halus. Seolah ia baru saja mendengar sesuatu, yang tidak seharusnya diucapkan. Ia berdiri dari duduknya, berjalan mendekat hingga berhenti di depan Evelyn. Jarak mereka sekarang... terlalu dekat.
“Kalau begitu…” suaranya rendah. “siapa yang berdiri di depanku sekarang?”
Evelyn mengangkat wajah cantik dari si pemilik tubuhnya, menatap langsung ke mata Raja Alexander. “Ratu Anda...”
Jawaban sederhana, namun penuh makna.
Alexander tertawa pelan, ia mundur satu langkah. Namun tatapannya belum lepas. “Kalau begitu… tetaplah seperti ini. Karena istana ini, tidak membutuhkan orang lemah.”
Raja berbalik melangkah menuju pintu dan pergi.
Evelyn tetap duduk, lalu menghembuskan nafas pelan. Kini... Raja tak hanya curiga padanya, tapi mulai mendekat untuk mengetahui rahasianya.
Esoknya...
Sepanjang hari itu terasa terlalu tenang, tak ada rumor baru dan konflik terbuka. Namun saat malam kembali tiba, ada sesuatu yang membuat Evelyn waspada. Ia berdiri di balkon, menatap halaman istana yang sunyi. Lampu-lampu lentera berderet rapi, segalanya terlihat normal.
“Yang Mulia…”
Bernard muncul di belakangnya. “Beberapa pelayan dapur menghilang.”
“Berapa banyak?” Evelyn tidak menoleh.
“Tiga orang.”
Jumlahnya memang kecil, tapi cukup untuk menjadi tanda.
“Dia mulai bergerak.”
Bernard langsung mengerti siapa yang dimaksud Evelyn.
Di sisi lain istana, paviliun Sophia terang oleh cahaya. Akan tetapi, suasana di dalamnya dingin.
Sophia berdiri di depan meja. Di atasnya ada sebuah peta kecil istana, beberapa titik ditandai.
Seorang pria berpakaian hitam berlutut di depannya. “Semua sudah siap, Nyonya.”
Sophia mengangguk, tatapannya tajam. “Kali ini… aku tidak akan memberi dia kesempatan.”
Ia mengambil botol kecil, cairan di dalamnya berwarna jernih dan tidak berbau. Tidak terlihat berbahaya, tapi cukup untuk membunuh tanpa jejak.
“Campurkan ke dalam distribusi makanan dapur ratu.”
Pria itu menunduk. “Baik.”
Sophia tersenyum, tapi tidak ada kehangatan sama sekali. “Jika dia bisa menyelamatkan satu orang, aku ingin melihat… bagaimana dia menyelamatkan semuanya.”
Keesokan paginya, istana mulai kacau. Pelayan dapur di kediaman ratu satu per satu jatuh sakit.
Pusing.
Muntah.
Lemah.
Berita itu sampai ke paviliun ratu.
Bernard masuk dengan wajah tegang. “Yang Mulia… ini bukan kebetulan.”
Evelyn sudah berdiri, matanya dingin.
“Memang bukan.” Ia langsung menuju dapur, langkahnya cepat.
Di sana, puluhan pelayan tergeletak. Beberapa masih sadar dan beberapa lagi sudah tidak bergerak.
Semua orang panik.
“Tabib belum datang!”
“Kita tidak tahu racunnya apa!”
“Yang Mulia, ini berbahaya—”
Evelyn tidak mendengarkan, ia berlutut di samping salah satu pelayan. Ia memeriksa nafas pelayan itu, gejalanya jelas. Namun racunnya… bukan jenis biasa.
“Dia benar-benar berniat membunuh…” matanya menyipit tajam, Evelyn berdiri. “Semuanya keluar! Tinggalkan aku sendiri!”
Para pelayan terkejut.
“Yang Mulia—”
“Keluar!” Nada suara Evelyn tidak bisa dibantah.
Dalam waktu singkat, dapur kosong. Tersisa Evelyn… dan para korban. Ia menutup mata, masuk ke ruang ajaib. Di dalam ruangan, ia bergerak cepat. Mengambil beberapa botol dan mencampurkan sesuatu. Beberapa saat kemudian, ia kembali.
Evelyn mulai memberi obat satu per satu, cepat dan efesien. Beberapa menit, tidak ada perubahan.
Tiba-tiba....
Nafas salah satu pelayan mulai stabil, wajahnya kembali berwarna. Satu per satu, mereka mulai pulih. Saat pintu dibuka kembali, semua orang terdiam. Pelayan yang tadi hampir mati, sekarang sedang duduk meski masih terlihat lemah.
Kabar itu menyebar cepat, seluruh istana gempar.
Di paviliun Sophia, seorang pelayan berlutut gemetar. “Ratu… menyelamatkan mereka semua…”
“Semua?” Wajah Sophia benar-benar berubah.
“Ya, Nyonya…”
Mata Sophia menyipit, lebih tajam dari sebelumnya. “Kalau begitu, aku harus berhenti bermain pelan-pelan.”
Beberapa hari setelah insiden itu, suasana istana berubah. Para pelayan mulai membicarakan satu hal... Ratu Evelyn.
“Dia menyelamatkan semua orang…”
“Bahkan tabib tidak bisa melakukannya…”
“Dia benar-benar berbeda…”
Rasa takut mulai berubah menjadi rasa hormat. Namun Evelyn tidak terpengaruh, karena ia tahu reputasi saja tidak cukup.
Di dalam ruangannya, ia duduk bersama Bernard. Di atas meja, beberapa laporan.
“Wilayah utara mulai mencoba metode kita,” kata Bernard. “Namun mereka kekurangan alat dan orang.”
Evelyn mengangguk pelan. “Berarti kita tidak hanya butuh ide, kita butuh orang yang bisa menjalankannya.”
Ia berdiri, berjalan perlahan.
“Orang yang tidak terikat pada istana, dan tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun.”
Bernard sedikit terkejut. “Yang Mulia ingin membangun… kekuatan sendiri?”
Evelyn tersenyum tipis. “Bukan ingin, tapi aku akan segera memulainya”
Malam itu... Evelyn keluar istana secara diam-diam dengan pakaian sederhana. Tanpa pengawalan besar ia berjalan di jalanan kota, melihat secara langsung kehidupan rakyat.
Seorang pria tua sedang menjual sayur layu, seorang anak kecil membawa air dengan susah payah. Dan di sudut, sekelompok orang membicarakan pajak.
Evelyn berhenti untuk mendengarkan.
“Kalau panen gagal lagi…”
“Kita tidak akan bertahan…”
Mata Evelyn sedikit berubah, ia mendekat. Berbicara dengan beberapa orang. Ia bertanya dan mendengarkan opini-opini rakyat. Kini, ia bisa melihat secara langsung dampak dari keputusan istana. Setelah itu, ia kembali ke istana dengan satu keputusan.
Di ruangannya, Evelyn berkata pada Bernard.
“Mulai dari sekarang, kita akan membangun jaringan sendiri.”
“Petani.”
“Pedagang.”
“Orang-orang biasa.”
“Yang setia… bukan karena takut, tapi karena mereka butuh kita.”
Bernard menunduk dalam, ia mengerti. Ini bukan langkah kecil, tapi ini adalah awal dari sesuatu yang besar.
Evelyn menatap jendela, ke arah kota yang gelap. “Jika aku ingin menguasai istana, aku harus menguasai yang ada di luar temboknya juga.”
Angin malam berhembus pelan, dan tanpa disadari siapa pun, sebuah jaringan mulai dibentuk oleh Evelyn.
Tpi bgus jg sich biar di lihat kala ma wili