NovelToon NovelToon
Beyond The Contract

Beyond The Contract

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / CEO / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Agatha soul

Akibat jebakan obat di malam perjamuan, Aruna berakhir di ranjang bos besarnya yang dingin, Adrian. Namun, sebuah garis dua di testpack mengubah segalanya. Batasan profesional di atas kertas itu perlahan runtuh saat seorang anak kecil—buah cinta kandung dari malam penuh skandal itu—hadir di antara mereka, memaksa hubungan ini berjalan jauh melampaui batasnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agatha soul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 15

POV Aruna

Pagi itu, aku terbangun dengan sekujur tubuh yang terasa remuk. Kejadian mengerikan semalam tatapan liar Raka yang mabuk, cengkeraman kasarnya, dan debaran jantungku yang nyaris copot saat hampir dihantam mobil masih membayangi isi kepalaku. Aku memeluk lutut di atas kasur, dan masih memakai Jas milik Pak Adrian yang memberikan ketenangan sehingga aku bisa tidur semalam.

Begitu mengingat bagaimana aku menghambur dan memeluk dada bidang Bos Besarku itu semalam, aku langsung menenggelamkan wajahku ke bantal sambil menjerit frustasi. "Bodoh banget sih, Aruna! Kenapa juga harus pakai peluk segala!" rutukku pada diri sendiri. Mukaku rasanya panas sekali sampai ke telinga.

Aku tidak mungkin mengembalikan jas mahal itu dalam keadaan kotor seperti ini.

Sebelum merendamnya, aku memeriksa seluruh kantong jas dengan hati-hati takut ada barang penting Pak Adrian yang tertinggal. Benar saja, di kantong bagian dalam, jemariku menyentuh beberapa lembar kertas tebal. Saat kukeluarkan, ternyata itu adalah beberapa kartu nama eksklusif berlogo timbul warna emas.

Aku membawa kartu nama itu ke bawah temaram lampu kamar, membaca tulisan yang tertera di sana.

Adrian Wiratama

Chief Executive Officer (CEO)

Aurora Corporation

Di bagian bawahnya, tertera sebuah nomor telepon kantor dan nomor seluler khusus. Aku sempat terdiam beberapa saat, memandangi deretan angka itu dengan ragu. Sempat terlintas di pikiranku untuk mengirim pesan singkat, sekadar mengucapkan terima kasih yang lebih layak atau mengabari soal jasnya.

Namun, aku menggelengkan kepala cepat-cepat. "Enggak, enggak. Ini pasti nomor urusan kerjaan. Kalau aku hubungi, yang angkat pasti si Ariana kecentilan itu. Malah makin ribet nanti," gumamku takut.

Akhirnya, aku menyimpan kartu nama itu dengan rapi di laci mejaku. Setelah menyimpan kartu nama Pak Adrian di dalam laci meja, aku membawa jas tebal itu ke kamar mandi.

Dengan sangat hati-hati, aku mencucinya menggunakan deterjen cair yang lembut, memastikan sisa noda air mataku semalam hilang sepenuhnya. Karena ini rumah kontrakan dan aku tidak punya setrika uap khusus jas mahal, aku tidak berani mengeringkannya sembarangan. Setelah dibilas bersih, jas itu langsung kukaitkan ke hanger kayu, lalu kujemur di area belakang rumah agar kering sendiri terkena angin dan matahari pagi.

Aku memandangi jas besar yang bergoyang pelan ditiup angin itu. "Biar kering alami aja deh, daripada disetrika malah rusak kain mahalnya," gumamku pelan.

Karena jasnya masih basah dan harus di jemur, otomatis hari ini aku tidak bisa membawanya ke kantor.

Pukul tujuh lewat empat puluh lima menit pagi, aku sudah melakukan fingerprint di lobi lantai lima.

Meski tubuhku sudah berada di kubikel kantor, jiwaku rasanya masih tertinggal di rumah. Aku duduk di depan komputer dengan tatapan kosong, mengetik laporan administrasi dengan gerakan mekanis yang lambat. Badanku masih agak lemas, sisa trauma semalam benar-benar menguras semangat kerjaku hari ini.

"Aruna, kamu pucat banget. Sakit?" tanya Mbak Dian, rekan kerja di sebelah kanan kubikelku, membuyarkan lamunanku.

"Eh? Enggak kok, Mbak. Cuma... agak kurang tidur aja semalam," jawabku memaksakan senyum tipis.

Sepanjang pagi sampai jam makan siang, aku terus menatap layar komputer dengan gelisah. Jujur, aku sengaja tidak memunculkan batang hidungku sama sekali di lantai atas. Selain karena jasnya memang masih basah di jemuran kontrakan, aku juga tidak punya nyali untuk bertemu langsung dengan Pak Adrian setelah insiden pelukan semalam. Mukaku rasanya mau ditaruh di mana kalau ketemu dia.

Alhasil, aku memilih untuk menenggelamkan diri di balik tumpukan berkas seharian penuh, berpura-pura sangat sibuk agar punya alasan untuk menghindar, sambil diam-diam berharap pria dingin itu lupa dengan perintahnya semalam.

Aku masih menatap layar monitor dengan tatapan kosong saat tiba-tiba sebuah cangkir kopi panas diletakkan di atas meja, tepat di samping tumpukan berkas yang kubaca. Aku mendongak dan mendapati Fika, teman satu divisiku, tersenyum kecil sambil menarik kursinya di samping kiriku.

"Kopi dulu, biar mata lo nggak kayak orang kurang tidur dua hari," goda Fika pelan.

Aku meraih cangkir itu dengan tangan yang agak gemetar, lalu menyesapnya perlahan. Hangatnya kopi menjalar ke tenggorokanku, sedikit membantu meredakan rasa cemas yang sedari pagi menggerogoti.

"Lo kenapa, Runa? Dari pagi muka lo ditekuk mulu, terus kayak orang ketakutan gitu," tanya Fika dengan suara yang sengaja dipelankan. "Bukan gara-gara si Raka lagi kan?"

Aku tersentak mendengar nama itu. Fika memang satu-satunya orang di kantor yang tahu hubungan burukku dengan Raka. Aku menelan ludah, berniat untuk mencurahkan semua kejadian gila semalam tentang Raka, tentang Adrian yang muncul sebagai pahlawan, sampai soal memalukan tentang pelukan itu.

"Ka, kamu nggak bakal percaya semalam aku..." aku menarik napas panjang, bersiap mengeluarkan beban di dadaku. "Jadi semalam Raka bener-bener nekat, dia..."

Belum sempat aku menyelesaikan kalimatku, langkah kaki yang berat dan tegas terdengar mendekat ke arah area kubikel kami. Suasana yang tadinya cukup santai mendadak berubah menjadi sunyi karena setiap staf langsung menegakkan punggung mereka.

Pak Danu, manajer divisi kami yang terkenal sangat galak dan perfeksionis, sedang berjalan melintasi lorong kubikel sambil membawa tumpukan dokumen. Wajahnya tampak kusut dan amarahnya terlihat jelas, seolah dia sedang mencari mangsa untuk dimarahi.

Fika segera mencolek lenganku, memberi isyarat agar aku diam. Aku langsung menunduk dalam-dalam, berpura-pura sangat fokus membaca laporan di depanku.

Pak Danu berhenti tepat di samping kubikel kami, matanya yang tajam menyapu area kerja dengan intimidasi. "Aruna! Laporan stok opname mana? Saya tunggu di meja saya lima menit lagi!" bentaknya dengan suara menggelegar.

"I-iya, Pak! Segera saya antar!" jawabku dengan nada gugup.

Setelah Pak Danu berlalu dengan langkah kaki yang masih terdengar keras, aku menghembuskan napas panjang. Rasa ingin cerita tadi mendadak hilang, tergantikan oleh kewaspadaan yang muncul lagi. Aku tidak mau cari masalah atau jadi pusat perhatian di kantor gara-gara drama pribadiku.

"Lanjut nanti aja ya, Ka," bisikku getir sambil berdiri membawa berkas laporan. "Aku harus ke meja Pak Danu sekarang."

Fika hanya bisa menatapku dengan iba. Aku pun bergegas pergi, menelan kembali semua cerita tentang malam mencekam itu ke dalam tenggorokan. Mungkin memang belum saatnya aku berbagi soal Pak Adrian dan jas mahalnya itu sekarang.

Sore harinya begitu jam pulang kantor berbunyi, aku langsung membereskan barang-barangku dengan terburu-buru. Aku tidak mau tertahan semenit pun lagi di kantor. Begitu sampai di rumah, hal pertama yang kulakukan adalah menutup pintu kayu itu rapat-rapat, lalu memutar kuncinya dua kali dan memasang selot tambahan, persis seperti yang diperintahkan Pak Adrian semalam.

Setelah rasa aman sedikit terkumpul, aku melangkah ke area belakang rumah untuk mengecek jemuran. Jas hitam Pak Adrian bergoyang pelan, kondisinya sudah setengah kering. Karena langit sore ini terlihat sangat mendung dan abu-abu, aku buru-buru menurunkannya. Aku takut kalau tiba-tiba hujan deras turun, jas mahal ini malah jadi makin rusak. Aku membawanya masuk ke dalam kamar, menggantungnya di tempat yang aman.

Sekitar jam enam sore, saat suasana luar sudah mulai gelap, detak jantungku mendadak berhenti seketika.

BRAK! BRAK! BRAK!

Pintu depan digedor dengan sangat keras, hentakannya membuat seluruh dinding rumah yang tipis ikut bergetar.

"Aruna!! Buka pintunya! Gak usah sok sembunyi lo ya! Keluar!" teriakan kasar itu menggema. Itu suara Raka. Bajingan itu datang lagi, bahkan jauh lebih nekat dari semalam.

Tubuhku langsung lemas. Aku mundur perlahan sampai punggungku membentur lemari baju. Air mata ketakutan kembali mendesak keluar. Aku panik, bingung harus minta tolong kepada siapa. Mau telepon Pak Adrian? Jelas aku tidak berani, nomor ponselnya saja takut dipegang asistennya.

Namun, di tengah keputusasaan itu, tiba-kira terdengar suara langkah kaki lain dari arah luar, disusul oleh suara bentakan yang tidak kalah tegas.

"Heh! Punya sopan santun gak lo?! Jangan bikin ribut di wilayah orang ya!"

Karena bangunan tempat tinggalku ini modelnya seperti rumah susun suara keributan di luar terdengar sangat jelas dari dalam kamarku.

"Gak usah ikut campur lo! Ini urusan gue sama cewek di dalam!" balas Raka, suaranya terdengar meninggi menantang orang tersebut.

1
Alia Chans
Menulis cerita ini membutuhkan waktu berjam-jam, tetapi satu like mungkin mampu menghapus lelah itu dalam sekejap. Semangat thor nulisnya😍
Agatha soul: terima kasih 🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!