Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.
Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."
Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Hasil Tiga Ronde
Selena menyambar tasnya dan kunci mobil dengan gerakan terburu-buru. Keringat dingin membasahi pelipisnya, dan rasa pening di kepala membuat langkahnya sedikit limbung. Ia harus memastikan kondisinya; ia tidak boleh tumbang sekarang di saat raksasa Hermawan Grup baru saja ia bersihkan dari benalu.
Sepanjang perjalanan menuju klinik eksklusif keluarga Hermawan, Selena terus merapalkan doa. Pikirannya terbagi antara rasa sakit di perutnya dan misteri keberadaan Biru. Cakra benar-benar melakukan tugasnya dengan terlalu baik hingga ia, istri sahnya, merasa seperti orang asing yang dikucilkan dari suaminya sendiri.
Setibanya di klinik yang terletak di kawasan elit Menteng itu, Selena langsung disambut oleh perawat senior yang mengenalnya. Tanpa menunggu lama, ia diarahkan ke ruang pemeriksaan dr. Karina, dokter spesialis penyakit dalam langganan keluarga besar mereka.
"Dok, sepertinya maag saya kambuh parah. Sejak tadi pagi saya mual hebat, bahkan mencium bau parfum sendiri saja rasanya ingin muntah," keluh Selena sambil merebahkan diri di tempat tidur pemeriksaan.
Dokter Karina, wanita paruh baya dengan kacamata bertengger di hidungnya, tersenyum tenang. Ia mulai menekan beberapa titik di perut Selena. "Makan tidak teratur, ya? Atau terlalu banyak tekanan?"
"Keduanya, Dok," jawab Selena jujur.
"Baik, kita cek dulu. Tapi sebelum saya berikan obat asam lambung yang keras, saya ingin Anda melakukan tes urin sederhana. Hanya untuk memastikan sesuatu," ujar dr. Karina dengan nada yang tidak terduga.
Selena mengerutkan kening. "Tes urin? Untuk apa, Dok? Apa ada infeksi?"
Dokter Karina hanya memberikan senyuman misterius yang membuat jantung Selena berdegup kencang. "Hanya prosedur standar untuk wanita usia produktif dengan keluhan mual yang sensitif terhadap aroma, nyonya Selena. Silakan."
Dengan perasaan bingung dan sedikit kesal karena merasa waktunya terbuang, Selena menuruti instruksi tersebut. Ia masuk ke kamar mandi, melakukan tes, dan menyerahkan sampelnya pada perawat.
Sepuluh menit menunggu terasa seperti berjam-jam. Selena terus memutar-mutar ponselnya, berharap ada pesan masuk dari Cakra. Namun, pintu ruangan terbuka, dan dr. Karina masuk kembali bukan dengan resep obat maag, melainkan dengan selembar kertas hasil laboratorium dan wajah yang cerah.
"Nyonya Selena," dokter itu melepas kacamatanya. "Sepertinya Anda tidak butuh obat asam lambung."
"Maksud Dokter? Saya sudah sembuh sendiri?"
"Tidak. Anda butuh vitamin kehamilan," jawab dr. Karina mantap. "Hasilnya positif, Nyonya. Dan melihat kadar hormonnya yang sangat tinggi, mual Anda ini bukan karena asam lambung, melainkan reaksi tubuh terhadap janin yang sedang berkembang. Selamat, Anda akan menjadi seorang ibu."
Selena membeku. Dunia seolah berhenti berputar. Tangannya secara refleks turun menyentuh perut ratanya. Di tengah badai pengkhianatan dan hilangnya Biru, ada sebuah kehidupan yang bersemi.
"Positif?" suara Selena nyaris tidak terdengar.
"Sangat positif. Dan saya sarankan Anda segera melakukan USG. Ada sesuatu yang menarik dari hasil lab ini, sepertinya hormon Anda jauh lebih tinggi dari kehamilan normal pada umumnya," tambah dr. Karina.
Air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya tumpah. Bukan karena sedih, tapi karena sebuah kekuatan baru tiba-tiba mengalir ke seluruh nadinya.
"Mas Biru..." bisik Selena. "Kamu benar-benar bajingan yang luar biasa. Kamu pergi tapi meninggalkan prajurit kecil ini untuk menjagaku."
Kini, Selena punya misi baru. Ia tidak akan lagi memohon pada Cakra. Ia akan mencari Biru dengan otoritas seorang ibu yang membawa pewaris takhta Hermawan.
Ia harus menemukan "rumah" bagi anak-anaknya, sebelum para serigala di luar sana menyadari bahwa rahimnya kini adalah target yang jauh lebih berharga daripada kursi CEO.
Setelah USG yang menunjukkan kalau Selena hamil anak kembar tiga, Selena pulang ke rumah dengan perasaan haru. Bahagia dan sedih karena suaminya tak ada di sampingnya disaat mendapatkan berita baik ini.
dr. Karina, setelah kepergian Selena, ia menelpon Widya Hermawan, memberikan kabar baik ini.
Widya gembira luar biasa, ia langsung menuju rumah sakit tempat biru dirawat dalam koma. Ia ingin memberikan kabar ini.
Langkah kaki Widya menggema di koridor sunyi Rumah Sakit Harapan Medika. Wajahnya yang biasanya kaku dan penuh wibawa kini tampak bercahaya, meski sisa-sisa air mata kebahagiaan masih membekas di sudut matanya.
Kabar dari Dokter Karina tadi benar-benar seperti oase di tengah padang gurun bagi Widya.
Tiga bayi. Tiga cucu. Tiga penerus Hermawan Grup.
Widya mendorong pintu ruang VVIP dengan sedikit terburu-buru. Di dalam, ia mendapati Cakra yang masih berdiri tegak di samping monitor jantung, wajahnya tampak semakin tirus karena kurang tidur.
"Cakra," panggil Widya dengan suara yang bergetar karena antusiasme.
Cakra menoleh, sedikit terkejut melihat nyonya besarnya datang tanpa pemberitahuan di jam yang tidak biasa.
"Nyonya? Ada perkembangan mendesak?"
Widya tidak menjawab Cakra. Ia langsung melangkah menuju sisi ranjang Biru, meraih tangan putranya yang masih terkulai lemas. Ia mendekatkan wajahnya ke telinga Biru, mengabaikan kabel-kabel yang melilit tubuh pria itu.
"Biru... Bangun, Nak. Mama membawa kabar yang bahkan tidak pernah Mama bayangkan sebelumnya," bisik Widya dengan suara parau yang penuh kasih.
Cakra hanya diam mematung, memperhatikan perubahan emosi majikannya.
"Istrimu, Selena... dia sedang mengandung, Biru. Dan Dokter Karina baru saja mengonfirmasi lewat USG," Widya menjeda kalimatnya, air matanya jatuh mengenai lengan baju Biru. "Bukan satu, bukan dua... tapi tiga, Biru. Selena mengandung bayi kembar tiga. Kamu akan menjadi ayah dari tiga anak sekaligus."
Deg.
Cakra yang mendengar hal itu pun tak mampu menyembunyikan keterkejutannya. Matanya melebar, menatap tak percaya ke arah Widya.
Bayangan Biru yang selalu dingin dan terobsesi pada pekerjaan tiba-tiba berbenturan dengan kenyataan bahwa pria itu akan segera memiliki keluarga besar.
"Biru, kamu dengar Mama?" Widya kembali mendesak, suaranya lebih keras sekarang, seolah ingin menarik kesadaran Biru dari kegelapan yang paling dalam. "Selena butuh kamu. Dia sedang berjuang sendirian di rumah, menangisi kamu, sementara dia membawa tiga nyawa yang sangat rapuh di perutnya. Kamu tidak boleh membiarkan istrimu menghadapi ini sendirian!"
Di sudut ruangan, Cakra mengepalkan tangannya. Ia merasa sangat bersalah karena telah menyembunyikan Biru dari Selena.
Rasa hormatnya pada Biru selama ini membuatnya buta bahwa ada kepentingan yang jauh lebih besar daripada sekadar keamanan medis—yaitu kekuatan cinta dan harapan.
"Tuan...Tiga ronde di Uluwatu memberikan hasil 3 prajurit kecil," gumam Cakra pelan, ikut memberikan dukungan moril.
Tiba-tiba, suara alarm dari monitor jantung berbunyi pendek.
Grafik yang tadinya landai mulai menunjukkan fluktuasi yang tajam. Garis hijau itu melompat-lompat, seolah-olah jantung Biru sedang bereaksi hebat terhadap informasi yang baru saja ia terima.
"Dokter! Panggil Dokter Ariska!" perintah Widya pada Cakra tanpa melepaskan tangan Biru.
Widya terus membisikkan nama ketiga calon cucunya itu di telinga Biru, sementara di luar sana, Selena sedang memeluk foto pernikahan mereka, tidak tahu bahwa di ruangan yang dingin ini, suaminya sedang berjuang mati-matian untuk bangun demi menyambut tiga nyawa kecil yang telah ia titipkan di rahim istrinya.
***
apa dulu suka nonton film biru... 🤭🤭🤭
apa kamarnya tak beratap..?
apa tinggal di hutan lebat...???
atau karna ada kulkas terbuka....????
masih menjadi tanda tanyaaaaa
bukan nama tepung....!!!!
srius bertanya dengan nada rendah