NovelToon NovelToon
Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Jatuh Cinta Bukan Dalam Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Mengubah Takdir / Nikah Kontrak
Popularitas:815
Nilai: 5
Nama Author: Royo Ekek

Anya Anandita tidak pernah menyangka hidupnya akan sekacau ini. Di tengah himpitan utang medis mendiang ayahnya dan ancaman kehilangan tempat tinggal, ia justru dipertemukan lewat insiden memalukan dengan Devan Alfarezel CEO muda berhati dingin, arogan, dan perfeksionis yang paling dihindari semua karyawan di perusahaannya. Pertemuan pertama mereka berjalan buruk, menyisakan kekesalan mendalam di hati masing-masing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Royo Ekek, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Setelah Badai Berlalu

Sinar matahari pagi menembus celah-celah gorden penthousemewah Devan, memantulkan berkas cahaya keemasan di atas lantai marmer. Di meja makan yang biasanya terasa kaku dan sunyi, suasana pagi ini terasa sangat berbeda. Ada kehangatan baru yang tak kasatmata namun sangat pekat menyelimuti atmosfer di antara Devan dan Anya.

Anya duduk dengan segelas teh hangat di tangannya. Ia sudah mengenakan pakaian kantornya sebuah kemeja blus putih formal dengan rok sepan hitam yang rapi. Namun, pandangan matanya sesekali mencuri lirik ke arah Devan yang duduk di seberang meja, sibuk memeriksa tablet perusahaannya dengan kemeja yang lengannya digulung hingga siku.

Setiap kali mengingat kejadian di balkon tadi malam pengakuan cinta Devan yang jujur dan ciuman yang mengunci bibir mereka di bawah langit malam pipi Anya seketika merona merah. Ia berdeham kecil, mencoba mengusir rasa gugup yang mendadak menyerang sistem pertahanannya.

Devan meletakkan tabletnya perlahan, lalu menatap Anya. Sudut bibirnya terangkat, membentuk senyuman tipis yang hanya diperlihatkan khusus untuk wanita di hadapannya.

"Kau tidak menyentuh sarapanmu sejak sepuluh menit yang lalu," ucap Devan, suaranya yang bariton terdengar lebih lembut dari biasanya. "Apakah kau masih memikirkan kejadian semalam, Anya?"

Anya hampir saja tersedak tehnya sendiri. Ia dengan cepat meletakkan gelasnya. "T-tentu saja tidak. Saya hanya... memikirkan bagaimana situasi di kantor hari ini. Berita penangkapan Tante Karina dan Dion pasti sudah menyebar luas di seluruh media nasional pagi ini."

Devan bersandar pada kursinya, menautkan jemarinya dengan tenang. "Biarkan saja media menulis apa yang mereka inginkan. Tim humas kita sudah merilis pernyataan resmi bahwa operasional Alfarezel Group tetap berjalan normal dan tidak terpengaruh oleh isu hukum individu. Yang perlu kau pikirkan sekarang bukan lagi musuh-musuh itu."

Devan bangkit dari duduknya, berjalan memutari meja makan dan berhenti tepat di samping kursi Anya. Ia membungkuk sedikit, mengurung tubuh Anya dengan kedua tangannya yang bertumpu pada sandaran kursi, membuat jarak di antara wajah mereka terkikis drastis.

"Yang perlu kau pikirkan sekarang," bisik Devan tepat di dekat telinga Anya, mengirimkan desir halus yang membuat bulu kuduk Anya meremang, "adalah status baru kita. Di depan Kakek, di depan kantor, dan di dalam rumah ini. Kontrak itu sudah hangus sejak semalam, Anya. Kau tahu itu, kan?"

Anya menelan ludah dengan susah payah, manik mata indahnya menatap langsung ke dalam sepasang mata elang Devan yang penuh dengan kesungguhan. "Lalu... apa kita tidak perlu memperbarui dokumen apa pun?"

Devan terkekeh rendah sebuah suara yang sangat seksi di telinga Anya. "Kita akan memperbaruinya di depan penghulu dan catatan sipil, bukan di atas kertas segel pengacara. Sekarang, habiskan sarapanmu. Kita harus ke kantor lebih awal karena Kakek mengundang rapat darurat jajaran komisaris jam sembilan pagi."

Gedung Menara Alfarezel pagi itu tampak seperti sarang lebah yang terusik. Puluhan wartawan masih berkumpul di luar gerbang utama, namun penjagaan sekuriti yang diperketat membuat area lobi tetap steril. Ketika Mercedes-Benz hitam Devan berhenti di drop-off eksekutif, suasana mendadak senyap.

Devan keluar terlebih dahulu, lalu seperti biasa, ia membukakan pintu untuk Anya. Namun kali ini, ada yang berbeda. Devan tidak lagi memberikan lengannya secara formal, melainkan langsung menautkan jemarinya ke sela-sela jari Anya, menggenggam tangan wanita itu dengan erat dan membawanya berjalan membelah lobi di depan ratusan pasang mata staf yang membungkuk hormat.

Bisik-bisik yang biasanya bernada sinis kini berubah menjadi tatapan penuh kekaguman dan ketakutan. Siapa yang berani meremehkan Anya Anandita sekarang? Wanita yang semalam berhasil menelanjangi kelicikan Karina Alfarezel di atas panggung setengah abad itu kini berjalan berdampingan dengan sang penguasa tertinggi perusahaan.

Saat mereka tiba di lantai lima puluh lima, Randi sudah menunggu di depan pintu lift dengan tumpukan map baru. Wajah sang asisten tampak tegang, mengisyaratkan bahwa kemenangan semalam belum sepenuhnya meredakan pergolakan politik di dalam Alfarezel Group.

"Pak Devan, Nona Anya, selamat pagi," sapa Randi dengan anggukan takzim. Matanya sempat melirik sekilas ke arah tangan mereka yang masih bertautan, namun dengan profesionalisme tinggi, ia langsung mengalihkan fokusnya.

"Jajaran dewan komisaris sudah berkumpul di ruang rapat utama. Kakek Bramanta juga sudah hadir. Namun... ada satu tamu tak diundang yang ikut duduk di dalam ruangan."

Devan menghentikan langkahnya, matanya menyipit tajam. "Siapa?"

"Hendra Wijaya," jawab Randi dengan suara rendah. "Dia adalah salah satu komisaris independen tertua, sekaligus sekutu rahasia terdekat Karina selama sepuluh tahun terakhir. Dia membawa surat kuasa khusus yang menyatakan bahwa dia berhak mewakili sisa saham milik faksi Karina yang saat ini sedang dibekukan oleh pihak kepolisian."

Mendengar nama Hendra Wijaya, rahang Devan kembali mengeras. Hendra adalah rubah tua di dunia korporat—pria yang selalu bermain di balik layar dan tidak pernah mengotori tangannya sendiri. Jika Karina adalah pedang yang terang-terangan menyerang, maka Hendra adalah racun tak terlihat yang menyebar di dalam sistem.

Devan menoleh ke arah Anya, menggenggam tangannya sedikit lebih erat seolah memberikan peringatan. "Kau siap untuk babak baru ini, Anya?"

Anya menegakkan bahunya, tatapannya kini memancarkan aura ketangguhan yang ia pelajari dari Devan selama beberapa bulan terakhir. "Selama aku berdiri di sampingmu, aku tidak takut pada rubah tua mana pun, Devan."

Pintu ruang rapat utama terbuka, menampilkan ruangan besar bernuansa kayu mahoni dengan meja oval panjang di tengahnya. Kakek Bramanta duduk di kursi utama dengan wajah yang tampak lelah namun tetap memancarkan sisa-sisa wibawa sang pendiri. Di sisi kiri meja, duduk seorang pria paruh baya berambut putih dengan setelan jas abu-abu mahal dan kacamata berbingkai emas. Itu adalah Hendra Wijaya.

"Ah, Devan. Duduklah," ucap Kakek Bramanta, suaranya terdengar berat. "Kita perlu segera mengambil keputusan terkait kekosongan posisi Kepala Komite Audit yang ditinggalkan oleh... Karina." Kakek sempat menjeda kalimatnya, ada rasa perih yang tak bisa disembunyikan saat menyebut nama putrinya yang kini mendekam di sel tahanan.

Devan duduk di kursi CEO, sementara Anya mengambil posisi tepat di sebelahnya sebagai asisten eksekutif yang memegang dokumen rapat.

Hendra Wijaya berdeham, mengetukkan pena emasnya di atas meja marmer dengan ritme yang menjengkelkan. "Selamat pagi, Pak Devan. Dan... Nona Anya. Aksi semalam di ballroom sungguh sebuah tontonan drama yang sangat menarik bagi media. Namun, kita di sini berada di dunia bisnis nyata, bukan panggung teater."

Hendra memajukan tubuhnya, menatap Devan dengan senyum sinis yang tertata rapi.

"Penangkapan Karina telah membuat sentimen negatif di kalangan investor asing, terutama konsorsium dari Singapura yang mendanai proyek Mega Resort kita di Bali. Mereka meragukan stabilitas manajemen Alfarezel jika posisi strategis seperti Komite Audit dibiarkan kosong atau diisi oleh orang yang tidak berpengaruh."

"Aku sudah menyiapkan nama pengganti dari tim profesional eksternal yang bersih, Hendra," balas Devan dingin, suaranya memotong ucapan Hendra tanpa ragu.

"Professional eksternal membutuhkan waktu untuk adaptasi, Devan," bantah Hendra dengan nada meremehkan yang halus. "Berdasarkan anggaran dasar perusahaan pasal 14, faksi saham minoritas yang saya wakili hari ini memiliki hak untuk mengajukan nama tandingan jika terjadi situasi darurat. Dan saya mengusulkan diri saya sendiri untuk mengambil alih posisi Kepala Komite Audit."

Suasana di dalam ruangan langsung menegang. Jika Hendra berhasil menduduki posisi itu, maka ia memiliki wewenang penuh untuk memeriksa setiap aliran dana proyek Devan, memata-matai langkah strategis CEO, dan membuka celah baru untuk membebaskan Karina atau melakukan sabotase dari dalam dengan kekuatan hukum yang sah.

Beberapa komisaris lain tampak mengangguk setuju, terpengaruh oleh argumen Hendra mengenai stabilitas investor Singapura. Kakek Bramanta tampak bimbang, matanya menatap Devan dengan pandangan meminta solusi yang tidak akan memicu perpecahan baru di dewan komisaris.

Di tengah keheningan itu, Anya tiba-tiba membuka map dokumen hitam yang dibawanya. Ia berdiri dari kursinya dengan tenang, menarik perhatian seluruh anggota rapat.

"Maaf menginterupsi, Pak Hendra," suara Anya bergema dengan sangat jernih di dalam ruang rapat yang kedap suara itu. "Terkait dengan kekhawatiran Anda mengenai investor Singapura dan stabilitas proyek *Mega Resort* di Bali... saya rasa informasi yang Anda miliki agak terlambat."

Hendra menyipitkan matanya, menatap Anya dengan pandangan tidak suka. "Apa maksudmu, Nona Asisten? Jangan mencampuri urusan strategi tingkat tinggi yang tidak kau pahami."

Anya tidak terpancing emosinya. Ia dengan anggun membagikan selembar dokumen baru ke hadapan Kakek Bramanta dan seluruh komisaris, termasuk Hendra.

"Dua jam yang lalu, sebelum rapat ini dimulai, kami telah menerima konfirmasi resmi dari pihak otoritas moneter dan hukum Singapura," ucap Anya, jemarinya menunjuk pada baris data di dokumen tersebut. "Konsorsium Singapura yang Anda sebutkan tadi sebenarnya telah mengalihkan 40% kepemilikan dana mereka ke sebuah perusahaan cangkang (shell company) bernama Vane Corporation. Dan berdasarkan investigasi siber tim kami semalam, Vane Corporation ini memiliki aliran dana sekunder yang terhubung langsung dengan rekening pribadi Anda, Pak Hendra."

Deg!

Wajah Hendra Wijaya yang tadinya tenang dan penuh kemenangan mendadak menegang. Buku-buku jarinya yang memegang pena emas tampak memutih.

Anya melanjutkan dengan senyum profesional yang mematikan. "Dengan kata lain, Anda mencoba menggunakan posisi Komite Audit bukan untuk menstabilkan investor, melainkan untuk menutupi fakta bahwa Anda telah melakukan insider trading (perdagangan orang dalam) dan mencoba memeras aset Alfarezel Group demi keuntungan pribadi Anda bersama Nyonya Karina sejak setahun yang lalu.

Jika Anda memaksa untuk melakukan pemungutan suara hari ini, kami dengan senang hati akan menyerahkan dokumen audit forensik digital ini kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebelum jam makan siang."

Seluruh ruangan rapat seketika riuh dengan kepanikan para komisaris. Kakek Bramanta membaca dokumen itu dengan mata yang membelalak marah, lalu memukul meja dengan keras.

"Hendra! Berani-beraninya kau mengkhianati kepercayaanku selama ini!" bentak Kakek Bramanta dengan suara menggelegar.

Hendra tidak bisa berkata-kata lagi. Alibi dan benteng pertahanannya yang dibangun bertahun-tahun runtuh dalam hitungan menit di tangan seorang wanita yang dulunya hanya ia anggap sebagai asisten administrasi rendahan.

Dengan wajah pucat dan penuh kehinaan, Hendra bangkit dari kursinya, merapikan jasnya dengan tangan bergetar, lalu berjalan keluar dari ruang rapat tanpa berani menatap mata siapa pun.

Setelah pintu rapat ditutup kembali, keheningan yang tersisa adalah keheningan kemenangan. Kakek Bramanta menatap Anya dengan pandangan yang penuh dengan rasa hormat yang mendalam.

"Kau benar-benar luar biasa, Anya," ucap Kakek Bramanta dengan senyum lega yang tulus. "Kau bukan hanya pelindung bagi Devan, tapi kau adalah penyelamat bagi masa depan Alfarezel Group.

Mulai hari ini, aku tidak akan mendengar satu orang pun di keluarga atau perusahaan ini yang meragukan posisimu di samping cucuku."

Devan berdiri dari kursinya, menatap Anya dengan binar mata yang dipenuhi rasa bangga dan cinta yang tak terhingga. Di depan seluruh dewan komisaris yang masih terpaku, Devan meraih tangan Anya, mengangkatnya perlahan, dan mengecup punggung tangan wanita itu dengan penuh takzim.

"Terima kasih, Ratuku," bisik Devan hangat, mengunci babak peperangan korporat ini dengan sebuah kemenangan mutlak yang lahir dari kekuatan cinta dan kesetiaan mereka yang sejati.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!