Bagi Alya, pernikahan adalah sebuah janji suci. Namun, di usianya yang ke-22, janji itu berubah menjadi transaksi gelap. Demi menyelamatkan ayahnya dari jeratan hukum akibat kebangkrutan besar dan serangan jantung ibunya, Alya terpaksa menerima pinangan Arka Dirgantara, seorang pengusaha muda nan dingin yang memiliki kekuasaan mutlak.
Alya mengira dia hanya akan menjalani pernikahan tanpa cinta. Namun, kenyataan jauh lebih pahit: Arka tidak menginginkan hatinya, ia menginginkan kehancurannya.
Arka menyimpan dendam masa lalu yang membara. Ia meyakini bahwa ayah Alya adalah penyebab kematian tragis ibunya bertahun-tahun silam. Baginya, menikahi Alya adalah cara paling elegan untuk menyiksa musuhnya melalui tangan orang yang paling dicintai sang musuh. Di mansion megah yang lebih menyerupai penjara emas, Alya harus bertahan menghadapi dinginnya sikap Arka, intimidasi ibu mertua yang kejam, hingga kehadiran masa lalu Arka yang terus memojokkannya.
Namun, di tengah badai air mata dan perlak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wyzy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak Yang Terhapus
London menyambut Alya dengan langit kelabu dan rintik hujan yang tak kunjung usai—cuaca yang seolah merefleksikan suasana hatinya selama beberapa bulan terakhir. Di sebuah apartemen bergaya Victorian di pinggiran Richmond yang tenang, Alya mencoba merajut kembali serpihan hidupnya. Jauh dari hiruk-pikuk Jakarta, jauh dari bayang-bayang mansion Dirgantara yang menyesakkan.
Perutnya kini mulai sedikit membuncit, sebuah tonjolan kecil yang menjadi pengingat harian bahwa ia tidak lagi sendirian. Di dalam sana, ada kehidupan yang tumbuh dari sisa-sisa kehancuran. Alya sering menghabiskan waktu di dekat jendela, mengelus perutnya sambil menatap taman kecil di bawah, mencoba meyakinkan dirinya sendiri bahwa keputusannya untuk menghilang adalah hal terbaik bagi janin tersebut.
"Minum susumu, Al. Kau melamun lagi," suara Reno memecah keheningan.
Pria itu masuk membawa nampan berisi segelas susu hangat dan sepiring buah potong. Selama tiga bulan di London, Reno telah menjadi pelindung, kakak, sekaligus sandaran bagi Alya. Ia memastikan identitas Alya benar-benar terkubur. Di London, Alya dikenal sebagai 'Liana', seorang janda muda yang sedang menempuh pemulihan kesehatan.
"Terima kasih, Ren," Alya tersenyum tipis. "Bagaimana kondisi Ibu?"
"Ibu Dewi sudah mulai bisa berjalan di taman tadi pagi bersama perawat. Dokter bilang pemulihannya sangat luar biasa. Mungkin karena udara di sini lebih tenang," Reno duduk di kursi seberang Alya. Matanya menatap Alya dengan lembut, namun ada gurat kecemasan yang ia sembunyikan.
"Ada apa, Ren? Kau tampak gelisah," tanya Alya peka.
Reno menarik napas panjang. Ia mengeluarkan sebuah tablet dan menunjukkan beberapa berita bisnis internasional. "Arka... dia seperti orang gila, Al. Dia telah mengalihkan hampir seluruh fokus bisnisnya ke Eropa. Dia membeli saham di beberapa rumah sakit swasta dan firma hukum di London. Dia tidak lagi bersembunyi. Dia terang-terangan mencari 'istrinya yang hilang'."
Jantung Alya berdegup kencang. Susu di tangannya terasa mendingin. "Dia tahu kita di sini?"
"Belum pasti. Tapi dia mulai mempersempit pencarian ke kota-kota besar di Eropa yang memiliki fasilitas medis jantung terbaik. Dia tahu kau akan membawa ibumu ke tempat terbaik." Reno menggenggam tangan Alya. "Aku sudah memperketat keamanan di sekitar gedung ini. Tapi Arka punya sumber daya yang hampir tak terbatas. Dia mulai menggunakan pengaruh politiknya untuk mendapatkan akses data imigrasi."
Alya memejamkan mata. Rasa mual yang biasanya datang karena kehamilan, kini diperparah oleh rasa takut. "Kenapa dia tidak bisa membiarkanku tenang? Dia sudah mendapatkan tanda tangan cerainya. Dia sudah bebas."
"Bagi pria seperti Arka, kehilangan kontrol adalah penghinaan terbesar. Terlebih setelah dia tahu tentang... anak itu," sahut Reno pahit.
Di sisi lain kota London, di sebuah kamar penthouse mewah yang menghadap ke Sungai Thames, Arka Dirgantara berdiri di depan dinding kaca besar. Penampilannya jauh berbeda dari Arka yang angkuh beberapa bulan lalu. Tubuhnya lebih kurus, wajahnya ditumbuhi jambang tipis yang tidak terurus, dan matanya selalu tampak redup seolah kehilangan cahaya.
Di atas meja kerjanya, tersebar ratusan foto wanita hamil yang diambil secara diam-diam oleh informannya di berbagai penjuru kota. Namun, tak satu pun dari mereka adalah Alya.
"Tuan, ada laporan dari tim lapangan di Richmond," Bayu masuk dengan langkah terburu-buru.
Arka segera berbalik. "Apa?"
"Seseorang melihat wanita dengan ciri-ciri Nyonya Alya di sebuah apotek dua hari lalu. Dia membeli vitamin kehamilan. Wanita itu ditemani oleh seorang pria yang sangat mirip dengan Reno. Kami sudah melacak rekaman CCTV apotek tersebut, tapi filenya sudah dihapus secara profesional sepuluh menit setelah mereka keluar."
Arka mengepalkan tangannya. "Itu pasti mereka. Hanya Reno yang punya kemampuan untuk menghapus jejak secepat itu. Berikan aku lokasi apoteknya."
"Tuan, ini sudah jam dua pagi. Anda belum makan—"
"Aku tidak butuh makan, Bayu! Aku butuh istriku!" bentak Arka. Suaranya pecah, menunjukkan betapa rapuhnya kondisi mentalnya saat ini. "Dia mengandung anakku, Bayu. Dia membawa darah dagingku di tengah musim dingin ini, dan aku bahkan tidak tahu apakah dia punya selimut yang cukup hangat."
Arka mengambil mantelnya dan kunci mobil. Ia memacu kendaraannya menembus jalanan London yang sepi. Pikirannya hanya terisi oleh satu wajah: Alya yang sedang menangis di bawah siraman air hujan di bandara. Penyesalan itu seperti racun yang mengalir di nadinya, membunuhnya perlahan setiap hari.
Pukul tiga pagi di Richmond.
Alya terbangun karena rasa haus yang mendadak. Ia berjalan menuju dapur yang gelap, hanya diterangi oleh lampu jalan dari luar. Saat ia sedang menuang air, ia melihat sebuah mobil hitam berhenti tepat di depan gerbang apartemennya.
Seorang pria keluar dari mobil itu. Meskipun pria itu mengenakan mantel besar dan topi, Alya mengenali postur tubuh itu. Postur tubuh yang dulu sering memeluknya dengan kasar, namun juga postur yang ia rindukan di tengah malam-malam sepinya.
"Arka..." bisik Alya. Gelas di tangannya hampir jatuh.
Pria itu berdiri diam di bawah lampu jalan, menatap ke arah bangunan apartemen seolah-olah ia bisa merasakan keberadaan Alya di sana. Arka tampak hancur. Dari kejauhan, Alya bisa melihat pria itu menundukkan kepala, pundaknya berguncang seolah sedang menangis di tengah keheningan malam London yang membeku.
Alya mundur menjauh dari jendela, tangannya melindungi perutnya secara refleks. Separuh hatinya ingin berlari turun, membuka gerbang, dan memeluk pria itu—mengatakan bahwa ia memaafkan segalanya. Namun, separuh hatinya yang lain teringat akan tamparan, tuduhan, dan rasa takut yang telah mendarah daging.
"Pergilah, Arka... Kumohon, pergilah," isak Alya di balik dinding dapur.
Di luar, Arka menyentuh besi gerbang yang dingin. Ia tidak tahu pasti di unit mana Alya berada, tapi instingnya mengatakan istrinya ada di bangunan ini. Ia ingin berteriak memanggil nama Alya, tapi ia takut. Ia takut jika Alya melihatnya, wanita itu akan kembali ketakutan dan membahayakan kandungannya.
"Aku tahu kau di sini, Alya," bisik Arka pada angin malam. "Aku tidak akan memaksamu pulang. Aku hanya ingin memastikan kau selamat. Aku akan menjagamu dari jauh, meski aku harus menjadi bayangan yang kau benci selamanya."
Arka kembali ke mobilnya setelah satu jam berdiri di bawah rintik hujan. Ia tidak pergi jauh; ia hanya memarkir mobilnya di ujung jalan, memastikan ia bisa melihat siapa pun yang masuk dan keluar dari bangunan itu.
Keesokan paginya, Reno menemukan Alya sudah mengemasi tas kecilnya.
"Kita harus pergi, Ren. Dia ada di luar," ucap Alya dengan wajah pucat.
Reno melihat ke jendela dan melihat mobil Arka. "Bajingan itu benar-benar menemukannya."
"Kita pergi lewat pintu belakang. Sekarang," desak Alya.
Namun, saat mereka baru saja hendak keluar, rasa sakit yang tajam menghantam perut Alya. Ia memekik dan terjatuh, memegangi perutnya yang mulai terasa kencang.
"Alya! Ada apa?!" Reno panik, menangkap tubuh Alya.
"Sakit, Ren... perutku... tolong..." keringat dingin bercucuran di dahi Alya.
Di luar, Arka yang terus mengawasi bangunan itu melihat kegaduhan dari balik jendela lantai dua. Ia melihat Reno yang tampak panik. Tanpa pikir panjang, Arka keluar dari mobil, berlari menuju gerbang dan mendobraknya dengan kekuatan penuh.
"ALYA!" teriak Arka saat ia berhasil mencapai pintu unit apartemen.
Reno membuka pintu, wajahnya penuh amarah, namun juga ketakutan. "Jangan masuk, Arka! Kau sudah cukup menghancurkannya!"
"Dia kenapa?!" Arka mendorong Reno ke samping, matanya tertuju pada Alya yang terbaring di sofa dengan wajah menahan sakit.
Melihat Arka masuk, Alya bukannya berteriak, ia justru menggenggam tangan Arka dengan erat. "Arka... anak kita... tolong..."
Arka membeku. Kata 'anak kita' meruntuhkan seluruh pertahanannya. Ia segera menggendong Alya, tidak memedulikan Reno yang mencoba menghalangi.
"Buka jalan, Reno! Jika kau ingin dia selamat, biarkan aku membawanya ke rumah sakit pilihanku sekarang juga!" bentak Arka dengan otoritas yang tak terbantahkan.
Dalam hitungan detik, Arka membawa Alya menuju mobilnya. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Alya berada di dalam dekapan Arka. Bukan sebagai tawanan, melainkan sebagai pusat dari seluruh semesta Arka.
Di tengah deru mesin mobil menuju rumah sakit, Arka terus membisikkan doa di telinga Alya. "Jangan pergi, Alya. Maafkan aku. Jangan tinggalkan aku lagi. Aku tidak akan membiarkan apa pun terjadi padamu dan anak kita."
Badai itu kembali membawa mereka ke dalam satu lingkaran. Bedanya, kali ini Arka tidak lagi membawa benci, melainkan rasa takut kehilangan yang jauh lebih besar daripada nyawanya sendiri. Penebusan itu akhirnya dimulai di bawah langit London yang kelabu, di antara jeritan kesakitan dan harapan yang baru saja kembali tumbuh.