Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Didunia Ilusi tidak ada tempat bersembunyi
"Sihir angin, angin pembelah!" Rentetan angin membentuk bulan sabit melengkung keluar dari tubuh Samudra dan langsung melesat menuju tangan tangan Rajekwesi yang menggerayangi tubuh anak Warsito.
Namun tangan itu tetap utuh, hal itu membuat Samudra terkejut, karena sebelum ini sihir tersebut berhasil memotong tangan Rajekwesi.
"Gagal?" Batin Samudra.
Brug!
Tubuh Anak Warsito tumbang begitu saja, ya! Saat ini anak Warsito sudah tidak memiliki jiwa karena dimakan oleh Rajekwesi.
Grrooooooooooaaaarrrr...!!!! Auman Rajekwesi semakin menggelegar, aura hitam dalam tubuhnya semakin menggila gila, matanya semakin merah menyala.
Secara perlahan wujud Rajekwesi mulai terbentuk..
Asap hitam yang mengelilingi Rajekwesi menghilang, Samudra kini melihat dengan jelas bagaimana wujud Rajekwesi.
Badannya mirip manusia dengan tinggi 3 meter berkulit hitam legam kepalanya kelelawar, matanya merah menyala dan terdapat dua sayap kelelawar besar di punggungnya, tak hanya itu setiap bagian tubuhnya mampu mengeluarkan tangan tangan yang mampu menjulur hingga bermeter-meter.
Rajekwesi menjilat bibirnya sendiri, lidahnya tampak sangat panjang.
"Akhirnya.... akhirnya aku bisa keluar! Wujud sempurnaku ini jauh lebih kuat karena aku telah menyatu dengan sihir penyembuhan milik Ringgih! Aku tidak akan dapat dibunuh dengan mudah...!!!! Grooooooaaaarrr....!!!" Rajekwesi mengaum keras dan kepalanya mendongak ke atas, semburan energi sihir hitam pekat keluar dari mulutnya menembus langit goa kemudian melesat menuju ke langit dan membelah awan mendung.
***
Beberapa saat sebelum ini dihutan kehampaan..
Tampak seorang laki laki sedang memakai pakaiannya, ia baru saja selesai menggauli seorang gadis yang tampak kaku dibawahnya tanpa sehelai kain pun.
"Akhirnya aku bisa menyempurnakan sihir sesatku! Sihir Roh Iblis!" Batin pria tersebut yang tidak lain adalah Mahesapati.
Kini ia berhasil menggauli kembang desa terakhirnya dan ia berhasil menyempurnakan sihir sesatnya dengan syarat menggauli 100 kembang desa.
Suara raungan terdengar dari kejauhan, Mahesapati langsung menoleh ke arah selatan. ia melihat burung burung beterbangan seolah ketakutan dengan sesuatu dan Mahesapati juga melihat tembakan energi sihir hitam pekat yang melesat menuju kelangit.
"Aura sihir ini begitu kuat! Sihir yang penuh dendam dan kebencian." Batin Mahesapati. Karena penasaran Mahesapati segera terbang kesana menggunakan sihir anginnya.
***
Di goa besar itu pertarunganpun terjadi, tampak Warsito lari keluar goa karena ketakutan.
Swussshhh....
Swuuussshhhh....
Swuuussshhhh....
Sepuluh tangan Rajekwesi menjulur cepat namun dengan arah berbeda.
9 tangan sekaligus mengarah ke arah Samudra, sementara satu tangan menuju ke arah Warsito.
Samudra bergerak lincah di udara menghindari serangan tersebut.
Warsito berhasil di tangkap Rajekwesi, Rajekwesi merobek tubuh Warsito meminum darahnya kemudian memakannya.
Ia kemudian menyeringai menatap Samudra yang masih berusaha menghindari serangan sembilan tangan tersebut. Ia tidak sabar untuk memakan Samudra, karena hanya Samudra di tempat ini yang tidak terikat jiwa dengan dirinya sementara Datuk Ringgih Rajekwesi dapat menelan jiwanya kapanpun karena terikat kontrak jiwa.
Slash!
Slash!
Slash!
Rajekwesi sedikit terkejut, kala melihat sembilan tangannya terpotong oleh pedang kubikiribocho milik Samudra, seharusnya dalam wujud sempurnanya sihir dan senjata biasa tidak dapat melukai dirinya.
"Artinya pedang besar itu bukan pedang biasa... aku harus berhati hati.."
Sementara itu Samudra berdiri dengan waspada...
Grrr!!! Rrraaaaaagggghhhh!!!
Rajekwesi melesat ke arah Samudra dengan gerakan liar dan brutal bagaikan hewan buas yang baru saja di keluarkan dari kandangnya.
Samudra ikut maju kedepan...
Swuuussshhh....
Swuusshhhhh....
Swussshhhh....
Tidak tanggung tanggung dua puluh tangan keluar dari tubuh Rajekwesi dan langsung melesat ke arah Samudra.
Samudra melepaskan caping pemberian Resi Ngambang Sungsang dan melemparkannya ke arah 20 tangan tersebut.
Caping itu terbang berputar-putar di udara bagaikan cakram dan langsung memotong-motong 20 tangan Rajekwesi dalam waktu singkat.
Samudra melompat sembari menebaskan pedangnya kebawah mengincar kepala Rajekwesi.
Trang!
Rajekwesi mampu menahannya dengan kuku hitam panjangnya.
Groooooaaar....!!!
Rajekwesi mengaum dan menembakan energi sihir hitam ke arah Samudra di depannya.
Cring!!
Satu gelang emas di tangan Samudra bergerak dan berubah menjadi tameng kemudian menangkis tembakan sihir itu.
Tekanan dari bentrokan itu membuat Samudra terpental kebelakang.
Hap!
Samudra mendarat mantap di tanah dan menangkap capingnya yang kembali terbang ke arahnya kemudian memakainya.
"Bocah ini! Dia memiliki artefak-artefak yang sangat kuat!" Batin Rajekwesi.
Wus....
Datuk Ringgih melesat cepat menuju ke arah Samudra dengan tongkatnya yang terselimuti aura sihir gelap.
Samudra mengangkat tangannya ke udara dan mengarahkannya ke arah Datuk Ringgih.
"Sihir angin gelombang angin panas.."
Gelombang angin panas keluar dari tangan Samudra dan langsung menghempaskan Datuk Ringgih hingga terpental dan menabrak dinding goa.
"Berhati hatilah Ringgih! Bocah ini! Dia tidak dapat dikalahkan dengan mudah, matanya itu mampu melihat sihir menghilang! Sihir itu tidak berpengaruh untuknya. Jangan aktifkan sihir itu, itu hanya akan membuang energi sihirmu." Ucap Rajekwesi melalui batin.
Datuk Ringgih meringis kesakitan merasakan kulitnya terasa terbakar oleh sihir gelombang angin panas milik Samudra.
"Aku mengerti!" Datuk Ringgih menonaktifkan sihir menghilangnya.
"Aku akan memusatkan seluruh sihirku untuk kekuatan fisik! Aku akan melawan dia dari jarak dekat, kau bunuh dia jika ada kesempatan Rajekwesi." Ucap Ringgih melalui Batin.
Ringgih memfokuskan seluruh energi sihir gelap dalam tubuhnya untuk memperkuat fisiknya.
"Jangan gegabah Ringgih!" Balas Rajekwesi namun terlambat..
Dengan cepat Ringgih melesat ke arah Samudra sambil memukulkan tongkatnya.
Trang!
Tongkat tersebut tertahan oleh perisai emas jelmaan gelang Jagad Giri.
Ringgih hendak melompat mundur, namun tiga sosok Nyai Sekar Arum keluar dari dalam tanah dan memeganginya.
"Kenapa... kenapa kamu berubah mas?" Tanya nyai Sekar Arum.
"Sekar Arum!!" Ringgih terkejut.
"Sadarlah bodoh!!!" Ucap Rajekwesi sambil mengalirkan sihir kegelapan ke Ringgih. Salah satu cara melepaskan sihir ilusi adalah adanya pihak lain yang mengaliri sihir ke orang yang terkena ilusi.
Seketika pandangan Ringgih kembali normal..
"Cih! Monster itu tau cara melepaskan sihir ilusi." Batin Samudra.
"Aku tidak punya pilihan lain bagaimana pun aku harus menangkap Datuk, dia harus tetap hidup agar ada saksi kebusukan Dipa Mandala." Batin Samudra ia mengeluarkan kain peraknya dan menjulurkannya.
Rajekwesi begerak cepat dan menarik tubuh Ringgih dengan satu tangannya.
Samudra tidak menyerah begitu saja, ia melesat dan memotong tangan Rajekwesi.
Samudra kemudian kembali menjulurkan kain peraknya untuk melilit Datuk Ringgih dan berniat membatalkan kontrak jiwanya dengan Rajekwesi, Bagi Samudra Datuk Ringgih tidak boleh mati karena ia adalah saksi kebusukan Dipa Mandala dan ia adalah kunci bahwa ada sosok yang sengaja mengadu domba di istana.
Namun ketika sejengkal kain itu hampir menyentuh Datuk Ringgih, Samudra merasakan sosok dengan energi sihir kegelapan yang sangat besar melesat ke arahnya dengan kecepatan tak masuk akal. Saking cepatnya sampai sampai tameng emas jelmaan gelang Jagad Giri terlambat menangkisnya.
BUUUGGGHHH...!!!
HOOEEKK...!!!
Tendangan keras menghantam perut Samudra, Samudra langsung muntah darah dan matanya melotot.
tubuh Samudra melesat kebelakang menghantam dinding goa dan menjebolnya kemudian tubuh Samudra meluncur didaratan hingga bermeter-meter dan menciptakan goresan panjang ditanah.
Uhuk! Uhuk! Samudra terbatuk-batuk sambil memegang perutnya yang terasa sangat sakit.
Ia berlutut memandang sosok yang menendangnya dengan sangat kuat.... ia adalah Mahesapati atau Penyihir Pemetik Kembang.