NovelToon NovelToon
Imam Untuk Adelin

Imam Untuk Adelin

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Chicklit / Perjodohan
Popularitas:4.2k
Nilai: 5
Nama Author: Larasatii

Adelin Azzura tak pernah menyangka hidupnya akan berakhir dalam sebuah pernikahan dengan seorang ustaz bernama Afwan Zaid, setelah masa lalunya ternoda oleh kekerasan seksual dari seorang lelaki asing.

Hidup Adelin yang penuh luka dan drama begitu bertolak belakang dengan cara pandang Afwan yang selalu memegang teguh prinsip Islam, bahwa setiap takdir telah diatur oleh Allah.

Namun Adelin tak pernah benar-benar jujur tentang masa lalunya. Ia memendam trauma itu sendirian.

Sampai akhirnya Afwan mulai dilanda konflik batin ketika Adelin selalu menolak disentuh.

Akankah rumah tangga mereka bertahan?
Ataukah berakhir dengan kalimat cerai yang sering dikaitkan dengan godaan jin dasim?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Larasatii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30 Pria Bertato di SPBU

Aku memutar otak, berusaha mencari cara agar jawabanku bisa dimaklumi oleh Mas Afwan. Hingga sebuah kalimat kini muncul di kepalaku. Dengan suara bergetar, aku menjawab pertanyaan Mas Afwan yang hampir saja membuat separuh jiwaku lenyap.

“Mas. Maaf, testpack itu aku yang punya. Pas awal kita berhubungan, aku ngerasain hal aneh ditubuh aku. Jadi aku pake buat cek siapa tahu hasilnya positif.”

Kulihat raut wajah Mas Afwan yang semula penuh tanya, kini cerah kembali. Seolah semua jawabanku barusan sedikit meredakan tanya di kepalanya.

“Aku kira buat apa. Soalnya kan kamu baru selesai haid, makanya aku penasaran kenapa ada itu. Maaf ya, Sayang. Aku udah berpikiran macam-macam barusan.” Mas Afwan lantas memelukku erat. Sesekali ia mencium puncak kepalaku.

Ketegangan di pagi itu mencair sudah. Namun, aku belum benar-benar bisa tenang. Sebab, kali ini ada kebohongan baru lagi yang aku tanam. Aku tersenyum getir di dalam dekapan Mas Afwan. Kutahan air mata yang hampir saja mengalir membasahi lengannya.

Maafkan aku, Mas. Aku lagi-lagi membohongimu. Sebab aku tak lagi tahu bagaimana caranya bisa jujur padamu. Karena dari awal kita menikah, kamu belum tahu tentang rahasia besarku. Inilah kesalahan terbesarku. Menerima lamaranmu di tengah kekacauan hidupku.

Mas Afwan melepas pelukannya. Lalu memanggil Hamzah yang saat itu masih asyik dengan dunia imajinasinya dalam menggambar.

“Hamzah! Anak Abaty,” sapanya seraya berjongkok sambil menatap Hamzah.

“Iya, Abaty?” tanya Hamzah lantas menolehkan pandangan ke arah sang ayah.

“Hamzah mau ikut Abaty sama Umi, nggak?”

“Ha? Mau mau, Abaty. Hamzah mau ikut. Kita ke mana Abaty?” Ia tampak riang mendengar ajakkan Mas Afwan. Lantas, Mas Afwan tersenyum lalu menjawab.

“Kita ke Jakarta. Ke rumah jaddaty, habis itu kita jalan-jalan, yuk.”

“Ayo! Ayo ganti baju yang bagus. Ayo Umi! Pakai jilbab dan cadalnya bial nggak Nampak aulat.”

Aku dan Mas Afwan lantas tertawa mendengar ucapan Hamzah yang begitu menggemaskan. Lantas, aku segera beralih ke kamar dan mengganti pakaianku.

Mobil melaju meninggalkan Lembang. Udara sejuknya Lembang perlahan hilang kala memasuki kota Bandung yang padat oleh kendaraan. Namun, tetap seja sejuknya masih terasa. Aku duduk di bangku belakang bersama Hamzah. Ia mengajakku bermain tebak-tebakkan suara hewan.

“Coba tebak, Umi. Ini suala apa? Mooo.”

“Sapi.”

“Ya, Umi benal. Kalau suala ini suala apa, Umi? Meong … meong.”

“Kucing.”

“Umi benal lagi. Hole! Alhamdulillah.”

“Sekarang giliran Umi. Ini suara apa, ya? Kwek kwek kwek kwek.”

Ia berpikir sejenak. Satu jemari telunjuknya ia letakkan di dagu. Sementara kepalanya ia miringkan dan sedikit mendongak ke atas. Bibir mungil itu ia monyongkan seolah benar-benar tengah berpikir keras. Perlahan matanya menyipit dan tiba-tiba matanya kembali menyala. Seperti menemukan sebuah ide di kepalanya.

“Kodok, Umi!” Kami berdua terdiam sejenak. Sebelum akhirnya aku dan Mas Afwan tertawa terbahak-bahak.

“Itu monyet, Hamzah,” sela Mas Afwan bercanda.

“Monyet? Monyet kan gini, Abi. Uu aak Uu aak. Gitu.”

Kubalas ucapannya dengan tawa seraya mengecup puncak kepalanya.

“Yang tadi itu suara bebek, Hamzah. Hamzah tahu bebek, kan?” ralatku seraya membelai lembut rambutnya.

“Ho, ya. Tahu, Umi.” Aku memeluknya erat kemudian mengecup pipinya lembut.

Perjalanan yang panjang dan melelahkan. Hamzah tertidur di bangku belakang. Sementara aku pindah ke bangku depan. Mas Afwan tampak konsentrasi menyetir mobil. Sementara aku sibuk memerhatikannya. Hingga tiba-tiba ia mengetahui bahwa aku sedang memerhatikannya.

“Suamimu … ganteng, ya?” Ucapannya spontan membuatku gugup. Aku lantas mengalihkan pandangan. Kudengar ia tertawa. Lalu membelai lembut kepalaku yang berbalut hijab. Aku menunduk malu. Kupastikan kini ada rona merah di pipiku.

Mobil tiba-tiba berhenti dan menepi di sebuah toko brownies. Mas Afwan turun dari mobil, dan masuk ke dalam toko tersebut. Tak lama ia kembali membawa dua pack brownies Amanda.

Kami pun melanjutkan perjalanan ke Jakarta. Hingga akhirnya kota Jakarta kini tampak sudah di depan mata. Aku menapakkan kaki kembali di rumah Umi Deva. Rumah yang menjadi kenangan indah bagiku. Tempat pertama kali aku berjumpa dengan Hamzah dan Mas Afwan.

Selepas dari sana, kami berlalu ke sebuah mal tak jauh dari rumah Umi Deva. Kami singgah di sebuah toko baju muslim yang ada di mal tersebut. Mas Afwan dengan semangatnya menawarkanku sebuah gamis satu stel dengan khimar dan cadarnya. Awalnya aku menolak, tapi Mas Afwan bersikukuh membelikanku. Hingga aku mengiyakannya.

Saat Mas Afwan tengah mengantre di kasir, tiba-tiba aku melihat seorang wanita yang wajahnya mirip sekali dengan Kayla. Kupandangi lebih dekat lagi, dan … itu benar Kayla. Aku pun lantas menyapanya.

“Kayla?” Ia lantas menoleh ke arahku. Namun, tatapan itu seolah penuh tanya. Jelas ia tak mengenaliku karena penampilanku yang kini berubah.

“Siapa, ya?” tanyanya heran seraya mengernyitkan dahinya.

“Ini aku, Adelin.”

“Ha? Masak?” Aku pun menariknya ke sudut dinding. Kemudian membuka sedikit cadarku. Ia lantas terkejut dan memelukku erat.

“Ya ampun. Ini benaran lo, Lin? Ya Allah, lo berubah banget sekarang.” Ia memegang bahuku kemudian tersenyum hangat sambil kembali memelukku.

“Alhamudulillah, Kay. Lo apa kabar?” tanyaku padanya.

“Baik. Lo? Apa kabar?”

“Alhamdulillah baik juga.”

“Sayang, ayo!” panggil Mas Afwan di sela percakapanku dengan Kayla.

“Oh, udah siap ya, Mas?”

“Itu siapa?” tanya Kayla penasaran seraya tersenyum sekilas pada Mas Afwan.

“Suamiku, Kay.”

“Gila. Lo nggak undang gue? Ih bener lo, ya.”

“Maaf, banget ya, Kay. Gue benaran lupa buat ngundang semua teman-teman gue. Karena mendadak, Kay.”

“Hm, ya, deh. Eh, betewe suami lo … alim, ya. Arab, ya?” Aku mengangguk lantas berucap.

“Iya, Kay. Alhamdulillah,” jawabku sambil tersenyum padanya.

“Sayang! Di sini rupanya? Siapa?” Pacar Kayla—Tomi datang. Ia memandangku sekilas dan keduanya kini saling berbisik.

“Oh, Hai! Maaf, soalnya cadaran. Jadi … nggak tahu.” Ia tersenyum canggung. Lalu mengangguk. “Udah ayo! Kami duluan, ya.” Mereka berlalu begitu saja. Terlihat keduanya saling rangkul. Aku menggeleng pasrah. Berharap sahabatku Kayla segera Allah beri hidayah.

“Ayo, Sayang.” Mas Afwan menyapaku setelah aku sempat melamun. Aku mengangguk dan menggandeng tangan Hamzah.

Saat ini, kami hendak berjalan menuju rumah Ibuku. Mas Afwan mengemudikannya dengan cukup pelan. Di dalam perjalanan, aku memintanya untuk berhenti sejenak karena aku sudah tak tahan lagi untuk segera buang air kecil. Hingga mobil pun berhenti di sebuah SPBU Pertamina.

Aku turun dengan langkah terburu. Melesat menuju toilet umum. Selepas keluar dari toilet umum, tiba-tiba aku bertabrakan dengan seorang pria.

“Ha, Maaf,” ungkapku sambil menundukkan kepala.

“Nggak masalah.” Mataku membelalak sempurna. Ingatanku terlempar ke sudut memori lama yang membuat separuh jiwaku mati dan lenyap dari kewarasan. Suara itu, aku mengenalnya.

Saat kutatap wajah itu, sontak tubuhku membeku. Seorang pria bertato di lengannya hingga pergelangan tangannya, berkulit hitam, memakai tiga anting di telinganya, berdiri mematung menatapku yang kini membeku menatapnya. Napasku memburu. Jantung berdebar tak karuan. Hingga suaraku nyaris hilang. Hingga sebuah tanya darinya semakin membuatku merinding.

“Kamu … kenal saya?”

1
Key
ehm ... ini awal pertemuan ya
Larasati: iya 🤭
total 1 replies
Key
Ridho, gini aja deh ... kita jujur²an. Mau bogem kanan apa bogem kiri?
Larasati: kanan aja biar lebih kuat hahaha 😄
total 1 replies
Key
Woi, nggak pantes banget 🥲
Larasati: memanng si ridho ni harus disentil mulutnya memang 🫩
total 1 replies
Wawan
Salam kenal buat Adelin
Larasati: salam kenal kembali mas wawan.. 😍
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
kasihan adelin
Larasati: ya kak... di bab berikutnya lebih kasian /Scowl/
total 1 replies
Key
sekompleks itu ya kehidupan, hemzzz
Larasati: iya ... caapek memang dunia oh dunia 🫩
total 1 replies
Key
kamu sih Mabora
Larasati: hahaha tulah ya menyesal kemudian
total 1 replies
Key
Ini beneran, naik jabatan bakal seseram ini?🗿
Larasati: ya benaran ada loo yang begitu.. gak percaya? riset aja hehe
total 1 replies
Key
ah seramnya punya keluarga ngedrugs🥲
Larasati: serem y.. takut bun bun kita hehe
total 1 replies
Key
Jangan🥲
EvhaLynn
Semangat Thor😉
Wednesday
bundir?
Larasati: menurut kakak gimana?
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
cerita yang menarik
Larasati: maa syaa Allah senang kakak suka 😍
total 1 replies
🍒⃞⃟🦅 CACASTAR
hadir thor
Larasati: makasi sudah hadir kak 😍
total 1 replies
mama Al
Adeline kan di gambarkan berhijab masa minum bir
Larasati: bisa aja kak.. kalau udh kalang kabut dan udh dark pikirannya. hehe
total 1 replies
mama Al
ya udah jangan ngemis sama dia
mama Al
jangan mau!
jangan mau!
Nifatul Masruro Hikari Masaru
karena....
.
Larasati: karenanya bikin gemas ya kak 🤭
total 1 replies
Keke Chris
semangat nulisnya 💪
Larasati: waa kakakku... makkasih ya kak kee 😍
total 1 replies
Tulisan_nic
No, Adelin!


Masih banyak cobaan yang belum kamu cobain,
kamu masih belum merasakan betapa bahagianya saat menang GA, kamu belum merasakan betapa bahagianya CO nol rupiah di tanggal kembar. It's amazing Adelin.🤣

Oke, semoga kamu baca komentarku ini, sebelum lantai dasar gedung itu menerima suara gedebugh mu🔥🔥🔥🔥🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!