Inara Khadeeja Prameswari menikah dengan Mahesa Dirgantara. Mereka menikah sudah satu tahun, pernikahan perjodohan yang di lakukan dua keluarga. Saat itu Mahesa berstatus duda. Sedangkan Inara baru saja lulus kuliah.
Selama pernikahan, tak pernah ada percekcokan apapun. Dua tahun pernikahan mereka terasa dingin. Tak ada panggilan sayang atau apapun yang romantis dari Mahesa. Inara tahu jika dalam hati suaminya masih ada mantan istri yang pergi entah kemana. Clarissa
Inara berusaha menjadi istri yang baik walau tak pernah di anggap oleh suaminya. Dia berharap dengan kesabaran dan ketulusannya, akan membuat Mahesa jatuh cinta padanya. Melihatnya sebagai seorang wanita, sebagai istrinya. Bukan sebagai teman satu rumah. Bahkan Mahesa tak segan bersikap kasar padanya. Seolah Inara tak ada artinya untuk Mahesa.
Namun, akhirnya Inara menyerah setelah Clarissa kembali dengan cerita sedih dan penyakitnya. Pakah setelah ini Mahesa akan menyesal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Inara 7
Mahesa kembali menatap wajah Inara. Dari jarak sedekat ini, tanpa sekat kemarahan. Dia baru menyadari betapa hancurnya fisik wanita yang selalu dia sebut "barang gadaian" itu. Ada lingkaran hitam yang sangat pekat di bawah matanya, tanda bahwa Inara tidak tidur berhari-hari. Dan di sudut bibirnya, bekas luka akibat ciuman kasarnya semalam terlihat sedikit membiru.
Rasa bersalah yang teramat sangat tiba-tiba menghantam dada Mahesa seperti godam yang tidak terlihat.
Dia merogoh ponsel di sakunya dengan jemari yang bergetar hebat, menekan nomor dokter pribadi keluarga Dirgantara.
"Halo, Dok? Ke ruangan saya sekarang. Lantai teratas gedung utama. Jangan lewat lobi depan, gunakan lift khusus direksi. Sekarang!" perintah Mahesa dengan suara rendah yang ditekan, menahan getaran kepanikan yang kian merajai hatinya.
Setelah mematikan telepon, Mahesa kembali menatap Inara. Dia menggenggam erat tangan dingin istrinya, lalu perlahan menempelkan punggung tangan Inara ke dahinya sendiri. Di dalam keheningan ruangannya yang terkunci rapat, pria yang terkenal kejam dan tak punya hati itu berbisik lirih dengan suara yang pecah.
"Inara... saya mohon, buka matamu. Bangun Inara!"
Mahesa menepuk pelan pipi Inara. Jantungnya berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa sakit di dadanya sendiri. Pria yang biasanya selalu tegak dengan keangkuhannya itu kini berlutut tanpa daya di lantai. Dia melonggarkan dasinya dengan kasar, merasa oksigen di dalam ruang kerjanya mendadak menipis.
Secara tidak sadar, tatapan Mahesa jatuh pada jemari Inara yang kurus. Di jari manis wanita itu, melingkar sebuah cincin pernikahan sederhana yang dulu mereka pilih tanpa rasa cinta. Mengingat bagaimana dia selalu memperlakukan Inara sebagai barang pajangan dan pelampiasan amarah atas utang ayahnya, ada rasa sesak yang luar biasa membakar tenggorokan Mahesa.
Dia tak tahu kenapa bisa sepanik dan setakut ini saat melihat keadaan Inara seperti ini. Apakah mungkin karena rasa bersalah karena selama ini selalu bersikap kasar kepada Inara. Atau mungkin sebenarnya sudah ada rasa cinta di dalam hatinya untuk Inara?
Biiipp
Biiipp
Pintu digital kamarnya berbunyi. Mahesa langsung berdiri dan menyambar knop pintu setelah memastikan kode akses lift khusus direksi digunakan. Dokter Tirta, dokter spesialis kepercayaan keluarga Dirgantara, masuk dengan wajah tegang, membawa tas medisnya.
"Mahesa, ada apa? Siapa yang..." Ucapan Dokter Tirta terputus saat matanya menangkap sosok Inara yang terbaring lemas.
"Bu Inara?"
"Dok, tolong periksa dia. Sekarang!" perintah Mahesa, suaranya serak dan sarat akan tuntutan yang panik.
"Dia tiba-tiba ambruk saat berbicara dengan saya. Badannya dingin sekali."
Dokter Tirta langsung bergerak cepat. Dia berlutut di posisi Mahesa tadi, mengeluarkan stetoskop, dan mulai memeriksa denyut nadi serta pernapasan Inara. Dia juga membuka sedikit kelopak mata Inara untuk melihat refleks pupilnya.
Mahesa berdiri di samping sofa, mengepalkan tinjunya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih. Matanya tidak lepas dari wajah pucat istrinya. Setiap detik yang berlalu terasa seperti siksaan yang meremukkan egonya.
"Bagaimana, Dok? Dia hanya pingsan karena kelelahan, kan?" tanya Mahesa, mencoba mencari pembenaran agar rasa bersalahnya tidak semakin mencekik.
Dokter Tirta menghela napas berat, wajahnya berubah sangat serius setelah memeriksa tekanan darah Inara. Dia menatap Mahesa dengan pandangan menegur yang tajam.
"Mahesa, kapan terakhir kali istrimu ini makan?" tanya Dokter Tirta dingin.
Mahesa tertegun. Lidahnya mendadak kelu. Makan? Kemarin malam dia membuang sup ayam yang dibuat Inara. Semalam ia hanya memaki dan menyuruhnya mencuci piring.
"Saya... saya tidak tahu."
"Tekanan darahnya turun drastis di angka 80/50\text{ mmHg}. Dia mengalami dehidrasi berat, malnutrisi akut, dan stres psikologis yang berada di ambang batas kemampuan tubuhnya. Kenapa Istrimu bisa seperti ini? Kalau kedua orang tuamu tahu keadaan menantunya seperti ini. Mereka pasti akan marah, Mahesa!," ujar Dokter Tirta sambil menyiapkan jarum suntik dan cairan infus dari tasnya.
Dokter Tirta melirik bibir Inara yang terluka dan sedikit membiru, lalu kembali menatap Mahesa dengan tatapan menghakimi.
"Apa kamu juga sudah berbuat kasar padanya? apa yang kamu lakukan? Bahkan selama ini kamu selalu berbohong kepada kedua orang tuamu, Mahesa! Kalian belum pernah melakukannya kan? Kalau memang kamu masih mencintai Clarissa, lepaskan Inara baik-baik jangan siksa dia seperti ini! Dia terlalu baik, apalagi kedua orang tuamu sangat menyayangi Inara!"
"Jangan katakan kepada kedua orang tuaku mengenai semua yang anda tahu, Dok! saya hanya belum siap saja dengan status dan pernikahan aku dengan Inara ini!" bohong Mahesa.
"Lalu... lalu apa yang harus saya lakukan, Dok?" suara Mahesa bergetar hebat, sebuah pemandangan langka bagi seorang Direktur Utama Dirgantara Group.
"Saya akan memasang infus darurat di sini untuk menstabilkan cairan dalam tubuhnya. Namun kamu harus membawa Inara ke rumah sakit untuk melakukan observasi lebih lanjut." kata Dokter Tirta sembari dengan cekatan menusukkan jarum infus ke punggung tangan Inara yang pucat.
Saat jarum itu menembus kulitnya, tubuh Inara memberikan reaksi kecil. Alisnya bertaut rapat, dan sebuah rintihan lirih, hampir tak terdengar, lolos dari belahan bibirnya yang pecah.
"Sakit... Mas..." lirih Inara dalam ketidaksadarannya.
Air mata yang sedari tadi tertahan di sudut matanya perlahan luruh, membasahi pipinya yang tirus.
Mendengar bisikan itu, jantung Mahesa serasa dicopot dari tempatnya. Bahkan dalam kondisi tidak sadar dan di ambang maut sekalipun, nama yang Inara sebut bukan ayahnya, bukan ibunya, melainkan dirinya. Pria baji-ngan yang telah menghancurkan hidupnya selama satu tahun ini.
Mahesa kembali berlutut, mengabaikan kehadiran Dokter Tirta. Dia meraih tangan Inara yang tidak terpasang infus, menggenggamnya dengan kedua tangan yang gemetar, dan berbisik tepat di telinga wanita itu dengan suara yang pecah oleh penyesalan yang terlambat.
"Saya di sini, Inara. Maaf. Kita pulang ke rumah!."
Mahesa menggendong tubuh Inara melalui jalur lift privat langsung menuju basement, menghindari semua mata. Dokter Tirta mengikuti di belakang, memegangi botol infus yang selangnya terhubung ke punggung tangan Inara.
Di dalam mobil mewah yang melaju membelah jalanan kota, Mahesa tidak duduk di kursi kemudi. Dia menyuruh supir pribadinya menyetir secepat mungkin, sementara dia sendiri duduk di kursi belakang, memangku tubuh Inara.
Kepala Inara bersandar di dada bidang Mahesa. Setiap kali mobil melewati jalanan yang bergelombang, Mahesa akan mempererat pelukannya, seolah takut wanita itu akan hancur jika terguncang sedikit saja. Tangan Mahesa yang bebas bergerak mengusap kening Inara yang masih mengeluarkan keringat dingin.
"Cepat sedikit!" bentak Mahesa pada supirnya, membuat sang supir gemetar dan menambah kecepatan mobil.
Setibanya di rumah mewah mereka, rumah yang semalam disebut Inara sebagai penjara kaca. Mahesa langsung menggendong istrinya masuk. Namun, dia tidak membawa Inara ke kamar tamu bawah tempat Inara biasanya tidur sendirian. Mahesa melangkah lebar menaiki tangga, membawa Inara masuk ke dalam kamar utamanya. Kamar yang selama satu tahun ini menjadi area terlarang bagi Inara.
Mahesa membaringkan Inara di atas ranjang king size miliknya yang bernuansa gelap. Kontras dengan seprai sutra hitam miliknya, tubuh Inara yang berbalut setelan kelabu tampak semakin ringkih dan tak berdaya.
Dokter Tirta dan seorang perawat sewaan yang baru tiba langsung memasang tiang infus di samping ranjang, mengganti botol cairan yang hampir habis.
"Semua obat sudah masuk lewat infus. Sekarang kita hanya bisa menunggu dia bangun. Dia sangat kelelahan dan butuh istrirahat. Jangan di ganggu dulu, biarkan tubuhnya pilih, Pastikan ruangannya hangat, dan jangan beri dia tekanan psikologis lagi kalau kamu masih ingin melihatnya bernapas, Mahesa," sindir Dokter Tirta sebelum melangkah keluar kamar bersama perawat untuk memberikan ruang bagi suami istri itu.
sana bawa tuh cewek benalu...
kak ayoo donk ,,
dtggu pake. bangeet kelanjutan ny ,,
pengen liat muka ungu mahesa krn kenyataan tak sesuai ekspetasii ny ,, Dan muka ijooo Clarissa krn semua tdk sesuai keinginan ny 🤭🤭🤭🤭🤭🤭🤭
pengen tau yg terjadi di gedung enoh, bawa dah tuh Mahesa mantan terindah loe😛