NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 22

***

Lampu minyak di sudut ruangan berderak kecil, memberikan cahaya kekuningan yang menari-nari gelisah di dinding marmer kamar tamu agung Kerajaan Aethelgard. Di luar, angin musim dingin melolong, namun di dalam ruangan ini, atmosfernya jauh lebih mencekik. Arthur masih membenamkan wajahnya di bahu Lilianne, menghirup aroma mawar yang memabukkan dari leher istrinya satu-satunya aroma yang mampu menenangkan badai paranoid di kepalanya.

Napas Arthur mulai tenang, namun tangannya yang melingkar di pinggang Lilianne perlahan merosot ke bawah. Telapak tangannya yang kasar meraba perut besar yang terbungkus sutra biru malam itu, merasakan detak kehidupan yang menjadi satu-satunya legitimasi keberadaannya di atas takhta.

"Kau menyelamatkanku malam ini, Lili," bisik Arthur. Suaranya rendah, bergetar tepat di gendang telinga Lilianne, mengirimkan sensasi dingin yang membuat bulu kuduk gadis itu meremang. "Tapi melihat Julian menatapmu... melihat bibirnya menyentuh punggung tanganmu... itu membuatku ingin mencungkil matanya dan membakar seluruh aula perjamuan itu."

Lilianne mencoba beringsut, menjauhkan dirinya dari keintiman yang menyesakkan itu. "Yang Mulia, ini bukan tempat kita. Kita berada di wilayah asing. Kita harus istirahat. Perjalanan tadi sangat melelahkan dan saya... saya merasa tidak enak badan."

"Kau milikku, Lilianne," potong Arthur tajam. Ia membalikkan tubuh Lilianne dengan satu sentakan pelan namun pasti, memaksa gadis itu menatap matanya yang berkilat gelap sebuah perpaduan antara hasrat yang tak terkendali dan ketakutan akan kehilangan.

"Di sini, di negeri orang, kau harus menunjukkan padaku bahwa kau masih ingat siapa tuanmu. Aku tidak butuh kata-kata cerdikmu sekarang. Aku butuh kepatuhanmu yang mutlak."

Arthur mulai mencium leher Lilianne dengan kasar, hampir seperti gigitan seekor binatang buas yang menandai wilayahnya. Tangannya dengan terampil melepaskan kaitan gaun sutra yang rumit itu. Lilianne meringis perutnya terasa kencang, sebuah efek samping dari stres dan ramuan pencegah kontraksi yang ia minum. Punggungnya nyeri luar biasa, namun ia tahu tidak ada gunanya melawan Arthur saat pria itu sedang dalam kondisi emosional yang tidak stabil.

"Ingat apa yang kukatakan, Lili," gumam Arthur di antara ciumannya yang menuntut. "Jika kau berhenti bicara, duniaku berakhir. Maka, berikan aku alasan untuk tetap menjaga dunia ini tetap berputar malam ini."

Arthur menjatuhkan Lilianne ke atas ranjang besar berbahan sutra mewah Aethelgard yang terasa dingin di kulitnya. Tanpa memberikan jeda bagi Lilianne untuk bernapas, Arthur menindihnya, membebani tubuh mungil istrinya dengan berat tubuhnya yang penuh otot.

"Nngh... yang mulia, kumohon... ini sakit," rintih Lilianne saat Arthur mulai merobek sisa pakaian yang menghalanginya.

Arthur tidak menghiraukan peringatan itu. Baginya, rasa sakit Lilianne adalah bukti nyata bahwa gadis itu masih berada dalam genggamannya. Ia meraup bibir Lilianne dalam ciuman yang menghancurkan, sementara tangannya menjelajahi setiap inci tubuh Lilianne dengan posesif.

"Ahh... h-hentikan... ahh!" jerit Lilianne tertahan saat Arthur memasuki dirinya tanpa kelembutan. Rasa sakit di perut bawahnya memuncak, sebuah denyutan peringatan dari rahimnya yang ditekan secara paksa.

"Rintihlah namaku, Lili! Katakan siapa pria yang memilikimu!" desis Arthur. Suaranya pecah menjadi sebuah erangan berat. "Nngh... kau begitu sempit... begitu sempurna untuk seorang penipu sepertiku... ahh!"

Arthur bergerak dengan ritme yang ganas, seolah setiap hujamannya adalah cara untuk menanamkan akarnya lebih dalam ke dalam jiwa Lilianne agar gadis itu tidak pernah bisa lepas darinya. Ia tidak peduli pada noda pada sutra mewah Aethelgard; yang ia pedulikan hanyalah kepuasan egonya yang baru saja terancam oleh kehadiran Julian.

Di tengah penyatuan yang brutal itu, Arthur mulai membisikkan kata-kata yang terdengar seperti pujian, namun terasa seperti kutukan bagi Lilianne.

"Kau sangat cerdik... ahh... caramu membungkam Julian... kau adalah perisaiku, Lili... nngh... mawar kecilku yang berduri..."

Arthur mengerang nikmat, kepalanya mendongak ke atas saat ia mencapai puncak kenikmatan yang memabukkan. "Ahhhh! Kau... kau adalah nyawaku!"

Sementara itu, Lilianne hanya bisa memejamkan mata erat-erat, air mata mengalir deras membasahi bantal sutra di bawah kepalanya. Setiap erangan kepuasan Arthur adalah belati yang menusuk hatinya. Ia merasakan sakit yang luar biasa di perut bawahnya, sebuah kram yang membuatnya ketakutan setengah mati akan keselamatan bayinya.

"Ugh... nngh... s-sakit... hiks... yang mulia, bayinya..." rintih Lilianne dengan suara yang nyaris hilang. Tubuhnya bergetar hebat di bawah dominasi pria yang selalu mengklaim ingin melindungi ahli warisnya, namun kini justru menjadi ancaman terbesar bagi keselamatan janin itu.

Arthur akhirnya ambruk di atas tubuh Lilianne, napasnya tersengal-sengal, keringat membasahi dahi mereka yang bersentuhan. Ia memeluk Lilianne dengan sangat erat, tidak memberikan ruang bagi istrinya untuk bernapas lega.

"Kau lihat?" bisik Arthur parau, masih terengah-engah. "Julian bisa menatapmu, tapi hanya aku yang bisa memilikimu seperti ini. Hanya aku yang berhak menghancurkanmu dan membangunmu kembali."

Lilianne tidak menjawab. Ia hanya bisa terisak pelan, tangannya mencoba mengelus perutnya sendiri dengan gerakan lemah di bawah selimut yang berantakan. Ia menyadari satu hal yang mengerikan cintanya Arthur jika itu bisa disebut cinta adalah sesuatu yang sangat egois. Pria ini lebih mencintai rasa kepemilikannya daripada nyawa yang ada di dalam rahim Lilianne.

Malam itu terasa begitu panjang dan membeku. Arthur akhirnya terlelap dalam posisi masih memeluk Lilianne, seolah takut jika ia melepaskannya, Lilianne akan menguap menjadi asap dan menghilang ke arah utara.

Lilianne tetap terjaga, menatap langit-langit kamar yang asing dengan pandangan kosong. Rasa sakit di perutnya perlahan mereda menjadi denyutan tumpul, namun luka di jiwanya kian menganga. Ia merasa jijik pada dirinya sendiri karena kecerdasannya malam ini justru menjadi alasan bagi Arthur untuk kian terobsesi padanya.

"Kau adalah kutukanku, Arthur," bisik Lilianne sangat pelan, memastikan suaminya tidak terbangun. "Dan aku... aku adalah tawanan yang mulai kehilangan jati dirinya dalam kegilaanmu."

Sutra mewah Aethelgard menjadi saksi bisu betapa sang Bayangan telah mematahkan sayap mawar kecilnya sekali lagi. Di luar, salju terus turun, menutupi jejak-jejak dosa yang dilakukan di dalam kamar agung itu, namun bagi Lilianne, tidak ada salju yang cukup dingin untuk membekukan rasa benci dan perih yang kini mengalir dalam darahnya.

Strateginya untuk bertahan hidup kini terasa seperti pedang bermata dua. Semakin ia membantu Arthur menjaga topengnya, semakin erat Arthur merantai hidupnya. Lilianne mengusap perutnya sekali lagi, berjanji pada bintang kecil di dalamnya bahwa ia akan menemukan cara—meski harus melalui jalur yang paling berdarah sekalipun—untuk membawa mereka keluar dari neraka yang dibangun oleh cinta yang salah ini.

Malam itu berakhir dengan keheningan yang menyakitkan, meninggalkan aroma besi dan mawar yang bercampur di udara, pertanda bahwa perang sejati antara sang Bayangan dan sang Cahaya baru saja memasuki babak yang paling kelam.

****

Bersambung...

1
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
Erni Wati
cerita nya keren tp kok sepi ya?
Lilia_safira: kurang update author nya
total 2 replies
Erni Wati
semangat thor,,,💪💪💪
Heresnanaa_: maaciw kaka🥹🫂
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!