11 tahun Yuse dilatih jadi ksatria. Tugas pertamanya membawanya ke Desa Angin yang hancur misterius 5 tahun lalu. Di sana ia bertemu Yamaika, gadis pengendali badai yang menyimpan trauma. Ternyata kehancuran desa itu bukan bencana... tapi pengkhianatan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andre kurnia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia elemen ketiga
Setelah badai pertempuran yang mencekam di Lembah Hitam mereda, kepulan asap dan debu di dalam Goa Tengkorak perlahan mengendap. Masalah pelik serta dendam darah yang selama ini membelenggu hati Brisa akhirnya tuntas, meninggalkan keheningan yang panjang dan berat. Tubuh dan batin mereka terasa begitu lelah, dan Yuse pun memutuskan bahwa kini saatnya untuk pulang—kembali ke padepokan tempat ia ditempa dan dibesarkan selama sebelas tahun lamanya.
Namun, jalan mereka harus berpisah untuk sementara. Cindy Gulla, dikawal oleh sisa pasukan pengawalnya, harus segera kembali ke Kerajaan Arpati guna memulihkan diri sekaligus melaporkan seluruh kejadian besar ini kepada Mpu Sandry. Sementara itu, Brisa yang kini sebatang kara dan tak lagi memiliki kampung halaman, memilih untuk ikut serta bersama Yuse menuju padepokan di sebelah barat—satu-satunya tempat yang kini bisa ia sebut sebagai tujuan.
Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dibandingkan saat mereka berangkat. Pepohonan di sekitar mulai tampak lebih hijau dan hidup, semakin menjauh dari hawa terkutuk Lembah Hitam. Brisa berjalan di samping Yuse, matanya sesekali melirik ke arah pemuda itu, mengamati raut wajahnya yang tampak tenang namun menyiratkan kekosongan yang dalam. Rasa penasaran yang sejak kemarin menggelitik benaknya akhirnya tak bisa lagi ia tahan.
“Yuse,” panggilnya pelan, memecah keheningan jalan setapak. “Kejadian di dalam gua kemarin… tepat saat topeng pria itu pecah. Bagaimana bisa tiba-tiba tubuhmu memancarkan kilatan petir, lalu membentuk bayangan kepala elang raksasa di langit? Kekuatan apa itu sebenarnya?”
Yuse seketika berhenti melangkah. Ia menoleh ke arah Brisa, lalu menggaruk belakang kepalanya yang tak gatal, wajahnya tampak penuh kebingungan.
“Eh? Kepala elang berpetir?” ia mengerutkan dahi dalam-dalam, berusaha sekuat tenaga menyibak ingatannya. “Memangnya… aku melakukan hal sehebat itu kemarin? Jujur saja, Brisa, aku sama sekali tak ingat apa-apa. Yang kurasakan saat itu cuma hantaman angin tajam yang menghantam dadaku, lalu pandanganku mendadak gelap gulita. Saat aku sadar kembali, pria bertopeng itu sudah tergeletak mati di depan kita.”
Brisa terpaku menatap manik mata Yuse. Sorot matanya begitu tulus, polos, dan sama sekali tak menyiratkan kebohongan sedikit pun. Ternyata benar—Yuse sama sekali tak memiliki ingatan akan momen kebangkitan kekuatan dahsyatnya sendiri: elemen Petir Pemutus Takdir.
Melihat hal itu, Brisa akhirnya menarik napas panjang dan kembali melangkah. “Kalau begitu, lupakan saja,” jawabnya pelan, memutuskan untuk tak membahasnya lebih jauh.
Namun di dalam hatinya, kesimpulan mulai tersusun rapi. Ia yakin kekuatan itu pasti muncul secara otomatis sebagai respons tubuh yang didorong tekad murni—saat nyawa sendiri dan nyawa orang yang disayang terancam bahaya maut. Saat itu, raga Yuse yang sudah terluka parah seolah digerakkan hanya oleh satu hal: keinginan kuat untuk melindungi, tanpa peduli bahwa tubuhnya sendiri sedang di ambang kehancuran.
Mereka berdua melanjutkan perjalanan dalam diam, membawa serta misteri besar yang siap meledak kapan saja di masa depan.
Tiga hari berlalu dalam keheningan yang penuh makna. Saat gerbang padepokan barat akhirnya terlihat di kejauhan, Yuse segera mengantar Brisa ke kamar tamu terlebih dahulu, lalu bergegas menuju rumah kayu kecil yang terletak di bagian paling belakang—tempat tinggal Bibi Liana.
Malam itu, ketukan pelan terdengar di pintu rumah sederhana milik Cyena. Begitu pintu terbuka, senyum hangat langsung terbit di wajah wanita itu saat melihat sosok yang berdiri di ambang pintu.
“Liana? Masuklah, cepat… udara di luar sangat dingin,” sambut Cyena dengan riang, langsung mempersilakan sahabat sekaligus adik iparnya itu duduk di ruang tengah yang hangat.
Kunjungan malam itu awalnya hanyalah pertemuan biasa antara dua orang yang sudah lama tak bersua. Sembari menikmati teh hangat yang mengepul, mereka larut dalam obrolan santai—bernostalgia, tertawa kecil mengingat kenangan masa lalu, dan saling menanyakan kabar layaknya sahabat karib. Suasana di dalam rumah terasa begitu hangat dan nyaman, seolah semua beban dunia tak pernah ada.
Namun, di tengah percakapan yang mengalir santai itu, sorot mata Cyena mendadak meredup. Kerinduan dan kecemasan seorang ibu yang selama ini ia pendam tak bisa lagi disembunyikan. Ia meletakkan cangkir tehnya perlahan, lalu menatap Liana dengan pandangan yang penuh harap sekaligus cemas.
“Liana…” panggilnya dengan suara yang melembut. “Bagaimana… bagaimana kabar Yuse di padepokan? Apakah dia berlatih dengan baik? Apakah dia sehat?”
Mendengar pertanyaan itu, senyum di wajah Liana perlahan surut, digantikan oleh raut serius yang mendalam. Pertanyaan itu seolah membuka gerbang kenangan yang selama ini ia simpan rapat seorang diri.
Ia menghela napas panjang, lalu menatap lekat sahabatnya. “Dia tumbuh menjadi pemuda yang sangat kuat dan tangguh, Cyena. Tapi… ada satu hal penting yang belum pernah kuceritakan padamu tentang masa-masa awal dia berlatih dulu.”
Cyena seketika mencondongkan tubuh ke depan, rasa khawatirnya makin membara. “Ada apa, Liana? Katakan padaku.”
“Kau masih ingat kan? Saat pertama kali datang ke padepokan, Yuse sering mengeluh karena aku hanya melatih fisik dan pernapasan dasarnya terus-menerus,” tutur Liana pelan. “Dia sangat keras kepala, selalu ingin segera memegang pedang tajam dan belajar jurus mematikan persis seperti ayahnya dulu. Karena ia tak mau mendengar nasihat, suatu hari aku sengaja memaksanya berlatih habis-habisan… mendesak tubuh kecilnya sampai melampaui batas kemampuan yang seharusnya ia tanggung.”
Liana meremas jemarinya sendiri, seolah kembali merasakan ketegangan saat itu.
“Dan tepat saat ia benar-benar kelelahan, napasnya tersengal, dan hampir tumbang di tanah… di situlah aku melihatnya, Cyena. Tanpa sengaja aku melihat percikan-percikan cahaya petir yang halus, namun sangat murni, keluar dari seluruh pori-pori tubuh kecilnya.”
Deg!
Wajah Cyena seketika memucat pasi. Tangannya sedikit gemetar hingga cangkir di genggamannya ikut berguncang pelan.
“Petir…” bisiknya parau, suaranya hampir tak terdengar.
“Benar. Sangat halus, tapi getaran energinya begitu nyata dan dahsyat,” Liana mengangguk
Air mata yang selama ini ia tahan akhirnya runtuh membasahi pipinya. Kenangan saat malam perpisahan—saat Yuse yang polos menggaruk kepala sambil tertawa lebar tanpa tahu takdir apa yang menantinya—kembali mengoyak hatinya.
“Malam itu… sebelum dia berangkat, aku sengaja menyembunyikan rasa takut di balik senyumku,” isak Cyena lirih, menutup wajahnya dengan kedua telapak tangan. “Aku sebenarnya takut sekali, Liana. Aku takut takdir kejam elemen petir itu akan menuntun anakku pada penderitaan dan kematian yang mengenaskan… persis seperti apa yang menimpa ayahnya dulu.”
Liana segera bergeser duduk mendekat, lalu memeluk pundak sahabatnya erat-erat untuk menguatkan.
“Berkat latihan dasar yang kupaksakan selama bertahun-tahun, tubuh Yuse kini sudah menjadi wadah yang jauh lebih kuat dan kokoh,” ujar Liana lembut namun tegas. “Tapi kita tak bisa selamanya menyembunyikan kebenaran ini darinya, Cyena. Cepat atau lambat, kekuatan itu akan terus tumbuh, dan dia pasti akan datang menuntut jawaban yang sebenarnya.”