NovelToon NovelToon
NIKAH KONTRAK 9 BULAN

NIKAH KONTRAK 9 BULAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Cinta Seiring Waktu / Bad Boy
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Ningsih Hada

Dunia Sarah Wijaya jungkir balik setelah mendapat pelecehan dari seorang pria yang begitu ia segani dan hormati.Sebanyak asa yang mebumbung angan seakan sirna menjadi sebuah kemalangn. “Pergi! Menjauhlah dari hidupku selamanya”.Sarah wijaya “Jangan membenci takdir,maaf,kalau aku hanya singgah bukan untuk menetap”.Lingga Pratama. Tiada tebusan yang paling berharga atas rasa sakit tidak dianggap oleh seorang yang begitu diharapakn kehadirannya.Waktu telah merubah segalanya,membawa Lingga dalam penyesalan tam berujung.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ningsih Hada, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 34

Sementara di kamar, Pa Re sudah lebih tenang. Begitupun dengan Mama Alice walau masih sangat sedih. Keduanya berbicara banyak hal, menyusun langkah yang harus didahulukan.

“Kita harus kerumah sakit, Pah, aku tidak bisa membiarkan Sarah menggugurkan cucu kita. Biar bagaimanapun, ada darah keturunan kita mengalir disana.”

“Apa kita tidak terlalu egois Ma, Sarah tidak menginginkan anak itu. Dia bahkan trauma, bagaimana bisa dia hamil dengan kebencian.”

“Nggak Pah, Sarah boleh benci dengan pelakunya, tapi aku yakin naluri seorang ibu akan berbeda, dia pasti akan menerima kehamilannya nanti walau awalnya terpaksa.” Bu Alice yakin, naluri seorang ibu tidak lah pernah salah.

“Ayo Pah, kita kerumah sakit, jangan sampai kita menyesal juga. Kita tidak tahu dari kedua anak kita siapa yang akan memberikan keturunan yang sholeh, bisa jadi janin di perut Sarah yang sekarang tidak di inginkan yang nantinya akan membawa kebaikan untuk keluarga.” Bu Alice kembali menangis. Rumit sekali perasaannya semenjak tahu duduk permasalahannya.

Pak Regan yang sedikit ragu pun akhirnya mengiyakan. Keduanya bertolak kerumah sakit. Menemui Sarah dan juga Bu Maryam yang terlihat sudah lebih tenang. Walau sebentar lagi mereka akan memberi kabar yang cukup mencengangkan.

“Mbok, mana Sarah?” tanya Bu Alice tidak menemukan Sarah disana.

“Sedang melakukan persiapan, Bu, sudah di bawa perawat,” ucap Bu Maryam yang terlihat begitu cemas.

Bu Alice langsung bergegas tanpa kata, ia menerobos masuk menemui Sarah yang saat ini hendak melakukan serangkaian persiapan di ruang persalinan darurat.

“Sarah, saya mau bicara! Beri saya waktu lima menit sebelum kamu masuk!” cegah Bu Alice memohon.

“Ada apa, Bu?” balas Sarah menatap bingung. Walau hatinya tengah mempersiapkan diri demi meredam ketakutan yang mendera. Bagaimana pun dia akan melewati masa tidak gampang. Aborsi, dari perkataannya saja sungguh mengerikan.

“Jangan lalukan itu, sayang,” ucap Bu Alice yang pertama. Wajahnya menyiratkan permohonan.

“Kenapa Bu? Bukannya masih boleh? Tolong jangan menghalangi apa yang akan membebaskan aku dari bayang-bayang kelam nantinya.” Sarah tidak harus terikat dengan masa lalu menyakitkan itu jika tidak mengandung lagi. Walaupun kejadian itu susah terhapus bahkan begitu kental dalam ingatan, setidaknya dia tidak terikat dengan apa pun setelahnya.

“Maafkan saya, Sarah, kali ini saya tidak setuju, tolong jangan gugurin cucu saya,” ucapannya terbata dalam tangis. Bu Alice menggenggam erat tangan Sarah, menggeleng penuh permohonan.

Sarah termenung, jadi Bu Alice sudah tahu. Bagaimanapun keputusan sudah di ambil,ia tidak mau mengandung anak itu.

“Ibu sudah tahu semuanya? Tapi di antara aku dan ayah anak ini tidak ada yang menginginkannya Bu, bagaimana bisa aku tetap mempertahankannya.” Sarah jelas tidak mau mengandung anak dari pria bejat itu. Terlalu dalam lula yang Lingga torehkan padanya.

“Sarah, tolong, pikirkan lagi, maaf jika saya egois, tapi dia anakmu, dia juga cucuku, saya tidak bisa membiarkan ini semua terjadi. Bagaimana pun kamu calon, bagaimana kalau kamu melakukan ini malah nantinya kamu akan sulit mempunyai keturunan. Pikirkan semua kemungkinan yang tentu saja belum kita tahu.”

“Kenapa ibu berkata seperti itu?” tanya Sarah bingung.

“Karna kita manusia biasa, sebab kemungkinan itu ada. Pikirkan, dia akan tumbuh menjadi anak yang baik, sholeh, dan nantinya sangat menyayangimu. Tidak ada yang salah dengan janin itu, saya mohon, Sarah, tolong jangan lakukan itu,” kaya Bu Alice di titik nadir.

Walaupun tindakannya sangat tidak adil pada Sarah , dia tidak bisa membiarkan semua itu terjadi begitu saja. Ada kehidupan baru yang akan membuat perubahan nantinya. Anak itu berhak hidup, terlepas kedua orang tuanya tidak saling menginginkan.

“Bisa jadi, sesuatu yang tidak kamu inginkan sekarang. Atau anak yang mana, yang nantinya akan membawa kebaikan untukmu di kehidupan nanti, baik di dunia maupun di akhirat.” Kata-kata terkahir Bu Alice sebelum Sarah tetap melangkah masuk dengan keputusanya.

Pasrah, itulah yang di lakukan Bu Alice. Berjalan gontai menyusul suaminya yang nampak tengah berbicara serius dengan Bu Maryam.

“Ma, bagaimana?” tanya Pa Re langsung berdiri melihat istrinya mendekat.

Perempuan itu menggeleng, tanda ia gagal membujuk Sarah. Namun, Pa Re juga tidak bisa berbuat banyak.

“Kenapa kalian berubah pikiran, biarkan Sarah melakukan itu untuk mendapatkan keadilan dan kebebasan,” kata Bu Maryam sudah yakin.

“Kami minta maaf, Mbok, tapi dia cucu kita, Lingga adalah ayah dari bayi yang di kandung Sarah,” ucap Bu Alice kembali menangis sendu.

“Apa!” Bu Maryam kaget bukan kepalang. Setengah tidak percaya dengan apa yang baru saja di katakan oleh majikannya. Bahkan anak merekalah yang menyebabkan putrinya sangat menderita.

“Maaf Mbok, kami baru tahu. Seharusnya biarkan bayi yang tidak berdosa itu tetap hidup. Biarkan Lingga mempertanggung jawabkan perbuatanya.”

Bu Maryam sampai tidak bisa berkata-kata saking syok nya. Ia tidak menyangka Lingga yang di kenal sangat baik terhadap dirinya itu tega menghancurkan masa depan putrinya. Bu Maryam jelas marah dan merasa sangat kecewa, kenapa anak dari majikannya itu tega melakukan ini semua.

“Kami sudah memberikan pelajaran untuk Lingga, Mbok, perbuatannya sangat tidak di benarkan. Kami marah, malu, kecewa, tapi semua sudah terjadi, dan Lingga sudah mengakuinya. Dia harus bertanggung jawab pada Sarah.” ucap Bu Alice dengan pipi basah.

Bertahun-tahun Bu Maryam hidup berdampingan. Mengabdi dengan keluarga Pa Re yang begitu baik. Kehidupan Sarah dan sekolahnya bahkan di tanggung sejak masih kecil dan menginjakkan kakinya di Jakarta. Bagaimanapun, kedua orang tua dari pria yang telah membuat putrinya hancur begitu banyak berjasa dengan kehidupannya.

Mau menampung, dan menolong, serta memberikan pekerjaan di tengah rasa sulit.

Disaat orang lain tidak ada yang mau menerima pekerjaannya karna membawa anak. Keluarga Pa Re begitu terbuka dan menerimanya. Bu Maryam tidak bisa lupa semua itu. Membuatnya tidak bisa mengabaikan begitu saja. Walau hatinya sakit dan kecewa atas perlakuan Lingga.

“Saya tidak tahu, semua terserah Sarah saja,” jawab Bu Maryan terdiam dengan tangis. Kedua perempuan itu saling berpelukan. Sungguh kejadian yang tak pernah terduga.

“Sarah sedang berjuang, kita tidak bisa mencegah. Dia berhak mendapatkan keadilan.” ucap Bu Maryam tetap menyerahkan keputusan itu pada putrinya. Berharap setelah ini semua akan baik-baik saja. Sarah bisa kembali dengan kehidupannya yang normal seperti sedia kala.

****

Sarah berjalan pelan ke ruangan dimana dirinya siap menghilangkan sebuah kehidupan di perutnya. Hatinya jelas tidak tenang. Antara perasaan takut dan memikirkan segala kemungkinan setelahnya.

“Aku tidak boleh mundur, kalau aku hamil, bagaimana nanti dengan kehidupanku,” batin Sarah memantapkan dirinya untuk melangkah maju.

“Sarah, silahkan berbaring.” Dokter memberi aba-aba.

Pelan gadis itu membaringkan tubuhnya, pikirannya makin kacau. Hatinya mendadak bimbang. Sementara dokter tengah mempersiapkan diri. Jarum suntik yang sudah di isi dengan cairan yang akan membantu menghilangkan rasa sakit akibat di bius pun siap menembus kulit Sarah yang saat ini bertambah deg-degan saja.

“Tenangkan diri kamu Sarah,setelah kamu terbangun dari sini, kamu akan menjadi Sarah yang berbeda. Dengan suasana baru dan semangat baru. Kamu pasti bisa,” batin Sarah gemetar. Sekilas kata-kata Bu Alice menghantui pikirannya.

1
Sabil illah
bagus kak ceritanya.... semangat update kak
Ningsih Hada: Terima kasih ya😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!